Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 19. Rasa manis bikin nagih



Tepat jam delapan malam Dika mengantar Jihan pulang, ia merasakan kalau wanita itu sepertinya tak ingin berlama-lama berada di rumahnya. Sikap Jihan mendadak berubah setelah percakapan mereka di balkon atas kamarnya.


Meski begitu, saat ia berpamitan pada kedua orang tuanya, Jihan masih mengumbar senyum dan membalas hangat pelukan mama. Tapi setelah berada di dalam mobil, Jihan mulai menjaga jarak. Sepanjang perjalanan, Jihan lebih banyak diam dan hanya sesekali menanggapi ucapan Dika.


“Kamu marah sama Aku?” tanya Dika, tapi Jihan hanya mengernyit lalu menggelengkan kepala.


“Marah kenapa?” Jihan balik bertanya.


“Ya Aku juga gak tahu, soalnya dari tadi Kamu diam aja gak mau bicara kaya biasanya.” Sahut Dika, dan Jihan hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menatap jalanan di depannya.


Dika memijit pelipisnya yang berkedut, sepertinya ia sudah salah bicara tadi. Bukan bermaksud mengajak Jihan menikah dengannya setelah berulang kali mama mendesak mereka, tapi itu baru wacana yang tanpa sengaja terlontar begitu saja dari mulutnya.


Ia harus melakukan sesuatu untuk membujuk Jihan agar mau bicara padanya, sejak tadi wanita itu bahkan tak mau menatapnya. Dika tak suka dengan suasana hening seperti ini, ditambah lagi jalanan macet membuat dirinya makin suntuk.


Matanya mulai menyapu sekitarnya, dan pandangannya kemudian jatuh pada sebuah toko kue yang berada tepat di sisi sebelah kiri mereka. Dika menepikan mobilnya dan mengajak Jihan singgah di sana.


“Mau ngapain?” tanya Jihan, menolak uluran tangan Dika saat ia hendak turun dari mobil.


Dika hanya bisa garuk-garuk kepala sambil bergumam tak jelas, ia menutup pintu mobilnya dan melangkah cepat menyusul Jihan yang berjalan di depannya.


Seringai tipis tampak di wajah Dika, melihat perubahan sikap Jihan. Tak salah memang ia membawa wanita itu singgah di sana, begitu melihat deretan kue dengan berbagai bentuk yang ditata apik dalam lemari kaca membuat mata Jihan langsung berbinar.


Jihan membungkukkan setengah badannya, tanpa sadar Jihan meneguk liur dan menyapukan lidah di bibir. Tampak tergiur dengan kue coklat yang dilapis taburan krim vanila di atasnya.


“Ayra tidak suka dengan makanan yang manis-manis,” kata Dika mengingatkan, ia ikutan membungkuk dan bicara setengah berbisik di telinga Jihan.


“Yang ada di dekatmu saat ini bukan Ayra, tapi Jihan yang sangat suka dengan kue yang manis rasanya.” Balas Jihan tanpa mengalihkan pandangannya dari kue di hadapannya.


Dika meringis mendengarnya, ia pun menyuruh Jihan memilih kue yang ia suka. Dengan senang hati Jihan menerima tawaran manis itu, ia memilih kue coklat dan minta untuk dibungkus. Dika juga membeli es krim dalam wadah gelas untuk mereka berdua.


Jihan mengajak Dika singgah di taman kota, dan memilih duduk di gazebo yang ada di sana. Mereka duduk di bangku yang mengelilingi gazebo itu sambil menikmati kue dan es krim yang mereka beli tadi. Kedua kaki merapat, dan terkadang saat Dika bergerak, pahanya menyentuh lutut Jihan.


Cahaya lampu yang remang-remang ditambah banyak tanaman hias yang mengelilingi gazebo, membuat tempat itu terlindung dari pandang mata orang yang lewat di depannya. Pilihan tepat untuk mereka yang ingin berduaan dengan pasangannya.


Tak lama kemudian ada pasangan lain yang berdiri di dekat tempat mereka. Kedua orang itu mulai merapatkan tubuh, berpelukan dan bicara saling berbisik. Tangan sang wanita merangkul leher sang pria erat. Keduanya lalu bermesraan seperti pasangan kekasih pada umumnya dan sama sekali tak menghiraukan Jihan dan Dika yang duduk di dalam gazebo melihat mereka.


Sadar kalau Jihan bertanya padanya, Dika pun menoleh dan tersenyum sembari menggelengkan kepala. Ia menyendok es krim miliknya yang masih penuh dan hampir meleleh keluar dari tempatnya.


“Kau saja yang makan, Aku tidak terlalu suka kue coklat.” Kata Dika dan kembali menolehkan wajahnya pada pasangan di depan mereka.


Serasa dunia milik berdua, pasangan di depan mereka itu makin menggila. Si lelaki menangkup wajah teman wanitanya dan mengecup lembut bibirnya. Si wanita tertawa dan berbisik pelan di telinga si pria, lalu menunduk malu-malu. Dengan ibu jarinya, si pria mengangkat wajah wanitanya dan memiringkan wajahnya lalu mengecup leher wanitanya. Keduanya lalu berciuman dengan penuh gairah dan sesekali terdengar erang an dari bibir si wanita.


Jihan bengong dan tanpa sadar kue yang dimakannya mengenai hidungnya. Ia terbatuk seketika dan membuat kaget pasangan di depan mereka yang langsung melepaskan pagutannya. Keduanya bergegas pergi dari sana, masih dengan tubuh rapat dan saling melingkarkan tangan di pinggang pasangannya.


“Lihat wajahmu!” seru Dika dengan suara serak, masih terpengaruh dengan pemandangan yang baru saja lewat di depan mereka tadi yang membuatnya mendadak gerah.


“Kenapa wajahku?” Jihan balik bertanya, ia letakkan kue di tangan kanannya ke atas meja lalu mengusap wajahnya. Bukannya bersih, krim coklat malah mengenai pipinya.


“Ish, dasar jorok. Kau makan seperti anak kecil, belepotan!” Dika geleng-geleng kepala, baru perhatikan bagaimana Jihan makan. Satu tangan memegang kue dan sebelah tangannya lagi memegang es krim.


Dika mengambil sapu tangannya dan mengusap krim coklat di bibir dan pipi Jihan, yang tersipu malu dan jadi salah tingkah. Dalam jarak dekat seperti itu, Dika bisa melihat wajah Jihan yang memerah.


“Es krimmu meleleh.” Tegur Jihan mencoba mengalihkan perhatian Dika, lalu menyendok es krim miliknya dalam suapan besar.


Dika menunduk dan meringis menatap gelas di hadapannya. Ia tak tertarik lagi untuk menghabiskannya. Perhatiannya kini tertuju pada Jihan yang tampak mulai tenang, dan dalam sekejap sudah menghabiskan es krim miliknya.


Entah lapar atau memang doyan, atau ingin mengenyahkan bayangan kejadian tadi, Jihan mulai memakan kuenya lagi. Semakin diperhatikan, semakin lahap Jihan makan.


Dika tersenyum samar, sepertinya Jihan juga terpengaruh dengan ulah pasangan mesyum di depan mereka tadi. Anehnya, Jihan berusaha melupakan peristiwa itu dengan melahap habis makanannya.


Gemas melihat caranya makan, ujung jari Dika bergerak mengusap sisa krim coklat di sudut bibir Jihan. Jihan tertunduk malu, dan bergeser menjauh. Jantungnya berdebar kencang, Dika tak membiarkan ia bergerak lebih jauh, tangannya terulur menahan tengkuk Jihan.


Tak kuasa menahan diri lagi, Dika menarik pinggang Jihan dan memiringkan wajahnya lalu mengecup bibir Jihan. “Manis rasanya.”


“Apanya yang manis?” suara Jihan terdengar serak.


“Rasa bibir ini yang membuatku tak bisa berhenti ingin mencicipinya lagi.” Denyut jantung Dika berpacu lebih kencang. Hanya sekilas, namun rasa manis di bibir Jihan membuatnya ingin mencobanya lagi. Ia menundukkan wajahnya lagi dan kembali mengecup bibir Jihan, kali ini lebih lama dan dalam.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎