
Dengan riasan bertema No Make Up Make Up Look, Yeji membuat mata seisi kantin tertuju padanya.
Dia mendekat ke meja kami dan duduk di samping kak Doyoung. Aroma parfumnya langsung tercium.
"Eh? Winwin? Ketemu lagi kita" Yeji terkejut.
"Lo kenal Winwin?" tanya kak Doyoung.
Yeji mengangguk. "Temen SMA"
"Dunia sempit ya?" kata kak Doyoung. "Dia ini adeknya Bubu yang waktu itu loh, Lia."
"Oh adeknya Kak Bubu" gue pura-pura baru tau.
"Tau Bang Bubu?" tanya Yeji ke gue.
"Waktu itu kita ke cafe abang lo" sahut Kak Doyoung.
"Oh"
Yeji menoleh ke Winwin.
"Win, gimana kabar lo?" tanya Yeji.
"Baik" jawab Winwin.
"Lo ternyata masih suka jus sirsak kayak dulu ya.. hehe" kata Yeji.
"Lo udah sarapan ji?" tanya kak Doyoung ke Yeji.
"Udah tadi"
"Oiya mereka ini adek tingkat gue di kampus ji"
"Oh gitu? Kak Doyoung gimana kalo di kampus?" tanya Yeji ke gue dan Winwin.
"Di kampus jadi mahasiswa teladan" kata gue.
"Oya? Padahal waktu SMA..."
Yeji belum selesai bicara, kak Doyoung langsung membungkam mulut Yeji dengan tangannya.
"Apa? Mau bongkar aib gue kan lo?"
Yeji berusaha melepas tangan kak Doyoung dari mulutnya.
Kak Doyoung akhirnya melepaskan tangannya setelah Yeji memukulnya.
"TANGAN LO KOTOR TAU!" kata Yeji kesal.
Kak Doyoung hanya tertawa.
*****
Malam ini Winwin menepati janjinya ke Jisung untuk nginep di RS.
Gue juga nginep di RS lagi karena Bokap nggak enak badan. Padahal gue sebenernya pengen tidur dirumah karena tidur di RS nggak nyaman.
Winwin dateng lebih dulu daripada gue. Waktu gue dateng, Winwin dan Jisung sedang fokus membaca komik yang Winwin bawa dari apartemen.
Sementara mereka sedang fokus, gue belajar buat UTS.
Dari rumah, gue udah bawa buku dan fotokopian soal UTS tahun lalu buat belajar.
Biasanya soal UTS yang keluar isinya sama seperti tahun sebelumnya, kecuali mata kuliah yang dosennya tipe-tipe seperti Pak Soman yang tiap tahun selalu bikin soal berbeda.
Winwin menghampiri gue yang sedang duduk di sofa.
"Lo belajar apa?" tanyanya.
Gue nunjukkin fotokopian soal UTS tahun lalu.
"Kok punya?" tanya Winwin heran.
"Punya"
"Dapet dari?"
"Di perpus fakultas kan ada, terus gue fotokopi" kata gue.
"Oh kirain. Ada ya (di perpus)? Baru tau gue"
"Lo baru tau?"
"Soalnya gue jarang ke perpus fakultas, seringnya ke perpus pusat" kata Winwin.
"IPK lo berapa?" tanya gue.
"Tiga koma delapan berapa gitu"
"Lo nggak pernah tau soal ujian tahun lalu tapi IPK lo bisa sampai segitu?"
"Huum"
Dunia nggak adil.
"Lia, lo mau bantuin gue nggak?" tanya Winwin.
"Bantuin apa?" tanya gue.
"Programming club mau ngadain pameran, lo bantuin bikin design aplikasi gue ya" kata Winwin.
"Design?"
"Tim gue cowok semua, nggak jago pilih warna. Gue liat binder kuliah lo estetik. Lo tempelin pernak-pernik warna-warni" kata Winwin.
"Hmm.."
"Ayolah"
"Gue nggak yakin bisa bikin yang bagus" kata gue ragu.
"Sebisa lo aja, kan siapa tau lo besok bisa jadi UI/UX Designer, lo mau kerjaan yang nggak terlalu ngoding kan?" tanya Winwin.
"Gitu?"
"Besok habis UTS ya"
*****
Setelah Jisung tertidur, gue dan Winwin duduk di balkon sambil menghirup udara malam.
"Jangan ngediemin gue lagi ya" kata gue.
"Emang gue ngediemin lo?" tanya Winwin.
"Lo nggak ngerasa?"
Winwin menusuk coklat truffle dengan garpu lalu disuapkan ke gue.
"Makan.."
Gue memakan coklat truffle yang disodorkan Winwin.
Winwin masuk kedalam ruangan dan keluar lagi dengan membawa dua cangkir teh hangat.
Dia memberikan salah satunya ke gue.
"Gue ngerasa nggak nyaman liat lo pelukan sama cowok lain" kata Winwin tiba-tiba.
"Maaf ya"
"Gue insecure sama kak Doyoung. Dia kan ganteng... Berwibawa.." kata Winwin.
"Lo juga begitu. Kenapa insecure?"
"Gue berwibawa?" tanya Winwin.
"Kadang-kadang" jawab gue.
Winwin menyeruput teh hangatnya.
"Apalah daya gue yang cuma seorang otaku"
Gue mau ketawa tapi nggak tega.
"Gue suka kok. Mau lo berwibawa atau enggak, mau lo otaku, gue suka lo yang apa adanya begini. Lagian lo punya kelebihan sendiri."
"Sejujurnya gue juga insecure sama mantan lo." lanjut gue.
Winwin memberikan suapan coklat truffle lagi ke gue.
"Lo tau hewan favorit gue?" tanya Winwin.
Malah hewan.
"Buaya?" tebak gue.
"Bukan, anak ayam"
"Iya sih, anak ayam lucu mirip elo" kata gue.
"Mirip?"
Gue mengangguk.
"Lia, liat bintang itu, warnanya merah jambu" Winwin menunjuk kearah langit.
"Mana?"
Gue mendongak kearah yang ditunjuk Winwin
"Itu, masa nggak liat.."
"Yang mana sih?" gue mencari-cari.
"Itu looh..."
"Mana? Sebelah mana?"
"Ituu..."
Winwin tiba-tiba mendaratkan kecupan di pipi gue.
"Winwin....!"
Winwin menyenderkan kepala gue ke pundaknya.
"Jangan saling insecure lagi yuk. Fokus sama kita berdua aja. Capek nggak sih insecure terus" kata Winwin
"Kapan-kapan kita nonton bareng drama favorit lo ya, gue pengen tau hal-hal yang lo suka.."
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Rooftop Guri Tower
Doyoung mengambil sebatang rokok dari dalam sakunya dan bersiap menyulutnya.
Dengan sigap seseorang merebut korek dari tangan Doyoung dan melemparnya sejauh mungkin.
"Isshh apaan sih!" Doyoung tampak kesal.
Orang itu mengulurkan segelas ice americano ke Doyoung.
"Elo ji, gimana lo tau gue disini?"
"Gue tau tiap lo kabur pasti kesini"
Doyoung menyeruput ice americano yang diberikan Yeji.
"Mirip banget ya kak" kata Yeji.
"Maksud lo?"
"Sama Jennifer"
Doyoung terlihat shock dengan perkataan Yeji barusan.
"Gimana lo tau tentang Jennifer?"
Yeji hanya tersenyum.
"Tau dong"
Doyoung menatap jauh kearah langit.
"Iya ji, matanya... senyumnya... tingginya... persis seperti Jennifer" kata Doyoung
"Lo suka dia?" tanya Yeji.
"Gue masih belom tau perasaan ini apa"
"Tapi dia udah punya pacar" kata Yeji.
Doyoung menarik nafas panjang.
"Untuk sekarang, ngeliat dia tersenyum dari jauh udah cukup buat gue" kata Doyoung.
"Lo liat bintang yang paling terang itu Ji? Jennifer pasti lagi ngeliat gue dari atas sana. Hari ini dia ulang tahun.." kata Doyoung sambil menunjuk kearah langit.
"JENNIFER! GUE UDAH JADI ANAK BAIK SEKARANG!! ITU KAN YANG LO MAU?" teriak Doyoung.
"Cih. Baik apanya" gumam Yeji.
Yeji menyeruput ice americano yang ada di tangan Doyoung.
"Apa gue beneran nggak bisa?" tanya Yeji.
Doyoung mengacak-acak rambut Yeji.
"Lo itu udah gue anggep adik" katanya.
"Tau gini lo gue tinggal ke Cambridge aja kemaren. Emang gue yang bodoh udah berharap lebih sama lo"