
Sebulan kemudian.
Auditorium kampus mulai dipenuhi banyak orang. Hari ini adalah hari pameran aplikasi karya mahasiswa yang diadakan oleh fakultas teknik dan programming club.
Ada sekitar 40-an aplikasi yang dipamerkan dalam acara ini.
Selain pameran aplikasi, ada talkshow yang diisi oleh menkominfo dan pemilik startup.
*Flashback*
"Lo serius mau bikin aplikasi itu?"
Gue menyeruput ice lemon tea yang barusan gue pesen.
Winwin mengangguk.
Gue shock waktu tau aplikasi apa yang mau Winwin buat. Dia mau buat semacam aplikasi online dating.
Kata Winwin, aplikasinya akan mencocokkan pengguna berdasarkan karakter MBTI.
"Gue bikin ini terinspirasi dari Mark. Mark kan jomblo"
Semenjak Mark putus dari Yumi, Winwin berinisiatif untuk mencarikan Mark pacar. Gue juga ikutan. Gue sampe ngehubungin temen-temen lama gue yang kira-kira cocok buat Mark.
Namun, usaha kami masih belum membuahkan hasil.
Sebenarnya banyak yang suka Mark, tapi karena Mark orangnya ansos dan terlalu pemilih maka kami kesulitan untuk mencarikan yang cocok untuknya.
"Yang ini gimana Mark? Cewek paling cantik di jurusan kita"
"Males, banyak saingannya"
"Kalo yang ini Mark? Anaknya gaul banget, easy-going, banyak temennya"
"Nggak, keliatannya fakgirl"
"Kalo Yuna gimana Mark? Anaknya kalem, manis, anggun, pinter juga"
"Jangan yang namanya ada 'Yu' nya, nanti gue salah manggil"
Selalu begitu.
Sebenernya tipe lo yang kaya apa Mark?
"Ini UX Design nya" kata Winwin.
Gue melihat ke laptop Winwin.
"Kirimin ke email ya" kata gue.
UX Design itu semacam tata letak menu aplikasinya, biasanya hitam putih.
Tugas gue disini bikin UI Design, yaitu visualisasi berwarna tampilannya.
"Nuansanya mau warna apa?"
"Apa ya?"
"Aplikasi dating biasanya kalo nggak merah ya pink" kata gue.
Winwin terlihat berpikir. Dia lalu mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Karena gue suka anak ayam, jadi kuning aja"
Alasan yang random.
"Kuning?" gue mengernyitkan dahi.
"Nih, warna kuning itu artinya kesetiaan dan kebahagiaan. Gue mau yang pake aplikasi gue nanti menemukan kesetiaan dan kebahagiaan"
*Kembali ke aditorium*
"Silakan dipresentasikan aplikasinya" dekan fakultas teknik dan menkominfo mendatangi booth kami.
Winwin terlihat gugup.
"Lo pasti bisa" kata gue.
Winwin sebagai project manager di tim kami mempresentasikan aplikasinya. Gue, Mark dan satu anggota tim lainnya berdiri disampingnya.
Winwin menjelaskan dengan cukup lancar.
"Suara gue tadi geter nggak?" tanya Winwin.
"Nggak kedengeran kok"
Setelah presentasi beres, gue pamit kekamar mandi lalu kembali ke booth.
Di booth kami kini ada Jungwoo dan beberapa orang.
"Eh kak Lia." sapa Jungwoo.
"Aplikasi gue masih ada hubungannya sama teknik mesin kan"
Jungwoo lalu tertarik dengan aplikasi Winwin. Dia bilang mau download juga biar dapet pacar yang cocok dengan karakter MBTI nya.
"Win, ada pak Siwan"
Pak Siwan berjalan mendekati booth kami.
Ayah dan anak yang lama terpisah itu saling menyapa.
"Bapak ngisi talkshow?" tanya gue.
"Enggak, cuma mampir aja"
Winwin mendemokan aplikasinya ke ayah kandungnya itu tanpa diminta.
Pak Siwan memperhatikan dengan seksama. Setelah selesai, beliau menepuk-nepuk pundak Winwin.
"I'm so proud of you" kata pak Siwan.
Winwin tampak tersipu.
"Lia laper nggak? Gue pesenin XiaoFood ya" kata Winwin setelah pak Siwan meninggalkan booth kami.
Winwin lalu memesan XiaoFood untuk gue dan yang lain. Dia memesan set ayam suwir sambal matah.
Setelah pesanan datang, kami makan bergantian.
"Kenapa bawang merahnya dipinggirin Mark?" tanya Winwin.
"Gue nggak terlalu suka, soalnya nanti nafas gue jadi bau"
"Tau gitu tadi request nggak pake bawang merah, buat gue aja sini"
Winwin memindahkan irisan bawang merah dari box nasi Mark ke box nasinya.
"Sayang nggak makan?" tanya Winwin ke gue.
"Siying nggik mikin?" ledek Mark sambil memonyongkan bibirnya.
"Diem lo jomblo" kata Winwin.
"Minggu depan orang tua gue mau kesini, nanti lo ke apartemen ya" kata Winwin ke gue.
"Serius?"
Winwin mengangguk.
"Mama mau ke New Zealand nemenin kakak yang lagi hamil besar, tapi mampir kesini dulu"
"Lo ikut ke New Zealand?"
"Engga, kan belom libur"
Jam 11, talkshow dimulai.
Salah satu pembicaranya ternyata pemilik startup yang umurnya masih 20 tahun. Iya, semuda itu.
Namanya Alexandr. Dari namanya aja udah startup banget. Biasanya kan umumnya Alexander.
"Kakak lo di New Zealand dimananya Win?" tanya gue.
"Queenstown"
Gue seketika langsung antusias. Dulu boygroup yang pernah gue ikutin bikin konten liburan di New Zealand dan mampir ke Queenstown juga.
Semenjak saat itu gue punya impian buat pergi kesana.
"Di South Island ya?" tanya gue.
"Iya, kok lo tau? Lo pernah kesana emang?"
"Pernah, di dalam mimpi"
"Kalo gue pernah ada di mimpi lo nggak? Hehe"
Gue mengingat-ingat.
"Eh 'bokapnya' bang Yuta dateng" celetuk Winwin.
Pak Soman menghampiri booth kami.
"Bapak mau cari pacar online juga?" tanya Winwin sopan.
Pak Soman tertawa.
"Ah kamu Win, ada-ada aja ehehehe"
"Boleh"