Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 7. Permintaan nenek pada Dika



Dika berjalan meninggalkan ruang rawat inap nenek Soraya dengan langkah tenang, melirik sekilas pada Jihan yang duduk di dekat neneknya itu dengan wajah tegang. Tatapan keduanya bertemu, dan tanpa dapat dicegah sudut bibir Dika melengkung membentuk senyuman.


Jihan merutuk dalam hati dan balas tersenyum masam. Lelaki itu sepertinya tengah menikmati ketegangan yang dirasakannya saat ini.


Setelah pintu di belakang Dika menutup kembali, Jihan langsung menoleh pada neneknya dan terkejut melihat wajah nenek yang juga tampak tegang. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang mengalami, nenek pun ikut merasakan ketegangan seperti yang dialaminya. Hanya saja, Jihan tidak bisa menebak apa penyebabnya.


“Nenek?” Jihan bangkit berdiri, dan duduk di dekat neneknya. Jemarinya menangkup tangan nenek yang berada di atas perutnya.


“Katakan pada Nenek yang sebenarnya, apa yang sudah Kau lakukan di luar sana? Selama ini Kau tidak pernah menjalin hubungan dekat dengan lelaki mana pun, tapi kenapa sekarang tiba-tiba saja ada lelaki yang mengaku sebagai kekasihmu?” berondong nenek dengan banyak pertanyaan.


“Dia ... namanya Dika.” Jihan tampak ragu, ia belum siap menjawab semua pertanyaan neneknya itu. Mereka baru kenal beberapa jam yang lalu, Jihan bahkan belum tahu siapa Dika sebenarnya. Siapa keluarganya, dan di mana tinggalnya. Yang Jihan tahu, Dika orang kaya dan memiliki tunangan yang wajahnya sangat mirip dengannya.


“Nenek tahu namanya Dika, tapi Dika siapa? Dari mana pria itu berasal, apa dia tahu kondisi perekonomian kita yang tidak mungkin bisa membayar biaya perawatan di rumah sakit ini?” suara nenek terdengar emosi, dadanya turun naik dengan cepat.


“Dika tahu. Dika juga yang sudah membayar semua biaya rumah sakit Nenek sekarang,” jawab Jihan, yang semakin membuat neneknya berang dan berpikir hal buruk telah dilakukan Jihan.


“Keterlaluan Kau Jihan! Apa yang sudah Kau berikan padanya sampai-sampai laki-laki itu mau membayar semua biaya perawatan Nenekmu ini. Apa Kau sudah menjual dirimu padanya demi menyelamatkan nyawa Nenekmu yang tidak berharga ini.” Nenek tak bisa mengendalikan emosinya, wajahnya kian memucat dan itu membuat cemas Jihan.


“Jihan tidak pernah melakukan hal seperti itu, Nek. Jihan akan lakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa Nenek, apa saja, tapi tidak dengan menjual diri pada seorang laki-laki.” Balas Jihan dengan suara bergetar, ia menggeleng kuat mencoba meyakinkan neneknya. Digenggamnya tangan nenek dan dibawanya ke dadanya. “Nenek harus percaya sama Jihan.”


“Tapi laki-laki itu mengaku sebagai kekasihmu, dan barusan Kau katakan kalau dia yang telah membayar semua biaya rumah sakit ini. Bagaimana hubungan kalian sebenarnya?” desak nenek menuntut jawaban, masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Jihan padanya. Nenek butuh penjelasan yang masuk akal.


Jihan diam sejenak lalu menghela napas, tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya untuk mengarang sebuah cerita manis hubungannya dengan Dika agar tidak menimbulkan kecurigaan neneknya lagi.


“Awalnya Jihan bertemu dengan Dika saat sedang mengantar makan siang untuk para pekerja bangunan. Kebetulan waktu itu Dika sedang menginspeksi resto baru milik keluarganya. Kami berkenalan dan langsung akrab. Sejak saat itu, kami sering bertemu dan bicara banyak. Jihan juga sering bawakan makan siang untuk Dika.” Jihan berhenti sejenak, menatap wajah neneknya itu. Kelihatan kalau nenek mulai tenang dan mendengarkan dengan baik semua yang diceritakan Jihan padanya.


“Dika orang baik, Nek. Dia kaya, tapi sangat peduli pada nasib orang lain. Dan kami saling jatuh cinta. Hari ini Dika menyatakan cintanya pada Jihan. Tapi, belum sempat Jihan cerita sama Nenek, tetangga kita menelepon dan mengabarkan kalau Nenek jatuh pingsan. Saat itu juga Dika langsung mengantar Jihan pulang dan segera membawa Nenek ke rumah sakit.” Pungkas Jihan, mengakhiri kisahnya. Hanya kisah cinta mereka hasil karangan Jihan seorang, selebihnya memang kejadian yang sebenarnya.


Nenek menghela napas, butuh waktu beberapa saat lamanya untuk mencerna dan memahami apa yang Jihan katakan padanya. Tak lama berselang, nenek tersenyum lega.


“Maafkan Nenek karena sudah berburuk sangka padamu.” Nenek memeluk Jihan, lalu menangkup wajahnya dan mengecup kedua pipinya. “Nenek sangat lega mendengarnya, akhirnya Kau bertemu dengan orang baik dan menjalin hubungan dengannya. Nenek doakan kalian bahagia, dan hubungan kalian langgeng sampai menikah nanti.”


Menatap wajah neneknya yang tersenyum lebar itu makin membuat rasa bersalah di hati Jihan bertambah besar padanya. Sekali lagi meminta maaf dalam hati.


“Sayang, bisakah Kau panggil Dika kemari. Nenek juga ingin mengenalnya dan berbincang dengannya,” pinta nenek pada Jihan.


Jihan menurut, ia berjalan keluar dan menemui Dika yang sedang duduk di luar sambil menikmati kopinya. Tak terlihat Denis di dekatnya, sepertinya asisten Dika itu betah berlama-lama di kantin rumah sakit.


“Nenek ingin bertemu dan bicara denganmu,” kata Jihan, ia lalu duduk di kursi kosong samping Dika. “Tapi sebelum Kau menemuinya, ada hal lain yang ingin kukatakan padamu.”


Dika menaikkan satu alisnya, ia letakkan kembali gelas kopinya yang baru separuh di minumnya. “Ada apa, Kau terlihat ragu mengatakannya.”


Wajah Jihan tiba-tiba memerah, dan itu makin membuat Dika penasaran. “Nenek sempat tak percaya dengan kita dan mengira kalau Aku melakukan hal terlarang denganmu. Jadi Aku mengarang cerita bohong padanya kalau kita saling jatuh cinta, dan Kau menyatakan cintamu padaku hari ini. Nenek terlihat senang sekali.”


“Baiklah, Aku mengerti. Sekarang, Aku akan menemui nenekmu.” Kata Dika, ia mengajak Jihan ikut serta. Dika lalu mengulurkan tangannya pada Jihan, membuat wanita itu mengernyitkan keningnya. “Untuk meyakinkan nenekmu kalau kita adalah pasangan yang saling mencinta.”


Jihan tersipu malu, lalu menyambut uluran tangan Dika. Berjalan sambil bergandengan tangan menuju ruangan nenek. Dika melepaskan pegangan tangannya pada Jihan, beralih mencium tangan nenek.


Nenek mulai melontarkan beberapa pertanyaan tentang Dika dan keluarganya yang dijawab dengan sabar oleh laki-laki itu. “Nenek senang melihat Jihan akhirnya menemukan jodohnya. Satu pinta Nenek, tolong jaga Jihan baik-baik, jangan sakiti hatinya. Nenek percaya padamu.”


Deg! Mendengar ucapan neneknya itu, Jihan langsung tersentak dan merasakan dadanya tiba-tiba saja sesak karena telah mengarang cerita bohong pada neneknya.


Dika yang melihat perubahan di wajah Jihan langsung meraih tangannya lagi dan menggenggamnya erat. Ia tahu apa yang dirasakan Jihan saat ini. Meski hanya kekasih kontrak, Dika akan memperlakukan Jihan dengan baik seperti teman dekat.


“Saya pasti akan melakukannya dan menjaga Jihan dengan baik, Nenek tidak perlu khawatir soal itu.” Kata Dika meyakinkan nenek, hingga nenek kembali tersenyum.


Dika mengangguk pada Jihan dan ia bisa melihat sorot mata itu mengucap terima kasih padanya. Suasana menjadi lebih santai setelahnya, dan Dika pun menemani nenek makan malam di rumah sakit.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎