
Sikap manis dan perhatian yang ditunjukkan Dika pada Jihan di pesta itu, sedikit banyak membawa pengaruh baik pada hati Jihan. Terlebih lagi, Dika selalu menempel ketat di dekat Jihan. Tak membiarkan gadis itu jauh-jauh darinya.
Jihan jadi lebih percaya diri, ia tersenyum membalas setiap sapaan tamu lain dan beberapa kali terlihat berhenti untuk sekedar bertegur sapa ketika sebagian tamu mengajaknya bergabung.
Lalu tak lama terdengar suara musik mengalun, kali ini terdengar berbeda. Lebih ceria dan berenergi. Jihan berbalik dan tertawa lepas begitu melihat Al dan beberapa remaja putri lainnya tampil di tengah panggung dan mulai menari.
“Akhirnya, ada juga yang membuat suasana pesta ini menjadi lebih menyenangkan.” Pikir Jihan, tak sabar ingin mendekat. Ia berjalan cepat dan tanpa sengaja sepatu yang dipakainya terlepas karena tergesa ingin segera melihat dari dekat penampilan para remaja putri yang bergaya dan menari ala-ala girl band negeri Korea.
“Hei, tunggu!” panggil Dika, sembari menyambar sepatu Jihan yang tergeletak di lantai pesta. Ia menggeleng tak percaya melihat Jihan dengan sengaja melepas sepatunya dan membiarkan kakinya bebas tanpa alas kaki.
Oh my, oh my God. I was really hoping that he will come through. Oh my, oh my God. Asking all the time about what I should.
No, I can never let him go ... twenty-four ... I know, I know
I’m going crazy, right? ... I know, I know
Tanpa sadar, Jihan ikut berjoget dan mengikuti irama lagu sambil sesekali ikut berteriak ‘I know, I know’.
Dika bergegas mendekat dan menarik pinggangnya, hingga tubuh Jihan yang tak siap menerima gerakan tangan Dika yang begitu tiba-tiba langsung berputar dan tak ayal lagi jatuh ke dalam pelukan Dika. Wajah keduanya begitu dekat, bahkan embusan hangat napas Dika terasa menyentuh kulit leher Jihan yang terbuka.
Musik tiba-tiba saja berhenti, semua mata tengah menatap pada pasangan Dika dan Jihan yang masih terpaku saling pandang. Hingga cahaya lampu kamera dari wartawan yang hadir di pesta itu mampu menyadarkan keduanya.
Dika tersenyum kepada wartawan yang mengambil gambar dirinya dan Jihan dengan sebelah tangan masih memeluk pinggang wanita itu, sementara sebelah tangannya lagi memegang sepatu Jihan.
“Aku sedang berusaha mengingatkan tunanganku untuk memakai sepatunya lagi, tapi rupanya dia terlalu menikmati lagu dan tarian yang kalian tampilkan.” Kata Dika seraya menunjuk ke tengah panggung saat menjawab pertanyaan salah satu wartawan padanya.
Musik pun kembali diputar, dan tarian berlanjut. Jihan harus menahan diri untuk tidak ikut bergerak karena tangan Dika masih terus bertengger di pinggangnya. Meski perhatian tamu undangan sudah beralih kembali ke tengah panggung.
“Aku tak menduga sama sekali, Kau begitu menikmati pestanya kali ini,” sindir Dika yang tak menyangka akan melihat Jihan ikut berjoget di pinggir panggung.
Jihan mencoba tetap tersenyum dan sebelah tangannya yang bebas naik, bergerak meliuk mengikuti irama lagu. “Bisa Kau berhenti melakukan itu?” tegur Dika.
“Ups, sori.”
Dika akhirnya melepas pelukannya di pinggang Jihan, dan hal itu membuat Jihan lega. Pesta belum berakhir, kali ini setiap tamu undangan diminta untuk menyumbangkan suaranya. Dan Dika harus menahan napas saat Al adiknya tiba-tiba saja muncul dan langsung menarik tangan Jihan dan membawanya ke tengah panggung.
Al mengambil alih mikrofon dari pembawa acara, lalu bilang ke semua orang kalau tunangan kakaknya itu pandai menyanyi dan memiliki suara yang indah.
“Kali ini calon kakak iparku yang cantik ini akan menyanyi, dan lagu ini dipersembahkan untuk Kakakku Dika seorang. Silakan Kak Ayra,” kata Al lalu berjalan cepat keluar panggung dan melangkah mendekati Dika.
“Apa yang Kau lakukan padanya, Al. Aku tahu Kau tak menyukainya, tapi Aku juga tak ingin melihat Kau mempermalukan dirinya di tengah pesta seperti ini.” Kata Dika dengan suara berbisik.
“Kita lihat saja, apa yang akan dia lakukan.” Jawab Al, sambil tersenyum miring. Ia memang tidak suka dengan tunangan kakaknya itu, yang menurutnya terlalu angkuh dan sombong. Sangat tidak cocok menjadi pasangan Dika.
Tak lama kemudian musik diputar, sayup-sayup terdengar suara mengalun indah dari bibir Jihan. Membuat Al bengong dan Dika terpana, hingga matanya tak lepas memandang wanita cantik yang tengah bernyanyi dengan penuh penghayatan di depan sana.
Andai Engkau tahu, betapa Ku mencinta. Selalu menjadikanmu isi dalam doaku.
Ku tahu, tak mudah menjadi yang Kau minta. Kupasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya.
Jika Aku bukan jalanmu, Ku berhenti mengharapkanmu. Jika Aku memang tercipta untukmu, Ku ‘kan memilikimu. Jodoh pasti bertemu.
Suara riuh tepuk tangan dan pujian yang terlontar dari para tamu undangan menyadarkan Dika. Sama sekali di luar dugaan, benar-benar sebuah kejutan dan harus Al mengakui kalau kali ini ia kalah lagi.
Hingga pesta berakhir, tak ada yang menyadari siapa Jihan sebenarnya. Semua orang mengira ia adalah Ayra yang telah membuat banyak perubahan pada dirinya hingga menimbulkan kekaguman banyak orang.
Kedua orang tua Dika sangat terkesan dengan Jihan, ia memintanya untuk tinggal lebih lama di rumah mereka. Tapi Dika langsung bergerak cepat menolak dan mengatakan kalau ia harus segera mengantar Jihan pulang malam ini karena ada urusan lain.
“Terima kasih, Kau membuat semua jadi tampak mudah untuk hubungan kita ini.” Kata Dika saat dalam perjalanan mengantar Jihan pulang ke rumahnya.
“Aku hanya berusaha sebaik mungkin, meski Aku tahu banyak sekali perbedaan di antara kami. Kau tahu, Aku gugup saat adikmu menarik tanganku dan memintaku bernyanyi. Aku tidak banyak mengapal lagu, tapi yang tadi kunyanyikan adalah salah satu lagu kesukaanku.” Ungkap Jihan malu-malu.
“Beristirahatlah malam ini dengan tenang, karena Kau sudah bekerja keras malam ini.” Kata Dika sebelum meninggalkan Jihan dan pulang kembali ke rumahnya.
“Aku hanya melakukan apa yang Aku bisa untuk membantumu, meski Aku tahu itu tak akan pernah bisa membalas apa yang sudah Kau lakukan untuk nenekku.” Bisik hati Jihan menatap kepergian Dika.
Dika sampai di rumahnya kembali dan terkejut melihat mama dan papanya masih duduk menunggunya. Lebih terkejut lagi saat kedua orang tuanya itu memintanya untuk membawa Jihan datang mengunjungi mereka lagi esok hari.
Lagi-lagi Dika menolak dengan berbagai alasan, tapi mamanya meminta untuk bicara langsung dengan Jihan.
“Sini, Mama mau bicara langsung sama Ayra.” Kata mama meminta ponsel Dika.
“Ini sudah malam, Ma. Kasihan dia, pasti juga sudah tidur sekarang.” Jawab Dika, tak urung memberikan ponselnya pada mamanya.
“Baru juga jam sepuluh lewat, Mama yakin Ayra belum tidur sekarang.” Mama lalu membuka kontak Jihan, dan langsung melayangkan protes keras begitu membaca nama yang ditulis Dika di sana.
“Memang Dika harus tulis apa, namanya kan memang Ayra.” Jawab Dika datar.
“Kalian ini kan sudah bertunangan, bakal menikah. Kaku banget jadi cowok,” kata mama, lalu mengganti nama kontak Ayra dengan nama ‘tunanganku sayang’.
Mama lalu menghubungi nomor Jihan, dan benar seperti perkiraan mama kalau Jihan belum tidur. Betapa senang hati mama saat mendengar kalau calon menantunya itu menyanggupi untuk datang ke rumah mereka esok hari, sementara jantung Dika kebat-kebit tak keruan takut kalau-kalau sandiwaranya dengan Jihan akan ketahuan.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎