Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 27. Karena Kamu cuma satu



Jihan meyakinkan dirinya kalau semua ucapan papa tentang hari pernikahan dirinya dan Dika hanya sekedar gurauan semata, dibalik kesungguhan hati papa yang memberinya sebuah kepercayaan besar untuk mengelola bisnis resto keluarga.


“Tenang, kita hadapi sama-sama. Lagi pula kita yang akan menjalani. Tapi kalau sekarang Kau sanggah ucapan papa, yang ada ia akan curiga.” Bisik Dika menenangkan Jihan yang tampak terkejut mendengar pernyataan papa barusan.


Tangan Jihan masih gemetar saat sesi potong tumpeng baru dimulai, sebagai penanda kalau resto Q’time resmi dibuka hari itu. Didampingi Dika yang berdiri di sampingnya dan sesekali mengusap lembut punggungnya, Jihan memberikan suapan pertamanya pada papa. Lalu disusul mama yang tak berhenti terus tersenyum padanya, kemudian Dika dan diakhiri dengan Al.


“Terima kasih, Kaka ipar.” Al memeluk Jihan dan mencium kedua pipinya, yang dibalas Jihan dengan melakukan hal yang sama. “Senangnya, Aku punya kakak perempuan yang satu frekuensi.” Imbuh Al seraya mengedipkan matanya, sikap cerianya itu sedikit banyak bisa memberi kekuatan pada Jihan.


Susana berubah meriah ketika terdengar alunan musik dari band pengiring acara yang menyanyikan lagu-lagu romantis. Jihan meminta diri untuk duduk sejenak sembari menenangkan diri, mengatur degup jantungnya yang berdebar kencang.


Jihan hanya tersenyum mengiyakan ketika Dika ditarik ke salah satu meja oleh rekan-rekannya, dan ia menolak dengan menggelengkan kepala saat laki-laki itu memintanya untuk ikut bergabung bersama dengannya.


“Biar Papa sama Mama yang temani Ayra di sini, Kau sapa dulu teman-temanmu sana. Tapi jangan lama-lama, kasihan Ayra kalau harus Kau tinggal lama.”


Mama dan papa akhirnya ikut duduk menemani, sementara Al lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-teman sekolahnya yang datang bersamanya. Para tamu undangan yang kebanyakan adalah rekan bisnis mereka silih berganti datang menghampiri dan mengajak mengobrol bersama.


Jihan yang sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan karena banyak menggunakan istilah-istilah bisnis dalam bahasa asing hanya diam mendengarkan, dan sesekali tersenyum ketika mama menyebut namanya dalam percakapan mereka.


Baru saat Dika datang menghampiri mejanya, papa mengajak mama untuk berkeliling menyapa tamu yang lain.


“Mau Aku ambilkan minum?” suaranya hampir tenggelam oleh dentuman alat musik yang terdengar lantang. Dika harus menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Jihan agar suaranya bisa terdengar jelas, sebelah tangannya melingkari sandaran kursi di belakang punggung wanita itu tanpa menyentuhnya sedikit pun.


Jihan mengerutkan bahunya, dadanya berdesir merasakan napas hangat Dika yang menggelitik sisi lehernya dan membuat kulit wajahnya merona. Detak jantungnya yang sudah berangsur tenang kini berdebar kencang lagi.


“Minum?” Jihan mendongak menatap Dika seraya mengulang ucapan laki-laki itu sambil mengarahkan telunjuknya di dada. Dika tersenyum dan mengangguk padanya.


Sebelum Dika menyadari perubahan raut wajahnya, Jihan menoleh cepat menatap deretan minuman yang tertata rapi di atas meja panjang berbentuk setengah lingkaran yang dibentuk menyerupai meja sebuah bar. Lalu mengangguk setuju seraya menyebut salah satu minuman yang ia inginkan.


“Tunggu, ya.” Dika berjalan menuju ke sana, menyeruak di antara para tamu lainnya dan mengambil minuman sesuai pilihan Jihan. Lalu memanggil seorang pelayan dan bicara padanya seraya menunjuk ke arah Jihan. Sambil mengangguk sopan, pelayan itu bergegas mengantar ke meja Jihan berada.


“Di sini Kau rupanya. Akhirnya, setelah tadi Aku mencarimu ke mana-mana.” Seorang wanita muda, cantik dan tampil anggun dengan pakaian yang dikenakannya, datang bersama teman prianya menyapa Jihan di mejanya.


“Lana, Aku ambil minuman dulu.” Wanita yang dipanggil Lana itu menarik kursi kosong di samping Jihan, duduk santai seolah mereka sudah saling mengenal lama sementara sang pria berjalan mengambil minuman untuk mereka.


“Oke, seperti biasa saja.” Sahutnya yang dibalas dengan anggukan sang teman pria. Ia menoleh pada Jihan dan tersenyum dengan bibir mencebik.


Jihan mengernyit, merasa tak mengenal Lana. Tapi menurut pengakuan wanita itu, ia adalah sahabat dekatnya. Bisa jadi memang benar seperti ucapannya, wanita ini adalah sahabat Ayra. Sayangnya Jihan tak mengetahuinya.


“Kenapa Kau mencariku tadi?” tanya Jihan, berusaha bersikap wajar. Tak ingin melakukan kesalahan yang akan membuat Lana curiga padanya. Seingat dirinya, Ayra adalah wanita yang angkuh dan sangat pemilih dalam hal pertemanan.


Lana mencomot kue yang tersaji di atas meja, dan memakannya sambil berceloteh tentang kegiatan modeling mereka. Sudah hampir sebulan lamanya Ayra absen dalam beberapa sesi latihan mereka, dan semua orang mencarinya. Setelah melihat dari berbagai media yang menayangkan kegiatan Ayra dengan keluarga Dika, mereka menduga kalau itulah penyebab Ayra tak muncul di sana.


“Terima kasih,” kata Jihan setelah pelayan datang dan meletakkan minuman ke atas meja, menjeda ucapan Lana yang sedari tadi terus bicara dengannya.


Tak lama kemudian teman pria Lana datang dengan membawa dua gelas minuman, ia duduk sejenak sambil berbisik dengan mata menatap sekitar seolah sedang mencari seseorang.


“Dika mana, kok gak kelihatan?”


Jihan mengangkat wajah mencari bayangan Dika yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangan matanya. Ia tersenyum lega melihat lelaki itu berdiri di tengah panggung bersama para pemain musik dan sedang memegang mik. “Itu dia, mau mentas kayanya.”


Jihan tersenyum seraya melambaikan tangannya, wajahnya merona begitu Dika balas melambaikan tangan dan mengedipkan sebelah mata padanya.


Dika mulai cek suara, berbicara sejenak pada kru pengisi acara. Lalu terdengar denting alat musik yang dipetik dan Dika tampak mengacungkan jempolnya.


“Oke, buat Kamu yang duduk di sana. Satu persembahan lagu khusus untukmu, sebagai ungkapan hati Aku yang tulus mencintaimu. I love you, semoga Kamu senang mendengarnya.” Dika merendahkan tubuhnya, diiringi tepukan riuh semua tamu yang hadir yang perhatiannya kini tertuju padanya.


Tak lama kemudian dari mulutnya mengalun lagu manis nan romantis, yang membuat Jihan tersipu dan tak bisa menyembunyikan binar cinta di matanya.


Kau yang paling setia, kau yang teristimewa. Kau yang aku cinta, cuma engkau saja.


Dari semua pria, aku yang juara. Dari semua wanita, kau yang paling sejiwa.


Denganmu semua air mata, menjadi tawa suka ria. Akankah kau selalu ada, menemani dalam suka duka.


Denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria. Jangan lah kau berpaling dariku, karena kamu cuma satu untukku.


Kau satu-satunya dan tak ada dua, apa lagi tiga. Cuma engkau saja. Jangan lah kau berpaling dariku, karena kamu cuma satu untukku.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎