
Dika mengakhiri lagunya diiringi tepuk riuh tamu yang hadir di sana. Ia melipat bibir menahan senyum dan memegang erat mik di tangannya, ketika diminta untuk bernyanyi kembali.
“Terima kasih. Tapi, cukup satu kali saja, ya.” Dika tertawa kecil seraya mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan. Matanya mendadak awas begitu melihat Lana dan teman lelakinya duduk satu meja dengan Jihan. Sebelum sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi, ia harus segera kembali. “Saya takut telinga kalian semua akan berdenging mendengar suara Saya lagi.”
“Tidak mungkin!” Seru seseorang dari arah meja belakang Jihan, membuat banyak mata menoleh padanya. “Suara Mas Dika bagus, tidak mungkin membuat telinga kami berdenging. Ayolah, satu lagu lagi untuk kami semua di sini.”
Dika berusaha mengabaikan, ia tersenyum seraya menggelengkan kepala dan segera mengembalikan mik di tangannya pada si pembawa acara. Ia berbalik dan bergegas ingin kembali ke mejanya. Namun suara riuh tamu yang berdiri dan bertepuk tangan sambil menyebut namanya lagi, membuat Dika menahan langkahnya.
Jihan terkesiap melihat mama dan papa ikutan berdiri seperti tamu lainnya. Ia beralih menatap Dika dan bisa melihat kecemasan di raut wajah tampannya. Ia bisa menebak apa yang jadi penyebabnya, karena lelaki itu melihatnya duduk diapit oleh dua orang sahabat dekat Ayra.
Tanpa pikir panjang, Jihan melangkah maju dan meraih lengan Dika dan membawanya kembali ke tengah panggung acara. Jihan harus bertindak cepat sebelum semua menjadi tak terkendali. “Memang, acara seperti ini akan lebih menyenangkan bila diisi dengan sebuah hiburan musik seperti nyanyian dari tuan rumah.”
Lana melongo melihat Jihan tiba-tiba sudah berdiri di tengah panggung. “Apa yang ingin wanita itu lakukan?” katanya mengesah kasar. Ia yang tadinya ikutan berdiri langsung duduk dan menarik lengan teman prianya, lalu berlindung di belakang punggungnya.
“Kami akan bernyanyi bersama, alias duet.” Kata Jihan, lalu menarik tangan Dika mendekat ke arah pemain musik. Mereka kemudian berbincang sejenak, terlihat Jihan membuka ponselnya memilih lagu yang akan mereka nyanyikan lalu menunjukkannya pada Dika yang tampak mengangguk mengerti. Lalu beralih pada pemain musik, yang lalu mengangkat jempolnya.
“Ada apa, kenapa Kau bersembunyi seperti itu?” tanya teman pria Lana, menoleh pada wanita itu dengan kening berkerut.
“Ayra tidak bisa bernyanyi, suaranya fals. Aku yakin kali ini ucapan Dika akan terbukti. Apa sebaiknya Aku menutup telingaku saja agar tidak berdenging?” Lana menatap teman prianya itu dengan tatapan memelas seraya memegangi kedua telinganya yang dibalas dengan mengedikkan bahu.
Berbeda dengan wajah mama yang tampak berbinar, ia tahu Jihan pandai bernyanyi. Ia langsung mengaitkan lengannya ke lengan papa sembari merebahkan kepalanya ke pundak suaminya itu yang tersenyum sambil menepuk jemari tangannya.
Musik mulai mengalun, dan tak lama kemudian Dika dan Jihan mulai bernyanyi bersama. Tembang romantis dermaga cinta, yang dipopulerkan Gerry feat Tasya.
Bukan cuma kata indah, manis bibir saja. Bukan cuma kata cinta, namun bukti nyata.
Resah gelisah jangan tumbuh luka, mengurangi cinta. Usah kau ragu hasrat cintaku, hanya milikmu selalu.
Bukan cuma kata indah, manis bibir saja. Bukan cuma kata cinta, namun bukti nyata.
Membentang badai gelombang, meratap tembok karang samudra. Tenggelam lautan cintamu, terhempas ke dermaga nan lalu.
Kutahu dirimu setia, bertahun kita hidup bersama. Kecewa hatiku kecewa, karena hatimu bercabang dua.
Pernah ku ucap kepadamu, dialah cinta pertamaku. Namun kini kau milikku. Demi Tuhan kau hidupku, hingga akhir hayatku.
“Surprise!” Lana bengong, benar-benar tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Dan hal itu mengejutkannya. Tak bertemu beberapa waktu lamanya, suara Ayra sahabatnya berubah menjadi lebih bagus. “Waow!” mau tak mau ia ikut juga bertepuk tangan seperti tamu lainnya.
Jihan lalu membungkuk sedikit sambil menangkup tangan di dada, ia menurut ketika Dika membawanya berjalan menuju meja yang ditempati kedua orang tuanya. Mama langsung merentangkan kedua tangan dan memeluknya erat. Sementara Lana yang masih ingin bicara banyak dengan Jihan, harus menelan kekecewaan karena teman prianya menahan lengannya dan memintanya tetap duduk di kursinya.
“Sebaiknya kita pulang, Kau tidak akan punya banyak kesempatan bicara dengannya kali ini.” Kata teman pria Lana, sambil mengarahkan dagunya pada Jihan yang sedang dikerubuti para tamu undangan yang sepertinya penasaran ingin mengenalnya lebih dekat. Bahkan Dika harus merelakan dirinya duduk sedikit menjauh dari Jihan, dan ia hanya bisa meringis saat teman-temannya menggodanya.
Jihan pun harus bersabar menghadapi tamu yang ingin mengobrol dengannya dan meminta foto bersamanya, ia hanya mengulum senyum melihat Dika menatapnya dengan wajah cemberut di kursinya.
Saat kesempatan berduaan itu akhirnya datang juga, Dika langsung menarik tangan Jihan menuju ruangan direksi yang nantinya akan menjadi tempat Jihan bekerja.
Para pekerja resto yang berpapasan dengan mereka langsung menunduk dan tersenyum padanya, mereka semua tahu siapa wanita yang sedang bersama dengan anak pemilik resto tempat mereka bekerja itu.
“Jadi yang Kau maksud dengan klien yang akan kita temui itu adalah kedua orang tuamu sendiri. Kenapa tidak Kau katakan sejak awal kalau mereka berdua menginginkan Aku yang memimpin resto ini?” protes Jihan setelah berada di dalam ruang kerja pimpinan resto.
Semua terjadi begitu cepat, Jihan bahkan tak sempat berpikir untuk bertanya pada Dika lagi bagaimana bisa kedua orang tuanya mempercayakan resto mereka yang baru padanya. Ia tak punya keahlian memasak selain masakan yang biasa ia jual di kedainya, dan kini diserahi tanggung jawab untuk menjalankan usaha resto yang terbilang besar dan mewah.
“Jangan khawatirkan hal itu. Kau hanya perlu mengawasi dan melihat cara kerja mereka, akan ada chef yang melakukan semuanya nanti. Kau bisa menambahkan menu andalanmu sebagai masakan baru di resto ini, kita lihat tanggapan para pelanggan nanti.”
Jihan mengangguk mengerti, dalam hati ia mengagumi semua yang ada di dalam ruangan itu. Tak pernah terbesit dalam benaknya akan bekerja di tempat seperti ini, meski sejak dulu ia bermimpi ingin memiliki sebuah resto sup ikan yang terkenal dan disukai banyak orang.
Senang, tentu saja. Tapi semua hanya untuk sementara. Setelah Ayra kembali dalam hidup Dika, ia pun harus segera angkat kaki dari sana juga dari hidup laki-laki itu. Mengingat hal itu, wajah Jihan berubah lesu.
“Hei, kenapa wajahmu seperti itu?” tegur Dika, melihat perubahan di wajah Jihan. Ia berjalan menghampiri Jihan.Tak seperti tadi saat berada di ruang pesta, wajah Jihan kini tampak muram tak bersemangat.
“Realistis saja, Kau harus diingatkan soal penting yang satu ini jika nanti Ayra datang dan kembali dalam hidupmu. Itu artinya Aku harus segera pergi dari hidupmu. Jadi, jangan buat Aku berharap terlalu tinggi padamu. Aku sadar diri, Aku hanya seorang pengganti. Bila sampai waktunya ia kembali, itu artinya hubungan di antara kita harus berakhir.”
Dika tertegun, tapi hanya sesaat karena ia bisa menguasai dirinya dengan cepat. “Tidak akan secepat itu Kau pergi dariku setelah semua kekacauan yang Kau lakukan dalam hidupku.”
“Apa maksudmu? Kekacauan apa yang Aku lakukan padamu?” Jihan mengernyit bingung. “Aku melakukan semuanya seperti apa yang Kau mau, meski terkadang Aku lupa dan tetap saja menjadi diriku sendiri.”
“Aku tak akan melepaskanmu begitu saja, setelah apa yang Kau lakukan padaku.” Dika menarik lengan Jihan dan dadanya yang lembut membentur dada Dika yang liat. Sebelum ia tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu padanya selanjutnya, tahu-tahu bibir Dika sudah mengunci bibirnya dan sebelah tangannya yang menekan tengkuknya sementara yang sebelahnya lagi menahan pinggangnya agar terus merapat padanya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎