Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 26. Hadiah pernikahan



Dika mengernyit begitu mobilnya memasuki halaman rumah Jihan dan melihat banyak anak-anak kecil dan perempuan dewasa berkumpul di teras rumahnya.


“Apa nenekmu pingsan lagi?” Dika merendahkan bahunya, mengintip dari balik kaca depan mobilnya.


Jihan meringis seraya menggelengkan kepala mendengar ucapan Dika. “Bukan seperti itu. Nenek sehat, kok.” Sahut Jihan sambil melepas sabuk pengaman di tubuhnya, lalu ikut menirukan gerakan Dika merendahkan bahunya hingga tanpa sengaja pucuk kepalanya menyentuh wajah Dika.


“Hem, begitu.” Dika bergumam tak jelas, jakunnya turun naik dengan cepat merasakan hawa panas mengalir deras di tubuhnya terpengaruh kedekatan dirinya dengan Jihan saat ini. Begitu dekatnya jarak mereka kini hingga Dika bisa mendengar dengan jelas bunyi napas Jihan di telinganya.


“Biasalah, tetangga di sini memang suka pada kumpul-kumpul.” Imbuh Jihan lagi tak menyadari kalau Dika tengah memejamkan mata sembari menghirup aroma wangi rambutnya. “Apalagi kalau ada orang baru yang mereka kenal, pada mau tahu semua.”


“Hem, wangi sekali.”


Rani yang duduk di bangku belakang, membuka mulut hendak bicara namun urung dilakukannya begitu melihat hidung dan bibir Dika menempel di kepala Jihan. Ia merutuk dalam hati karena sikap Dika seperti lelaki yang tengah di mabuk asmara hingga lupa dengan kehadiran dirinya di mobil itu.


“Wangi?” Jihan menaikkan satu alisnya, dan menoleh cepat bersamaan dengan gerakan Dika yang menarik wajahnya menjauh. Lelaki itu duduk menegakkan punggungnya dengan kedua tangan mencengkeram kuat setir mobilnya. “ Wangi apa maksudnya?” tanya Jihan penasaran. Ia menoleh ke bangku belakang, dan dijawab Rani dengan mengedikkan bahunya.


Dika mendadak canggung, ia mencondongkan kembali tubuhnya ke depan dengan menggerak-gerakkan hidung, berpura-pura mengendus mencari sumber aroma wangi yang tadi disebutnya.


Senyum samar terbit di sudut bibir Rani, ia menutup mulut dan tertawa kecil. “Biar Aku turun dulu untuk memastikannya, mungkin nenek sedang memasak sesuatu yang istimewa malam ini untuk kita.”


Dika tersenyum lega, hampir saja ketahuan sudah mencium rambut Jihan oleh pemiliknya. Rani menggunakan kesempatan itu untuk segera turun dari mobil dan berjalan cepat menuju teras rumah, dan ia hampir saja bertabrakan dengan nenek yang juga hendak keluar setelah mendengar suara derum mobil dari halaman rumah.


“Mana Dika, bukankah kau bilang tadi kalian pulang bersamanya?” tanya nenek menahan lengan Rani, sambil celingukan mencari Dika.


“Masih di mobil sama Jihan,” sahut Rani lalu menghela bahu nenek untuk masuk ke dalam rumah lagi.


“Tapi Nenek mau bertemu dengannya, mau bilang terima kasih karena sudah memberikan Nenek hadiah televisi baru.” Balas nenek menahan langkahnya, hendak berbalik untuk menemui Dika.


“Biar kita tunggu di sini saja, Nek.” Kata Rani mencoba menahan nenek yang akhirnya mau menurut dan duduk menunggu sambil sesekali mengintip dari balik jendela rumahnya.


Satu persatu tetangga yang berada di rumah Jihan langsung berpamitan pulang begitu melihat Jihan turun dari mobil bersamaan dengan Dika yang berjalan di belakangnya.


Menuruti keinginan sang nenek, Dika tinggal beberapa menit untuk sekedar bertegur sapa sebelum berpamitan pulang. Menolak kopi yang ditawarkan Jihan karena hari sudah semakin malam.


“Oh, ya. Besok Aku jemput sebelum jam makan siang. Ada yang ingin Aku tunjukkan sama Kamu,” kata Dika saat sudah berada di dalam mobilnya, dan Jihan yang berdiri di dekatnya mengerutkan keningnya.


“Kau tahu, jam makan siang adalah waktu tersibuk di kedaiku. Kenapa tidak sorenya saja, pas jam pulang kantor. Kau bisa menjemputku saat itu,” sergah Jihan. Sudah cukup ia bersenang-senang hari ini, tak mungkin pergi meninggalkan Rani sibuk sendirian di kedai.


“Aku hanya menyesuaikan jadwal temu kami dan orang itu hanya punya waktu besok siang,” balas Dika. “Satu jam saja, setelah itu Kau bisa kembali ke kedaimu. Bagaimana?”


Jihan berpikir sejenak, ragu sesaat. Bukan masalah kalau hanya satu jam, ia bisa melakukannya. Tapi, apa ucapan laki-laki itu bisa dipercaya? Bisa saja waktunya molor. Satu jam waktu yang singkat untuk bertemu dengan seseorang, terlebih jika membahas sesuatu yang penting. “Sebenarnya, apa yang ingin Kau tunjukkan padaku?”


Dika tersenyum senang, merasa kalau Jihan setuju untuk ikut bersamanya besok. Ia menyalakan mesin mobilnya, lalu melambaikan tangannya. “Lihat saja besok," katanya tersenyum rahasia.


“Hei, kenapa tidak Kau katakan sekarang saja? Kenapa harus main rahasia-rahasiaan segala?” seru Jihan, tapi Dika hanya membalasnya dengan lambaian tangan.


“Ini baru saja mau pulang, Non.”


Jihan tersenyum menanggapi. Meski para tetangga sudah tak lagi berada di rumahnya sejak tadi, tapi mereka masih berdiri dan berkumpul di pinggir jalan sambil terus mengawasi. Baru saat Dika benar-benar pergi dengan mobilnya, para tetangga akhirnya membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.


“Perhatian banget, berasa dijagain sama sekuriti sekampung?” gumam Jihan sambil berjalan menuju rumahnya kembali, lalu menutup pintu di belakangnya dengan cepat.


Tatap mata penuh rasa ingin tahu sang nenek hanya dibalasnya dengan senyum lebar, Jihan bergegas menuju kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Saat kembali ke kamarnya dan hendak berganti pakaian, Jihan baru teringat kalau wignya tertinggal di mobil Dika.


“Tidur, sudah malam. Gak usah pikirkan masalah wig rambutmu, bukankah besok siang kalian juga janji bertemu.” Rani menarik guling dan menutup telinganya saat Jihan berseru menyebut wignya dan berniat menelepon Dika.


“Bagaimana Kau bisa tahu kalau besok kami akan bertemu?”


“Semua orang juga mendengar bagaimana Kau berteriak padanya soal pertemuan kalian besok,” sahut Rani dengan suara sumpal karena tertutup guling di mulutnya.


Jihan meringis dan tersenyum malu, mengingat sikapnya tadi. “Aku penasaran, Dika mau kasih kejutan apa ya besok?”


Keesokan harinya tepat jam sebelas siang, Dika datang menjemput Jihan yang sudah siap menunggu di rumahnya. Ia memakai gaun cantik motif bunga lengan panjang dengan kelepak lebar di bagian lehernya, gaun itu melebar di bagian bawahnya dan panjangnya mencapai lutut.


Tanpa ragu, Dika menggenggam tangan Jihan dan menggandengnya masuk ke mobilnya. Ia melajukan mobilnya dan membawa Jihan ke sebuah bangunan baru yang Jihan ingat adalah resto milik keluarga Dika, tempat di mana ia bertemu untuk pertama kalinya dengan pria itu.


Saat menapakkan kakinya di sana, mata Jihan langsung berpendar menatap sekelilingnya. Benaknya langsung dipenuhi kenangan masa lalu saat bertemu Dika. Sedetik tangan yang berada dalam genggaman Dika itu menegang, dan wajah Jihan berubah sendu.


“Tempat ini memiliki nilai yang bersejarah untukku. Di sini pertama kalinya kita bertemu, dan bukan sebuah pertemuan yang menyenangkan untuk dikenang.” Jihan tersenyum kecut, lalu menoleh menatap Dika. “Bagaimana kabar ponselmu itu kini?”


Dika tertawa kecil, ia mere mas lembut tangan Jihan dan menatapnya lekat. “Menyedihkan, Aku harus melepasnya pergi meski hati sedikit tak rela.”


“Maaf, sudah membuatmu harus kehilangan barang berharga milikmu.” Kata Jihan dengan raut wajah menyesal.


Dika menghela napas, ia kembali tersenyum. “Aku justru ingin berterima kasih pada wanita itu. Berkat dirinya, Aku bisa tahu apa yang Aku inginkan selama ini.”


Jihan mengernyit, Dika tertawa melihatnya. “Kita masuk sekarang, pasti orang itu sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.”


“Sebentar!” Jihan menahan lengan Dika, masih belum mengerti apa maksud ucapannya. “Apa hubungannya semua ini denganku, bukankah Kau yang akan bertemu dengan orang itu?”


Dika tak menjawab, ia menghela bahu Jihan dan membawanya ke resto. Di depan pintu berdiri dua orang sekuriti yang menyambut mereka, dan segera membukakan pintu mempersilakan masuk ke dalam resto.


Betapa terkejutnya Jihan saat melihat kedua orang tua Dika dan Al langsung menyambutnya dengan pelukan dan membawanya ke tengah panggung yang sudah dihias sedemikian rupa seperti sedang merayakan sebuah pesta.


Belum hilang rasa terkejut Jihan, ia dibuat syok lagi dengan ulah papa yang mengumumkan kalau resto baru yang diberi nama Q”time resto itu adalah hadiah pernikahan untuk dirinya dan Dika yang sebentar lagi akan dilangsungkan dalam waktu dekat.


Tatap mata Jihan mengarah pada Dika yang berdiri di samping papa, dan laki-laki itu hanya tersenyum mengangguk padanya. Sumpah demi apa pun, Jihan tak pernah mengira sandiwara cintanya sebagai kekasih kontrak seorang Pradika Nugraha akan sampai ke pelaminan.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎