Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 25. Sebal



Jihan pikir mereka berdua akan keluar dengan aman, terhindar dari kejaran wartawan lagi setelah bersembunyi cukup lama di dalam gedung bioskop. Nyatanya semua itu tak terjadi. Meski sudah mengenakan masker dan jaket hoody, tetap saja ada yang mengenali.


Kilatan cahaya langsung kamera menyambut mereka di ambang pintu keluar. Tidak bisa menghindar, Dika pun akhirnya memberi waktu selama beberapa menit untuk sekedar menjawab pertanyaan para wartawan.


Jihan berjalan di samping Dika dengan tangan berada dalam genggaman laki-laki itu, ia hanya bisa tersenyum saat wartawan menanyakan padanya soal keseriusan hubungannya dengan Dika. Akankah berakhir di pelaminan dalam waktu dekat?


“Ditunggu saja kabar baiknya, ya teman-teman.” Dika menangkupkan tangan di dada, seraya menundukkan bahunya. Ia lalu menarik pinggang Jihan untuk merapat, kemudian memeluknya saat wartawan meminta foto mereka berdua.


Setelah terbebas sepenuhnya dari serbuan wartawan, Dika mengajak Jihan kembali ke mal untuk mengambil mobilnya. “Kamu pulang bareng Aku, biar nanti Rani yang bawa motornya.”


“Gak enak ah, kasihan Rani sendirian. Biar Aku pulang bareng dia aja,” tolak Jihan.


“Ya udah, biar Rani ikut di mobil sekalian. Nanti biar orangku yang bawa motornya.” Dika bersiap hendak menelepon, namun urung begitu mama menelepon dirinya dan menanyakan keberadaannya saat ini.


Rani yang sedari tadi berdiri menunggu di depan mal, langsung mengacungkan kunci motor di tangannya begitu melihat kedatangan Jihan dan Dika.


“Biar Aku pulang bareng Rani saja,” kata Jihan berlari menghampiri Rani, meninggalkan Dika yang masih membalas panggilan telepon dari sang mama dan langsung menyambar kunci motornya.


“Ayra, hei tunggu. Mau ke mana?!”


“Pulang!” Tak peduli dengan teriakan Dika yang memanggilnya, Jihan menarik tangan Rani dan segera mengambil alih motornya.


Kali ini Jihan bisa bernapas lega, setelah terbebas dari Dika yang harus tertahan langkahnya karena ada beberapa wanita yang langsung berkerumun meminta foto bersama. Ia memacu motornya cepat saat melewati Dika yang terlihat masih sibuk melayani para penggemarnya.


“Astaga! Macet lagi di depan, Ran.” Keluh Jihan, seraya mengembuskan napas panjang melihat banyaknya kendaraan yang berjajar di depannya.


“Harusnya kita gak lewat sini tadi, kan tahu dari kemarin ada pelebaran jalan di daerah sini.” Sahut Rani dengan bibir mencebik.


“Lupa, buru-buru sih tadi.” Niat mau cepat malah lambat, Jihan hanya bisa mendengkus sebal. Ia tersentak dan langsung menoleh ke samping begitu mendengar Rani berteriak di telinganya. “Apa, sih. Bikin kaget aja!”


“Coba lihat di belakang kita,” sahut Rani sambil menepuk pinggang Jihan.


Jihan mengikuti arahan Rani, pandangannya mengarah pada sebuah mobil yang bergerak perlahan mendekat dan berhenti persis di sampingnya. Matanya melebar begitu melihat kaca mobil itu terbuka dan memperlihatkan wajah Dika yang ada di dalamnya.


Dika memasang wajah kaku tanpa senyum sedikit pun, sebelah tangannya yang bebas menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. Jihan mengernyit, lalu memicingkan mata dan langsung melipat bibir menahan senyum begitu melihat ada noda lipstik di dekat rahang kiri Dika.


“Kamu kenapa jadi senyum-senyum sendiri gitu, gak lihat apa tampang Dika ditekuk kaya gitu?” tanya Rani pada Jihan, lalu melihat pada Dika yang terlihat mengambil ponsel dari saku jasnya dan menempelkannya di telinganya.


Jihan terkejut merasakan ponsel di dalam tasnya bergetar, ia membukanya cepat dan terbelalak begitu membaca nama yang tertera di sana. Apa-apaan, sih. Dekat juga, ngapain pakai telpon segala! Rutuk Jihan dalam hati. Tapi mau tidak mau ia angkat juga teleponnya dan menjawab panggilan Dika. “Ya, ada apa?”


“Kok gitu? Kamu kan tahu macet kaya gini, gimana cara parkirnya? Mau putar balik aja susah!” Jihan menoleh sebal pada Dika yang bicara di telepon tanpa melihat ke arahnya.


Bibir itu bergerak tanpa suara, Jihan memperhatikan dari atas motornya. “Iya, iya. Kita turun, mana orangnya yang mau bawa motorku?”


Jihan makin sebal dan hanya bisa mengangguk, menuruti perintah Dika. Tak lama kemudian Denis muncul di dekatnya, dengan memasang senyum semanis mungkin dan tutur bicara sesopan mungkin, ia meminta Jihan dan Rani turun dari motornya dan meminta keduanya untuk segera masuk ke dalam mobil Dika.


Tak ayal, tingkah mereka bertiga menarik perhatian pengguna jalan lainnya. Sempat terjadi dorong-dorongan antara Jihan dan Rani saat Dika meminta salah satu dari mereka duduk di depan, tapi akhirnya Jihan mengalah. Tak ingin kejadian lalu terulang lagi, Jihan cepat-cepat masuk ke dalam mobil disusul Rani di belakangnya.


Ajaib, kemacetan langsung terurai begitu Jihan berada di dalam mobil Dika yang bergegas memacu kendaraannya menuju rumah Jihan. Tak ada yang bersuara, hening menyelimuti perjalanan pulang mereka kali ini. Pandangan Dika lurus ke depan, seolah tak terusik dengan gerakan Jihan yang sesekali menengok ke belakang.


Cekiiit!


Hampir saja kepala Jihan membentur dasbor di depannya saat Dika mengerem mendadak mobilnya. Beruntung tangan laki-laki itu bergerak cepat menahan tubuhnya, hingga tidak ada hal yang fatal terjadi padanya.


“Kamu gapapa?” rasa cemas tampak di wajah Dika melihat wajah Jihan berubah pucat. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan, menatap Jihan intens. “Ada kucing tiba-tiba melintas di depan tadi, jadi Aku langsung rem mendadak.”


Semburat merah menghiasi wajah Jihan yang tampak pucat. Jantungnya kini berdegup kencang tak terkendali, dan semakin tak keruan karena lengan laki-laki itu masih berada di atas dadanya. Ia hanya bisa mengangguk dan mencoba tersenyum, “Aku gapapa, kaget dikit aja.”


“Syukurlah.” Dika mengembuskan napas lega, dan menarik tangannya cepat begitu menyadari Jihan mengangkat tangannya dan mencoba menepis pelan lengannya.


Suasana hening kembali, tapi kali ini berbeda seperti tadi. Dika mulai cair dan tidak sekaku tadi, ia mulai melontarkan pertanyaan yang sebenarnya Jihan enggan untuk menjawabnya.


“Kalau Kamu tetap ada di sampingku tadi, mungkin mereka gak akan berani bertindak semaunya seperti tadi. Kau lihat, mereka bahkan berani mencuri ciuman di pipiku!” Dika menekan pipinya yang masih ada stempel merah, dengan bibir memberengut.


Jihan melipat bibir menahan senyum, dengan cepat menarik tisu dan menghapus jejak warna merah di sana. “Betapa beruntungnya wanita yang sudah meninggalkan jejak bibirnya di pipimu ini, Aku yakin sekali saat ini dia pasti sedang memamerkan foto kalian berdua pada semua teman-temannya. Semoga saja nasib baik akan terus berpihak padanya.”


Dika mendelik sebal, dengan gerakan tak terduga ia meraih tangan Jihan dan menariknya mendekat. Tubuh Jihan langsung merapat padanya. Rani yang duduk di bangku belakang langsung menutup matanya dan menoleh ke arah luar kaca jendela mobil.


“Kau sudah melakukan dua kesalahan malam ini. Pertama-tama, Kau matikan ponsel agar Aku tidak bisa menghubungimu hingga Kau bisa bebas bersenang-senang di luar rumah. Kedua, Kau meninggalkanku begitu saja setelah apa yang kita alami di mal tadi, dan membiarkanku dikerubuti wanita lain. Sekarang, bersiaplah menerima hukuman dariku.”


Jihan mengabaikan getar hangat yang mengalir di lengannya, akibat sentuhan tangan Dika. Lelaki itu mendekatkan wajahnya dan menarik tengkuk Jihan mendekat. Dreeet! Suara dering telepon dari arah bangku belakang membuyarkan asa Dika, ia melepaskan pegangan tangannya dan Jihan dengan cepat menarik tubuh menjauh.


“Ya, nek. Kami sudah dalam perjalanan pulang bersama mas Dika.” Terdengar suara Rani menjawab panggilan telepon yang berasal dari nenek Jihan. “Oh, ya? Mereka sudah mengantar televisinya dan memasangnya di ruang tamu?”


Senyum terbit di wajah Jihan, senang mendengar hadiah lomba sudah sampai di alamat rumahnya. Ia melirik sekilas pada Dika, dan tersipu malu saat lelaki itu meraih tangannya lagi dan mulai memainkan jemarinya satu persatu sementara Rani masih menjawab telepon nenek. Dika menyalakan mesin mobilnya dan kembali melaju dengan satu tangan menggenggam jemari Jihan.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎