Promise To Love Her

Promise To Love Her
Bab 18. Kerisauan Jihan



Jihan mencoba bangun dan berdiri, sedikit kesusahan karena lantai dapur yang licin. Banyak tepung yang berhamburan dan itu menyulitkan Jihan, hingga akhirnya ia berjongkok dengan satu lutut bertumpu di lantai. Sementara Dika masih terbaring telentang di lantai, wajah dan rambutnya tampak putih. Melihat penampilan Dika seperti itu, Jihan tak bisa menahan tawanya.


“Kenapa tertawa?” Tanya Dika dengan raut masam, ia menoleh menatap Jihan. Dika belum menyadari penampilan dirinya saat itu. Ditanya seperti itu, seketika Jihan langsung melipat bibirnya.


“Lucu aja,” sahut Jihan, ia mengangkat tubuhnya dan meraih tisu di atas meja lalu berjalan menggunakan lututnya mendekati Dika. Biar bagaimanapun juga, Dika seperti itu karena berusaha menolong dirinya.


“Lucu katamu? Apanya yang lucu?” Dika mengerutkan keningnya, menatap Jihan yang kini berlutut dengan tubuh condong ke arahnya.


“Pejamkan matamu,” pinta Jihan pada Dika, lalu menarik beberapa lembar tisu dan dengan lembut mengusap kening Dika yang memutih.


Mendapat perlakuan lembut seperti itu, sontak membuat jantung Dika kembali berdebar kencang. Ia harus menahan napas, dan memalingkan wajah karena jarak mereka berdua begitu dekat.


“Apaan sih, udah gak usah.” Tolak Dika menepis tangan Jihan tanpa menoleh padanya. “Bentar biar mandi lagi saja.”


“Pejamkan saja matamu,” ulang Jihan lagi, ia meniup-niup alis mata Dika dan kemudian menyekanya lagi dengan tisu.


Dika langsung memejamkan matanya dan tiba-tiba saja tangannya bergerak cepat mencekal tangan Jihan yang tidak siap menerima perlakuannya itu. Akibatnya Jihan oleng dan tubuhnya kembali jatuh membentur dada lebar Dika yang liat.


Jihan memekik nyaring dan terdengar sampai keluar. Mama yang berada di sofa terkejut mendengarnya, dan cepat-cepat mendatangi mereka.


“Sepertinya Kamu memang senang Aku peluk,” kata Dika tersenyum miring.


“No!” sahut Jihan dengan wajah memerah, jemarinya yang bebas bergerak menekan bibir Dika.


Beruntung saja tadi Jihan bisa menahan wajahnya, hingga bibirnya tidak sampai menyentuh bibir Dika yang sepertinya sudah siap sekali menyambutnya. Bisa dibayangkan bagaimana sikap Dika padanya nanti, jatuh tanpa sengaja saja Dika bilang ia suka dipeluk laki-laki itu. Apalagi kalau Dika berhasil mencium dirinya.


Cepat-cepat Jihan melepaskan diri, duduk menjauh sambil memegang dada berusaha meredakan debar jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Dalam sehari sudah dua kali ini ia terjatuh dalam pelukan Dika.


Canggung, itu yang dirasakan Jihan saat ini. Andai mereka pasangan kekasih yang sesungguhnya, mungkin akan lain ceritanya. Pasti akan sangat menyenangkan rasanya dipeluk orang tersayang. Tapi hal itu tak mungkin terjadi pada mereka.


Jihan mengingatkan dirinya lagi kalau ia hanya seorang kekasih kontrak untuk Pradika Nugraha, itu terjadi karena kemiripan wajahnya dengan Ayra sang kekasih. Ia harus membuang jauh-jauh perasaan suka yang perlahan mulai menyelinap di hatinya karena kedekatan dirinya dengan pria itu beberapa waktu belakangan ini.


Tak boleh jatuh cinta, karena itu tak termasuk dalam perjanjiannya dengan Dika. Kenyataan itu kembali mengingatkan Jihan untuk tetap menjaga jarak aman dan mengurangi sentuhan fisik yang berlebihan dengan Dika.


“Astaga, ada apa ini. Kenapa jadi berhamburan seperti ini? Kalian juga, kenapa malah duduk dan berbaring di lantai begini?” Mama mendadak muncul dan berhasil mengurai suasana canggung yang terjadi di antara Jihan dan Dika.


“Kamu gapapa, ada yang luka gak?” tanya mama sambil membantu Ayra berdiri.


“Aku baik-baik saja, Ma.” Jawab Jihan lalu cepat-cepat melanjutkan pekerjaannya. Mama lalu memanggil asisten rumah tangganya dan menyuruh untuk membersihkan tempat itu. Tidak butuh waktu lama, lantai dapur kembali bersih.


“Kamu sendiri kenapa bisa kotor begitu? Coba lihat di kaca sana, rambut sama muka pada putih semua kaya begini.” Mama menghapus noda tepung yang menempel di telinga Dika. “Ini pasti gara-gara Kamu, Dika. Sampai Ayra jatuh, bukannya Kamu tadi yang coret muka Ayra pakai adonan kue. Ayra lari ngehindar terus akhirnya jatuh!”


“Bukan salah Dika, Ma. Memang Aku saja yang kurang hati-hati.” Jihan menyela ucapan mama, membela Dika sebelum laki-laki itu angkat bicara menentang ucapan mamanya.


Mama senang mendengar Jihan membela Dika, menandakan kalau gadis itu peduli dan sayang pada putranya itu. Melihat bagaimana kedekatan hubungan mereka berdua kini, mama tidak sabar ingin melihat Jihan dan Dika segera menikah. Ia sampaikan keinginannya itu lagi, tapi dengan tegas keduanya menolak dan serempak menjawab ‘tidak!’


“Kalian memang jodoh, kompak sekali menjawab tidak pada Mama.” Kata mama heran


Jihan salah tingkah mendengar ucapan mama, ia cepat-cepat menyelesaikan kue buatannya dan menghidangkannya di meja. Sementara Dika bergegas keluar dari sana beralasan hendak membersihkan diri lagi.


Malam itu mereka berkumpul di satu meja, makan malam keluarga. Mama kembali membahas soal pernikahan. Di hadapan Jihan dan Dika, mama meminta bantuan papa untuk membujuk putranya agar segera menikah dan mewujudkan keinginan mereka semua. Dan jawaban Dika juga Jihan tetap sama.


Selepas makan malam, Dika mengajak Jihan naik ke balkon kamarnya. Awalnya Jihan menolak, teringat kejadian siang tadi. Tapi Dika meyakinkan kalau ia aman bersamanya malam ini.


Kesempatan itu digunakan Jihan untuk menyampaikan kerisauan hatinya setelah beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan keluarga Dika. Mereka melakukan banyak hal bersama, sudah seperti keluarga sebenarnya. Kedua orang tua Dika bahkan sering mengajaknya ke banyak pesta dan mengenalkan Jihan sebagai calon menantu mereka. Apa jadinya kalau mereka tahu yang sebenarnya?


“Aku takut, sandiwara ini akan terbongkar cepat. Setiap saat, mamamu selalu meminta kita untuk cepat-cepat menikah. Sementara jawaban kita selalu sama, menolak.” Ungkap Jihan dengan wajah gelisah, biar bagaimana pun juga ia tidak bisa terus-terusan menolak dengan alasan yang itu-itu saja. Sementara masa pacaran Dika dengan Ayra sudah lebih dari dua tahun.


Jihan juga tak bisa terus-terusan berada di dekat keluarga Dika. Ia juga punya kesibukan lain dan usaha yang juga butuh perhatian dirinya.


“Awalnya Aku mengira pertemuan dengan kedua orang tuamu hanya berlangsung satu kali, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Kau tahu, Aku juga tidak bisa terus berbohong pada nenek setiap kali harus pergi keluar rumah, Aku harus mencari-cari alasan yang masuk akal yang bisa diterima nenek. Kalau Aku katakan Aku pergi ke rumahmu untuk bertemu dengan keluargamu, nenek juga pasti ingin sekali dikenalkan dengan mereka semua.”


Dika yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana panjangnya, menatap Jihan sedemikian rupa dalam waktu yang cukup lama. Semua yang dikatakan Jihan padanya sudah pula dipikirkannya.


“Kalau memang kita ditakdirkan untuk bersama-sama terus sampai nanti, tidak ada salahnya mencoba keinginan mama.” Jawab Dika yang membuat Jihan tersentak, tak percaya.


Bukankah ia hanya kekasih kontrak laki-laki itu, lalu kenapa bicara soal pernikahan dengannya. Sedangkan perjanjian yang disetujuinya hanya mendampingi laki-laki itu sementara.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎