Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 21. Bersenang-senang dulu



Jihan tahu ada dua pasang mata yang melihat dari balik jendela ketika mobil mereka berhenti tepat di depan rumah. Dika keluar, berjalan memutar lalu membukakan pintu mobil untuknya.


Tangan lelaki itu terulur membantunya turun, tapi Jihan pura-pura tak melihat. Apalagi saat menyadari dua pasang mata yang mengintip mereka sejak tadi mulai bergerak merapat ke pintu. Saat Jihan melangkah tergesa menuju beranda rumahnya, Dika pun bergegas menyusul di belakangnya.


Ada senyum samar di sudut bibir Dika melihat Jihan yang tampak canggung saat berhadapan dengannya, tubuh Jihan bergerak-gerak gelisah dan mata itu tak berani menatap langsung padanya.


“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” kata Jihan mengangkat wajahnya sejenak, lalu menunduk lagi dengan cepat.


Dika tersenyum mengangguk, ia berjalan mendekat dan merendahkan tubuhnya lalu berbisik pelan di telinga Jihan dengan nada menggoda. “Tadi itu sangat menyenangkan.”


“Hah! Apanya?”


Dika terkekeh, Jihan langsung membekap mulutnya. “Berhenti memikirkan hal itu lagi!” katanya dengan suara bergetar dan wajah tertunduk malu.


Dika memegang tangan Jihan, ia makin berani dan dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Jihan yang tampak gugup. “Itu apa, katakan apa itu yang Kau maksudkan barusan?” goda Dika.


Wajah Jihan tiba-tiba memerah, benaknya dipenuhi kejadian saat di mobil tadi. Ia melepas pegangan tangan Dika di tangannya. Rasanya malu luar biasa bila teringat reaksi tubuhnya yang pasrah dan bagaimana bibirnya yang minim pengalaman itu, justru membalas ciuman Dika dengan sama bergairahnya. Tanpa sadar, Jihan mengangkat tangan dan menyentuh bibirnya.


“Kau pasti ingin mengatakan soal ciuman kita tadi, bukan?” Ada senyum samar di sudut bibir Dika saat menatap Jihan lagi. Tak ingin membuat Jihan bertambah malu padanya, Dika menegakkan tubuhnya kembali dan berjalan mundur perlahan. “Sudah malam. Aku pamit pulang, ya. Bye.”


“Bye,” Jihan balas melambaikan tangan, ia cepat-cepat berbalik menuju pintu dan nyaris bertubrukan dengan nenek yang juga terburu-buru hendak keluar. “Nenek?!” seru Jihan kaget.


Meski tahu kalau nenek sudah berada di dekat mereka sejak tadi dan mendengar semua ucapan mereka berdua, tetap saja Jihan kaget saat nenek tiba-tiba saja muncul dan hampir menabraknya.


“Kamu ih, bikin kaget Nenek saja!” Tegur nenek sembari menepuk lengan Jihan yang masih bengong melihat kemunculannya yang tiba-tiba. Nenek lalu berseru memanggil Dika yang baru saja meninggalkan beranda rumah mereka dan kini sudah berada di dekat mobilnya dengan tangan terulur hendak membuka pintu mobilnya. “Dika, kenapa tidak mampir dulu?”


Dika berbalik, tak jadi masuk ke dalam mobilnya saat melihat nenek berjalan mendatangi dirinya. Ia menyambut tangan nenek yang terulur padanya dan langsung mencium punggung tangannya. “Sudah malam, Nek. Takutnya nanti mengganggu istirahat malam Nenek dan yang lainnya.”


“Tidak sama sekali.” Nenek menggeleng, “Kebetulan Nenek lagi buat wedang jahe, enak kalau diminum malam-malam begini.”


Dika menoleh pada Jihan, wanita itu hanya mengedikkan bahunya dan tersenyum aneh padanya. Sebenarnya Dika masih ingin bicara berdua dengan Jihan, tapi sepertinya wanita itu terlalu malu untuk menatap wajahnya. Dika lalu mengalihkan pandangannya.


Sebelum ia sempat menjawab ajakan nenek, wanita itu sudah menggandeng lengannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Melewati Jihan yang masih berdiri di dekat pintu masuk.


Tidak berapa lama Rani muncul dengan nampan di tangan, berisi empat cangkir minuman wedang jahe yang masih mengepulkan uap panas. Ia menyimpan ke atas meja dan setelah itu menarik tangan Jihan untuk duduk bersama dengannya.


“Silakan diminum Dika, mumpung masih panas.” Kata nenek mempersilakan Dika mencicipi minuman buatannya.


Jihan mengantar Dika sampai di dekat mobilnya, di ambang pintu nenek dan Rani berdiri memperhatikan keduanya. “Apa yang kalian lakukan? Masuklah, bawa Nenek beristirahat cepat. Angin malam tidak baik untuk kesehatannya,” kata Jihan mengingatkan Rani yang langsung mengajak nenek masuk.


“Dika, hati-hati di jalan.” Pesan nenek sebelum masuk ke dalam rumah yang segera diangguki Dika yang sudah berada di dalam mobilnya.


“Aku pulang,” pamit Dika lalu menyalakan mesin mobilnya. “Selamat malam, Jihan.”


Kaca mobil di depannya itu menutup perlahan, dan mobil itu bergerak pergi meninggalkan halaman rumah. Jihan tercenung sesaat, Dika menyebut namanya tadi. Jihan, bukan Ayra. Ternyata lelaki itu masih mengingat namanya meski ia memerankan sosok Ayra kekasihnya dalam kesehariannya.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Dika terus senyum-senyum sendiri. Seperti orang yang sedang kasmaran, Dika sesekali menatap kursi penumpang di sebelahnya membayangkan Jihan duduk di sana dan tersenyum padanya. Pandangannya lalu turun ke lantai mobilnya, seketika senyumnya memudar begitu melihat sisa kue dan krim coklat yang mengotori lantai mobilnya.


Sementara itu di kamarnya, Jihan tengah berbaring di ranjangnya dengan mata menerawang menatap langit-langit kamarnya. Rani yang sedang membuka lemari pakaiannya hendak meminjam baju tidurnya, terheran-heran melihat koleksi baju-baju mewah miliknya.


“Waow!” seru Rani takjub, ia menyapukan tangannya pada deretan gaun indah yang tergantung dalam lemari pakaian Jihan. “Apa lelaki itu yang membelikannya semua untukmu?”


Jihan menoleh sekilas lalu mengangguk. “Kalau Kau mau, Kau boleh memilikinya. Ambil saja, lagi pula Aku merasa tak cocok memakai gaun mewah dengan model seperti itu.”


Rani menggeleng tak mau, “Dika bisa memarahiku kalau tahu Aku memakai gaun pemberiannya untukmu.”


“Dia tidak peduli soal itu, dia terus memberiku banyak pakaian. Yang dia pedulikan, Aku harus tampil cantik dan menawan seperti tunangannya Ayra di depan keluarganya.” Ungkap Jihan.


Rani menghela napas, ia menutup pintu lemari lalu berbaring di samping Jihan. “Harusnya dia tahu, tanpa pakaian mewah itu sekalipun Kau sudah terlihat cantik alami.”


Sayangnya Dika tak pernah memperhatikan hal itu, Jihan tersenyum masam. Teringat saat laki-laki itu menyebut tubuhnya rata di mana-mana. “Lelaki seperti Dika sangat memperhatikan penampilan, tubuh yang seksieh dan padat berisi lebih menarik untuknya.”


“Kau juga tak kalah seksieh dengan perempuan cantik di luar sana,” kata Rani memiringkan tubuhnya menghadap Jihan. “Kau hanya perlu menambah lapisan di bagian dadamu dan rok pendek yang mengekspos kaki jenjangmu.”


“Rasanya Aku ingin bersenang-senang denganmu dan melupakan sejenak peranku sebagai seorang wanita pengganti untuknya,” ungkap Jihan sambil tersenyum lebar, saat ide muncul di kepalanya.


“Kau ingin melakukan apa?” tanya Rani penasaran.


“Lihat saja besok, kita akan bersenang-senang berdua. Hanya berdua saja, aaa ...” Jihan terkikik geli, ia mengentakkan kakinya senang saat membayangkan idenya.


Keesokan hatinya, berdua dengan Rani ia kembali bekerja membuka kedainya. Berjualan hingga sore hari, dan malam harinya Jihan dan Rani berdandan dan memakai gaun seksieh keliling kota berdua dengan mengendarai motornya. Ponsel miliknya sengaja ia matikan, dan Dika kelimpungan setengah mati karena seharian tak bisa menghubunginya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎