
Rona merah tampak menjalar di pipi putih Jihan, ketika Dika menjauhkan wajahnya dan tangan lelaki itu masih berada di lehernya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dengan bibir setengah terbuka, masih tak percaya kalau Dika baru saja menciumnya.
Dika menatapnya lama, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap sudut bibir Jihan yang basah. Ia menundukkan wajahnya dan menarik tengkuk Jihan lagi untuk mendekat.
“Stop!” seru Jihan, menahan bibir Dika dengan telapak tangannya. “A-apa Kau ingin menciumku lagi?!” Jihan bertanya dengan wajah memerah, lelaki itu sudah mencuri ciuman pertamanya. Ia cepat-cepat mengangkat kue di tangannya itu ke depan wajah, untuk berlindung dari serangan tak terduga bibir Dika.
Dika berdeham sejenak, menegakkan punggung sembari menyentak ujung jaketnya. Ia menolehkan wajahnya dan mendecak sebal begitu pucuk hidungnya menyentuh krim kue di tangan Jihan.
“Aku hanya ingin membersihkan krim coklat itu dari bibirmu,” jawab Dika, mengambil sapu tangan dari saku jaketnya dan menghapus krim kue dari hidungnya.
“Alasan saja!” cibir Jihan, sambil menurunkan kue di tangannya dan menaruhnya ke atas meja lagi. “Mana ada bersihkan bibir pakai bibir juga.”
Dika meringis mendengarnya. Ia ingin bersuara membalas ucapan Jihan, namun urung ia lakukan begitu melihat pasangan tadi melintas kembali di hadapan mereka. Kali ini dengan gaya berbeda, si lelaki mencekal lengan si wanita dan terus bicara dengan nada merayu seperti sedang membujuk si wanita yang tampak merajuk kesal.
Plak! Jihan menahan napas sambil menutup mulut dengan kedua tangannya, sementara Dika menggelengkan kepala sambil berucap wow begitu melihat tangan si wanita terangkat dan menampar pipi si lelaki lalu berlari pergi meninggalkan si lelaki yang hanya bisa berdiri bengong sambil mengusap-usap pipinya.
“Sayang!”
Detik berikutnya lelaki itu pergi menyusul teman wanitanya. Jihan mengembuskan napas dan menoleh pada Dika, di saat yang sama lelaki itu juga tengah menatapnya sambil memegangi kedua pipinya. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja keduanya tertawa bersama.
Dika lalu mengajak Jihan pulang, karena hari sudah semakin malam. Ia membuang gelas es krimnya dan meminta Jihan untuk melakukan hal yang sama dengan kuenya yang tinggal separuh. Tentu saja Jihan menolak, ia tak akan melakukan yang dipinta Dika dan berjanji akan menghabiskannya saat itu juga.
“Ck! Orangnya kecil tapi makannya banyak, Kau larikan ke mana lemak makananmu itu?!” Dika menatap Jihan dari kepala hingga kaki, menggeleng tak percaya melihat tubuhnya yang langsing.
“Biar makanku banyak, Aku tetap banyak bergerak. Lagi pula, Aku juga gak kurus-kurus amat.” Balas Jihan dengan bibir mencebik. Meski tak seseksieh Ayra asli, ia tetap percaya diri karena bagian tubuhnya menonjol di tempat yang memang seharusnya menonjol.
Dika menaikkan satu alisnya, pandangannya menyapu tubuh Jihan lagi dan berhenti di bagian dadanya. Ia mendengkus sambil lalu, berjalan lebih dulu menuju mobilnya. “Kau bahkan tak memiliki tubuh layaknya seorang wanita dewasa, rata di mana-mana.”
“Hei, apa Kau bilang?!” Jihan berlari mengejar Dika, ia menghadang langkah laki-laki itu saat hendak membuka pintu mobilnya. “Kau berkata seperti itu seolah Kau tak tertarik melihatku, lalu kenapa barusan Kau menciumku?”
Jihan menaruh kuenya di atas kap mobil, berdiri menantang dengan kedua tangan di pinggang. Dika memicingkan mata lalu bergerak maju dengan cepat sembari mengangkat kedua tangan memegang mobilnya, mengurung Jihan yang tak bisa bergerak lagi karena tubuhnya kini menempel di badan mobil.
“Sudah kukatakan padamu tadi, Aku hanya ingin membersihkan krim kue di wajahmu,” bisik Dika di telinga Jihan, lalu mendekatkan wajahnya menatap tepat pada manik mata Jihan yang langsung mengerutkan bahu dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Akui saja kalau Kau tertarik denganku,” tantang Jihan balas menatap Dika dengan berani. “Bukan hanya sekali, Kau bahkan sudah menciumku dua kali.”
Jihan merutuk dalam hati, menyesal telah menantang laki-laki itu. Dika semakin merapatkan tubuh, mengikis jarak di antara mereka berdua. Tangan kuatnya beralih memegang bahu Jihan. “Apa yang akan Kau lakukan?”
Dika tersenyum miring, ia memajukan wajahnya dan hendak mengecup bibir Jihan. Sayang hanya menemui ruang kosong karena Jihan bergerak cepat melorotkan tubuhnya dan berlari menjauh lalu bersembunyi di balik rimbun dedaunan yang ada di sekitar taman. “Hei, bukankah Kau ingin bukti dariku. Lalu kenapa Kau lari dan bersembunyi di sana?”
“Kalau Kau melakukan itu lagi, Aku akan menampar wajahmu sama seperti yang dilakukan wanita tadi!” ancam Jihan, ia menyembulkan wajahnya yang memerah dan mendelik kesal melihat Dika yang tertawa mengejek sambil mengusap-usap pipinya.
“Sudah malam, apa Kau tidak ingin pulang dan masih betah berdiri terus di sana?” teriak Dika melihat Jihan tak juga bergerak dari persembunyiannya setelah beberapa menit lamanya.
Jihan keluar dan berjalan perlahan mendekati Dika, ia mencebik menatap Dika yang tersenyum geli melihat tingkahnya. “Jangan tertawa seperti itu, Aku serius dengan ucapanku.”
Dika melipat bibir dan mengangguk, ia menyatukan kedua jarinya membentuk bulatan lalu membukakan pintu untuk Jihan. Setelah itu ia berjalan memutar mengitari mobilnya menunggu Jihan masuk. “Oke!”
Jihan menyambar kuenya yang masih berada di atas kap mobil dan cepat-cepat masuk ke dalam, duduk manis dan kembali menyantapnya. Dika yang melihat hal itu berteriak gusar, melarangnya karena hanya akan mengotori mobilnya saja.
“Kau sudah membelikannya untukku, sayang kalau harus dibuang. Lagi pula kue ini enak rasanya, dan Aku akan menghabiskannya sekarang. Jadi Kau tidak perlu takut kue ini akan mengotori mobilmu,” balas Jihan.
“Awas saja kalau Kau menjatuhkan kuemu itu, Kau harus mencuci mobil ini sampai bersih!”
“Tenang saja, Aku jamin tidak akan ada secuil pun remah atau krim kue ini menempel di bagian mobilmu ini.” Sahut Jihan, ia makan dengan lahap tak peduli bagaimana Dika menatapnya dengan raut wajah keheranan.
Kalau biasanya wanita akan makan dengan perlahan-lahan dan terkesan malu-malu saat bersama teman prianya, sangat berbeda dengan Jihan yang tampak acuh dengan kehadiran Dika yang berada di sampingnya.
“Apa Kau tidak melihatku di sini memperhatikan bagaimana cara Kau makan? Kau bisa makan perlahan tanpa harus takut Aku akan meminta bagian?” ungkap Dika tak bisa menahan diri untuk mengomentari cara makan Jihan yang berantakan.
Jihan menoleh, masih dengan mulut penuh mengunyah makanan. Ia menyorongkan kue di tangannya ke hadapan Dika yang dengan cepat menepisnya. “Kalau Kau mau, kenapa menolak saat Aku menawarkannya padamu?”
“Cepat habiskan, dan bersihkan krim itu dari bibirmu!” sergah Dika tak sabar.
Jihan tertawa lalu mengusap bibirnya yang terkena krim kue dengan ujung jarinya. Setelah itu dengan gaya menggoda, ia mengerjapkan mata sambil memonyongkan bibirnya di depan Dika. “Bagaimana Tuan Dika, sudah bersih belum?”
Dika menggeram, tak membiarkan kesempatan lewat begitu saja di depan matanya. Setelah gagal di percobaan pertama saat ingin membuktikan ucapan Jihan apa ia tertarik sungguhan dengan wanita itu, Dika dengan cepat menarik pinggang Jihan dan memiringkan wajahnya. Kue di tangan Jihan jatuh ke lantai mobil, bersamaan dengan bibir Dika menyambar bibir monyongnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎