Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 11. Makan siang bareng



Memikirkan kalau besok ia akan datang ke rumah itu lagi, membuat mata Jihan sulit untuk terpejam. Dan ia tidak dapat tidur hingga larut malam. Sikap kedua orang tua Dika yang tulus dan menerima kehadiran dirinya dengan sangat baik, dan tanpa keraguan sedikit pun mengenalkannya kepada semua orang kalau ia adalah calon mantu keluarga mereka, membuat Jihan didera rasa bersalah.


Mereka semua mengira kalau ia adalah Ayra, tunangan Dika. Tak ada satu pun yang curiga padanya, dan mereka semua menyukai dirinya yang sekarang.


“Bagaimana kalau wanita itu tiba-tiba muncul dan mengacaukan semuanya,” keluh Jihan. Ia menatap ponsel baru miliknya, Dika membelikannya siang tadi sebelum mereka pergi ke salon.


Tanpa sadar bibirnya mengulas senyum melihat gambar depan layar ponselnya, di mana kedua tangannya dengan posesif menggamit lengan Dika yang berdiri di sampingnya. Gambar itu diambil oleh si penjual ketika Dika meminta untuk mencoba kameranya.


Astaga! Jihan menangkup bibirnya, dan ponsel di tangannya terlepas dan jatuh di dekat kakinya. Tanpa sengaja, ujung jarinya tadi menyentuh ikon kontak yang langsung terhubung dengan nomor Dika.


Dika yang tengah duduk sendiri di balkon kamarnya, mengernyit menatap layar ponselnya yang berkedip, matanya melebar seketika melihat nama ‘tunanganku sayang call’ tertera di sana.


“Halo?” sapanya kemudian, sembari melirik arloji di tangannya. Sudah jam dua belas malam, ada apa wanita itu meneleponnya larut malam begini?


Tak ada sahutan, kerutan di kening Dika bertambah dalam. Ia mengulang sapaan, lalu detik berikutnya sambungan teleponnya terputus. Ia mencoba menelepon balik, namun Jihan sudah mematikan ponselnya.


“Aneh!” Tak mau ambil pusing, Dika berjalan masuk ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur. Hal yang sama dilakukan Jihan di kamarnya, ia memaksa matanya untuk terpejam meski sulit. Hingga dini hari barulah Jihan bisa tertidur lelap, dan terbangun keesokan harinya dengan lingkaran hitam di bawah matanya.


Sementara di rumah Dika pagi itu, mama terlambat bangun karena kelelahan setelah pesta tadi malam. Dika dan papanya sudah berangkat ke kantor.


“Papa dan bang Dika sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali,” kata Al berbisik ketika mama turun ke lantai bawah dan menemukan putri bungsunya itu sedang menunggunya di meja makan. “Sekarang Mama bisa telepon kak Ayra.”


“Lalu kenapa bicaramu berbisik-bisik seperti itu?” kata mama sambil tertawa, ia merangkul bahu Al dan mencium kepalanya sebelum duduk di kursinya.


Al terkikik, ia bergegas mengambil ponsel mama yang berada di dalam kamar dan turun sambil berjoget menirukan gaya menari idolanya.


“Al atau Mama yang telpon abang?” tanya Al masih memegang ponsel di tangan.


“Udah, sini Mama saja yang telpon.”


Mama lalu menghubungi nomor Dika dan menanyakan kapan Jihan akan datang ke rumah mereka. Dika yang sedang sibuk di kantornya, mengatakan akan menjemput Jihan setelah pulang dari bekerja. Itu artinya Jihan akan datang ke rumah mereka malam hari.


“Kelamaan, Dika!” protes mama. “Kamu aja pulangnya sore.”


“Ya mau gimana lagi, Ma. Dika lagi sibuk, banyak kerjaan di kantor.” Kata Dika beralasan, meski tak sepenuhnya benar. Setelah pertemuan pagi dengan klien, jam dua siang Dika sudah punya waktu luang. Tapi ia sengaja mengulur-ulur waktu, agar tak banyak waktu untuk keluarganya bertemu dengan Jihan.


Semakin sering mereka bertemu, akan semakin banyak hal yang terungkap dan itu bisa mengacaukan rencananya. Ia tak mungkin menghadirkan Ayra asli, karena wanita itu benar-benar membuktikan ucapannya dengan menghilang dari hidupnya.


“Ya sudah kalau begitu,” kata mama mengakhiri teleponnya. Mama sebenarnya sudah tak sabar saat mendengar alasan Dika, ia lalu menelepon Jihan langsung.


Jihan yang teringat janjinya semalam, langsung kelabakan dan melempar asal selimutnya begitu mendengar mama menyuruh sopir datang untuk menjemput di rumahnya.


“Gak usah, Ma. Biar Ji eh Ayra yang datang sendiri ke rumah Mama.” Tolak Jihan gugup, hampir saja keceplosan menyebut nama aslinya.


“Kenapa menolak, bukannya lebih cepat kalau sopir yang jemput?”


“Satu jam, Ayra hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk sampai ke rumah Mama.” Kata Jihan lagi, tetap menolak untuk dijemput.


Apa jadinya kalau mereka mengetahui tempat tinggalnya dan menemukan kebenaran kalau ia hanya seorang gadis miskin yatim piatu yang tinggal bersama neneknya di rumahnya yang sangat sederhana, dan harus berpura-pura menjadi wanita lain demi membalas semua kebaikan Dika yang telah menyelamatkan nyawa neneknya.


Kalau semua terbongkar akibat kecerobohannya, nenek pasti akan sangat kecewa karena telah dibohongi olehnya. Dika juga pasti akan sangat marah padanya. Dan mungkin saja akan meminta ganti rugi yang lebih besar lagi padanya, imbasnya akan sangat berpengaruh pada kesehatan jantung neneknya.


Membayangkan semua itu, Jihan bergidik. Ia pun bergegas menyiapkan diri. Tak butuh waktu lama, Jihan sudah siap dengan dirinya dan segera melaju dengan motornya. Ia tak sempat memberi kabar pada Dika tentang kedatangan dirinya yang lebih cepat dari rencana mereka semula.


Mama menyambut kedatangannya di rumah itu dengan gembira, ia telah menyiapkan banyak makanan untuk Jihan meski tahu kalau calon menantunya itu orang yang sangat pilih-pilih dalam hal makanan.


Mata Jihan langsung melebar begitu melihat menu masakan di hadapannya. Semua tampak lezat dan menggugah selera, Jihan menjilat bibirnya tak sabar ingin segera mencoba.


Mereka harus menunggu kedatangan papa yang berniat pulang cepat karena ingin makan siang bersama dengan Jihan. Tak berapa lama papa datang.


“Kak Ayra bukannya tidak suka makan ikan?” tanya Al heran melihat Jihan makan dengan lahap masakan olahan yang terbuat dari ikan, tapi Jihan membantahnya karena ikan banyak mengandung protein tinggi dan sangat baik untuk kesehatan. Tentu saja ia sangat suka makan ikan.


Lalu Jihan teringat kata-kata Dika yang mengatakan semua hal yang tidak disukai Ayra. Terlanjur bicara banyak, tak mungkin Jihan menarik kata-katanya. Terlebih lagi ia sudah mencoba menyantap hampir semua menu masakan ikan yang tersedia.


Papa tertawa senang melihat Jihan makan dengan lahap, “Papa suka dengan anak gadis yang tidak pilih-pilih dalam hal makanan.”


Al lalu mengeluarkan kue coklat manis dari dalam kulkas, dan memberikan potongan besar di piring untuk Jihan. Sekali lagi ia terkejut melihat Jihan menghabiskan kuenya, padahal setahunya Ayra tidak suka makanan yang manis-manis.


Jihan kembali teringat ucapan Dika padanya, tapi ia tak bisa menahan diri setiap kali berhadapan dengan makanan bercita rasa manis itu.


“Maafkan Aku, Dika. Tapi semua makanan ini terlalu sayang untuk dilewatkan,” pikir Jihan dalam hati.


Tingkah polos Jihan yang apa adanya itu perlahan mulai menarik perhatian Al, sikapnya pun mulai melunak. Ternyata mereka berdua punya idola yang sama, dan terlihat kompak saat menonton konser idola mereka yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta.


Mama yang senang hatinya menyaksikan kedekatan Jihan dan Al, segera menelepon Dika di kantornya. Betapa terkejutnya Dika mengetahui Jihan sudah berada di rumahnya, siang itu juga ia pulang ke rumahnya. Dan sesampainya di sana, ia terkejut melihat Jihan bersama Al dan kedua orang tuanya tengah bermain game bersama. Dan Jihan tengah mencoret wajah papa dengan bedak dingin karena kalah dalam permainan.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎