Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 28. Tak rela



Di sebuah kamar hotel yang cukup mewah, seorang wanita muda masih bergelung dengan selimut di atas ranjang yang kusut. Matahari sudah tinggi, tapi ia enggan membuka mata dan beranjak dari sana. Remuk rasa tubuhnya setelah semalam harus begadang melayani keinginan sang kekasih, seorang pengusaha tambang batu bara yang baru dikenalnya beberapa bulan belakangan ini.


Perkenalan singkat di sebuah mal di kota S, yang diawali dengan perdebatan kecil saat memilih gaun yang sama-sama diinginkan namun hanya tinggal satu-satunya. Dengan wajah lesu Ayra memutuskan untuk melepaskan gaun yang ia inginkan itu dan membiarkan lelaki yang kemudian diketahuinya bernama Doni itu memilikinya.


“Cantik sekali.” Ayra tampak sedih, ia menyapukan tangannya di permukaan gaun itu sebelum pergi meninggalkan mal. Meski begitu menginginkannya, Ayra sadar ia tak mungkin membelinya mengingat harganya yang fantastis dan uang di rekeningnya yang semakin menipis.


Berjalan sendiri menuruni tangga eskalator, wajah yang tadi tertunduk lesu itu menoleh cepat begitu melihat lelaki yang tadi sempat bersitegang dengannya sudah berdiri di sampingnya dan mengulurkan padanya sebuah tas belanja.


“Apa maksud, Anda?” terkejut, Ayra spontan membuka isi tas di tangannya dan matanya langsung terbelalak begitu melihat isinya.


“Untukmu,” sahut lelaki itu santai, ia berdiri tegak dengan pandangan lurus ke depan dan kedua tangan berada di dalam saku celana panjangnya.


“Anda pasti sedang bercanda.” Ayra mengembalikan tas di tangannya pada lelaki itu, yang hanya mengedikkan bahu dan tersenyum samar. “Maaf, Saya tidak bisa menerima pemberian apa pun dari orang asing.”


Ayra mengernyit, tas itu masih berada di tangannya, dan hanya menempel di lengan lelaki itu. “Ayolah, ini sudah malam dan Aku harus segera pulang. Jangan bercanda denganku.”


“Aku tahu Kau sangat menginginkan gaun ini, jadi Aku berikan untukmu.” Lelaki itu memalingkan wajahnya, menatap Ayra tajam. “Oh, ya. Aku lupa mengenalkan diriku padamu. Damian Atmadja.” Lelaki itu tersenyum padanya.


Pandangan keduanya bertemu, hingga tak terasa mereka sudah sampai di lantai dasar mal. Ayra hampir terjatuh tersandung kakinya sendiri ketika merasakan sentakan di kakinya, beruntung ada tangan kuat yang menyangga tubuhnya.


Perkenalan berlanjut dengan makan malam, lalu Damian mengantar Ayra pulang dengan mobilnya. Mereka sampai di penginapan sederhana yang disewa Ayra. Tak langsung pulang, Damian mengamati seputar area tempat tinggalnya yang tampak sepi dan berjauhan dari rumah tetangga.


“Aku sengaja memilih tinggal di tempat ini agar tak ada orang yang mengenaliku. Kau tahu profesiku sebagai model, Aku butuh ketenangan saat ini. Dan Aku rasa tempat ini sangat cocok untukku.” Ayra beralasan, padahal ia harus berhemat karena sumber keuangannya tak ada lagi setelah ia memilih pergi meninggalkan Dika.


Damian hanya tertawa mendengarnya dan tanpa Ayra jelaskan pun sepertinya ia bisa menebak kesulitan apa yang sedang di hadapi wanita itu. Keesokan harinya, Ayra dibuat terkejut dengan kemunculan Damian pagi-pagi di depan rumahnya. Terlebih saat Damian meminta ikut dengannya dan menyuruh dirinya mengemasi pakaian miliknya.


Ayra menurut, meski dengan hati diliputi tanda tanya. Lelaki itu lalu membawanya ke sebuah hotel yang terletak di pinggiran kota dan menyuruhnya untuk tinggal di sana. Seperti ketiban durian runtuh, tanpa pikir panjang dengan senang hati Ayra menerimanya. Ia tak perlu memikirkan uang sewa dan keperluan hidup lainnya, karena mulai hari itu Damian yang akan mencukupi semuanya.


“Apa Kau punya seorang kembaran?”


Ranjang di sisinya langsung melesak masuk begitu Damian yang baru selesai berolah raga mengenyakkan tubuhnya ke atas ranjang. Cuping telinga Ayra bergerak-gerak saat lelaki itu dengan sengaja menggesek-gesekkan dagunya di seputar lehernya.


Ayra kegelian, ia tertawa serak dan spontan memutar tubuhnya seraya mendorong wajah Damian agar menjauh darinya. Ia tak terlalu menggubris ucapan pria itu karena tubuhnya yang bereaksi setelah mendapat sentuhan liar Damian lebih membutuhkan perhatiannya.


“Lihatlah, bukankah dia tunanganmu dulu.” Setengah berbaring dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang di belakangnya, Damian membuka ponselnya dan memperlihatkan pada Ayra. “Aku heran, bagaimana Kau melakukannya. Apa Kau membelah dirimu menjadi dua orang? Satu bersamaku di tempat ini, dan satunya lagi bersama laki-laki itu di tempat lain.”


“Kau ini bicara apa? Jelas-jelas Aku sedang bersamamu. Asal Kau tahu, Aku tidak memiliki kembaran. Aku hanya punya seorang adik laki-laki di kampung, dan ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.” Ungkap Ayra.


Ayra beranjak bangun dan menyandarkan kepalanya di dada Damian, lalu mengambil alih ponsel dari tangannya. Pandangan matanya fokus menatap gambar di layar kaca. Wajah yang tadinya tampak masih mengantuk, kini berubah serius dan tegang. Tubuh yang tadi menyandar kini duduk dengan punggung tegak.


“Ini tak akan mungkin terjadi andai Aku ada di sana waktu itu,” bisik Ayra dalam hati. “Dika sengaja melakukan hal ini agar tak ada seorang pun tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi pada hubungan kami.” Imbuh Ayra masih dalam hati.


Ayra menaruh begitu saja ponsel milik Damian di atas perut laki-laki itu, beralih meraih ponsel miliknya sendiri yang berada di atas nakas persis di samping tempat tidurnya. Tak lama kemudian tangannya bergerak turun dengan cepat menggeser layar.


Damian mengernyit sesaat, menatap ponselnya lalu beralih menatap Ayra. Ia sudah tak tertarik melihat ponselnya lagi dan kemudian menyimpannya ke atas rak di samping kepalanya. Berganti meraih remote televisi, menonton seputar tayangan berita dunia yang terjadi saat ini.


Beberapa kali jemarinya mengganti saluran televisi, hingga akhirnya berhenti pada sebuah tayangan info tentang dunia usaha yang mengulik sisi lain tentang kehidupan seorang pengusaha muda.


Matanya tertarik pada gambar di layar kaca yang menayangkan pembukaan resto baru keluarga Nugraha sekaligus pengumuman pernikahan sang pewaris dengan kekasihnya yang bernama Ayra dalam waktu dekat.


“OMG! Apa Aku yang salah lihat. Bukan hanya wajah saja, nama tunangannya pun sama denganmu.” Damian menggeleng tak percaya.


Tak terdengar jawaban atau sanggahan, Damian menoleh pada wanita di sebelahnya. Mata Ayra tengah fokus menatap layar ponselnya. “Ini tidak bisa dibiarkan!”


Ayra sudah membaca semua berita dari sumber terpercaya seputar masalah pertunangannya dengan Dika, juga rencana pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Tak habis pikir bagaimana Dika bisa menemukan wanita yang begitu mirip dengannya dan mengubah penampilannya sama persis seperti dirinya.


“Ayra, Ayra.” Damian menggumamkan nama Ayra berulang kali, “Berapa banyak nama Ayra di dunia ini, Aku bisa percaya dan tak ambil pusing soal itu. Tapi, kemiripan kalian itu bukan hal yang biasa. Memiliki tunangan yang sama, latar kehidupan sebagai seorang model. Apa ini sebuah kebetulan. Atau ... ?”


Ayra mengangkat wajahnya dan menoleh pada Damian yang menunggu jawaban darinya. Ia mengangguk dan tersenyum sinis. “Wajahnya memang sangat mirip denganku, itulah sebabnya Dika menjadikannya sebagai penggantiku. Untuk meyakinkan keluarganya, Dika mengubah penampilan wanita itu agar terlihat sama persis denganku.”


“Bukankah Kau bilang padaku kalian sudah lama putus, apa sebenarnya yang terjadi pada hubungan kalian berdua?”


Ayra tersenyum kecut, menatap layar kaca di hadapan mereka. Berulang kali namanya disebut dalam berita. Sungguh, hatinya tak dapat menerima ada wanita lain yang memakai namanya dan berperan sebagai dirinya menggantikan posisinya menjadi tunangan Pradika Nugraha. Sialnya lagi, wajah Dika tampak bahagia.


“Sebenarnya kami tak pernah saling cinta, hubungan di antara kami hanya kamuflase belaka untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Dia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.”


“Tapi lelaki itu terlihat bahagia dan tampak bersungguh-sungguh mencintai wanita itu,” sergah Damian. “Aku lelaki, Aku tahu dari cara dia menatap wanita itu. Dia sedang jatuh cinta.”


Fakta itu tetap saja tak bisa Ayra terima, hatinya mendadak sakit. Benar-benar tak rela ada yang merebut Dika darinya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎