Pure Love

Pure Love
Ch. 16 - Kesalahpahaman(?)



Matahari yang bersinar dilangit terlihat sedikit redup karena tertutupi oleh awan gelap yang begitu tebal. Udara juga seolah menjadi dingin akibat hilangnya cahaya Matahari yang tidak berkilauan kearah Bumi. Angin dingin berhembus menerpa tubuh para manusia yang berada di luar dengan kedinginan.


Sosok cantik dengan gaun berwarna biru langit menutupi seluruh bahu hingga ujung tangannya terlihat duduk di sebuah restoran. Sosoknya yang begitu menawan di balut dengan Gaun itu membuatnya terlihat manis dan elegan.


"Bii Mile, apaka kue stobeyi ini enak?" Suara seorang gadis kecil berusia 2 tahun bertanya lirih kearah Mile yang terduduk disampingnya.


"En, ini enak" Mile tersenyum dan mengangguk ringan mendengarkan pertanyaan gadis itu.


"Maaf membuatmu keluar untuk menemani kita" Dion yang duduk di depan Mile meminta maaf kearahnya


Untuk yang kesekian kalinya Mile menggelengkan kepalanya dan berkata "Tidak apa-apa itu tidak merepotkan!"


Mereka bertiga tengah makan bersama setelah membeli beberapa hiasan untuk kamar baru yang akan di gunakan oleh Diana, putri Dion. Mile membantu mereka karena Dion memintanya. Untuk Mile yang berhati baik, tentu saja ia tidak akan tega melihat Pria dewasa pergi ketoko anak mencari berbagai hiasan unik dan lucu seorang diri. Jika itu terjadi, dipastikan Dion tidak akan keluar dari toko walaupun waktu telah berlalu selama 1 minggu.


Mata Emas Mile menatap Diana yang tengah memakan kue cokelat dengan banyak buah stroberi di atasnya. Mile memang selalu lemah terhadap anak kecil, apalagi jika mereka sangat lucu dan menawan.


1 minggu telah berlalu sejak pertemuan Mile dan Eros, saat itu Mile yang tengah berlari kerumah Mulan mendengarkan keseluruhan Ceritanya.


Selena saudara Kembarnya meninggal 2 bulan setelah mereka pindah kejakarta. Saat itu Mile masih dalam keadaan koma, dan lagi setelah Mile terbangunpun kondisinya sangat tidak baik. Maka Mulan hanya memilih diam.


Bahkan sampai saat ini Mulan tidak mengatakannya pada Mile karena ia berfikir Mile tidak ingin tahu lagi tentang mereka dan melupakan mereka.


Mile sangat sedih, apalagi saat ia tahu alasan kematian Selena. Jika saja ia bangun lebih awal , mungkin ia dapat menyelamatkan saudaranya. Mulan yang mengetahui isi pikiran Mile hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Tapi Mile dapat merasakan bahwa, Mulan membenci Selena dan bersyukur atas kematiannya. Tentu saja Mile juga diam tidak mengatakan apapun, bahkan saat ia berada di posisi Mulan dan melihat sahabat baiknya terluka sedemikian rupa ia akan marah.


Saat Mulan mengetahui dari mana Mile mendengar berita tentang kematian Selena. Tuhan tahu apa yang terjadi, ia sangat marah hingga ingin pergi keluar dan menampar wajah Eros. Mile tentu saja menceritakan segalanya pada Mulan, karena ia tidak ingin dan tidak akan membohongi Mulan.


Saat itu juga Mulan mengetahui tentang kembalinya Eros, ia semakin gencar dan semangat mendorongnya keluar dengan Dion seolah tidak ada lagi hari Esok. Mulan juga telah mengingatkan Mile berkali-kali untuk pergi kabur menjauh jika ia melihat batang hidungnya. Mulan sangat mengenal Mile dengan baik, walaupun Mile kuat dan juga sangat berani. Tapi saat berada di hadapan Eros Milena akan selalu terlihat seperti seekor Tikus di hadapan kucing besar.


Bahkan waktu SMP, walaupun Mile ganas dan bisa bertarung dengan para pria di sekolahnya, ia tetap akan menjauh dan menghindari berdua dengan Eros atau berada didekatnya. Hal ini tentu saja karena Mile merasa gugup dan malu karena perasaan Cintanya yang begitu dalam dan luas layaknya Samudra terhadap Eros. Tidak dapat dipungkiri untuk Mulan yang selalu melindungi Mile saat berhadapan dengan Eros memintanya langsung melarikan diri secepatnya apabila Mile melihat batang hidung pria itu ketika tidak ada seorang pun di sekitar adalah hal yang benar dilakukan.


...........Jauh di seberang tempat itu seorang pria tampan terlihat keluar dari Restoran yang cukup mewah dan memiliki kesan hanya kalangan Atas yang dapat masuk.


Pria itu mengenakan kacamata Hitam seraya mengikuti kakak lelakinya menuju sebuah mobil hitam.


"Eros, bagaimana menurutmu pertemuan bisnis pertama yang kau ikuti?" Milo bertanya kearah Eros di belakangnya, tangan besarnya membuka pintu mobil di depan hendak masuk kedalam


"Biasa saja!" Eros menjawab acuh tak acuh atas pertanyaan kakaknya seraya mengikuti untuk masuk kedalam mobil


Milo mendesah pelan dan menghidupkan mobil untuk melaju perlahan. Mata Hitam Eros menatap kearah luar Jendela dengan penuh kebosanan. Namun, saat mata hitam itu mengkap sosok Wanita yang ia kenal Eros tanpa sadar mencopot kacamata hitam miliknya dan meletakkan jari-jari tangannya kearah jendela tanpa berkedip.


Milo yang menyetir Mobil di depan sedikit terkejut melihat tingkah aneh adiknya lewat kaca mobil, Rasa penasarannya tentu saja tidak akan terjawab karena ia tidak akan berani bertanya pada Eros, walaupun ia bertanya, Eros sangat tidak mungkin menjawabnya. Maka ia hanya mendesah dan terus mengemudi mobil miliknya untuk bergerak pulang kerumah.


Setelah jarak pandang Eros cukup jauh, ia bersandar di kursi mobil dengan perasaan enggan.


1 minggu berlalu sejak petemuan Eros dan Milena, sejak itu pula Eros memiliki perasaan tidak nyaman dihatinya. Tubuhnya juga sedikit terasa aneh. Akibatnya dalam 1 minggu ini Eros hanya bermain layaknya orang kesurupan. Ia akan pergi klub malam dan minum sampai mabuk. Lalu setelahnya Eros juga akan membawa banyak wanita untuk bermain dengan gila-gilaan. Setelah melakukan hal gila itu semua, tubuh dan pikirannya menjadi sedikit lebih tenang.


Pemandangan itu sangat menyenangkan mata, apalagi dengan sosok Milena yang begitu sempurna saat tersenyum menawan.


Entah kenapa hati Eros merasa tidak nyaman lagi melihat pemandangan itu, ia bahkan merasa lebih tidak nyaman saat sebuah pikiran terbesit di otaknya.


'Milena sudah memiliki keluarga?' Fikiran Eros berkelana bertanya dan menjawab seorang diri 'itu tidak mungkin! Dia sangat Jatuh Cinta padaku hingga melakukan hal tercela pada saudaranya sendiri. Dia bahkan sampai rela melihat saudaranya mati dengan menyedihkan, jadi tidak mungkin dia menyerah!'


Bergulat dengan fikirannya sendiri yang rumit, raut wajah Eros terlihat sangat buruk. Apalagi saat ia ingat senyuman yang di perlihatkan Milena di restoran itu.


'Aku tahu!' Seakan menyadari sesuatu dalam benaknya Eros mulai bergumam sendiri lagi 'Wanita itu pasti hamil! Yah itulah alasan satu-satunya. Dia suka bermain dengan om-om hingga akhirnya hamil dan terpaksa menikahi pria itu. Maka Milena belum menyerah terhadapku dan masih sama gilanya seperti masa lalu'


Saat pikiran itu muncul dalam benak Eros, entah mengapa ia merasakan sedikit kelegaan. Eros tidak terlalu peduli akan sensasi perasaan itu dan hanya terus memikirkan hal lainnya.


"..." Milo menggelengkan kepalanya pelan kearah Mobil yang telah terparkir dihalamannya.


Ia telah berdiri cukup lama untuk menunggu Eros keluar dari mobil, tapi entah kenapa seolah bocah itu tidak sadar dan linglung didalam mobil tidak berniat untuk keluar. Milo bahkah telah memanggilnya saat ia akan keluar, tapi lagi-lagi dia mengabaikannya dan memiliki ekspresi bodoh di wajahnya.


"Apa kau tidak akan keluar?" Merasa marah dan tidak sabar, Milo membuka pintu mobil belakang dan bersuara dingin kearah Eros


"Ah?" Eros yang tersadar menatap linglung kearahnya "Kita sudah sampai?"


Kesabaran Milo sampai pada batasnya. Dengan Bam! Suara pintu mobil kembali di tutup olehnya. Ia berjalan masuk kerumah meninggalkan adiknya yang bodoh itu.


Menyadari kebodohannya Eros menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum menyusul kakaknya masuk kedalam rumah hanya untuk melihat Vena yang telah membawa sapu di tangan dan melotot tajam padanya.


"Apa yang terjadi?" Eros bertanya ragu dengan nada suara ketakutan


Dengan nada dingin Vena menjawab pertanyaan Eros "Bukankah aku memintamu untuk mengambil pakaian Reno di butik!"


"Ah?!" Eros tersadar namun, tidak dapat lagi mengatakan apapun


"Dimana itu pakaiannya?" Tanya Vena lagi


"..." Eros tetap diam


"Kau pasti tidak mengambilnya!" Vena menebak


"..." keringat dingin mengalir di punggung Eros


"Pergi dan ambil itu! Aku memberimu waktu 1 hari! Jika kau masih tidak muncul dengan baju Reno dalam 1 hari... maka, kau tahu apa yang akan terjadi!"


"..." Eros menelan air ludahnya dan mengangguk patuh kearah kakak iparnya yang begitu menakutkan