
Jihan berdiri menunggu bersama peserta lomba lainnya, harap-harap cemas dan jantung berdebar kencang. Tantangan apa yang akan ia dapatkan bersama Dika, dan harus mereka lakukan seperti yang sudah dilakukan peserta lainnya.
Pihak panitia tampak berjajar di pinggir panggung, menilai dan mengawasi jalannya lomba. Sesuai aturan, pasangan pria mengambil terlebih dulu kertas yang ada di dalam stoples kaca yang berisi berbagai macam tantangan. Kertas sudah di ambil Dika, lalu ia berikan pada pembawa acara.
“Wah, sepertinya kita bakal dibuat baper sama Mas Dika juga Mbak Ayra.” Pembawa acara lalu membacakan tantangan yang harus dilakukan Dika untuk pasangannya. “Bagaimana caramu merayu pasanganmu yang sedang ngambek karena telat kasih uang jatah belanja bulanan?”
Riuh suara penonton di bawah panggung, melihat Dika langsung meringis dan mengusap tengkuknya. Otaknya langsung berpikir keras. Selama ini hidupnya tak pernah kekurangan, ia juga tidak pernah telat dan selalu tepat waktu membayar upah bulanan karyawannya.
Dika juga suka membelanjakan teman wanitanya dengan barang-barang mewah, meski harus merogoh kocek dalam. Tapi, semua bukanlah masalah untuknya. Dan sekarang, ia dihadapkan pada sebuah tantangan yang sama sekali belum pernah ia lakukan selama hidupnya.
“Yuk, bisa yuk.” Teriak penonton tak sabar menunggu aksi Dika.
“Kesindir Gue. Kenapa bukan Gue yang dapet tantangan itu tadi?” celetuk salah satu peserta pria sambil melirik pasangannya, yang langsung memberikan cubitan di pinggangnya.
“Ayo, Mas Dika. Akting doang kali-kali jadi orang susah, kalau kaya kan dah biasa.” Imbuh peserta lainnya.
“Boleh bicara dulu sama tunangan Saya, gak?” tanya Dika pada si pembawa acara sambil menatap ke arah Jihan.
“Mau ngajak diskusi, ya? Gak boleh, Mas Dika. Harus dari pemikiran sendiri. Aduh, ini mah gampang banget deh. Soalnya sudah sering kita alami,” seloroh si pembawa acara.
Geer, tawa penonton terdengar lagi. Dika mesem, ia kemudian maju mendekati Jihan dan meraih tangannya lalu membawanya ke tengah panggung. Pembawa acara mulai memberi aba-aba, dan drama pria muda yang tengah merayu pasangannya yang sedang ngambek pun di mulai.
“Ini ceritanya lagi ngambek, kan?” tanya Jihan, yang langsung diiyakan panitia. “Oke, Aku balik badan kalau gitu.” Jihan langsung berbalik memunggungi Dika, mendekap kedua tangan di dada dengan bibir cemberut.
Dika menarik napas sebelum mulai bicara, ia memasang wajah memelas sambil menipiskan bibirnya. “Sayang, jangan ngambek terus dong. Aku janji kalau gaji Aku cair besok, langsung Aku kasih semua sama Kamu.”
“Janji mulu, ditunggu-tunggu gak cair juga. Aku kan malu sama ibu-ibu lainnya, masa tiap bulan telat terus bayar arisan dasa wisma. Mana sudah narik duluan lagi,” sahut Jihan yang langsung mengundang tawa semua orang yang ada di sana.
“Kenapa Kamu gak bilang kalau sudah narik, Yang? Katamu minta dapet terakhir, biar bisa ditabung.” Balas Dika.
“Udah habis, say. Buat bayar macem-macem, bumbu dapur, token listrik, bayar air, pusyingg! Nih, ya. Buat beli daster aja mesti ditunda dulu!” Jihan mengangkat kerah bajunya dengan bibir mencebik, dan itu membuat gemas Dika yang melihatnya.
“Busyeet Neng Ayra, udah kayak emak Gue beneran aktingnya.” Sela si pembawa acara.
Jihan berusaha menahan tawanya, ia mengedipkan sebelah matanya lalu berbisik di telinga Dika kalau pria itu pasti bisa merayu dan meluluhkan hatinya. Ia kemudian berbalik lagi dan menutup mulut dengan tangannya, saat pembawa acara tertawa melihat aksinya.
Tanpa diduga, Dika meraih bahu Jihan dan merapatkan tubuhnya. Dagunya ia sandarkan di ceruk leher wanita itu, dan kedua tangannya begitu saja melingkar di perut Jihan mengunci pergerakannya. Sebelum Jihan sempat memprotes tindakannya, Dika langsung mengecup pipinya dan menempelkan wajahnya di sana.
“Sayang, maafin Aku sudah buat Kamu marah dan kecewa. Aku yang gak ngertiin perasaan Kamu, dan gak bisa penuhin semua keinginan Kamu. Satu hal yang harus Kamu tahu, Aku sayang banget sama Kamu, cinta banget sama Kamu. Dan Aku gak mau kehilangan harapan dan cinta Kamu. Aku lebih memilih membagi seluruh hidup Aku bersama Kamu, dari pada menghadapinya seorang diri tanpa Kamu karena marah padaku. Maafin Aku, sayang. Aku pasti akan terus berusaha buat bahagiain Kamu.” Pungkas Dika, mengakhiri kalimat panjangnya. Ia melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Jihan agar menghadap ke arahnya.
Suara tepuk tangan yang terdengar kemudian, mengembalikan kesadaran Jihan. Ia merasakan hawa panas menjalar hingga ke bagian pipinya, apalagi saat Dika meraih tangannya dan mengecupnya.
“Yakin Mbak Ayra sudah tidak ngambek lagi, nih?” tanya si pembawa acara sambil mengerling Jihan yang tersipu malu, dan berlindung di belakang bahu Dika yang masih menggenggam tangannya.
“Yakin seratus persen,” jawab Dika sambil tertawa renyah. “Tapi, kalau masih ngambek juga. Ya udah, cium aja lagi. Biar berenti ngomelnya.”
Tentu saja jawaban akhir Dika mengundang tawa semua orang, tak terkecuali Jihan yang berada di sampingnya. Tak terasa waktu berlalu cepat, hingga berakhirnya acara. Panitia mengumumkan para pemenang lomba, dan Jihan keluar sebagai juara dalam lomba busana. Bersama Dika ia juga berhasil menyabet gelar juara dan berhak membawa pulang hadiah televisi juga voucer belanja. Hanya pada lomba makan tercepat Jihan gagal.
Perayaan ulang tahun mal BP malam itu rupanya diliput beberapa stasiun televisi, banyak pula wartawan yang hadir dan langsung mengejar pasangan Dika dan Jihan begitu mereka turun dari panggung. Jihan yang terkejut melihat banyaknya wartawan yang mendekati mereka, tampak kebingungan. Ia mandah saja begitu Dika menarik tangannya dan membawanya berlari menjauh dari serbuan wartawan.
Mereka terus berlari hingga memasuki area belakang bioskop yang pintunya terbuka sedikit, Dika menuntun Jihan masuk ke dalam sana dan menutup kembali pintu di belakangnya dengan cepat.
Beberapa penonton yang hadir di sana menatap kehadiran mereka dengan tatapan bingung, namun hanya sebentar karena suara keras dari film layar lebar yang sedang diputar di hadapan mereka itu berhasil mengalihkan perhatian mereka.
Dika mengenyakkan bo kongnya di barisan atas kursi penonton yang kosong, Jihan mengikuti dari belakang. Baru saja menatap layar di depannya, Dika dikejutkan dengan suara teriakan Jihan yang memalingkan muka dan memegang kencang lengannya.
“Kenapa gak bilang kalau itu tadi film horor?!” tanya Jihan dengan suara bergetar, wajahnya tampak pucat dan ia tak mau menatap ke depan.
“Ya, mana Aku tahu. Ini juga masuknya dadakan, gak pakai karcis nonton pula. Kalau ketahuan sama sekuritinya, kita bisa diusir keluar. Jadi Kamu mesti tenang, dari pada di luar dikejar-kejar wartawan lebih baik menepi dulu di sini cati aman." Sahut Dika dengan alis terangkat.
“Keluar aja, yuk. Filmnya serem, Aku ngeri liatnya.” Ajak Jihan semakin mengeratkan pegangannya di lengan Dika.
Dika menoleh sekilas menatap layar lebar, tersenyum simpul menatap adegan di depannya. “Film horor apaan, drama romantis gitu. Itu lagi ciuman di kamar.”
“Bohong, barusan tadi ada hantunya.” Jihan menggeleng tak percaya. “Ayo, keluar yuk.”
Iseng, tangan Dika menjawil telinga Jihan dari belakang. Jihan melotot dan menepisnya kuat. Dika terkekeh. “Aku serius, coba lihat sekarang. Tuh, malah sudah gelut di ranjang.”
“Masa, sih?” penasaran, Jihan mengintip sekilas lewat jemari tangannya yang terbuka. “Eh, iya bener.”
Jihan meringis, ia menurunkan tangannya dan duduk menghadap layar. Wajahnya yang tegang perlahan mengendur dan mulai terlihat tenang. Sudut bibir Dika melengkung begitu melihat mata Jihan kembali melebar setelah beberapa saat.
“Hantu!” terdengar jerit ketakutan Jihan lagi bersamaan dengan lampu bioskop yang menyala terang dan gambar di layar lebar yang masih menayangkan tengkorak manusia yang bergerak melayang.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎