
Keterlaluan! Jihan terbelalak, kaget setengah mati. Mendadak mual mendengar pertanyaan Dika barusan. Ia memang orang tak punya, tapi laki-laki itu tak bisa seenaknya merendahkan dirinya. Memintanya menjadi kekasih, adalah suatu hal yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Jihan selama ini.
Membayangkan kencan semalam dengan lelaki yang baru dikenalnya itu membuat Jihan benar-benar ingin muntah. Pikirannya langsung mengarah pada kamar hotel, lalu bayangan dirinya bersama laki-laki itu di atas ranjang. Lelaki itu memeluk dan menciumnya, lalu ...
“Tidaak!” Teriak Jihan, ia bergidik dan beringsut menjauh. Sambil mengepalkan kedua tangannya, Jihan bangkit dari kursinya dan berdiri menghadap Dika yang tampak bingung melihat sikapnya.
“Kau kenapa?”
Amarah berkobar dalam diri Jihan, untuk ke sekian kalinya ia benci dengan keadaan dirinya saat ini. Ia menatap setelan jas yang dikenakan Dika, lalu beralih pada jam tangan yang dipakainya. Jihan baru menyadari kalau semua yang melekat di tubuh laki-laki itu harganya selangit dan mungkin malah melebihi pendapatan kedainya selama satu tahun.
Lalu, jika ia memandang ke luar sana dan melihat mobil yang tadi dinaikinya bersama laki-laki itu lagi, Jihan akan melihat sebuah mobil mewah keluaran baru edisi terbatas yang menggunakan teknologi tercanggih abad ini.
“Apa yang ada pada diriku, yang menurutmu sangat sepadan dengan nilai uang yang telah Kau keluarkan untuk biaya perawatan nenekku hingga Kau berniat menjadikanku sebagai kekasihmu?” tanya Jihan tak kuasa membendung rasa sesak yang mulai menggayut di hatinya.
“Apa maksudmu?” kata Dika bingung, wajahnya berubah tegang.
Jihan memejamkan matanya sesaat, dan membukanya perlahan. Tangan yang tadi terkepal kuat kini luruh di kedua sisi tubuhnya. Ia cukup tahu diri dan sadar, karena Dika neneknya bisa selamat. Dan pada kenyataannya memang dirinya yang berhutang pada laki-laki itu. Dan ia pun sudah berjanji akan membantu Dika jika laki-laki itu membutuhkan bantuannya.
“Baiklah, kalau memang itu keinginanmu. Aku bersedia menjadi kekasihmu,” kata Jihan, membuat Dika balas mengernyit tajam.
“Apa Kau sudah menikah, Nona Jihan. Punya pacar atau sedang bertunangan dengan seseorang saat ini?” selidik Dika.
Jihan mencengkeram ujung kemeja yang dikenakannya, pertanyaan Dika itu membuatnya ingin tertawa. Toh semua itu bukan urusannya, lagi pula ia sudah setuju menjadi kekasihnya. Ia menarik napas dan menggeleng kuat, tetap saja bibirnya berucap dan menjawab pertanyaan Dika padanya. “Tidak ada, Aku masih lajang.”
“Baguslah kalau begitu,” Dika tersenyum lega. Untuk pertama kalinya ia merasakan kelegaan luar biasa saat mendengar seorang wanita berkata dirinya lajang. “Itu artinya Kau sedang tidak terikat hubungan dengan siapa pun saat ini dan siap menjadi kekasihku mulai malam ini.”
Jihan menelan ludah dengan susah payah, asmara bukanlah prioritas utama dalam hidupnya meski usianya sudah menginjak dua puluh tiga tahun. Ia tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan lelaki mana pun, yang terus dilakukannya hingga sekarang adalah bekerja dan terus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup dan juga biaya pengobatan neneknya.
“Oh, ya. Aku akan menyiapkan surat perjanjian kontrak di antara kita. Kau hanya tinggal menandatanganinya saja nanti. Setelah semua beres, Kau tidak perlu lagi memikirkan cara untuk membayar ganti rugi padaku. Semua lunas saat Kau menjadi kekasihku,” jelas Dika yang membuat Jihan gugup.
Buat Jihan, nenek adalah segalanya untuknya. Saat ia dihadapkan pada sebuah pilihan, pada akhirnya ia memilih setuju menjadi kekasih pria yang baru beberapa jam dikenalnya karena laki-laki itu berjasa besar menyelamatkan nyawa neneknya. Tapi menjadi kekasih Dika, itu artinya ia harus menemani laki-laki itu mulai malam ini.
“Kau tahu benar bagaimana keadaan nenekku saat ini, Aku ingin tetap berada di sini. Bisakah Kau menunda waktu kebersamaan kita malam ini sampai keadaan nenekku kembali stabil? Setelah itu kita bisa buat janji dan melakukan itu di tempat seperti yang Kau inginkan,” kata Jihan mencoba meminta waktu pada Dika karena tak mungkin meninggalkan neneknya di saat keadaannya masih belum sadarkan diri.
“Melakukan itu apa maksudmu?” Tanya Dika bingung. “Apa Kau sedang membicarakan masalah hubungan lelaki dan perempuan di atas ranjang?”
“Bukankah itu yang Kau inginkan dariku, Kau yang memintaku menjadi kekasihmu malam ini.” Balas Jihan.
“Heiii, apa yang sedang kalian perdebatkan?!” Denis yang menyaksikan sejak tadi, berubah panik mendengar ucapan Jihan yang mengira Dika menginginkannya di atas ranjang. “Kau salah paham padanya, bukan seperti itu maksud Dika padamu.”
Dika mengerutkan keningnya dan langsung mengerti melihat Denis menepuk keningnya dan Jihan yang terlihat bingung karena merasa apa yang dikatakannya memang benar adanya.
“Kau harus dengarkan penjelasanku ini. Duduk dan biarkan Aku bicara,” kata Dika meminta Jihan duduk kembali di dekatnya, dan wanita itu menurut. Duduk dengan wajah tegang karena rasa penasaran setelah mendengar Denis bicara kalau ia salah paham tentang maksud ucapan Dika padanya.
Dika lalu menjelaskan pada Jihan tentang hubungannya dengan Ayra dan keinginan keluarganya. Ia meminta Jihan menjadi kekasih kontraknya untuk menggantikan Ayra yang sangat mirip sekali dengannya.
“Aku pikir Kau ingin kita melakukan itu ...”
“Kau terlalu banyak berpikir, Nona.” Potong Dika cepat.
Jihan yang menyadari kalau dirinya telah salah paham pun merasa malu, meski begitu ia tetap setuju menjadi kekasih kontrak Dika.
“Sekarang Kau bisa tenang berhadapan dengan Dika, karena ia tak akan menuntutmu untuk melakukan itu.” Denis tergelak dan berlari menghindar saat Dika mendelik dan bersiap melancarkan tendangan ke arahnya.
“Hei, Kau mau ke mana?” seru Dika melihat Denis berlari sembari melambaikan tangannya.
“Ngopi!” sahut Denis singkat.
Jihan yang ditinggal berduaan saja tampak canggung berada di dekat Dika, ia menautkan kedua tangannya berharap lelaki itu tak melihat wajahnya yang bersemu merah.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani nenek Jihan datang dan mengabarkan pada mereka kalau kondisi neneknya sudah stabil dan telah sadarkan diri meski masih tampak lemah. Jihan pun segera mengunjungi ruang rawat neneknya bersama Dika, sementara sang dokter kembali ke ruang kerjanya.
“Nenek!” Jihan berlari memeluk neneknya, duduk di dekatnya sambil terus memegang erat tangan neneknya. “Syukurlah Nenek sudah sadarkan diri.”
“Maafkan, Nenekmu ini. Kau pasti sangat khawatir,” kata nenek tersenyum menatap wajah cucunya itu, lalu pandangannya beralih menatap sosok Dika yang berdiri di ujung ranjang menatapnya.
“Yang penting sekarang Nenek sudah sadar kembali,” sahut Jihan, menempelkan telapak tangan nenek di wajahnya. Tidak menyadari pandangan nenek terus terarah pada Dika yang berdiri tak jauh darinya.
“Siapa dia, Jihan. Sejak tadi dia bersamamu di sini, apa Kau tidak berniat mengenalkannya pada Nenekmu ini?”
Jihan tersentak dan langsung tersadar. Terlalu fokus pada neneknya, hingga lupa kalau ada Dika bersamanya.
“Dia ... dia itu ...” Jihan tergagap dan tahu harus menjawab apa pada neneknya. Ia menatap Dika dan terkejut saat laki-laki itu mendekat dan berdiri di samping neneknya.
“Saya Dika, Nek. Kekasih Jihan,” kata Dika memperkenalkan dirinya, ia meraih tangan nenek dan mencium punggung tangannya.
“Kekasih Jihan?” Kata nenek mengulang ucapan Dika dengan sorot mata terkejut yang kentara, beralih menatap Jihan yang sama terkejutnya seperti dirinya. “Bisa Kau tinggalkan kami berdua saja? Ada yang ingin Nenek bicarakan dengannya,” pinta nenek yang langsung diangguki Dika.
Dika berjalan tenang keluar ruangan, meninggalkan Jihan yang menatapnya dengan hati berdebar kencang. Tak menyangka kalau lelaki itu akan mengenalkan diri sebagai kekasihnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎