Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 23. Pasangan bucin



“Ayra!”


Suara itu terdengar lagi, lebih dekat dan kali ini nadanya lebih tinggi. Jihan segera menghabiskan kuenya, lalu melumuri wajahnya dengan krim kue yang tersisa. Tak peduli dengan suara penonton yang tertawa melihat tingkahnya, itu dilakukannya agar Dika tak mengenali wajahnya.


Jihan melirik sekilas ke arah penonton dan menemukan sosok tampan itu di sana, berdiri berkacak pinggang dan melotot tajam padanya.


“Mati Aku!” Jihan bergumam dalam hati, lalu balik badan dan bersiap mengambil ancang-ancang sambil memindai sekitarnya.


“Hei, bukankah dia Pradika Nugraha?” Seru salah satu penonton yang mengenali Dika. Rupanya saat berteriak memanggil nama Ayra tadi, tanpa sadar Dika melepas kacamata dan membuka maskernya. “Dan wanita itu pasti Ayra, tunangannya.”


Tak pelak lagi para wanita yang melihat idolanya ada bersama mereka langsung mengerumuni Dika, dan kesempatan itu digunakan Jihan untuk berlari menghindar dan bersembunyi di toilet wanita yang ada di lantai dasar mal.


Cepat-cepat Jihan membersihkan wajahnya di sana sambil mengumpat dalam hati. Berniat melewatkan hari itu bersenang-senang dengan Rani berdua melakukan semua hal sesuka hati, malah dikejutkan dengan kehadiran Dika di tempat itu. Bibirnya yang tadinya cemberut berubah tersenyum membayangkan bagaimana repotnya Dika saat harus menghindar dari kejaran para wanita di luar sana.


Sambil mengendap berjalan keluar dari dalam toilet, Jihan kembali dikejutkan dengan kemunculan Dika yang menghadangnya di pintu keluar. Lelaki itu langsung mencengkeram siku tangannya kuat dan mendorongnya ke dinding tembok. Tak ada orang di sana yang melihat mereka, hingga Dika leluasa menumpahkan kekesalannya.


“Apa sebenarnya yang Kau inginkan?” tanya Dika dengan raut muka sebal. “Kenapa Kau bertingkah aneh seperti ini, Kau senang rupanya melihat Aku terjebak dengan wanita-wanita di luar sana. Apa memang itu yang Kau harapkan? Lalu dengan berdandan seperti ini, apa Kau pikir Aku tidak akan bisa mengenalimu? Kau salah besar!”


Dika benar-benar kesal, ia bisa merasakan emosi dalam dirinya menggelegak melihat bagaimana Jihan berlari menghindar dan malah membiarkannya diserbu banyak wanita. Ingin rasanya berteriak dan memaki gadis itu, suatu hal yang selama ini tak pernah ia lakukan hingga membuatnya terheran-heran dengan dirinya sendiri.


“Apa Aku tidak boleh bersenang-senang dengan sahabatku dan menjadi diriku sendiri tanpa harus direpotkan dengan urusan menjadi diri wanita lain yang jelas-jelas sangat bertolak belakang denganku?” balas Jihan dengan nada menantang, dan Dika yang tidak terima sikap Jihan padanya itu menjadi bertambah emosi.


“Aku tidak pernah melarangmu melakukan hal yang Kau suka. Tapi, bukankah Kau sudah berjanji padaku dan setuju melakukannya. Saat ini semua orang mengenalmu sebagai Ayra, tunanganku. Aku, Pradika Nugraha." Dika menunjuk dadanya, sambil memiringkan wajahnya ia menatap lekat manik mata Jihan. "Jadi Kau harus menjaga sikapmu, bukannya bertingkah semaunya dan melakukan hal konyol seperti itu. Bagaimana kalau kedua orang tuaku tahu dan melihatmu melakukan hal ini, apa Kau ingin mengacaukan semua rencanaku yang sudah berjalan baik selama ini?”


Wajah Jihan langsung berubah kusut, “Tak perlu Kau ingatkan lagi soal itu, Aku tahu benar apa yang Aku lakukan sekarang salah di matamu. Tapi, bisakah sehari ini saja Kau membiarkanku jadi apa yang Aku mau tanpa ada penolakkan darimu?”


Tatap mata Dika menelusuri perlahan gaun yang dikenakan Jihan dari bawah ke atas, dan mendecak kesal sambil menggelengkan kepala begitu menyadari kalau gaun itu terlalu pendek dan ketat bukan seperti aslinya. Ditatap seperti itu membuat Jihan risi dan berusaha menurunkan kain roknya, tapi hanya sedetik kain itu kembali terangkat naik saat ia bergerak.


Pandangan Dika berhenti di bagian kepala Jihan dan dengan gerakan cepat ia menarik lepas wignya. “Tidak akan kubiarkan Kau melakukannya. Cepat ganti pakaianmu dan hapus riasan wajahmu yang menakutkan itu!”


“Sepertinya hanya Kau saja yang tidak suka melihatku dandan cantik seperti ini,” cibir Jihan, ia bersungut meraba rambutnya yang tidak mengenakan wig lagi. “Buktinya mereka semua terkesan dengan penampilanku, dan Aku yakin Aku bisa memenangkan lomba busana dan meraih hadiahnya. Dan Jangan coba-coba membuang barang milikku sembarangan!” sentak Jihan begitu melihat Dika hendak membuang wig model keriting panjang miliknya itu ke tong sampah.


“Apa Kau tidak bisa membedakan mana penonton yang terkesan dan mana penonton yang menertawakan penampilanmu?” Lalu dengan gerakan tak terduga, Dika mendekatkan wajahnya seperti hendak mencium Jihan. “Satu hal lagi yang harus Kau tahu, Kau jauh lebih cantik dengan model rambut sebahumu yang sekarang.”


“K-kau mau apa?” Jihan mendorong bahu Dika dan bergerak cepat menggeser tubuhnya, menghindar dari sergapan bibir Dika yang sudah bersiap maju menyerang hingga ia terpojok di sudut ruangan.


“Cepat ganti pakaianmu atau Aku akan men ...”


“Oke, Aku ganti. Tapi pakaianku ada di tas dan dibawa Rani, Aku harus menemui dia dulu di tempat lomba.” Sahut Jihan, ia berjalan miring karena tak ingin tertangkap tangan Dika yang bergerak ingin meraih lengannya.


“Kau tak perlu repot-repot mencarinya di sana,” sahut Dika sambil berkacak pinggang, membuat Jihan mengerutkan keningnya.


“Kenapa?”


Kerutan di kening Jihan bertambah dalam begitu melihat lengan seseorang mengulurkan tas miliknya dari balik dinding tanpa menampakkan wajahnya. Jihan meraihnya dan tangan itu cepat-cepat ditarik pemiliknya. “Rani, kenapa bersembunyi?”


Tak ada jawaban, Jihan menatap Dika dengan sorot mata bertanya yang kentara. Tapi laki-laki itu hanya mengedikkan bahu dan menyuruhnya untuk segera mengganti pakaiannya.


Jihan hanya bisa menurut, dengan wajah masam ia segera masuk kembali dan mengganti pakaiannya. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan memakai hoody lengan panjang dan jeans belel warna biru yang sudah pudar dan ada sobek di bagian paha dan lututnya.


Sekali lagi Dika mendelik melihat penampilan Jihan, tapi wanita itu lagi-lagi mengingatkan kalau hari ini ia boleh menjadi diri sendiri dan Dika harus menerimanya. Sedikit lega karena Dika akhirnya mau menuruti keinginannya, Jihan lalu berjalan keluar dan kembali ke area lomba diikuti Dika yang berjalan di sampingnya.


Saat semua mata mengarah pada mereka, dan bisik- bisik mulai terdengar di sekitar mereka, Dika meraih tangan Jihan dan menggenggamnya erat. Wanita itu menoleh padanya, dan Dika mengedipkan sebelah matanya. Wajah Jihan kembali merona dan itu terlihat jelas oleh mata penonton yang ada di dekat mereka.


Saat pembawa acara mengumumkan pemenang lomba busana, dan namanya keluar sebagai pemenangnya, Jihan berteriak senang dan tanpa sadar menghambur memeluk Dika. Terdengar siulan dan tepuk tangan penonton, Jihan tersadar dan segera melepas pelukannya. Hadiah akan diberikan di akhir acara, dan acara kembali dilanjutkan.


Beralih pada lomba pasangan terbucin yang akan segera dimulai, ramai penonton yang mendaulat pasangan Jihan dan Dika untuk ikut serta. Tak bisa mengelak, Dika berbisik di telinga Jihan yang membuat wanita itu tersipu dan tampak salah tingkah lalu menepuk manja lengannya.


“Kau percaya padaku?” tanya Dika. “Kau hanya perlu mengingat kalau Aku adalah tunanganmu, dan mereka semua yang ada di sini tahu kalau kita adalah sepasang keaksih. Jadi biarkan Aku melakukannya dengan caraku.”


“Ayo kita menangkan lomba ini,” sahut Jihan seraya mengangguk dan balas menggenggam tangan Dika. Teriring suara tepukan penonton, keduanya naik ke atas panggung di mana peserta lain sudah menunggu.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎