
Selama dua hari dirawat, Dika terus datang menjenguk Jihan di rumah sakit. Setiap kali datang, selalu saja ada yang dibawanya, entah itu makanan atau buah-buahan segar. Seperti siang itu, Dika datang saat jam istirahat kerja. Ia duduk di dekat Jihan, dan memaksanya makan meski wanita itu menggeleng dan menutup mulut rapat beralasan kalau liurnya pahit.
“Kau harus banyak makan supaya cepat sembuh,” kata Dika bersiap menyuapi Jihan makan. “Buka mulutnya, aaa ...”
Wajah pucat Jihan bersemu merah, berulang kali menolak tapi Dika tetap memaksa. Ia akhirnya menurut dan mulai membuka mulut, membuat Dika tersenyum melihatnya.
“Biar Aku makan sendiri,” pinta Jihan, lalu mengambil alih piring dari tangan Dika. Jihan mulai menyuap makanannya dan Dika duduk mengawasi sampai ia menyelesaikan suapan terakhirnya.
Saat tiba giliran minum obat, Dika sempat heran melihat botol berisi obat sirop di atas rak, ia menanyakan pada Jihan dan wanita itu hanya menjawab singkat. “Obatku.”
“Kok?”
Tak peduli dengan raut keheranan di wajah Dika, dengan cepat Jihan mengguncang botol obat di tangannya dan meminumnya sesuai takaran. Sempat mengerutkan wajah karena rasa pahit di lidah, namun hanya sesaat. Setengah gelas air putih sudah cukup membuat senyum di wajah Jihan terbit kembali.
“Seperti anak kecil saja.” Dika menggeleng tak percaya, tapi Jihan hanya tersenyum menanggapi.
Beberapa jam berikutnya Jihan merasa heran karena Dika masih terus tinggal dan menemaninya, padahal setahu Jihan laki-laki itu harus segera kembali ke kantornya karena sempat beberapa kali mendengar asistennya menelepon.
Seperti tahu apa yang dipikirkan Jihan, Dika pun menjelaskan kalau ia sudah menyerahkan sisa pekerjaannya hari ini pada Denis. Tak ada pertemuan dengan klien sampai sore, jadi ia punya banyak waktu berlama-lama menemani Jihan di rumah sakit. Dan wanita itu tak perlu khawatir jika kehadirannya di sana akan mengganggu pekerjaannya.
Merasa kalau kondisinya sudah membaik, Jihan meminta pada dokter yang berkeliling memeriksanya hari itu untuk diperbolehkan pulang. Dokter membolehkan dan meminta Jihan kembali lagi dua hari kemudian untuk memeriksakan kondisinya lagi. Sore hari itu Jihan sudah dalam perjalanan pulang ke rumahnya bersama Dika.
Nenek menyambut kedatangan Jihan dengan gembira, dan meminta Dika untuk makan malam di rumah mereka. Tapi Dika menolak dengan halus dan berjanji akan makan malam bersama mereka lain waktu.
“Terima kasih,” kata Jihan tulus sesaat setelah Dika berpamitan pulang pada nenek, dan ia turun mengantar laki-laki itu sampai masuk ke dalam mobilnya.
Dika tersenyum menanggapi, Jihan balas tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Untuk sesaat lamanya Dika tertegun menatapnya. Cahaya bulan menerangi pelataran rumah Jihan, wajahnya yang pucat tampak bersinar di antara temaram lampu jalanan di dekat mereka. Rambut sebahu Jihan tertiup angin dan sebagian menutupi pipinya, jemarinya yang ramping perlahan menyelipkannya di balik telinganya.
Tiba-tiba saja dada Dika berdesir, ada rasa aneh yang melingkupi hatinya saat melihat senyum Jihan. Ia tersentak dan tersadar saat bayangan seseorang lewat di sampingnya.
“Hati-hati!” seru Jihan, dan langsung merangkul lengan Rani yang baru tiba. Dika melajukan mobilnya, ia sempat melirik ke belakang saat Jihan masuk ke dalam rumahnya.
Saat tiba di rumahnya, Dika langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat dan menolak ajakan Al yang datang memanggilnya untuk makan malam bersama kedua orang tua mereka. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur dan terus terbayang wajah pucat Jihan, wanita itu kelelahan karena dirinya. Rasa bersalah kembali mendera hati Dika.
Keesokan harinya dan hari berikutnya, Dika bolak-balik ke kantor dan rumah Jihan hanya untuk melihat keadaannya. Ia sempat heran pada dirinya sendiri karena begitu peduli pada gadis itu, lalu berpikir kalau semua itu ia lakukan karena rasa bersalahnya pada Jihan.
Lima belas menit lagi Aku datang jemput kamu ke rumah sakit, send.
Dika tersenyum lebar tak lama kemudian, ketika mendapat balasan cepat Jihan yang menjawab singkat.
“Den, tunda saja pertemuan hari ini. Aku ada urusan penting,” kata Dika menyambar jasnya yang tersampir di belakang kursinya dan memakainya cepat. “Atau begini saja. Supaya tidak mengecewakan mereka, Kau saja yang mewakili. Dan kirim hasilnya secepatnya padaku.”
“Bukankah Tuan tahu kalau pertemuan ini sangat penting untuk ...”
“Untuk saat ini, ada hal yang jauh lebih penting untuk Aku lakukan. Dan ini menyangkut masa depanku,” potong Dika yang membuat Denis mengerutkan keningnya.
Masa depan? Denis ingin bersuara lagi, tapi Dika sudah melesat pergi dari hadapannya. Ia merasa heran dan berpikir keras, tapi ponselnya berdering dan suara dari seberang sana mengingatkan dan meminta konfirmasi padanya segera. Tak ada pilihan lain, ia yang akan datang sebagai perwakilan.
Dika menjemput Jihan di rumahnya untuk mengantarnya ke rumah sakit, dan wanita itu sudah siap di depan rumah menunggu kedatangannya. Tiba di tempat tujuan, mereka harus bersabar menunggu giliran bertemu dengan sang dokter karena banyak pasien yang datang berobat. Dika dengan setia menemani Jihan hingga tiba giliran diperiksa.
Hari sudah siang saat Jihan selesai, Dika mengajaknya makan siang di salah satu kafe yang ada di dekat rumah sakit. Disela makan siang bersama, Jihan menanyakan pada Dika kenapa terus-terusan menemaninya di rumah sakit.
“Aku sudah berjanji pada nenekmu, akan menjagamu dengan baik. Dan Aku sedang melakukannya, Kau sakit itu gara-gara Aku. Kau kelelahan juga karena Aku,” jawab Dika. “Bolak-balik ke rumah menuruti semua permintaan mama supaya sandiwara kita berjalan sesuai rencana.”
Jihan tersenyum mendengarnya, “Aku kelelahan bukan karena Kamu. Kebetulan saja Aku lagi kurang enak badan, tapi tetap Aku paksain buat kerja masak di kedai. Merasa sayang karena banyak pelanggan yang datang dan suka dengan hasil masakan kami. Kau tahu, hari pertama buka saja banyak sekali keuntungan yang kami dapat. Di luar prediksi,” ungkap Jihan dengan mata berbinar.
Percakapan mengalir begitu saja, dan Jihan banyak mendapat masukan dan saran dari Dika untuk kemajuan usaha kedainya. “Kerja keras boleh, harus terus semangat. Tapi kesehatan tetap nomor satu,” kata Dika mengingatkan.
Dika kemudian mengajak Jihan jalan-jalan menikmati udara sore di pantai, dan Jihan terlihat begitu menikmati. Meski belum sepenuhnya pulih dari sakitnya, tapi Jihan tampak lebih segar. Ia bermain air dan berpanas-panas di bawah sinar matahari.
Malam harinya saat kembali ke rumahnya, Jihan merasa kecapaian. Melihat Jihan tampak lemah, Dika berniat membawanya ke rumah sakit lagi. Tapi Jihan menolak.
“Harusnya Aku tidak membawamu ke sana, dan sekarang Kau kelelahan lagi.” Sesal Dika.
“Pulanglah, Aku akan baik-baik saja malam ini. Aku akan tidur cepat dan besok pagi bangun dengan tubuh segar, jadi sekarang sebaiknya Kau pulang.” Kata Jihan meminta Dika pulang, tapi Dika menolak karena khawatir melihat Jihan yang tampak lemah.
Nenek yang melihat Dika menolak pulang, angkat bicara dan berjanji pada pria itu akan merawat Jihan cucunya dengan baik hingga Dika tak perlu merasa cemas berlebihan.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎