
"Saya ga disuruh makan banyak juga nih pak? Hehehe." canda gue.
"Oh tentu Lia juga harus makan banyak, kalo mau pesen lagi boleh lho." ujar pak Siwan.
Gue dan Winwin tertawa.
Gue ga nyangka bisa makan bareng CEO startup terbesar di negeri ini. Rasanya kayak mimpi bisa makan semeja bareng orang hebat.
"Eh serius kalo kalian mau pesen lagi buat keluarga dirumah boleh lho, buat bapak, ibu, kakak, atau adek kalian" kata pak Siwan.
"Ah kalau saya sih tinggal sendiri pak, ini si Lia mungkin mau pesen lagi buat adeknya." ujar Winwin.
"Eh engga pak, malah jadi ngrepotin."
"Ga repot kok. Santai aja. Oiya, emang Winwin kenapa tinggal sendiri?"
"Orang tua saya pindah ke China Pak, karena kerjaan papa pindah kesana"
"Kakak lo juga ke China Win?"
"Kalo kakak gue di New Zealand, ikut suaminya."
"Terus kenapa kamu ga ikut orang tua kamu ke China? Malah tinggal sendiri disini?" tanya pak Siwan.
"Ga tau kenapa saya lebih suka disini pak, disini kotanya ga terlalu ramai, jadi bisa lebih fokus buat belajar, karena saya emang ga terlalu suka yang terlalu ramai sih pak hehe."
"Berarti lo di apartemen nyewa atau emang dari dulu lo tinggal disitu?" tanya gue penasaran.
"Gue nyewa, rumah yang lama dijual setelah ortu pindah ke China" jawab Winwin ke gue.
"Mandiri banget ya kamu, ngomong-ngomong kalo kamu lagi bosen ngoding biasanya ngapain?" tanya pak Siwan.
"Nonton anime, kalo ga mancing ikan sama temen pak."
"Sama Mark?"
"Lucas. Mark mana mau."
"Wah kebetulan saya juga hobi memancing, kapan-kapan kita mancing bareng ya." kata pak Siwan.
Setelah kami menghabiskan makanan dan berbincang, tiba-tiba ponsel Pak Siwan berbunyi. Beliau kemudian mengangkat telfonnya. Setelah selesai bicara di telepon, Pak Siwan pamit pergi duluan.
"Saya kayaknya harus pergi sekarang." ujar Pak Siwan.
"Oh, kalo gitu hati-hati dijalan pak, terima kasih banyak sudah mengajak kami makan siang." kata gue.
"Terima kasih pak" sahut Winwin.
"Sama-sama. Oiya, ini kartu nama saya. Hubungi saya ya. Kapan-kapan kita mancing bareng" kata pak Siwan ke Winwin.
"Oh, iya pak. Siap"
"Lia, saya tunggu kamu daftar internship di kantor saya" kata pak Siwan.
"Eh? Iya, siap pak, hehe"
Kemudian pak Siwan pergi.
"Win kayaknya pak Siwan tertarik deh sama lo."
"Hah? Tertarik?" tanya Winwin yang sepertinya salah tangkap.
"Eh engga maksudnya, kalian tu kayak sefrekuensi gitu loh, Pak Siwan juga lebih banyak nanyain lo, sampe ngasih kartu nama segala."
"Eh btw kapan kita mau ngerjain buat asistensi kedua Win?"
"Sekarang aja gimana? Lo free kan sampe sore?"
"Iya sih, tapi file nya dirumah, ga gue bawa, apa mau ngerjain dirumah gue?"
"Boleh emang?"
"Ya boleh laah, yakali ga boleh?"
"Yaudah yuk cabut."
Kami lalu beranjak dari tempat duduk kami dan menuju ke pintu keluar cafe. Saat melewati kasir, tiba-tiba seorang waiters memanggil kami.
"Eh mba... mas... tunggu..."
"Iya? Kenapa mba?" Kami menoleh ke waiters tersebut.
"Sebentar... "
Waiters itu terlihat mengambil sesuatu.
"Ini... " Waiters itu menyodorkan 2 box macaroons.
"Apa ini mba?" tanya gue bingung.
"Ini dari bapak yang tadi, satu buat mas, satu buat mba."
"Apa dari pak Siwan Win?" tanya gue ke Winwin.
"Yang bapak baju oranye tadi mba?" tanya Winwin ke waiters.
"Iya bener."
"Duh gimana nih Win, kok jadi enak kita?"
"Hahaha."
"Rejekinya Jisung nih."
"Jisung siapa?"
"Adek gue."
"Oh si kelas 5 SD?"
"Huum."
"Ayo kita WA pak Siwan bilang makasih, mana tadi kartu namanya?" tanya gue.
"Bentar...." Winwin merogoh kantong tasnya.
"Ini...." Winwin memberikan kartu nama pak Siwan ke gue.
"Lo juga WA Win, kan kita berdua masing-masing dikasih."
"Eh tapi sopan ga sih WA gitu aja ke CEO?" tanya Winwin ragu.
"Ya terus mau gimana? Email gitu?"
"Haha kayak nglamar kerja dong?"