Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 14. Pingsan



Tanpa terasa waktu berlalu cepat, seminggu sudah nenek dirawat di rumah sakit, kesehatannya berangsur-angsur membaik dan nenek sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Tentu saja hal ini menggembirakan hati Jihan, ia begitu bersemangat menyambut kepulangan neneknya.


Dibantu Rani sahabatnya yang sering berkunjung ke kedainya, Jihan masak istimewa hari itu. Atas permintaan nenek, Jihan mengundang Dika untuk datang ke rumahnya. Namun laki-laki itu tidak bisa hadir ke sana karena sedang berada di luar kota selama beberapa hari.


“Lega, Aku benar-benar merasa bebas kali ini.” Kata Jihan merentangkan kedua tangan lebar-lebar sembari mengembuskan napas lega, senang mendengar laki-laki itu berada di luar kota. Otomatis ia bebas tak harus bertemu keluarga Dika selama beberapa hari, ia juga tak harus pusing dengan penampilannya, jadi bisa fokus mempersiapkan usaha kedainya.


“Bebas?” nenek mengerutkan kening mendengar ucapan Jihan, otaknya langsung berpikir cepat kalau itu ada hubungannya dengan Dika. “Apa Kau merasa terkekang berpacaran dengan Dika?” selidik nenek, yang membuat Jihan gelagapan.


“Bukan begitu maksud Jihan, Nek.” Jihan memeluk neneknya dan bilang kalau ia bisa dengan bebas melakukan semuanya sendiri tanpa harus melibatkan Dika karena laki-laki itu juga pasti sibuk dengan pekerjaannya, dan nenek pun percaya tanpa banyak bertanya lagi.


Malam itu mereka makan malam bertiga, Jihan mengutarakan niatnya untuk membuka kedainya lagi dan Rani bersedia menjadi mitra kerjanya. Berdua mereka mengatur rencana untuk kemajuan usaha, dan nenek memberi saran untuk membuat satu masakan khusus sesuai keahlian Jihan.


Keesokan harinya Jihan mulai berbenah, ia menata ulang kedainya dan memasang spanduk baru untuk lebih menarik minat pelanggan. Rani menyebar brosur di jalan untuk dibagikan pada semua orang, Jihan juga memanggil tukang untuk memperbaiki bangunan kedainya. Dalam waktu dua hari kedainya tampil lebih rapi dan siap beroperasi kembali.


Hari pertama dibuka, banyak pelanggan yang datang. Ada yang memilih makan di tempat, ada juga yang meminta dibungkus untuk dibawa pulang. Rani sibuk melayani pelanggan, Jihan sampai kewalahan karena harus memasak beberapa kali. Nenek yang duduk di meja kasir tersenyum memberi semangat pada cucunya itu.


“Selamat ya, baru buka saja kedainya sudah ramai sekali.” Denis yang kebetulan lewat di jalan itu mampir sejenak untuk melihat keadaan nenek dan terkejut sekaligus senang melihat keramaian di kedai Jihan.


“Sarapan dulu Pak Denis, mumpung masih hangat.” Jihan menawarkan sarapan pagi untuk asisten Dika itu, dan kesempatan itu tidak disia-siakan Denis. Kalau sebelumnya ia datang ke rumah ini dan melihat kerumunan orang banyak di depan pintu rumah Jihan karena melihat nenek pingsan, sekarang ia melihat mereka berkerumun karena menunggu pesanan makanan.


Pukul sembilan malam kedai Jihan tutup, semua bahan masakan habis dan pelanggan harus menunggu esok hari untuk bisa menikmati menu istimewa olahan Jihan itu lagi. Malam itu mereka berkumpul menghitung hasil jualan, dan Rani berseru senang karena keuntungan yang mereka dapatkan lumayan besar.


Jihan tersenyum senang, tak menyangka akan mendapat banyak keuntungan dari jualan pertama mereka. Nenek meminta keduanya untuk segera beristirahat, apalagi setelah melihat wajah Jihan yang tampak pucat karena kelelahan.


“Biar Aku saja yang belanja ke pasar besok,” kata Rani melihat wajah pucat Jihan, ia berkeras dan menolak saat Jihan mengatakan kalau ia baik-baik saja. “Kali ini saja, Kau turuti ucapanku. Kau bisa jatuh sakit kalau memaksakan diri terus seperti ini.”


Jihan mengalah, ia memang merasa tidak enak badan dan tidak ingin membuat khawatir nenek dan sahabatnya. Jihan menurut dan tidur lebih cepat. Mereka baru saja merintis usaha kedai kembali, dan mendapatkan banyak keuntungan. Jihan harus tetap sehat agar bisa tetap bekerja dan menghasilkan banyak uang.


Kesibukan Jihan semakin bertambah. Tak hanya mengurus kedainya yang kian ramai pelanggan, Jihan juga harus terus memantau kesehatan neneknya. Dan hari ini ia tidak bisa lama-lama di kedainya karena mama Dika meminta ia datang ke rumah dan mengajaknya ke pesta undangan relasi bisnis mereka, sementara Dika belum pulang dari luar kota.


Seperti biasa, Jihan berhasil melewati pesta malam itu dengan sangat baik. Ia bersikap sangat manis dan selalu bisa menarik perhatian banyak orang yang bertemu dengannya. Mama semakin bangga padanya, dan terus memujinya di hadapan rekan-rekannya sebagai seorang menantu idaman.


Jihan pulang dengan motornya, dan menolak diantar sopir seperti biasanya. Mama sampai heran karena Jihan terus menolak, tapi Jihan selalu bisa memberikan alasan yang masuk akal. ia merasakan tubuhnya lelah luar biasa dan menggigil saat tiba di rumahnya. Keesokan harinya Jihan terbangun dengan tubuh hangat dan wajah pucat, ia cepat-cepat minum obat untuk meredakan sakit yang dirasakannya.


“Wajahmu pucat sekali,” kata nenek sambil menempelkan tangannya di dahi Jihan yang terasa hangat. “Kalau sakit, lebih baik istirahat. Tutup saja dulu kedainya, nanti biar Nenek bicara sama Rani.”


Jihan menggeleng, ia masih kuat untuk bekerja hari ini. Sayang kalau harus menutup kedainya, karena belum buka saja sudah ada beberapa pelanggan yang memesan masakannya lewat pesan singkat di ponselnya.


“Jangan memaksakan diri,” kata nenek lagi, tapi Jihan tetap saja menolak untuk beristirahat. Ia bergegas menuju kedainya yang kini berada di samping rumahnya, di sana sudah ada Rani yang sedang mengelap meja.


Setelah memberitahu Rani tentang pesanan pelanggan diterimanya, Jihan bergegas ke belakang dan menyiapkan masakan. Satu jam kemudian sudah ada yang datang untuk mengambilnya. Jihan keluar dengan membawa hasil masakannya, dan Rani langsung memasukkannya ke dalam wadah.


“Terima kasih,” kata Rani tersenyum senang setelah menerima uang pembayaran dari pelanggan. “Alhamdulillah, pagi-pagi sudah dapat rezeki.”


Bruuk!


“Jihan?” panggil Rani mendengar suara aneh yang berasal dari belakang kedai, ia mengerutkan keningnya dan bergegas melihat. Alangkah terkejutnya Rani begitu melihat Jihan ambruk di lantai dalam keadaan pingsan. Ia langsung menghubungi Dika yang baru saja tiba dari luar kota dan masih berada di bandara.


Dika yang mendapat kabar Jihan yang tiba-tiba pingsan, langsung menyuruh Denis untuk segera membawanya ke sana. Begitu melihat keadaan Jihan yang masih belum juga sadarkan diri, Dika bergegas membawa Jihan ke rumah sakit dan terkejut mendengar penuturan dokter yang menangani kalau gadis itu pingsan karena terlalu kelelahan.


“Maafkan Aku, ini semua salahku karena sudah melibatkan Kamu dalam persoalanku. Kamu sakit dan kelelahan karena Aku,” ungkap Dika menyatakan penyesalannya di depan Jihan yang masih belum sadarkan diri, ia menunggu di dekat gadis itu hingga siang hari dan Jihan perlahan membuka matanya.


“Ssttt, berbaring saja. Jangan terlalu banyak bergerak,” kata Dika melarang Jihan yang hendak bangun, ia bisa melihat sorot mata bingung di raut wajah gadis itu. “Tadi Kamu pingsan di kedai, lalu Aku bawa ke sini.”


“Nenek bagaimana, dia pasti khawatir sekali?” tanya Jihan cemas memikirkan keadaan neneknya.


Dika geleng-geleng kepala, dalam keadaan lemah seperti ini Jihan masih saja terus memikirkan keadaan neneknya. “Nenek baik-baik saja, beliau ada di kantin bersama Denis dan Rani.”


Jihan mengangguk dan tersenyum lega, “Terima kasih,” katanya dengan suara serak.


Dika hanya mengangguk dan meraih ponselnya yang berbunyi, ia memberi isyarat telunjuk di bibir pada Jihan lalu menjawab telepon masuk.


Suara mama di seberang telepon menanyakan keberadaannya yang belum juga sampai di rumah, sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Jihan dan meminta putranya itu untuk membawa Jihan bersamanya ke rumah.


“Jihan mendadak harus pergi ke luar kota, Ma. Ada urusan keluarga,” jelas Dika membuat Jihan mengerutkan keningnya. Lelaki itu mengarang cerita bohong dan tidak berniat menjelaskan keadaan Jihan yang sebenarnya. Dan sepertinya mama percaya ucapannya.


“Kenapa gak bilang terus terang kalau Aku pingsan?”


“Kamu mau mama datang melihat keadaanmu sekarang, lalu sandiwara kita selama ini terbongkar?”


Jihan langsung mengatupkan bibirnya, dan memalingkan wajah menghindar dari tatapan mata Dika yang tajam.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎