
Ting, ting!
Jihan yang sedang berbaring di kamarnya, menoleh cepat begitu mendengar ponselnya berbunyi dua kali. Ia mengulurkan tangan meraih benda pipih yang terselip di bawah bantalnya. Matanya turun naik dengan cepat, membaca pesan masuk dari Denis yang telah mengirim informasi data tentang Dika yang harus segera ia pelajari.
“Mengesankan sekali, masih muda tapi sukses mengembangkan perusahaan milik keluarga.” Jihan bergumam, terkesan dengan kesuksesan yang didapat Dika di usianya yang masih terbilang muda.
Tak sampai sepuluh menit, matanya terasa berat. Jihan tertidur cepat dengan ponsel berada dalam genggaman tangannya.
Keesokan harinya, pagi-pagi Dika datang menjemput Jihan di rumahnya. Sesuai rencana, Dika akan membawa Jihan ke mal untuk berbelanja. Tanpa menunggu lama, Jihan siap dengan dirinya. Memakai gaun sederhana sepanjang lutut, dilapis jaket dan tas selempang yang tersampir di bahunya.
“Aku siap, ayo berangkat.” Jihan berjalan mendahului dan bergegas membuka pintu mobil.
Dika mengernyit dan ingin mengatakan sesuatu melihat penampilan Jihan, tapi ditahannya karena gadis itu sudah masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan Dika kerap melirik Jihan yang duduk di sampingnya, tapi gadis itu tampak cuek dan malah sibuk melihat ke luar jendela.
Tiga jam kemudian, Jihan tampak kelelahan. Ia sudah mencoba banyak gaun, blus, dan pakaian lainnya. Ia juga memakai dan membuka banyak sepatu. Selama itu berlangsung, Dika duduk di kursi menilai dan mengawasi.
Dika menggeleng, Jihan harus segera menukar gaun juga sepatu yang dipakainya. Dika tersenyum dan mengangguk, artinya gaun dan sepatu itu cocok untuknya.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupa kedua orang tuaku melihat tunangan putranya memakai pakaian yang tidak sepadan,” kata Dika menjawab protes yang terlontar dari mimik raut wajah Jihan.
Dua jam kemudian, Jihan bisa bernapas dengan lega ketika Dika membawanya ke salon. Akhirnya ia bisa duduk dengan tenang.
“Buat rambutnya tampak seperti wanita dalam foto ini,” kata Dika pada wanita petugas salon yang menangani Jihan. Wanita itu mengangguk dan mulai memainkan gunting di tangannya dengan cekatan.
Tek tek tek!
“Hwaa, rambutku!” Jihan menangis menatap potongan rambutnya yang jatuh ke lantai, ia melotot pada Dika dari balik cermin. Tapi laki-laki itu pura-pura tak melihat, sibuk memainkan ponselnya.
“Nyonya, bisakah Aku menyimpan potongan rambutku ini?” tanya Jihan pada petugas salon.
“Saya akan melakukannya untuk Nona, jika tuan muda yang duduk di sebelah sana membolehkan.”
Jihan memberengut, pipinya basah. Satu jam berlalu, rambut keriting panjangnya berubah lurus sebahu. “Dua tahun lamanya Aku memanjangkan rambutku, dan Nyonya memotongnya hanya dalam waktu satu jam.” Balas Jihan sedih.
“Hmm, Kau lihat. Nenek ingin bicara denganmu.” Dika tiba-tiba saja berdiri di sampingnya lalu mendekatkan ponsel miliknya ke hadapan Jihan.
“Nenek!” Seru Jihan, menatap wajah sang nenek yang memenuhi layar ponsel di hadapannya. “Hiks, rambutku.”
“Cucuku, Kau terlihat cantik sekali dan sangat pantas dengan potongan rambut barumu itu.” Puji nenek, yang membuat tangis Jihan mereda berganti dengan senyuman.
“Benarkah, Nek? Jihan lebih cantik dengan rambut pendek seperti ini?” Jihan bertanya sekali lagi, dan nenek mengangguk.
Jihan lalu meminta maaf pada neneknya karena hari ini tak bisa datang mengunjungi nenek di rumah sakit. Ia mengatakan pada neneknya itu kalau Dika mengajaknya ke pesta dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Tentu saja nenek sangat senang mendengarnya, dan semakin percaya kalau Dika benar-benar serius menjalin hubungan dengan Jihan.
“Bersenang-senanglah, Kau layak mendapatkannya.” Nenek mengakhiri teleponnya dengan nada haru.
Penata gaya mengambil alih tugas selanjutnya, ia membawa Jihan masuk ke sebuah ruangan dan mulai mendandani Jihan. Dika pun melakukan hal yang sama, ia pun mengganti pakaiannya dan duduk menunggu Jihan selesai sambil sesekali melirik arloji di tangannya.
“Benarkah?” Jihan tersipu malu, ia menatap pantulan dirinya di cermin.
“Aku serius!”
Suara gemeresik kain yang terdengar berikutnya, membuat Dika mengangkat wajahnya. Untuk sesaat lamanya ia hanya diam terpaku, menatap gadis cantik berbalut gaun indah yang berdiri malu-malu di hadapannya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, penampilan Jihan sungguh sempurna hingga membuat seorang Pradika Nugraha terpesona.
Jihan benar-benar menjelma menjadi wanita cantik yang penampilannya kini sangat mirip dengan Ayra. Tapi entah mengapa, yang terlihat di matanya saat ini tetaplah sosok Jihan asli. Tak ada bayangan Ayra sedikit pun. Sikap malu-malu Jihan justru tampak sangat menggemaskan, senyum tulus yang tersungging di bibirnya semakin menambah cantik wajahnya.
“Silakan gandeng pasangan Anda, Tuan.” Suara penata gaya yang berdiri di samping Jihan, menyadarkan Dika yang terpukau melihat penampilan baru Jihan. Ia berdeham sejenak sambil mengusap ujung telinganya yang memerah.
Dika tampak canggung berjalan ke arah Jihan yang berdiri menunggunya. Wajah tampan dalam balutan jas lengkap warna hitam itu terlihat tegang, Jihan menyambut uluran tangan Dika dan melangkah perlahan di sisinya. Ia menoleh sesaat pada penata gaya di belakangnya.
“Terima kasih,” bisik Jihan tanpa suara, yang dibalas dengan acungan jempol sang penata gaya. Ia melirik sejenak pada Dika yang berjalan dengan pandangan lurus ke depan, tak bicara sepatah kata pun tentang penampilan dirinya, apalagi memuji betapa cantiknya ia.
Sedikit lesu, Jihan berusaha melepaskan tangannya dari pegangan tangan Dika. Jihan sangat mengerti sikap Dika padanya, ia hanya kekasih kontrak pria itu. Tak usah berharap lebih. Tapi bukannya melepaskan, Dika justru menautkan jemarinya di tangan Jihan. Barulah saat mereka masuk ke dalam mobil, Dika melepaskan pegangannya. Anehnya, wajahnya terlihat biasa tidak setegang tadi lagi.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya yang menjadi tempat acara pesta berlangsung, Dika mulai menjelaskan tentang segala sesuatu yang ia ketahui tentang Ayra yang ternyata sangat bertolak belakang dengan sikap dan keseharian Jihan selama ini.
Mereka berdua sama-sama cantik dan memiliki wajah yang sangat mirip, tapi Ayra terkesan angkuh dan tidak ramah pada orang lain. Berbanding terbalik dengan Jihan yang ceria dan sangat penyayang. Tapi Jihan tetap harus bersikap layaknya Ayra, agar tidak menimbulkan kecurigaan keluarga Dika.
Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Dika sampai di rumahnya. Jihan bertahan sejenak di dalam mobil, tiba-tiba saja merasa gugup dan tangannya mendadak berkeringat. Apalagi saat melihat jajaran mobil-mobil mewah di halaman luas rumah Dika, para undangan yang turun dan lewat di depannya dengan pakaian gemerlap dan perhiasan mencolok.
“Ayo kita turun,” ajak Dika.
Jihan mengembuskan napas, lalu keluar dari mobil. Ia menggenggam kuat tas tangan di depan dadanya. “Huuh, banyak sekali tamu yang datang.”
Jihan tersenyum menatap sekitarnya, berusaha menutupi rasa gugupnya. Mereka sudah berdiri di depan pintu, Jihan terkejut saat Dika menahan tangannya lalu berbisik di telinganya. “Kau terlihat cantik sekali malam ini,” puji Dika yang sukses membuat wajah Jihan merona. “Penampilanmu juga memukau, jadi tetaplah percaya diri.”
Dika menggandeng tangan Jihan, mereka melangkah bersama memasuki ruang pesta. Kehadiran keduanya disambut antusias kedua orang tua Dika yang sudah tidak sabar ingin mengenalkan calon menantunya itu pada semua tamu undangan.
Pesta berlangsung meriah, Jihan harus rela dan menurut ketika mama Dika membawanya berkeliling menemui tamunya. Sementara Dika terus mengikuti ke mana Jihan berada, karena tak ingin ada satu kesalahan terjadi.
“Lelah?” tanya Dika melihat Jihan duduk sambil mengurut betisnya yang pegal karena harus memakai sepatu hak tinggi selama berjam-jam.
“Sedikit,” jawab Jihan sambil tersenyum.
“Bagaimana dengan pestanya,” tanya Dika lagi.
“Lumayan,” jawab Jihan, lalu mengedarkan pandangannya. Lebih tepatnya membosankan, kata Jihan dalam hati. Karena di sana-sini tamu undangan sibuk berkelompok bicara tentang bisnis masa depan untuk perusahaan mereka. “Pasti akan sangat menyenangkan jika ada hiburan musiknya.”
Dika tertawa mendengarnya, tiba-tiba saja sudah berjongkok di depan Jihan.
“Apa yang Kau lakukan?” tanya Jihan, berusaha menahan tangan Dika. Tapi laki-laki itu menepis tangannya, dan menggelengkan kepala. Seketika wajah Jihan kembali bersemu merah melihat Dika menaruh kakinya di atas pahanya dan memijit pelan betisnya, sementara banyak pasang mata menatap ke arah mereka.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎