Pilgrims

Pilgrims
Vacancy



“Terlambat tiga puluh detik,” ujar Fox ketika aku sampai di basecamp pagi ini.


“Maaf, ada sedikit halangan di jalan,” ujarku santai mengabaikan tatapan mematikan dari Fox. Jalan yang biasa kupakai sedang mengalami perbaikan, jadi aku terpaksa memutar. “Hey, Rio. Pagi yang cerah ya,” aku menyapa Rio.


Aku tak melihat sekeliling, sehingga aku tak memperhatikan ada orang lain di ruangan itu, hingga orang itu menyapaku. “Jadi kamu juga berlatih disini?”


Aku menoleh lalu mengerutkan kening. Siapa pria itu, tiba-tiba menyapaku? Butuh beberapa detik hingga aku mengingatnya. “Oh, kamu si pria parkour itu. Tak kusangka akan bertemu lagi denganmu.”


“Aku juga,” katanya pelan. Ia mendekatiku lalu mengulurkan tangannya.


“Leon.”


Aku menjabat tangannya. “Maya.”


Latihan marathon ini bagaikan neraka bagiku. Hasilnya tidak begitu mengecewakan, aku bisa langsung melampui rekor dunia yang ternyata dua jam lebih sedikit, dengan catatan waktuku yang satu jam empat puluh menit.


Aku juga tetap bisa melihat punggung Fox sampai akhir, tak pernah sekalipun tertinggal jauh di belokan. Tapi tetap saja. Mempertahankan kecepatan itu rasanya sangat melelahkan. Dadaku sampai terasa panas sampai sekarang. Fox memang monster.


Setelah itu kami berlatih capoeira. Latihannya sendiri tidak terlalu melelahkan, tapi berhubung ini latihan pertamaku dengan Fox, setiap aku melakukan sedikit kesalahan ia mengkritikku habis-habisan. Seperti pada saat aku melakukan backflip dan melakukan sedikit improvisasi, ia bilang dalam duel sebenarnya gerakan seperti itu hanya akan membuat celah bagi serangan lawan.


Aku sering melihat Leon menahan tawa jika Fox mulai mengkritikku. Entah kenapa kritikan Fox tidak membuatku kesal. Mungin karena aku tahu itu benar. Makin banyak aku membuat kesalahan, makin banyak pelajaran yang kudapatkan.


Disamping itu, Leon sepertinya jarang sekali mendapatkan kritikan. Apapun yang dilakukannya dilakukan tanpa cela. Memang bisa dibilang dia itu bukan amatiran. Ia kan sudah terbiasa melakukan parkour. Ia lebih terlatih daripadaku dan juga lebih harum. Aku masih tak mengerti kenapa ia begitu harum.


Rio dan Leon menghampiriku sehabis aku mengganti bajuku yang basah oleh keringat. Fox sudah mengganti bajunya dan pergi meninggalan basecamp.


“Hey, kamu melakukan semuanya dengan baik,” Leon melemparkan sebotol air mineral padaku.


Kuteguk air pemberiannya. “Tidak sebaik dirimu,” ujarku menimpali.


Rio menepuk pundak kami. “Kalian berdua melakukannya dengan baik. Baru kali ini latihan rutin kami diikuti oleh orang lain. Bahkan Pedro—satu-satunya orang yang berhasil mempelajari capoeira sampai akhir—belum pernah melakukan marathon bersama kami."


"Waktu itu aku dan Fox hanya menerapkan lari jarak jauh sampai sepuluh kilometer tiap hari karena Pedro tak kunjung melampaui rekor lari 10000 meter itu."


"Aku dan Fox sebenarnya tak mengerti kenapa kalian berdua bisa datang pada kami dalam waktu bersamaan dan bisa memecahkan rekor dengan cepat. Ditambaah lagi, kalian mempelajari dasar capoeira dengan mudahnya. Hal yang seharusnya dipelajari selama berbulan-bulan, kalian melakukannya dalam seminggu. Kalian berdua membuat kami terkejut. Terutama Maya,” ujar Rio heran.


Aku mendengus tertawa. “Sudah dua kali aku mendengar ada orang yang meragukan kemampuan Ras-ku. Perawakan orang Asia memang kecil, dan badan kami terlihat lemah. Tapi, orang Asia juga cenderung keras kepala. Apalagi jika sudah bertekad, jangan sekali-kali diremehkan.”


“Ya. Mulai sekarang aku tak akan meremehkan Ras-mu lagi,” kata Rio sambil tertawa. “Omong-omong, kalian ini turis kan? Tidak ada rencana untuk pulang dalam waktu dekat ini?”


Deg. Aku diingatkan lagi dengan hal yang enggan kuingat-ingat.


“Aku menyukai kota ini. Minggu depan, aku akan pulang sebentar ke Dallas untuk mengurus perpanjangan visa,” jawab Leon santai. “Bagaimana denganmu,?” tanyanya padaku.


Di perjalanan menuju toko souvenir Diego aku jadi terpikir akan hal penting yang terlupakan olehku. Uangku sudah mulai menipis. Bagaimana tidak? Aku sudah di sini berbulan-bulan tanpa bekerja.


Selama ini aku membantu di toko Diego dengan sukarela, mengingat Diego dan Maria menerapkan biaya menginap yang murah dan menyediakan sarapan dan makan malam yang enak. Jika aku bekerja di tempat lain, aku takakan bisa bantu-bantu lagi. Aku jadi tidak enak pada mereka.


Aku harus bicara dengan Gabriel. Biasanya dia punya ide yang cemerlang.


“Gampang. Aku tahu tempat yang tepat, ” kata Gabriel dengan entengnya.


Aku menatapnya tak percaya. Bisa-bisanya ia selalu bilang seperti itu saat aku bertanya padanya. Memangnya dia itu biro jasa atau apa. Ya, sudahlah.


“Iya? Dimana itu?”


“Di restoran pizza tempat temanku bekerja. Kalau tak salah mereka membutuhkan pengantar pizza. Kalau kamu gak takut mati kelelahan, kamu bisa bantu-bantu disini setelah latihan, lalu dari sore sampai malam bekerja di restoran itu. Memang sih gajinya tidak seberapa. Tapi masalahmu selesai kan? Kalau kamu mau nanti kuantar kesana sepulang kerja,” ujar Gabriel.


“Tctchah. Bagaimana kamu bisa tahu hal-hal seperti lowongan pekerjaan sih? Baiklah, antarkan aku kesana yaa nanti,” aku menerima tawarannya.


“Jangan sungkan. Kalau kamu gak sanggup mengucapkan terima kasih, setidaknya pijit pundakku nih. Pegal sekali,” kata Gabriel lagi. Ia memukul-mukul pundaknya.


“Sini,” kataku. “Mungkin kau ingin tahu sejauh mana meningkatnya kekuatanku,” aku menambahkan sambil meregangkan tangan dan leher.


“Eh, gak usah aja deh. Nanti tulang-tulangku malah remuk, lagi,” gerutunya.


Akhirnya aku tertawa. “Trims,” kataku tulus.


“Untuk membantumu mendapatkan pekerjaan atau karena tidak jadi memintamu memijit pundakku?” tanya Gabriel.


“Dua-duanya,” jawabku.


***


Restoran itu ada di pusat kota. Setelah sekitar empat bulan lebih di kota ini, aku hanya berkeliaran di sekitar Pelourinho yang menjadi pusat budaya dan tujuan wisata, pemukiman penduduk kalangan menengah ke bawah, dan di sekitar pelabuhan.


Aku tidak pernah sengaja berjalan-jalan di pusat kota. Agak membuatku canggung. Bagaimana kalau aku tersesat saat mengantarkan pizza, karena pengetahuanku yang minim tentang nama jalan dan tempat?


Gabriel bilang akan ada training. Tapi aku masih gugup nih. Entah kenapa jika dihadapkan dengan sesuatu yang sedikit mewah dan modern, aku selalu gugup.


Gabriel mengenalkanku pada manajernya. Untunglah aku sudah mulai mengerti bahasa Portugis, meskipun masih tidak biasa jika harus mengucapkannya. Manager itu bilang jam empat sore besok aku sudah dapat bekerja.


Aku baru sadar, Gabriel berjasa banyak sekali semenjak aku disini. Ia yang mengenalkanku pada Fox dan Rio. Sekarang ia membantuku mendapatkan pekerjaan. Semoga nanti ada kesempatan aku bisa membalas semua ini.


***