Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 13. Berebut perhatian Jihan



Sejak tahu kalau Jihan pandai memasak, mama semakin rajin mengundangnya datang ke rumah. Mama yang biasanya hanya tinggal perintah, jarang ke dapur karena semua sudah dikerjakan asisten rumah tangga, sekarang punya hobi baru. Memasak! Mencoba berbagai menu masakan, tentunya ditemani Jihan calon mantu kesayangan.


Jihan sih oke-oke saja, berhubung ia juga memang doyan makan. Sebaliknya yang terjadi dengan Dika yang merasa waswas karena takut Ayra asli sewaktu-waktu akan muncul di hadapan mereka.


Sebenarnya Jihan sedikit kewalahan karena harus sering bolak-balik rumah sakit untuk melihat kondisi terkini neneknya, lalu pergi ke rumah Dika setiap mama memintanya untuk datang. Menolak setiap kali mama menawarkan padanya untuk dijemput sopir kecuali Dika, membuat Jihan kerap berkendara sendiri ke sana dengan motornya.


Lelah luar biasa dirasakan Jihan, tapi ia tetap berusaha ceria. Untuk sementara waktu Jihan menutup kedainya, ia tak lagi menyuplai makan siang untuk para pekerja bangunan. Dika menggantinya dengan uang makan yang diberikan setiap pagi hari pada para pekerjanya.


Lain lagi dengan Almira, adik Dika. Ia yang selama ini selalu menjaga jarak karena tak menyukai sikap Ayra yang angkuh dan terkesan sombong itu, berbalik begitu menyayangi Jihan setelah tahu kalau calon kakak iparnya itu ternyata juga menyukai musik dan satu selera dalam memilih idola.


“Oh My God!” Dika memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut setiap kali pulang dan melihat Jihan sibuk memasak di dapur rumahnya, berulang kali protes tapi tak digubris.


“Kenapa Kau tidak duduk manis saja di sini dan membiarkan asisten rumah tangga yang bekerja?!” protes Dika melihat meja makan sudah penuh dengan berbagai menu masakan, dan semua itu hasil olahan tangan Jihan dibantu mama.


Jihan mengedikkan bahunya, “Karena Aku suka melakukannya,” kata Jihan sembari menuangkan air putih di gelas dan memberikannya pada Dika. Sikapnya dari hari ke hari sudah seperti kekasih yang sebenarnya, dan Dika sepertinya sangat menikmati setiap perhatian yang diberikan Jihan padanya.


“Apa Kau tidak merasa lelah berdiri terus dalam waktu lama?” tanya Dika lagi, yang dijawab Jihan dengan menggelengkan kepalanya.


“Sedikit,” sahut Jihan sambil tersenyum. “Tapi itu bukan masalah buatku.”


“Tapi itu jadi masalah buatku,” bisik Dika dalam hati.


“Dan selera makanku bertambah besar setelah Kak Ayra turun tangan membantu memasak di rumah ini,” kata Al yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka, menarik kursi dan duduk rapi di sebelah Dika. “Dan sebagai hadiah dariku, Aku akan mengajak Kak Ayra nonton konser musik besok malam.”


Al mengacungkan tiga lembar tiket konser di tangannya pada Jihan yang menatapnya dengan mata berbinar. Dika melirik sekilas dan langsung menolak ikut.


“Ya sudah, biar Al nonton berdua bareng Kak Ayra saja besok.” Kata Al sambil mencebikkan bibir, ia beralih menatap Jihan lagi dan tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya. Bibirnya bergerak tanpa suara menyebut nama sang idola.


Jihan tersenyum lebar dan langsung menggoyangkan tangannya di depan Al yang menyambutnya dengan menyatukan kedua tangan mereka.


“Tidak boleh!” sahut Dika cepat.


“Kenapa tidak boleh, bukannya Kak Ayra setuju jalan bareng sama Al?” tanya Al heran.


Dika gelagapan, tapi berusaha tetap terlihat tenang. Ia mendelik sebal pada adiknya itu. “Tidak boleh ya tidak boleh!”


“Besok malam Mama sama Papa juga ada undangan makan malam di tempat relasi bisnis Papa, Mama mau ajak Ayra ke sana sekalian mau kenalin sama mereka.” Kata mama yang berjalan menuruni anak tangga rumahnya dan langsung memotong pembicaraan antara ketiga anak muda yang ada di meja makan itu.


“Gak bisa, Ma. Besok itu giliran Kak Ayra jalan sama Al, kami mau nonton konser musik. Kak Ayra kan juga butuh hiburan, masa iya yang dihadapi makanan terus.” Ganti Al yang protes sama mamanya.


“Kakakmu itu mau menikah, dan dia nanti yang akan meneruskan usaha Papamu. Jadi wajar kan kalau Mama dan Papa sering-sering ajak Ayra dan kakakmu ini untuk bertemu dengan relasi bisnis Papa mulai dari sekarang.”


“Ish, Mama.” Rajuk Al dengan wajah cemberut.


Papa yang datang belakangan, mengernyit melihat wajah masam Al dan Jihan yang terdiam. Ia menyenggol lengan mama sambil menggerakkan dagunya ke arah Al. Mama cerita kalau ia mengajak Ayra besok malam ke acara makan malam rekan bisnis mereka, di saat yang sama Al juga mengajak Jihan nonton konser musik.


Papa terkekeh mendengarnya, ia menatap Jihan sambil tersenyum. “Betapa beruntungnya putraku Pradika memiliki calon istri yang jadi rebutan mama dan adiknya.”


“Uhuk!” Dika tersedak minumannya, Jihan dengan sigap menepuk pelan punggungnya. Sikap spontannya itu membuat Dika tertegun, ia menoleh menatap Jihan yang tersenyum lembut padanya. Dan semua itu tak luput dari perhatian papa.


“Ma, biarkan Ayra menikmati hiburan bersama Al. Kita bisa mengajaknya lain waktu,” kata papa lagi yang membuat wajah Al kembali bersinar, begitu pula dengan Jihan. Pasti akan sangat menyenangkan nonton konser penyanyi idola secara langsung, membayangkan itu Jihan senyum-senyum sendiri.


“Mama tuh ya, pengen banget lihat kalian berdua itu cepat-cepat nikah. Buat apa lama-lama kalau semua sudah pada siap, mau tunggu apa lagi?!” tanya Mama, masih sedikit kesal karena harus bersaing dengan Al untuk mengajak Jihan pergi. Padahal sudah terbayang mau mengenalkan calon mantunya yang jago masak itu pada rekan bisnisnya.


“Oh, tidak!” sahut Jihan dan Dika bersamaan.


Papa mengulum senyum melihat wajah-wajah gugup di hadapannya itu. Dika menghentikan makannya dan mewakili menjawab pertanyaan mama.


“Ma, kami itu masih betah pacaran. Kami juga butuh waktu lebih lama lagi untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lain, biar nanti gak kaget kalau sudah nikah.” Jawab Dika yang membuat merah wajah Jihan yang mendengarnya.


“Heran, deh. Kalian kan sudah lama pacaran, waktu dua tahun itu sudah cukup bagi kalian untuk saling mengenal. Mama sama Papa saja pacaran cuman dua bulan, habis itu langsung nikah. Buktinya sampai kalian dewasa seperti ini, hubungan kita baik-baik saja. Rumah tangga Mama sama Papa adem ayem. Sebenarnya apa yang membuat kalian berdua terus-terusan menundanya?”


“Kami perlu waktu lebih lama buat saling mengenal, karena waktu kebersamaan kami selama ini sangat kurang. Lebih banyak dihabiskan dengan bekerja, dan Aku sangat mengerti kesibukan kerja yang harus dihadapi Dika. Jadi tidak mungkin menuntut banyak pada Dika, meski sebenarnya hati ini ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengannya.” Kata Jihan angkat bicara.


“Baiklah, Mama mengerti. Mama tidak akan memaksa kalian lagi untuk cepat-cepat nikah, nikmati masa-masa pacaran kalian.” Akhirnya mama tersenyum kembali, dan itu sangat melegakan untuk Jihan. Ia menatap Dika dan langsung tertunduk malu, begitu melihat laki-laki itu juga tengah menatap ke arahnya dengan pandangan berbeda dari biasanya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎