
Jihan berlari cepat menuruni tangga rumah Dika, di belakangnya lelaki itu berteriak marah memanggil namanya sambil memegangi keningnya. Begitu sampai di bawah, Jihan langsung menyelinap melewati ruang makan menuju dapur. Hampir saja ia menabrak Al yang baru saja keluar dari sana, masih memakai seragam sekolahnya.
“Kak Ayra? Kenapa lari-lari, kayak abis dikejar setan gitu?” tanya Al sambil menengok ke kiri dan kanan, lalu berjinjit melihat ke belakang punggung Jihan.
“Sebentar!” sahut Jihan seraya mengangkat tangan ke depan, ia menunduk lalu memegangi lututnya yang tampak gemetar. Napasnya masih tersengal, butuh waktu beberapa menit lamanya sebelum Jihan kembali tenang dan menjawab pertanyaan Al. Ia menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. “Bukan setan, tapi abangmu!”
“Emang bang Dika kenapa? Masa iya kalian main petak umpet di dalam rumah?” tanya Al lagi, sambil menahan senyum.
“Bukaan!” Jihan memutar bola matanya, wajahnya kembali memerah begitu teringat kejadian dengan Dika di dalam kamarnya tadi.
Perubahan wajahnya yang tiba-tiba itu tak lepas dari pengamatan Al, adik perempuan Dika itu terkikik geli dan langsung bisa menebak apa yang telah terjadi. “Aha, Aku ngerti deh. Hihihi.”
I’m super shy, super shy. But wait a minute while, I make you mine make you mine ...
Al malah bernyanyi dengan gaya menggoda, wajah Jihan merah padam. Ia berjalan cepat melewati Al yang tertawa di belakangnya menuju dapur. Di sana ada mama dan asisten rumah tangga yang sedang memindahkan beberapa kotak berisi makanan ke dalam wadah untuk disajikan. Jihan memilih bergabung dan membantu keduanya.
“Sepertinya ada yang kurang,” kata mama sambil meneliti kembali menu pesanannya. “Sup ikan pesanan papa kok gak ada?”
“Memang Mama tadi ada pesan sup ikan?” Tanya Al, tiba-tiba sudah berada di dekat Jihan.
“Ada, itu kan masakan favorit papa. Aduh gimana, dong. Mana papa sudah wanti-wanti dari pagi tadi,” kata mama kelihatan bingung. Ia sudah konfirmasi dan menanyakan menu pesanannya yang satu itu, dan kecewa begitu mendengar jawaban manajer resto yang meminta maaf mengatakan kalau menu itu kosong dan akan segera menggantinya dengan menu lain.
“Bagaimana kalau Aku yang memasak sup ikan untuk papa?” kata Jihan menawarkan diri untuk memasak sup ikan andalannya.
“Mama mengundangmu kemari untuk menikmati makan malam bersama, bukan untuk memintamu memasak.” Kata mama sambil mengesah pelan, merasa tak enak dengan Jihan.
“Tenang, Ma. Kak Ayra sendiri yang menawarkan diri untuk memasaknya, bukan karena perintah Mama. Lagi pula sup ikan buatan Kak Ayra sudah terbukti dan rasanya tidak kalah dengan masakan resto, malah lebih enak.” Kata Al, ia langsung membuka kulkas dan mengeluarkan kotak berisi potongan ikan beku dari dalam sana.
Jihan melirik arloji di tangannya, pukul empat sore. Masih ada waktu cukup untuk memasak, ia hanya butuh waktu satu jam saja untuk menyelesaikannya. Timbul ide di kepalanya, tanpa sadar Jihan terkikik geli.
“Tapi, boleh gak kalau Aku melibatkan Dika untuk membantuku memasak kali ini?” Tanya Jihan yang membuat mama dan Al mengerutkan keningnya.
“Kok bang Dika, Al juga bisa kok bantu Kak Ayra masak.” Kata Al heran.
“Iya, kenapa harus Dika. Biar Mama dan bibi saja yang akan membantumu memasak,” sahut mama sama menyatakan keheranannya.
Jihan tertawa mendengar ucapan mama, jadilah ia yang akan memasak sup ikan pesanan papa sore itu. Dika yang baru saja turun dari kamarnya dengan tubuh wangi karena baru saja mandi, tak bisa menolak ketika Al menarik lengannya dan mendorongnya masuk menuju dapur. Sementara mama sudah berdiri menunggu dengan apron di tangan.
“Apa-apaan sih, ini?” tanya Dika bingung, apalagi saat Al memakaikan apron di tubuhnya.
“Udah Abang tenang aja, cuman disuruh pakai doang.” Sahut Al.
“Iya, tapi kenapa Aku harus pakai beginian?!” sergah Dika berusaha melepas apron di tubuhnya, tapi Al melarang dan malah memeluk pinggangnya dari belakang. “Apaan, sih!” Dika mulai kesal.
“Berhubung makanan pesanan papa sedang kosong di resto kita, Ayra berbaik hati menawarkan diri untuk memasaknya dengan satu syarat. Kau harus membantunya,” kata mama bicara sambil mengitari tubuh Dika, saat berada di belakang punggungnya mama dengan cepat mengencangkan ikatan apron di pinggang Dika. Al cepat-cepat keluar dari sana begitu mama memberi kode padanya. Bersama asisten rumah tangga mereka, Al mengintip dari balik pintu.
“Ya kalau di resto kita gak ada, kan bisa pesan di tempat lain. Kenapa harus repot-repot pakai acara masak sendiri,” sahut Dika, tak terima kalau ia yang harus membantu memasak.
“Tidak, kali ini Kau tidak bisa menolak. Dan Mama akan terus mengawasi saat kalian memasak!” Tegas mama. “Ayo masak, Ayra. Sebelum papa pulang, sup ikan sudah harus matang.”
Meski dengan wajah ditekuk, Dika pun menurut. Jihan menahan senyum melihat wajah tampan itu mencebik sebal, ia lalu menyiapkan bumbu rempah dan menyuruh Dika untuk mengupas bawang.
Suasana heboh terjadi di dapur rumah. Dika yang tak pernah melakukan pekerjaan seperti itu berteriak marah karena matanya perih dan mengeluarkan air mata karena harus menuruti perintah Jihan mengupas bawang.
“Begitu saja menangis,” ledek Jihan yang membuat Dika mendelik kesal padanya. Mama tertawa keras melihat Jihan memasangkan kacamata las untuk Dika, yang langsung menolaknya dan melemparnya ke lantai.
Tak berhenti hanya di situ saja. Selesai mengupas bawang, Jihan juga menyuruh Dika meng ocok telur dengan cara manual hingga berbuih dan melarang laki-laki itu menggunakan mixer. Dika tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menurut dengan hati kesal karena sang mama hilir-mudik mengawasi mereka dan memarahi Dika yang kerap berteriak marah menolak perintah Jihan padanya.
Semua yang ada di sana tak dapat menahan tawa melihat wajah Dika yang kusut dan kotor terkena tepung. Dika yang sadar kalau diperhatikan bertambah kesal dan balas mengoles wajah Jihan dengan adonan kue yang telah siap dituang. Terjadi kejar-kejaran di dapur, karena Jihan tidak terima wajahnya dicoret Dika dengan adonan kue. Dika tertawa puas karena berhasil membalas Jihan.
Mama yang berniat memarahi Dika urung melakukannya karena melihat putranya itu tertawa lepas. Satu hal yang sangat jarang terjadi, putranya itu bisa tertawa selepas itu. Dan semua karena kehadiran Jihan di rumahnya. Perlahan ia keluar dari dapur rumahnya, dan duduk menunggu papa pulang dari kantornya di sofa ruang keluarga. Sementara Al sudah pergi sejak tadi, kembali ke kamarnya.
“Awas, hati-hati!” teriak Dika saat melihat Jihan terpeleset karena lantai dapur yang licin. Beruntung Dika bergerak cepat menangkap tubuh Jihan hingga tak jatuh langsung menyentuh lantai yang keras.
Sedetik, dua detik, dan detik-detik berikutnya keduanya terdiam. Tangan Dika masih memeluk erat pinggang Jihan yang berada di atasnya. Wajah mereka begitu dekat, untuk pertama kalinya mereka berpelukan dan saling menatap dalam jarak yang begitu dekat. Dika bahkan bisa merasakan kelembutan tubuh Jihan dan embusan hangat napasnya yang menyentuh kulit wajahnya.
Jantung Dika berdegup kencang, tubuhnya menegang. Jihan yang merasakan sesuatu mengencang di bagian perutnya langsung tersadar dan cepat-cepat menggulingkan tubuhnya menjauh dari Dika. Suasana canggung langsung terasa, Dika memaki dirinya sendiri karena membiarkan Jihan merasakan bagian dirinya yang terpengaruh oleh kedekatan mereka.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎