Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 16. Insiden di kamar Dika



Seminggu berlalu, Jihan sembuh dengan cepat. Semua karena perhatian nenek juga Dika yang tak pernah absen, terus datang ke rumahnya. Sempat bingung menghadapi sikap Dika yang terang-terangan melarangnya bekerja di kedai meski ia merasa sudah sehat, tapi nenek menganggap itu semua sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang Dika padanya.


Senyum bahagia tampak di wajah nenek setiap kali melihat Dika datang untuk melihat Jihan, seperti pagi itu. Sebelum ke kantor, Dika mampir terlebih dahulu ke kedai menemui Jihan dan menyampaikan undangan makan malam dari mama untuknya.


Nenek memaksa Dika sarapan, tapi Dika menolak dengan halus dan meminta dibuatkan kopi saja. Sambil menikmati kopi buatan nenek, Dika menyampaikan maksud kedatangannya pagi itu dan mengatakan ingin mengajak Jihan jalan-jalan tanpa mengatakan hal yang sebenarnya kalau mama mengundang Jihan makan malam di rumahnya.


Dengan senang hati nenek langsung mengizinkan. Untuk lebih meyakinkan, Dika mengajak nenek untuk ikut bersama mereka nanti. Tapi nenek menolak dan menjawab sambil terkekeh, “Bisa-bisa, Nenek jadi obat nyamuk nanti.”


Dika meringis, ia pun segera berpamitan dan nenek mengantarnya sampai di depan pintu. Ia lalu pergi menemui Jihan. “Tunggu siang nanti biar Aku yang jemput,” kata Dika sesaat sebelum meninggalkan wanita itu di kedainya.


“Kalau sibuk, biar Aku sendiri saja ke sana pakai motor.” Tolak Jihan tak ingin merepotkan.


Dika menggeleng, dan tanpa persetujuan Jihan ia mengambil kunci motor wanita itu yang tergantung di dinding dan memberikannya pada nenek yang tersenyum lebar sambil mengangguk paham. “Untuk sementara, jangan biarkan Jihan pergi dengan motornya ya, Nek.”


"Beres, Bos!" sahut nenek sambil terkekeh.


Sempat protes pada Dika lalu merayu nenek untuk memberikan kunci motor padanya, alih-alih malah mendapat sentilan jari nenek di keningnya. Dika tertawa melihatnya, dan segera berlalu dari sana sebelum mendapat omelan dari Jihan.


“Sebenarnya cucu Nenek itu siapa, Jihan apa Dika. Kenapa sekarang Nenek malah lebih sayang Dika dari pada Jihan?” rajuk Jihan sambil mengusap keningnya.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja Nenek sayang padamu, tapi ucapan Dika juga ada benarnya. Lebih baik Kau dijemput dengan mobilnya ketimbang naik motor, lebih aman dan nyaman.” Sahut nenek menyimpan kunci motor Jihan ke dalam saku bajunya.


Jihan mengalah. Sambil menunggu kedatangan Rani dari pasar, ia pelan-pelan berbenah di kedainya menata alat-alat makan sambil sesekali keluar melayani pelanggan yang datang berbelanja masakan olahannya.


Dan seperti yang sudah-sudah, mama menelepon dan menyuruh sopir untuk menjemputnya. Jihan tak bisa menolak kali ini, karena mama terus memaksa. Ia meminta waktu satu jam beralasan untuk bersiap-siap dan memberi alamat seperti yang sudah disarankan Dika jika sewaktu-waktu mama meminta alamat rumahnya.


Beruntung tak lama kemudian Rani datang, sahabatnya itu kini tinggal serumah dengannya dan memilih fokus membantu usaha kedainya. Jadi Jihan tak perlu khawatir meninggalkan nenek sendirian lagi di rumah, karena Rani bersedia menjaga nenek selama Jihan berada di luar rumah. Rani pun segera bersiap-siap dan menunggu di tempat yang sudah ditentukan.


Sesampainya di rumah Dika, mama langsung menyambut kedatangannya dengan peluk cium. Kangen katanya, membuat haru Jihan yang mendengar.


“Mama sudah pesan makanan dari resto langganan, jadi hari ini kita santai-santai saja. Oh, iya. Ada yang mau Mama tunjukkan sama Kamu, kita ke atas ya.” Ajak mama menggandeng tangan Jihan menaiki tangga menuju lantai atas rumahnya.


“Bukannya ini kamar Dika, Ma?” tanya Jihan ketika mama membawanya masuk ke sebuah kamar yang dikenalinya sebagai kamar Dika.


“Iya, ini memang kamar Dika.” Sahut mama, lalu melepas pegangan tangannya dan berjalan menuju pintu besar yang ada di depan sana. Seketika angin sejuk memenuhi ruangan kamar Dika, saat mama membuka pintu besar di depannya yang rupanya mengarah ke balkon kamar yang luas.


Jihan berdiri diam memindai sekeliling ruangan, tersenyum getir menyaksikan kemewahan isi di dalamnya. Sangat jauh sekali dengan isi dalam kamar miliknya. Jihan bergeser mendekati ranjang dan menyapukan tangannya di sana, merasakan kelembutan kain di bawah tangannya itu. Perbedaan yang begitu mencolok, seprai miliknya sangat sederhana dan identik dengan motif bunga-bunga.


“Kau bisa beristirahat di sini sambil menunggu Dika datang,” kata mama, tersenyum melihat Jihan mencoba berbaring di sana. Tak lama kemudian ponsel mama berbunyi, dan mama langsung menjawab telepon masuk sambil melirik arloji di tangannya.


“Menyenangkan rasanya berada di tempat terbuka seperti ini, mata jadi berat rasanya.” Jihan tertawa malu.


“Kalau begitu, beristirahat saja dulu di sini. Mama tinggal ke bawah, sebentar lagi pesanan makanannya datang.”


“Aku ikut ...”


Ucapan Jihan menggantung di udara, ia bangkit berdiri tapi mama berlalu cepat dari sana dan pergi meninggalkan Jihan sendirian. Ia lalu masuk ke dalam kamar Dika dan memilih untuk melihat-lihat lagi. Jihan berdiri di depan rak yang menampilkan deretan panjang penghargaan milik Dika, senyum-senyum sendiri melihat setiap gambar yang menampilkan foto lelaki itu di sana. Ada satu gambar yang menarik perhatiannya, foto kecil Dika yang tertawa lebar di atas dermaga.


“Dilarang menyentuh barang-barang pribadi milikku!”


Suara bariton di belakangnya mengejutkan Jihan, ia berbalik cepat dan foto dalam genggaman tangannya itu terlepas dan hampir saja jatuh ke lantai andai Dika tak sigap menangkapnya.


“Kau!” Dika mendelik gusar.


“Kamu yang bikin kaget Aku!” balas Jihan.


“Siapa yang kasih izin Kamu masuk ke kamarku?” Dika berjalan mendekat, menghadang langkah Jihan yang terus menolehkan wajahnya mencari jalan keluar dari kamar itu.


“Mamamu ...” Jihan mengerutkan bahu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan saat Dika semakin merapatkan tubuh padanya, mengikis jarak di antara mereka.


“Kenapa pakai ditutup segala mukanya?” tanya Dika, lalu memegang tangan Jihan dan mulai mendekatkan wajahnya seperti ingin mencium Jihan.


Deg! Jantung Jihan berdebar kencang, tangannya kini berada dalam genggaman tangan Dika dan wajah lelaki itu begitu dekat dengan wajahnya. “Jangan macam-macam denganku!” sentaknya dengan suara bergetar.


“Siapa yang mau macam-macam denganmu?” tanya Dika sambil mengulum senyum, sengaja ingin menggoda Jihan. Ia bisa merasakan tubuh Jihan yang gemetar.


“Kau akan menyesal nanti, dan Aku tidak akan meminta maaf untuk hal yang satu ini.” Sahut Jihan sambil mengerjapkan matanya, dan langsung menutup matanya lagi begitu melihat Dika memonyongkan bibirnya.


Aargghk! Dika berteriak marah sambil memegang wajahnya yang terkena tandukan kepala Jihan, sementara Jihan berlari keluar kamar dengan terburu-buru tak peduli dengan teriakan Dika yang memanggil namanya.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎