
Winwin masih rebahan di sofa, tapi sekarang sambil memainkan game di hp nya.
"Kemaren gue liat mantan lo, si Yeji" kata gue.
"Yeji?"
"Iya. Di cafe yang ada di jalan kecil deket Yangyang Chicken"
"Lia.."
"Hm?"
"Lo kalo denger kata 'chicken' nggak inget sesuatu?" tanya Winwin.
"Chicken?" gue mengingat-ingat.
"Lupain aja, nggak jadi, haha" kata Winwin.
Winwin bangkit dari rebahannya.
"Baca buku apa Lia?" Winwin mendekat dan menengok ke buku yang sedang gue pegang.
"Filosofi teras" jawab gue.
"Apaan tuh?"
"Buku pengembangan diri gitu"
"Oh"
"Ngomong-ngomong, lo ngapain ke jalan kecil deket Yangyang Chicken? Belanja?" tanya Winwin.
"Kak Doyoung yang belanja, gue cuma disuruh nemenin" jawab gue.
"Nemenin?"
"Huum"
"Lo seneng jalan sama kak Doyoung?" tanya Winwin.
"Sen--"
"Kenapa nanya gitu?" tanya gue.
"Gapapa nanya aja" ujar Winwin.
"Kalo ditanya seneng atau enggak, seneng sih, kan habis itu dibayarin makan di cafenya kak Bubu" kata gue. "Terus pas pulang ketemu Yeji itu tadi."
"Bubu Cafe? Bubu yang orangnya kayak anime?" tanya Winwin.
"Iyaaa, temen kak Doyoung. Lo tau kak Bubu?" tanya gue.
"Itu kakaknya Yeji" kata Winwin.
"Oh kakaknya?"
Gue ternyata salah sangka.
"Ngomong-ngomong, dulu kenapa lo putus sama Yeji?" tanya gue penasaran.
"Cie kepo. Hehe"
Nyesel gue nanya.
Winwin lanjut rebahan lagi dan melanjutkan game nya.
"Yeji yang mutusin. Katanya gue kurang asik. Dunia gue sama dunia dia beda sih" Winwin tiba-tiba menjawab.
"Beda gimana?"
"Dia anaknya social banget, suka nongki-nongki gitu, punya society, sering party. Sedangkan gue kan cuma anak rumahan, nggak terlalu suka begitu" kata Winwin.
Udah sekitar 1 jam gue di perpus sama Winwin.
Setelah ngegame dia tertidur pulas di sofa dengan imutnya. Berasa tidur di rumah sendiri. Bisa-bisanya dia tidur senyaman itu di perpus.
Pengunjung perpus mulai berdatangan sedikit demi sedikit setelah jam makan siang.
Gue melanjutkan membaca buku Filosofi Teras yang tadi gue ambil. Kata temen gue yang anak psikologi, buku ini bagus.
Perpaduan antara aroma lembut pengharum ruangan, suhu yang sejuk, dan suasana perpustakaan yang sepi membuat pikiran gue menjadi tenang dan nyaman sehingga isi buku dengan mudahnya masuk ke kepala gue.
Setengah jam kemudian, Winwin bangun. Dia bangkit dari tidurnya dan kemudian mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya.
Dia kemudian mengeluarkan tisu dan mengelap ingusnya. Setelah itu dia bilang mau ke kamar mandi sebentar.
Sekembalinya dari kamar mandi, wajahnya terlihat fresh dan rambutnya lebih rapi.
"Lia, laper nggak? Kita kan baru makan takoyaki tadi" ujar Winwin.
"Belom terlalu laper sih, nanti gue makan dirumah aja"
Winwin kemudian duduk di sebelah gue.
"Enak ya bisa makan masakan mama dirumah.." kata Winwin.
"Iya win, lo gimana? Beli makan dulu berarti?" tanya gue.
"Engga, nanti gue minta makan ke tantenya Lucas aja"
"Hahaha numpang makan ya"
Gue lanjut membaca buku. Sementara Winwin pergi ke rak buku dan melihat-lihat.
Beberapa menit kemudian Winwin kembali.
"Ini Lia.." katanya.
Gue menoleh.
"Apa ini Win?" tanya gue.
"Ini buku-buku yang menurut gue paling mudah dipelajari kalo mau belajar PBO (Pemrograman Berorientasi Objek)"
"Lo udah baca semua ini?" tanya gue.
Winwin mengangguk.
Gue tercengang.
"Lo liat dulu aja" kata Winwin.
"Iya"
Gue menaruh buku Filosofi Teras yang tadi gue baca dan beralih untuk melihat ke buku-buku yang Winwin bawa.
"Lo baca pelan-pelan dulu aja, nggak harus langsung ngerti semuanya" kata Winwin.
Gue mengangguk.
"Kalo gue nggak ngerti semuanya?" tanya gue ragu.
"Ini kan udah diajarin di praktikum juga, pasti lo familiar"
Gue masih melihat-lihat bukunya.
"Selama ini lo ngerasa paling susah bagian mana?" tanya Winwin.
"Hmmm.."
"Array sih. Gue bingung coding yang ada array nya"
"Oh array"
Gue memilih satu buku yang dibawa Winwin dan mulai membacanya pelan-pelan.
Winwin mengambil hp di tasnya dan lanjut memainkan gamenya.
"Sayangnya gue nggak bawa laptop. Besok deh gue ajarin lo array" ujar Winwin.
Setelah gue membaca sedikit demi sedikit, ternyata buku yang direkomendasikan Winwin lebih mudah dipahami daripada modul praktikum yang dari kampus.
Gue sampai bisa fokus membaca buku ini selama 30 menit. Nggak seperti kalau gue baca buku pelajaran lainnya yang baru 5 menit aja udah ngantuk.
"Kalo lo punya mantan nggak Lia?" tanya Winwin tiba-tiba.
"Mantan? Ada" jawab gue.
"Terus sekarang dimana?" tanya Winwin.
"Dia maba teknik mesin di kampus kita."
"Maba?!" Winwin kaget.
Gue mengangguk.
"Kalo anak teknik mesin pasti orangnya garang" Winwin menduga-duga.
"Nggak juga"
"Lo masih suka dia?" tanya Winwin.
"Engga lah, udah move on dari lama. Kan pacarannya waktu gue kelas 2 SMA. Dia anak STM sebelah SMA gue"
"Kenapa putus?"
"Hm. Ga kenapa-kenapa sih, tau-tau putus gitu aja, nggak kontekan" jawab gue.
"Bisa gitu?"
"Huum"
Beberapa saat kemudian, gue dan Winwin memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, gue ke petugas perpus terlebih dahulu untuk meminjam buku yang Winwin rekomendasikan tadi.
Setelah selesai dengan urusan administrasi, gue dan Winwin keluar dari perpus dan jalan menuju ke parkiran.
Sesampainya di parkiran, Winwin mengantar gue jalan sampai ke motor.
Gue naik keatas motor gue dan mencari-cari kunci motor di tas.
Winwin berdiri menghadap ke gue di samping kanan.
"Hati-hati"
"Iyaa"
"Makasih hari ini udah dengerin cerita gue" kata Winwin.
"Sama-sama"
"Gue juga makasih, lo udah kasih rekomendasi buku ke gue"
Gue mengeluarkan kunci motor dari tas.
"Lia..."
"Hm?" gue menoleh ke Winwin.
"Lo berencana mau punya pacar lagi nggak?" tanyanya.
"Emang kenapa?"
Winwin mendekat dan meraih pergelangan tangan kanan gue.
"Mau pacaran sama gue?"