Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 22. Ikutan lomba



Dika uring-uringan di ruang kerjanya. Sejak pagi hingga siang hari ini ia terus menghubungi nomor Jihan, tapi tidak aktif. Pekerjaannya menumpuk, tapi mood-nya berantakan. Semua karena Jihan.


Beberapa menit yang lalu, Denis datang dan mengingatkan undangan makan malam salah satu relasi bisnis perusahaan. Sebelumnya Dika setuju untuk datang. Ia menghubungi Jihan, dengan niat mengajak wanita itu pergi bersamanya. Sayang sampai sekarang belum juga terhubung.


“Aarghk!” Dika mengempaskan bo kongnya ke atas kursi, duduk sambil memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut. Ia menatap tumpukan berkas di atas meja kerjanya, lalu menghela napas berat. Rasanya mustahil untuk lanjut bekerja, pikirannya sedang tidak fokus.


Ada apa dengan wanita itu, kenapa sulit sekali dihubungi hari ini? Pikir Dika. Kalau begini caranya, ia bisa batal datang ke undangan.


“Tidak bisa dibiarkan, Aku harus bertindak dan mencari tahu!” Dika menyambar jasnya yang ada di gantungan, memakainya cepat dan bergegas keluar ruangan. Di ambang pintu ia berpapasan dengan Denis yang kembali datang dengan setumpuk berkas di tangan.


“Tuan mau ke mana?” Denis memutar tubuhnya dan berhenti sejenak begitu melihat Dika lewat begitu saja di depannya.


“Aku harus pergi, ada urusan mendadak. Untuk acara nanti malam, Kau saja yang datang mewakili.” Kata Dika memutuskan cepat, dan langsung melesat pergi sebelum Denis sempat melayangkan protesnya.


“Urusan apa lagi, sih Bos!” Denis menggerutu, ia masuk ke dalam ruang kerja Dika dan menggeleng tak percaya begitu melihat tumpukan berkas yang ia berikan pagi tadi masih berada di tempat yang sama dan belum disentuh tangan atasannya itu. “Kacau dah!”


Dika berjalan cepat menuju mobilnya, ia melirik arloji di tangannya dan mendengkus kesal saat menyadari kalau ia telah melewatkan jam makan siangnya. Dika menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. Tujuannya kali ini pergi menemui Jihan di rumahnya. Wanita itu mungkin sedang sibuk melayani pelanggan yang makan siang di kedainya, pikir Dika mencoba berpikir positif.


Tiba di ruas jalan Cempaka menuju terminal BP, sekitar perempatan lampu merah terjadi kemacetan panjang. Di sisi sebelah kiri jalan terdapat mal megah dengan panggung besar di depan pelatarannya. Tampak kerumunan warga memadati sekitar tempat itu, sepertinya sedang ada acara besar di sana.


Dika mendecak sebal melihat banyaknya pengendara motor dan pejalan kaki yang melintas di jalur itu, menyeberang dan memotong arah agar tiba lebih cepat di mal hingga menghalangi jalan pengendara lainnya.


Hari sudah menjelang sore. Tak ingin terjebak kemacetan, Dika memutar arah dan melajukan mobilnya menuju mal. Ia memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan, memilih duduk di salah satu kafe yang ada di lantai dasar mal dan mulai memesan makanan.


“Rame banget di sini, Mas. Lagi ada acara apa, ya?” tanya Dika pada salah satu pelayan kafe di sana yang datang menyajikan pesanan makanannya.


“Iya, Mas. Hari ini perayaan ulang tahun mal BP yang ke tujuh tahun. Pengelola mal mengadakan banyak acara lomba untuk warga masyarakat, sebagai bentuk apresiasi atas meningkatnya minat belanja warga selama ini hingga mal BP ini mendapatkan banyak keuntungan.”


Pelayan kafe itu dengan ramah lalu menjelaskan lomba apa saja yang diadakan di sana, dari lomba busana, pasangan terbucin, sampai lomba makan tercepat. Banyak penggiat usaha yang ikut terlibat di dalam acara, memberi diskon belanja sebagai hadiah.


“Seru juga,” sahut Dika sambil tertawa begitu mendengar lomba makan tercepat, benaknya langsung mengingat Jihan. Dika pun mencoba menghubungi nomor Jihan lagi, kali ini aktif tapi tidak diangkat.


Tertarik melihat keseruan acara, untuk sesaat Dika melupakan tujuannya semula menemui Jihan di rumahnya. Ia berkeliling sekitar tempat acara dan ikut bergabung bersama penonton lainnya, tak lupa memakai kacamata hitam juga masker di wajah agar tak ada yang mengenali dirinya di sana.


Sementara itu, di atas panggung pembawa acara sedang mengumumkan syarat lomba dan setelahnya menyebut nama para peserta yang ikut dalam lomba busana. Panitia saat itu sengaja tidak menyediakan pakaian untuk para peserta, jadi semua peserta yang tampil dalam acara menampilkan pakaian yang ia kenakan saat itu juga.


“Have fun, baby. Ini panggungmu, tunjukkan pesonamu.” Rani yang sudah berada di belakang panggung, berteriak memberi semangat pada Jihan yang bersiap dengan peserta lain mengikuti lomba busana.


“Oke, bestie.” Jihan tertawa renyah, sembari mengangkat tangan dan menyatukan dua jarinya. Meski jantungnya berdegup kencang, Jihan terus tersenyum.


Tampilan Jihan saat itu tampak glamour. Saat pembawa acara menyebutkan namanya, Jihan muncul di atas panggung. Layaknya model ternama, Jihan berjalan dan berlenggak-lenggok dengan gaya luwes dan sangat percaya diri. Ia sukses merebut simpati dan perhatian penonton, tepuk tangan riuh terdengar mengiringi aksinya di atas panggung.


Dika yang berada di barisan depan penonton, terbelalak melihat wanita cantik yang sedang bergaya di atas panggung itu. Ia seperti mengenal pakaian yang dikenakannya, dan wajah cantik dengan riasan aneh itu tampak familiar untuknya? Dika mengernyit.


“Nenek, ini Dika. Bisa Aku bicara dengan Jihan sekarang?” Dika menghubungi nenek Jihan untuk memastikan keberadaan wanita itu sekarang, apa benar seperti dugaannya.


“Apa Jihan tidak bicara padamu, ia pergi bersama Rani sejak sore tadi.” Sahut nenek dari seberang telepon.


Dika mengangkat wajahnya, menatap lurus ke atas panggung. Sepertinya dugaannya benar, wanita itu pasti Jihan yang ia kenal.


“Ayra!” teriak Dika lantang, tepat saat Jihan tersenyum ke arah penonton sambil mengangkat tangan ke dada membentuk tanda hati. Jihan menoleh dan terkejut melihat Dika ada di bawah panggung, ia menutup sebelah wajahnya dan bergegas melangkah ke belakang panggung.


Acungan jempol dan pelukan hangat Rani menyambutnya, namun tarikan tangan Jihan di lengannya membuat Rani terkejut. Jihan membawanya berlari meninggalkan panggung lomba busana.


“Ada apa, Kau seperti habis melihat hantu?” tanya Rani setelah mereka berada di kerumunan penonton lain yang sedang menyaksikan lomba makan kue tercepat.


Jihan menaruh telunjuk di bibir, menarik napas sejenak untuk menenangkan debur jantungnya yang berdetak kencang setelah melihat kehadiran Dika di tempat itu. “Ssst, ada dia di sana barusan tadi.”


“Dia? Dia siapa yang Kau maksud?” tanya Rani bingung, menoleh ke kiri dan kanan namun tak melihat satu orang pun yang ia kenal.


“Satu lagi, kita butuh satu orang peserta lagi. Ayo, siapa yang mau ikut lomba ini. Hadiah besar menanti kalian semua!” terdengar suara lantang pembawa acara di belakang mereka menyebutkan berbagai hadiah yang akan didapat pemenang lomba.


Jihan menegakkan punggungnya dan menoleh cepat, matanya berbinar melihat televisi besar yang terpajang di atas meja. Belum lagi hadiah ponsel dan lainnya. Kebetulan televisi di rumahnya mulai bergaris-garis di bagian tepinya. Terbayang wajah sang nenek yang gembira melihat ia pulang membawa televisi baru. Tanpa pikir panjang, Jihan mengangkat tangan dan berlari mendekat. “Aku ikut!”


“OMG!” Rani tak bisa menahan laju tubuh Jihan yang berlari kencang menuju tempat lomba, ia pun hanya bisa berharap semoga saja Jihan bisa memenangkan lomba.


Riuh tepuk tangan penonton kembali bergema, melihat para peserta mulai bersiap di depan kue yang dilapisi krim tebal warna putih susu.


“Satu, dua, tiga, mulai!” pembawa acara meneriakkan aba-aba dimulainya lomba, Jihan langsung memakan kue di depannya dengan cepat tak peduli krim kue jatuh dan mengotori wajah dan pakaiannya.


“Ayra!” terdengar teriakan lantang dari arah kerumunan penonton. Jihan menoleh dan terkejut menatap wajah Dika yang mendelik dan berkacak pinggang menatapnya.


“Waduh, bisa ketahuan nih!” Jihan memalingkan muka, cepat-cepat melahap sisa kuenya. Tak ingin Dika mengenalinya, Jihan melumuri wajahnya dengan krim kuenya yang tersisa.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎