
Akibat sering jajan sembarangan, Jisung harus dirawat di rumah sakit karena pencernaannya bermasalah.
Gue, nyokap, sama bokap gantian nungguin dia di rumah sakit.
Jisung terbaring lemah tak berdaya dengan infus di tangan kirinya.
Gue ngeliatnya kasian. Biasanya ini bocah pecicilan, ada aja tingkahnya, eh sekarang harus sakit kaya gini.
"Kak Hp.." pintanya.
Gue ambilin hp dia di meja.
Setelah hpnya gue kasih, dia terlihat mengetik.
"ChattingĀ sama siapa sung?" tanya gue iseng.
"Kepo" jawabnya.
"Princess ya?" goda gue.
"KEPO"
Gue diem.
Beberapa saat kemudian, makan siang Jisung datang. Menu makanan Jisung adalah menu khusus yang disiapkan dari RS, karena Jisung belum boleh makan sembarangan.
"Makan dulu dek" kata gue.
Jisung lalu bangkit dari rebahannya. Dia masih mengotak-atik hp nya.
"Ditaruh dulu hp nya, makan dulu" kata gue.
Dia nurut.
"Suapin" katanya.
Gue suapin dia (kurang baik apa gue sebagai kakak).
Jisung makan dengan lahap. Makanannya dihabisin tanpa sisa sedikitpun. Padahal kemarin dia sama sekali nggak nafsu makan.
"Good boy..." kata gue sambil mengusap rambutnya.
Setelah makan, suster lalu datang untuk memberikan obat.
Jisung selalu susah kalau disuruh minum obat. Padahal udah kelas 5 SD.
Gue harus megangin badan dia sementara suster megangin mulutnya sambil mencekoki dia obat.
Tentu dia meronta-ronta, tapi karena badannya kurus kecil jadi mudah bagi gue dan suster untuk menanganinya.
"Kamu itu umur berapa? Masa tiap minum obat harus begini" kata gue ke Jisung.
"Kak Winwin jadi kesini?" tanya Jisung.
"Katanya sih jadi" jawab gue.
Beberapa saat kemudian, Jisung ketiduran dengan hp yang masih ada di genggaman tangannya.
Gue mengecek hp Jisung diam-diam.
Ternyata sejam lalu dia bikin story foto tangannya yang lagi diinfus.
Setting story wa Jisung disembunyikan dari gue, bokap sama nyokap.
"Pantesan nggak muncul di wa gue" batin gue.
*****
Tok... tok... tok...
Ada yang mengetuk pintu ruang perawatan Jisung.
Gue membukakan pintu. Tampak seorang anak laki-laki berdiri di depan pintu...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Emmm... Jisung dirawat ya? Saya temen les Jisung" kata anak itu.
"Temennya Jisung..?" tanya gue.
Anak itu mengangguk.
"Iya, Jisung dirawat" jawab gue.
"Saya boleh nengok?" tanyanya.
"Boleh, sini masuk.." ajak gue.
Anak itu lalu masuk kedalam ruangan dan menghampiri Jisung yang sedang terbaring di ranjang. Jisung tampak terkejut dengan kehadiran anak itu.
"Loh kok tau aku disini?" tanya Jisung.
"Tadi aku nggak sengaja liat nama kamu di papan daftar pasien, terus aku kesini" jawabnya.
"Kamu temen les Jisung berarti kelas 5 SD?" tanya gue ke anak itu.
Dia mengangguk.
Kelas 5 SD tingginya udah segitu.
"Mama. Aku nungguin mama lahiran" jawabnya.
Kalo diliat-liat ganteng juga ini anak. Sopan lagi, nggak kaya Jisung yang pecicilan.
"Mama kamu hamil?" tanya Jisung.
Anak itu mengangguk.
"Sorry aku kesini nggak bawa apa-apa" kata anak itu. "Eh tapi, bentar..." dia merogoh saku celananya.
"Nih..." dia menyodorkan lollipop ke Jisung. "Cepet sembuh ya..." katanya.
Beberapa saat kemudian, teman Jisung pamit.
"Ganteng ya temen kamu tadi" kata gue ke Jisung setelah temannya pergi.
"Gantengan aku" kata Jisung sewot.
"Kalo kakak sekarang masih kelas 5 SD, pasti kakak suka dia" canda gue.
"Emang seganteng itu? Princess juga suka dia" Jisung tampak lesu.
*****
Krucuk... krucuk...
Perut gue mulai lapar.
"Pesen XiaoFood ah" batin gue.
Gue pesen se'i sapi 2 box buat gue sama Winwin. Katanya Winwin malem ini mau nginep di RS nemenin gue. Katanya sekalian belajar bareng buat UTS.
Gue awalnya nolak, tapi dia malah ijin ke bokap gue dan entah gimana sama bokap malah dibolehin.
Setelah drivernya mau sampe, gue langsung kedepan RS buat ambil makanan pesenan.
"Bayarnya pake XiaoPay ya pak"
Tak lupa gue memberikan tip ke driver lewat XiaoPay.
Setelah selesai dengan transaksi XiaoFood, gue lalu balik ke tempat Jisung.
Ketika gue melewati lorong, gue liat kak Doyoung duduk di kursi panjang sambil menundukkan wajahnya.
"Kak..?" sapa gue.
Kak Doyoung lalu mendongakkan wajahnya. Dia tampak lesu.
Matanya terlihat sayu.
"Eh? Lia.." katanya. "Kok ada disini?"
"Eee... Jisung opname kak"
"Loh?! Sakit apa?" tanya kak Doyoung.
"Pencernaannya bermasalah. Kakak ngapain ke RS? Ada yang sakit?" tanya gue.
"Ibu" katanya.
"Tante sakit?"
Kak Doyoung mengangguk.
Gue lalu mampir ke ruangan perawatan ibu kak Doyoung. Disana ada Rohee dan mamanya.
"Kak Lia!" sapa Rohee.
"Hai Rohee.." balas gue.
"Ibu, ini ada Lia" bisik kak Doyoung ke ibunya yang sedang terbaring di ranjang tak berdaya.
Gue mendekat ke ibu kak Doyoung.
"Tante.."
*****
Gue dan kak Doyoung keluar dari ruangan.
"Ternyata selama ini ibu sakit serius tapi nyembunyiin semuanya dari keluarga" kata kak Doyoung.
Mata kak Doyoung terlihat berkaca-kaca.
Gue terkejut dengan apa yang kak Doyoung bilang barusan.
Padahal belom lama gue ketemu nyokapnya kak Doyoung di supermarket dan beliau keliatan sehat. Sebelumnya waktu ketemu dirumah kak Doyoung beliau keliatan baik-baik aja. Gue nggak nyangka beliau ternyata sakit.
"Sabar ya kak..." kata gue sambil menepuk bahu kak Doyoung. "Mudah-mudahan tante cepet sembuh. Kita berdoa sama-sama ya kak"
Kak Doyoung mulai meneteskan air mata.
"Gue takut terjadi apa-apa sama ibu..."
Kak Doyoung terlihat menyeka air matanya sendiri.
"Kak..."
"Gue takut, Li.."
"Gue takut kehilangan lagi orang yang gue sayang.." kata kak Doyoung.
"Jangan kaya gitu..."
"Tante pasti sembuh.."
Gue jadi ikut sedih liat kak Doyoung begini.
Kak Doyoung tiba-tiba memeluk gue dan membuat gue terkejut.
Dia mulai menangis sesenggukan.
Tangan gue lalu mengusap punggung kak Doyoung dengan pelan.
Dari kejauhan, gue liat Winwin. Dia ngeliat gue sama kak Doyoung dan langsung pergi.