
Dika menjatuhkan bo kongnya di sofa, menyandarkan punggungnya sejenak dengan kaki menyilang. Rasa cemas yang menggayut di hatinya menguap seketika begitu tiba di rumah dan melihat keakraban yang terjalin di antara Jihan dan keluarganya. Pemandangan di depannya itu membuat hatinya menghangat, tanpa sadar Dika tertawa melihat Jihan berhasil membuat papa kalah lagi dalam permainan.
Mereka semua tengah berkumpul di lantai ruang keluarga, bermain game tebak kartu. Siapa yang salah menjawab akan mendapat coretan di wajah, bedak dingin basah yang dicampur bubuk kopi. Bisa dibayangkan bagaimana wajah papa yang penuh dengan garis kehitaman karena terus saja salah dalam menjawab.
“Hahaha, Papa kena lagi. Coret di hidungnya, Kak Ayra.” Al tergelak sambil memegangi perutnya, Jihan menipiskan bibir menahan tawa dengan tangan bersiap mencolek bedak di mangkuk. Papa pasrah dan memejamkan sebelah matanya. Tawa keduanya pecah begitu Jihan selesai melukis bulatan besar di pucuk hidung papa.
“Kalian curang!” Protes mama, membuka semua gambar yang ada di depannya lalu menoleh pada papa. “Coba perhatikan, Pa. Bagaimana kita bisa tahu, hampir semua kartu yang ada bergambar idola mereka.”
Papa menyipitkan matanya, lalu terkekeh sadar kalau sudah dikerjai anak dan calon menantu. Mama lalu berjalan ke kamarnya dan keluar lagi dengan membawa kartu lain. Alhasil kali ini, ganti papa dan mama yang melukis wajah Jihan dan Al karena tak dapat menebak gambar para artis idola jaman mereka dulu.
Momen langka yang sangat jarang terjadi, Al mengabadikan kebersamaan mereka itu dalam ponselnya. Jihan yang melihat Dika duduk memperhatikan mereka dari sofa, lalu berlari mendekat dan menarik lengan Dika mengajaknya untuk bergabung bersama.
Jihan memberi kode pada Al yang terkikik geli. Sadar kalau hanya dirinya seorang yang bebas dari coretan, Al memeluk leher Dika dari belakang dan Jihan cepat-cepat mencoret wajahnya. Dika menatap sebal Jihan, mau marah tapi tak jadi karena mama dan papa pun berwajah sama dengannya. Jadilah mereka semua berfoto bersama dalam keceriaan, meski wajah penuh coretan.
Al lalu mengajak Jihan beristirahat di kamarnya yang berada di lantai 2, ia menggandeng lengan Jihan menuju kamarnya sambil menjelaskan tata letak ruangan di rumahnya itu ketika Jihan bertanya padanya.
“Nah itu kamarku, Kak!" tunjuk Al pada sebuah kamar yang berada di sudut ruangan, Jihan mengangguk.
“Kalau yang ini kamar siapa?” tanya Jihan menatap kamar besar yang persis berada di depan mereka.
“Itu kamar bang Dika,” sahut Al. “Kamar bang Dika yang paling besar di rumah ini,” jelas Al lagi.
Jihan membulatkan bibirnya, mereka sudah berada di depan kamar Dika. Dari celah pintu yang terbuka, Jihan bisa melihat pemandangan di dalam kamar itu.
“Bang Dika!” panggil Al mengintip dari balik pintu kamar.
“Hmm.”
Deg! Jihan langsung melengoskan wajahnya yang memerah. Jantungnya berdebar tak keruan begitu melihat Dika hanya mengenakan handuk melilit di pinggang, berdiri di depan cermin yang menempel di dinding kamarnya. Sepertinya laki-laki itu baru selesai mandi. Dadanya bidang dan perutnya rata, otot lengannya tampak kuat. Rambut basah yang menjuntai di dahinya itu membuat wajahnya yang tampan tampak segar.
Astaga! Jihan menepuk pipinya, kenapa ia malah membayangkan tubuh bugar laki-laki itu? Ia buru-buru menarik lengan Al dan bergegas menuju kamarnya. Berbahaya untuk kesehatan jantungnya kalau harus berlama-lama di depan kamar Dika. Nyatanya, satu jam berada di kamar Al, Jihan malah tidak betah. Kepalanya malah terus terbayang bodi tegap tubuh Dika.
Hari menjelang sore, Dika dan papanya sedang duduk bersantai di ruang keluarga. Jihan pamit pulang, tapi mama lagi-lagi menahan dan mengajaknya makan malam bersama. Tak ingin mengecewakan keluarga yang sudah begitu baik padanya itu, Jihan pun menerima tawaran mama.
“Sekarang, Kamu tunggu di sini sama Dika. Mama mau masak spesial untuk calon menantu kesayangan,” kata mama sebelum berlalu menuju dapur rumahnya.
Mama mengernyit. “Apa Kau yakin bisa mengolahnya?”
“Bisa,” jawab Jihan tegas. Ia teringat Dika tidak pernah mengatakan padanya soal Ayra bisa memasak atau tidak, dan sekarang waktunya menunjukkan pada keluarga itu tentang kebolehannya dalam hal memasak ikan.
“Aku tak yakin Kau bisa memasak, Kau bahkan tak tahan mencium bau ikan mentah.” Kata Dika mengingatkan. “Lebih baik Kau duduk bersama kami di sini. Lagi pula itu bukan tugasmu, ada asisten rumah tangga yang akan membantu Mama.” Imbuh Dika lagi, sayangnya Jihan justru merasa tertantang dan ingin membuktikan.
“Boleh juga usul Ayra tadi, Papa jadi teringat pernah makan sup ikan bareng rekan kerja di salah satu resto.” Papa menyela ucapan Dika. “Papa jadi tidak sabar ingin mencicipi sup ikan buatan Ayra.”
“Siap, Aku akan buatkan sup ikan spesial buat kalian semua.” Kata Jihan menyanggupi. Dika mendelik, tapi Jihan hanya tersenyum menanggapi.
Mama bergeser ke tepi, memberi tempat pada Jihan agar leluasa bergerak. Ia yang tadinya berniat memasak untuk Jihan, malah duduk menonton Jihan beraksi memainkan pisau di tangan dengan cekatan. Memisahkan bagian kepala dan mengiris daging ikan untuk di olah menjadi sup.
Asisten rumah tangga yang berada di sana menyaksikan, terkejut sekaligus terkesan karena tak menyangka kalau tunangan tuan muda mereka ternyata pandai memasak. Mereka membantu sekedarnya, meski yakin kalau Jihan mampu melakukan semua seorang diri.
“Dia lebih mahir dari yang kukira,” kata mama mengambil tempat duduk di antara papa dan Dika. Mama bercerita bagaimana Ayra membersihkan ikan dan memotongnya, sepertinya ia memang terbiasa melakukannya.
Dika memijit pelipisnya yang berdenyut, ia lupa mengatakan pada Jihan meski sempat mengingatkannya barusan kalau Ayra tidak bisa memasak dan tak suka makan ikan. Tapi sepertinya Jihan tak paham isyarat katanya, justru tertantang ingin membuktikan kalau ia bisa melakukan apa yang diminta papanya.
Satu jam berikutnya, Jihan sudah menyelesaikan masakannya dan langsung menatanya di meja. Asisten rumah tangga yang sedari tadi diam memperhatikan, bergerak cepat membereskan sisanya.
Mereka berkumpul kembali di meja makan, kali ini makan malam dengan menu sup ikan olahan tangan Jihan. Papa orang pertama yang diberi kesempatan mencicipi masakan Jihan.
Suapan pertama lolos, papa mengunyah perlahan. Semua mata memperhatikan perubahan di raut wajahnya, lelaki itu menggelengkan kepala tanpa bicara sepatah kata.
“Gimana, enak gak?” tanya mama tak sabar, sementara Dika menatap dengan wajah tegang.
“Enak sekali, rasanya pas di lidah.” Papa mengacungkan jempol memuji, mama langsung menyendok dan mulai menikmati. Dua jempol untuk Jihan dari mama, orang kedua yang memuji hasil masakannya.
“Yes!” Jihan tertawa senang, dan Dika langsung terduduk lemas di kursinya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎