
Sinar Matahari menerobos masuk melalui celah-celah Jendela menerangi ruang Kerja tempat Mile di lantai dua Toko miliknya. Gadis itu terlihat cantik dengan sentuhan manis menggunakan sebuah gaun berwarna merah muda dengan gambar stroberi yang kecil-kecil di sekitarnya.
Senyuman manis di bibir merahnya yang seperti buah Ceri menambahkan kesan lembut namun elegan untuknya.
"Tidak peduli berapa kali aku melihat, kau memang Cantik! Bahkan lebih cantik dari Nenek Sihir itu saat rambutmu panjang dan kau menggunakan gaun-gaun yang lucu!" Mulan mendesah menatap kearah Mile yang terlihat tengah bermain dengan putrinya
"Berhenti berbicara omong kosong, Amairaku adalah gadis yang paling Cantik disini, Benarkan sayang?" Mile menjawab Mulan seraya tersenyum dan mencubit pipi merah Bakpau di hadapannya
"En, Amaiya paling cantil"
"Itu benar, benar sekali. Ya Tuhan bagaimana gadis Cantik seperti ini lahir dari orang bulat sepertinya. **" Mile kembali berbicara seraya memeluk gadis manis di hadapannya dan mendaratkan banyak sekali Ciuman
Mulan menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sahabatnya yang sangat tidak masuk akal. Namun, tidak dapat di pungkiri senyuman di bibir Mulan begitu lebar. Ia sangat Bahagia karena dapat membuat Sahabat baiknya itu kini kembali tersenyum dan semangat.
Menatap sekeliling tempanya berada, Mulan sedikit mendesah sebelum kembali berbicara kearah Mile "Apakah itu baik-baik saja membuat tempat ini berantakan? Apakah tidak akan mengganggu pekerjaanmu?"
"Itu tidak akan mengganggu, tenanglah!" Mile menjawab singkat dengan terus menciumi pipi anak kecil di hadapannya
Mulan terkekeh pelan padanya sebelum bertanya sesuatu "Mile, siapa pria itu.. hm, oh! Itu yang namanya Dion, apakah dia masih berkunjung kemari?"
Mendengarkan pertanyaan Mulan, kepala Mile menengok untuk melihatnya dengan bingung sembari menjawab "En, dia sering datang kemari. Kurasa hari ini dia akan datang kemari, kira-kira beberapa jam lagi. Kenapa dengan dia?"
"Heh, dia pria yang gigih" Mulan mengedipkan matanya kearah Mile dan tersenyum penuh arti "Dion itu, sayang sekali di seorang Duda beranak satu, jika tidak aku mungkin akan mendukungnya dengan kekuatan penuh. Tapi mungkin juga tidak masalah untukmu, toh putrinya masih berusia 2 tahun!"
"Omong kosong apa yang kau semburkan?"
Mulan tertawa lebar mendengar nada tidak senang dari Mile "Tentu saja kau tidak akan menyadari hal ini. Pria bernama Dion itu tertarik padamu, hanya saja karena Mile kita memiliki Hati yang sangat tertutup dan sangat tidak peka juga. Sungguh menyesal untuk Dion. Jadi Mile, jika kau punya waktu luang, pikirkanlah tentang pria itu oke?"
"Berhenti Bercanda!" Mile mendengus kesal dan mengabaikannya untuk mengadu kearah Amaira
Dion adalah salah satu pelanggan tetap di toko Mile, dia kehilangan istrinya saat melahirkan putrinya 2 tahun yang lalu. Maka Mile yang mengerti banyak tentang pakaian dan hal-hal tentang anak kecil membantunya dalam banyak hal. Hal inilah yang akhirnya membuat Mile dan Dion berteman, tapi siapa sangka Mulan sahabatnya yang aneh malah memiliki pikiran tidak dewasa.
***
Di sebuah meja makan terdapat berbagai makanan ringan yang menumpuk layaknya gunung. Seorang anak lelaki berusia 5 tahun tersenyum lebar menatap kearah makanan di meja makan dengan air liur yang menetes disudut bibirnya.
"Eros, apa kau ingin meracuni anakku?" Vena bertanya dengan nada suara yang datar menatap kearah Eros yang tengah terkekeh pelan seraya membuka salah satu makanan dan memberikannya pada keponakan di sampingnya
"Aku baru saja sampai, ada sedikit oleh-oleh dari Ibu dan Ayah. Aku menaruhnya di depan, sedangkan oleh-olehku itu adalah semua makanan ringan ini kakak!"
"Tidakkah kau berfikir mungkin mainan akan lebih baik?" Vena kembali bersuara dengan nada yang sangat tertekan menatap adik ipar lelakinya yang begitu bodoh, mata Vena melotot kearah putranya dan kembali berbicara "Reno, ambil beberapa makanan saja dan pergi bermain di luar!"
Reno mengerucutkan bibirnya kesal sebelum mengambil beberapa makanan yang ia inginkan dan berlalu pergi.
Eros menatap kearah keponakannya dengan geli sebelum menjawab pertanyaan Vena "Ayah dan ibu juga membelikan mainan untuknya. Aku bingung akan memberinya oleh-oleh apa, maka dari itu aku hanya membawa makanan ringan."
"Sebenarnya kau tidak perlu membawa apapun kemari. Hanya sering-seringlah datang dan membantuku mengawasi Reno saat aku sibuk. Itu akan sangat bagus!" Vena kembali bersuara seraya membersihkan seluruh makanan ringan pada tempat yang seharusnya
"Aku belum selesai berbicara! Kau tidak bisa kabur dan pergi begitu saja!"
Eros mendesah lirih dengan wajah tertekan, ia menyeringai lebar menatap kearah kakak iparnya yang kini tengah terduduk tepat di hadapannya seraya menatap kearah wajah Eros lekat-lekat.
"Bagaimana itu?" Kakaknya bertanya, melihat Eros yang terlihat bodoh, ia mendesah pelan dan kembali berbicara "Apakah masih tidak ada pacar? Kekasih? Atau mungkin selingkuhan?"
Mendengar kakaknya kembali mengungkit hal ini setiap kali ia datang berkunjung, Eros hanya dapat tersenyum masam.
"Ckck, lihat! Lihatlah bocah ini!" Tangan putih Vena terangkat mengapit kedua pipi adiknya dan menggoncangnya pelan sebelum mendesah sedih "Wajah tampan ini begitu terbuang sia-sia, bagaimana mungkin wanita dapat jatuh Cinta pada lelaki bodoh sepertimu. Sungguh sia-sia!"
"Hei!" Eros melepaskan tangan kakaknya di wajahnya secara paksa "Para wanita itu terlalu bodoh dan tidak cukup baik untukku!"
'Puk..!'
"Kenapa kau memukul kepalaku?" Eros bertanya seraya mengusap rambut kepalanya yang telah di pukul ringan oleh telapak tangan kakaknya
"Berhenti berbicara omong kosong! Lebih baik kau lakukan sesuatu untukku!" Vena melotot kearah Eros seraya mengambil Smartphone miliknya. Jari-jarinya bermain riang di Smartphone Eros sebelum menyerahkannya kembali pada adiknya "Ambilkan pesanan baju milik keponakanmu di butik itu! Aku sudah menulis alamatnya di google maps milikmu, aku juga sudah mencatat no hp pemilik butik itu kalau-kalau kau kesasar!"
"Aku sudah dewasa, bagaimana mungkin aku kesasar?" Eros mengambil Smartphonenya dan menjawab kakaknya dengan sedikit marah "Lagipula kenapa aku harus pergi mengambilnya? Aku baru saja datang berkunjung dan aku....."
Melihat tatapan tajam kakak Iparnya, tanpa sadar Eros berhenti berbicara dan menelan air ludahnya dengan sedikit kedinginan di punggung. Dengan enggan Eros akhirnya hanya dapat mengangguk ringan dan berlalu pergi untuk melakukan tugasnya.
Vena tersenyum manis saat melihat tubuh Eros menghilang dari pandangannya "Kuharap kalian akan saling Cocok!"
----
Mobil Hitam Eros melaju dengan ringan dijalanan mengikuti arah jalan yang ditunjukkan di Hp miliknya.
Eros kembali medesah panjang untuk yang kesekian kalinya. Ia merasa sangat sedih setiap bertemu dengan kakak iparnya, entah kenapa Eros merasa di lecehkan olehnya. Eros tidak marah, tentu saja Eros tidak bisa marah, kakak iparnya telah merawat dirinya sejak kecil. Dia juga sangat baik dan melakukan banyak hal untuk membuat Eros bahagia. Maka dari itu Eros selalu merasa bersyukur karena Kakak iparnya adalah orang yang telah menikahi kakaknya yang bodoh.
Mobil Eros yang terus melaju berhenti di sebuah Bangunan dengan plank yang tidak terlalu besar. Eros menatap Plank yang bertuliskan 'Butik WhiteMoon' itu mengangguk pelan dan melangkah turun dari mobil.
Saat sudah turun dari Mobil, mata Eros menatap sekitarnya berdiri. Mata Hitam itu memindai sekitar secara perlahan sebelum terhenti tepat di pintu masuk Toko Baju yang akan Eros datangi.
Tubuh Eros menegang, dengan dadanya yang berdetak kencang seolah akan melompat keluar, Mata Hitamnya melotot dan menonjol menatap kearah Sosok wanita yang sangat cantik menggunakan Gaun berwarna Pink dengan Hiasan Stroberi. Gadis itu terlihat begitu menawan dan murni, bibir merahnya tersenyum seraya melambai kearah seorang Pria. Mata Emas miliknya juga tampak hidup dan bahagia, sangat menyejukkan dan indah.
Dengan tangan terkepal Erat hingga membuat kulitnya berdarah, Eros menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan hatinya. Tubuhnya bergerak maju melangkah kedepan dengan gemetar hebat.
Saat langkah kaki Eros semakin dekat, Wanita yang dilihat Eros berbalik untuk melihat kearahnya seolah menyadari kedatangannya.
Wanita itu terkejut dengan tangan terangkat menutupi mulutnya erat-erat. Tubuhnya bergetar seolah akan jatuh. Eros mendekat dan semakin dekat menatap wanita itu dengan tajam, entah kenapa wanita itu tampaknya telah tersadar. Dengan langkah gemetar sedikit goyah Wanita dihadapan Eros seolah hendak beranjak pergi untuk melarikan diri darinya.
Eros mempercepat langkah kakinya dan menggapai lengan Wanita itu secara kasar. Genggaman tangan Eros begitu Erat pada lengan putih dan lembut milik wanita itu. Eros membuka mulutnya dan berbicara dengan nada dingin bercampur niat membunuh kearahnya "Milena Goldwind, sepertinya kau hidup dengan Baik!"