
Jam 4 pagi, divisi lapangan keluar dari persembunyiannya. Mereka datang ke lokasi makrab dan membangunkan peserta. Cara mereka membangunkan peserta makrab seperti macan yang sedang mengamuk. Serangan fajar dimulai.
Sebenarnya acara makrab ini bisa dibilang adalah jebakan. Di awal, peserta makrab pasti akan membayangkan jika acara ini isinya adalah bersenang-senang, padahal ini seperti ospek kedua.
Sedikit kejam sih, tapi memang tiap tahunnya begitu. Gue dulu salah satu korbannya.
Namun "perploncoan" yang dilakukan oleh divisi lapangan biasanya hanya berupa verbal, tidak sampai menyerang fisik karena mereka juga diberi batasan. Selain itu, karena acara ini juga diawasi oleh perwakilan kampus, maka peserta dipastikan aman dari tindak kekerasan.
Agenda utama hari kedua makrab adalah jelajah alam menyusuri area sekitar bumi perkemahan.
Agenda ini dipimpin langsung oleh divisi lapangan.
Sebelum jelajah alam dimulai, peserta berbaris di titik kumpul. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok ada 2 anggota divisi lapangan yang memandu, salah satunya Lucas.
Sembari divisi lapangan mengatur barisan, divisi lain yang sedang tidak sedang bertugas menonton dari posko.
"Gue ketawa mulu liat Lucas ngebentak maba." kata Yumi yang tiba-tiba datang entah darimana.
"Tapi menurut gue Lucas keliatan paling serem tau dibandingin anak divisi lapangan yang lain." celetuk panitia lain.
"Itu karena lo belom tau Lucas orangnya gimana." kata Yumi.
Tenggorokan gue terasa haus. Gue lalu beranjak menuju ke posko konsumsi untuk mengambil segelas teh hangat kemudian kembali ke posko kesehatan.
"Cie udah apel pagi aja nih." celetuk salah satu kating cewek ke gue.
"Maksud lo kak?" tanya gue bingung.
Gue lalu duduk dan menyeruput teh hangat yang gue bawa.
"Lo pacaran sama Doyoung kan?" tanya kating cewek yang tadi.
Gue langsung kesedak.
"Apa?! Siapa yang pacaran sama Doyoung?" tanya salah satu kating cowok.
"Ini si Lia." jawab kating cewek yang tadi.
"Hah serius Lia sama Doyoung? Wah hot news nih!" kata si kating cowok.
"Iya tuh, anaknya langsung kesedak haha." kata si kating cewek.
"Apa? apa? Yang hot news apa?" kating lain tiba-tiba nimbrung.
Sekarang mereka ngerubungin gue.
"Ini si Lia jadian sama Doyoung." kata kating cowok.
Aduh rese banget sih para kating ini. Kenapa malah ngira pacar gue Kak Doyoung?
"Serius?! Gila gila gila."
"NGGAK!" teriak gue.
"Tadi malem Lia dikasih jepit rambut sama Doyoung, bentuknya hati lagi. Uuu co cweet." ujar kating cewek dengan mulut rumpinya.
Eh? Kok bisa tau.
"Jepit rambut?"
"Huum. Waktu Lia ketiduran di meja obat, Doyoung masang jepit rambutnya ke Lia. Terus waktu masangin si Doyoung bilang yeppeuda. Nggak tau maksudnya apa"
"Yeppeuda? Makanan khas papua bukan?"
"Papeda!"
"Oh pantesan tadi malem gue liat dia ngebersihin lukanya Doy, mana deketan lagi duduknya, kalo nggak ada orang pasti udah ciuman." celetuk kating cowok.
Sialan, rasanya pengen gue sumpel mulutnya pake kaos kaki.
"Tolong ya mulutnya.." kata gue.
Untung gue sabar.
"Oh pantes waktu itu Lia dateng ke acara keluarganya Doy, gue liat di IG nya Doy"
"Wah udah fix ini mah"
Aduh kenapa gue jadi diledekin habis-habisan gini.
"Tolong tenang ya semua, gue tu nggak jadian sama kak Doyou..."
"Lia...!"
"Ini hp lo ketinggalan tadi." kak Doyoung tiba-tiba datang.
"CIEEEEE!!!!!!"
*****
Sore hari, peserta telah kembali ke tenda.
Kali ini gue bertugas keliling tenda peserta.
"Hai kak." sapa beberapa maba dari dalam tenda.
"Hai.." jawab gue.
"Kak sini kak, ikut ngemil, kita bawa makanan banyak nih.."
"Iya kak, sini kak."
Gue lalu mendekat ke mereka dan masuk kedalam tenda.
"Tahun ke-2 ya kak?"
"Iya."
Gue ikut ngemil bareng mereka sambil ngobrol-ngobrol.
Setelah puas ngobrol gue lalu beranjak dari tenda.
Gue ambil sepatu dan menalikan talinya.
"Eh kak Lucas ganteng banget deh, body nya tipe gue banget" terdengar suara dari tenda sebelah.
"Kak Johnny juga body nya aduhai."
"Ah gantengan juga kakak yang divisi kesehatan itu, ganteng imut gimana gitu."
"Yang mana?"
"Kalo nggak salah namanya Winwin."
"Oh Winwin, dia kakak kelas gue waktu SMA."
"Serius?"
"Iya. Pinter banget anaknya."
"Udah punya pacar belom ya?"
"Nggak tau. Dulu tuh dia pacaran sama Yeji selebgram itu loh. Tau nggak?"
"Hah? Yejiyeji_ maksud lo?"
"Nah iya, tapi nggak tau sekarang masih atau engga."
"Yeji selebgram tuh yang ketrima kuliah di Cambridge tapi nggak diambil itu kan?"
"Iya bener, viral banget kan waktu itu."
"Terus sekarang kuliah dimana?
"Di kampus kita kan?"
"Hah? Kok gue nggak pernah liat?"
"Lo jurusan apa woi. Dia anak hukum. Gedung kampusnya misah dari kampus pusat."
"Oh pantes."
"Wah kalo mantannya selevel Yeji sih gue auto mundur."
*****
Malam ini agendanya adalah free time. Divisi lapangan selesai melakukan tugasnya. Mereka yang tadinya buas seperti macan berubah menjadi jinak seperti kucing.
Peserta yang tadinya takut langsung berani mendekat ke mereka.
Berkat kewibawaannya dalam mengemban tugas sebagai divisi lapangan, Lucas menjadi yang paling populer diantara anggota yang lain. Banyak yang berlomba-lomba mencari perhatian Lucas baik peserta cewek maupun cowok. Ada yang memberi camilan, mengambilkan minum, bahkan mengajaknya berfoto bersama.
"Mau counterpain dong." Lucas tiba-tiba datang ke posko kesehatan.
Salah satu anggota divisi kesehatan memberikan counterpain ke Lucas.
"Cie yang sekarang jadi idola para maba."
"Dari dulu juga idola." jawab Lucas sambil mengoleskan counterpain ke kakinya.
"Itu maba yang paling cantik kayaknya suka sama lo deh, nggak mau deketin dia cas?"
"Nggak, gue nggak suka maba." jawab Lucas.
"Kenapa? Kalo gue jadi lo sih langsung gue embat."
"Tipe gue yang lebih tua." kata Lucas.
"Kating dong? Ada yang lagi lo suka?"
"Bukan kating. Bu Tiffany." jawab Lucas.
"Bu Tiffany dosen kita?"
Lucas mengangguk.
"Habis UTS gue mau nembak dia." lanjutnya.
"Gila lo, bersaing sama Pak Soman dong?"
"Pak Soman doang. Ga takut gue." kata Lucas dengan percaya diri.
*****
"Guys, air di kran posko mati nih. Ada yang mau minta air di warung depan nggak?" tanya kak Johnny.
"Biar gue aja sama Lia, daritadi dia nggak kerja, ayo Lia!" kata Winwin.
Sembarangan bilang gue nggak kerja.
Gue dan Winwin lalu berjalan menuju warung depan. Jarak warung depan dari posko sekitar 500m. Untuk dapat kesana kami harus melewati jalan yang cukup gelap dan sepi di pinggir danau.
Gue masih kepikiran omongan maba tadi. Ternyata Yeji itu udah cantik.. populer.. pinter lagi. Sedangkan gue? Pinter juga enggak, apalagi populer. Gue kalo dibandingin Yeji berasa langit dan bumi.
Apa gue itu pantes dapetin Winwin? Gue jadi nggak pede gini.
"Mikirin apa?" tanya Winwin.
"Eh? Enggak"
Winwin tiba-tiba merangkul gue.
"Pelan-pelan aja jalannya.. Kalo di posko kita nggak bisa begini." katanya.
Dalam perjalanan kembali ke posko, gue seperti melihat ada orang di seberang danau.
"Win bentar deh." gue meletakkan ember lalu mendekat kearah danau agar bisa melihat lebih jelas.
Gue sembunyi di balik semak-semak yang ada di pinggir danau.
"Astaga itu kan kating sama maba. Mereka pacaran?"
(*Kating yang tadi pagi bilang: "Oh pantesan tadi malem gue liat dia ngebersihin lukanya Doy, mana deketan lagi duduknya, kalo nggak ada orang pasti udah ciuman")
Kating dan maba itu berduaan di seberang danau yang sepi.
"Siapa?" Winwin ikut mengintip.
"Itu.."
"Astaga... Kissing..!" gue kaget sampai menutup mulut gue dengan telapak tangan.
Baru ini gue melihat adegan itu secara langsung. Biasanya gue cuma liat di drama.
Gue mengamati adegan itu dengan seksama.
Oh my God.
"Dasar!" Winwin tiba-tiba mengkrukupi kepala gue dengan jaketnya.
"Ih apasih gue mau liat!"
"Nggak!"
Gue berusaha menyingkap jaket Winwin yang menutupi muka gue.
"Lepasin gue mau liat!"
"Nggak boleh!"
"Bukain nggak?! Keburu selesai adegannya"
Winwin menyingkap jaketnya dan muka dia tiba-tiba udah 10 cm di depan muka gue.
"Lo mau juga?"
Dia mendekatkan wajahnya..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nggak boleh tau di tempat kaya gini, banyak setannya" bisiknya persis di telinga gue.
"Apaan sih?!" Gue lalu dorong badan dia ke belakang. Dia malah ketawa.
*****
Gue dan Winwin lalu duduk-duduk di pinggir danau, sedangkan pasangan di seberang danau tadi telah selesai melakukan aktivitasnya. Suasana tiba-tiba menjadi canggung.
"Lo pernah kayak mereka tadi?" tanya gue berusaha mencairkan suasana.
Duh malah ngomong apa sih gue.
"Eh... sorry itu privasi lo." kata gue.
"Pernah."
"Hah?"
Iya juga sih, pasti dia pernah sama Yeji. Ah ngebayanginnya bikin gue sakit. Hiks.
"Makasih atas kejujuran lo."
"Lo juga pernah kan?"
"Eh? Nggak."
Winwin mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Dia mengeluarkan sebuah benda kecil terbuat dari besi yang bentuknya aneh. Dia lalu memainkan benda tersebut.
"Apaan tuh?" tanya gue.
"Enigma puzzle!" jawabnya antusias.
"Kayaknya dulu om gue juga punya kayak gitu. Emang buat apa itu?" tanya gue.
"Dimainin. Ini tuh teka-teki." kata Winwin.
"Cara mainnya?"
"Tinggal dipisahin bagian-bagiannya."
"Gue mau coba dong."
Winwin memberikan mainannya itu ke gue.
Gue coba mengotak-atik untuk melepaskan bagian-bagiannya.
"Loh? susah juga ya ternyata. Gimana sih caranya?"
Gue lalu memberikan enigma puzzle ke Winwin.
"Nih liat baik-baik ya.." kata Winwin.
Gue memperhatikan dengan seksama.
Winwin terlihat mengotak-atiknya. Tak lama, satu persatu bagiannya bisa terlepas.
"Tuh bisa kan.." Winwin terlihat senang.
"Woah. Kok bisa sih?" tanya gue heran.
"Bisa dong. Kalo lo sering mainin pasti lama-lama tau caranya"
"Lo emang suka yang berbau teka teki gitu ya?"
Winwin mengangguk.
"Nggak heran sih kalo lo suka coding."
"Tau nggak, ini tu jimat gue, selalu gue bawa kemana-mana dari gue kecil." kata Winwin. "Benda ini selalu bikin gue inget kenangan yang menyenangkan." lanjutnya.
Matanya berbinar ketika ia mengatakan itu.
"Dari kecil mainan lo udah begini?" tanya gue heran.
Dia mengangguk.
*Flashback*
"Hiks..hiks..hiks.." seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun terlihat duduk bersandar di samping perosotan taman sambil menangis sesenggukan.
Pria kecil itu terlihat lusuh. Dia hanya memakai kaos kutang berwarna putih dan celana pendek berwarna kuning. Tidak terdapat alas kaki di kaki mungilnya.
"Hey.." tiba-tiba datang seorang anak perempuan yang seusia dengannya. "Nih aku punya sesuatu.."
Anak laki-laki itu kemudian berhenti menangis. Dia mendongakkan wajahnya kearah gadis kecil yang sedang berdiri di hadapannya. Matanya yang cantik terlihat sembab dan ingusnya kemana-mana. Perhatiannya lalu tertuju kearah benda yang dibawa si gadis kecil.
"Itu apa?" tanya anak laki-laki itu.
"Egima zazel. Nih buat kamu aja, jangan nangis lagi ya" kata si anak perempuan.
Si anak laki-laki kemudian menerima benda yang diberikan anak perempuan. Ia kemudian menyunggingkan senyumnya. Dia terlihat senang dengan benda pemberian si anak perempuan.
Si anak laki-laki kemudian mengotak-atik benda pemberian si anak perempuan tadi.
"Nama kamu siapa?" tanya si anak perempuan.
"Winny."
"Kenapa tadi kamu nangis?" tanya si anak perempuan sambil menyeka bekas air mata di pipi anak laki-laki itu.
"Aku diejek nggak punya papa." jawabnya.
"Emang papa kamu dimana?"
Pria kecil itu menggeleng.
Si anak perempuan lalu duduk di samping si anak laki-laki.
"Yang sabar ya.." kata si anak perempuan sambil menepuk-nepuk bahu si anak laki-laki dengan tangan kecilnya. "Ayo kerumah nenekku, aku punya banyak mainan" lanjutnya.
*****
"Eh win! Kita kan disuruh ambil air. Gimana sih?"
"Kan gara-gara lo tadi malah ngintipin orang pacaran "