
“Apa kau selalu bertampang kesal seperti itu?” John yang tiba-tiba datang bertanya ketus padaku, membuyarkan lamunanku.
“Sejak bertemu denganmu aku terus saja merasa kesal,” timpalku.
“Kekanak-kanakan sekali,” John mendengus. “Aku sengaja mencarimu kesini, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Cepat kembali ke kamar Rio, akan kujelaskan di sana!” perintahnya lalu pergi.
Aku berjalan lambat-lambat di belakangnya sambil berusaha menyingkirkan semua kekesalanku yang setengahnya memang karena pertemuanku dengannya. Setengahnya lagi kekesalanku pada diriku sendiri. Sulit untuk langsung mengganti emosi negatifku menjadi positif. Aku butuh bantuan.
Dan bantuan itu datang dengan cepat. Leon berdiri di depan kamar Rio saat John dan aku tiba disana. Ia menggenggamkan jaketnya pada tanganku. “Pakailah! Dengan perban di kepala dan darah di bajumu itu, orang lain akan terus melihatmu. Hal itu juga mungkin punya andil dalam hal memperparah kekesalanmu,” katanya.
Bukan kata-katanya yang membuatku langsung rileks, melainkan aroma tubuhnya. Wanginya semacam aroma terapi bagiku. Membuat ketegangan syarafku meghilang dan aliran darahku menjadi lancar.
***
Semua sudah berkumpul sekarang. Semua tatapan mata tertuju pada John.
“Baiklah, kumulai. Sebelumnya aku ingin membuat semuanya jelas terlebih dahulu. Aku yakin setidaknya ada satu orang diantara kalian yang terus bertanya-tanya mengapa aku tidak pergi saja dan mengabaikan kalian, apa untungnya membiayai kalian selama di sini bagiku? ” ia berhenti sejenak untuk menatapku dengan ujung matanya.
“Jawabannya adalah karena meskipun aku masih anak-anak yang bahkan belum akil balig di mata hukum negaraku, aku adalah seorang miliuner. Biaya hidup berpuluh-puluh orang seperti kalian juga bisa kutanggung kalau aku mau.
Aku mengembangkan software komputer sejak aku berumur empat belas, dan menjadi kaya karenanya. Meski aku bukan seorang ilmuan biologi atau fisika, tapi seperti para ilmuan pada umumnya aku punya keingintahuan yang tinggi pada hal-hal yang belum bisa dijelaskan secara logis.”
Di sini Rio memotong pembicaraannya. “Maksudmu, kau akan menjadikan Maya objek penelitian dan berencana mengkomersilkan hasilnya?”
“Tentu saja aku tak akan berbuat rendah begitu. Ini murni untuk memuaskan rasa ingin tahuku saja. Aku hanya penasaran dengan fenomena yang terjadi pada Maya. Kupastikan tak akan menjual informasi apapun pada pihak luar. Bahkan kau juga akan diuntungkan. Karena aku mungkin bisa membantumu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam benakmu yang tak terjawab selama ini,” John menjelaskan.
“Informasi seperti apa misalnya?” tanyaku penasaran.
“Seperti bagaimana cara kerja semua ini,gg” jawabnya “Aku yakin bahwa kau sudah menyadari bahwa kau bukan hanya berpindah tempat, tapi juga waktu. Aku ingin bertanya, kau berasal dari tahun berapa?”
“2020,” jawabku. Kulihat tatapan yang lain pun memancarkan penasaran yang sama denganku. "Yang lain dari tahun 2005."
“Sudah kuduga,” ujar John.
“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengeti.
“Aku belum tahu mengapa semua ini berawal, tapi kalian sudah mundur lagi. Sekarang tahun 1997. Dan aku curiga ini masih belum berakhir,” jawabnya.
“Jadi maksudmu, semua ini akan berlanjut?” bukannya aku kaget akan hal itu. Aku sudah mengira akan seperti itu, tapi tak pernah sengaja memikirkannya.
“Kemungkinan besar, setelah semua ini selesai, aku akan kembali ke tempat asalku, kan?” aku mencoba optimis. Lagipula aku tak ingin terlalu memikirkannya, jika untuk hidup besok hari saja aku tak yakin.
“Bisa jadi. Tapi tak menutup kemungkinan, setelah itu kau katakanlah mati. Atau lebih parah lagi, kau mungkin kehilangan dimensi dan terombang ambing dalam ketiadaan,” jawabnya santai.
“Jadi, kau percaya bahwa kau punya solusi untukku?” tanyaku pada John. Suaraku sedikit tercekat. Aku tak peduli apa yang akan terjadi padaku, tapi bagaimana dengan yang lain?
“Mungkin. Asalkan kalian mau bekerja sama. Kita akan membahasnya lagi nanti, setelah Rio keluar dari rumah sakit,” John bicara sambil berlalu. Ia keluar dari ruangan pasien.
Mungkin ia sengaja membiarkan kami berpikir dan bicara. Mungkin sebenarnya ia tak semenyebalkan yang kupikir. Tapi tetap saja gaya bicaranya yang angkuh membuatku kesal.
Aku menatap mereka satu pesatu. Perasaan bersalah menusuk-nusuk ulu hatiku.
“Maafkan aku,” ucapku tulus.
“Untuk apa?” tanya Fox datar.
“Karena membawa kalian ke tempat yang tidak semestinya. Merampas waktu kalian,” jawabku.
“Kalian tidak mempertimbangkan untuk hidup di sini? Setidaknya di sini akan lebih aman daripada ikut denganku menuju ketidakpastian,” usulku.
“Maksudmu, kamu akan mencampakkan kami?” tanya Gabriel.
“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kalian celaka.”
“Sudah, sudah. Keputusan kami sudah bulat. Kami sudah disini. Dan percaya atau tidak, tidak ada yang terlalu merindukan kami disanana.” Fox memotongku.
“Baiklah,” jawabku mantap.
***
Hari sangat cerah di hari Rio keluar dari rumah sakit. Teriknya membuat kami semua menyipitkan mata karena silau saat keluar dari mobil John di depan rumahnya.
Rio keluar dari rumah sakit setelah diopname empat hari penuh. Ia sudah kelihatan segar bugar.
Rumah John besar, tidak heran. Saat pertama memasukinya lewat pintu depan, aku tak percaya aku berada di tahun 90-an.
Peralatan, dekorasi, serta banyaknya alat-alat elektronik yang beroperasi di rumahnya membuatku merasa berada di zamanku. Ia ternyata benar-benar maniak teknologi.
Apa mungkin karena tinggal sendirian di rumah besar ini hanya ditemani pelayan-pelayan yang ia perintah, membuatnya tidak tahu cara bergaul yang baik dengan sebayanya.
Aku curiga ia tidak punya teman seorang pun. Mungkin karena itulah ia mengajak kami semua tinggal bersamanya. Bagaimanapun kan ia hanya seorang remaja.
Aku menjatuhkan diri di sofa terdekat, diikuti oleh yang lain. John memanggil para pelayannya. Tiga orang wanita kaukasia yang sudah berumur memakai pakaian yang identik, atasan kemeja putih dan bawahan celana panjang longgar berwarna hitam.
Ia mengenalkan kami pada tiga pelayan itu dan memberitahu mereka untuk menyediakan segala kebutuhan kami. Atas intruksi John salah satu pelayan itu mengantar kami satu persatu menuju kamar-kamar yang telah disediakan.
Aku mendapatkan kamar paling ujung di lantai 2. Kurebahkan diriku di atas tempat tidur yang besar. Dulu aku merasa kamar kosku sudah besar, tapi itu tak ada apa apanya dibandingkan kamar ini. Rasanya sangat kontras sekali, aku berada di benua dengan banyak penduduk yang miskin dan kelaparan tapi aku tinggal di rumah yang sangat megah.
Mungkin terdengar seperti aku tidak bersyukur, tapi aku tak suka kemewahan yang berlebihan. Sayangnya aku telah setuju untuk mengikuti semua keinginan John selama di sini.
John mengunjungiku sebentar untuk memberitahu bahwa aku bisa memakai pakaian yang sudah ia siapkan di lemari. Setelah mengganti bajuku dengan kaus dan celana yang kupilih dari lemari yang ditunjuk John, aku bersiap turun.
Hari sudah mulai gelap. Kami berkumpul di ruangan tengah. Aku duduk di tempat kosong di samping Gabriel. Para pelayan John menghidangkan kopi dan camilan untuk kami berenam. John, selayaknya tuan rumah yang baik mempersilakan kami minum terlebih dahulu sebelum akhirnya ia bicara.
“Sebelumnya aku sudah bilang bahwa aku akan membantu kalian semampuku untuk melewati ini semua. Dari yang kudengar dari obrolan kalian, sepertinya kalian cukup bisa mempertahankan diri, jadi kita tak perlu membahas itu. Kendala yang akan kalian temukan nanti adalah perbedaan bahasa, budaya dan semakin tidak adanya teknologi di waktu tertentu. Pertama aku ingin tahu selain bahasa Inggris dan Portugis, bahasa apa saja yang kalian kuasai?” tanyanya.
“China,” jawab Gabriel saat John menatapnya karena ia duduk paling ujung.
“Tetanggaku keturunan China, ia mengajariku bahasa Mandarin.”
Tatapan John beralih padaku. “Indonesia dan sedikit bahasa Jerman dan Jepang. Aku mempelajari dua bahasa asing itu di sekolah.”
“Spanyol,” ujar Fox singkat.
“ Aku hanya bisa bahasa Inggris dan Portugis,” jawab Rio.
“Bagaimana denganmu?” tanya John pada Leon.
“Ada beberapa. Arab, Prancis, Spanyol, Belanda, Korea, Melayu, Afrikaans, India, dan Italia,” jawab Leon. “Aku sering travelling dan menetap agak lama di suatu tempat hingga bahasanya bisa kukuasai,” lanjutnya menjelaskan.
Aku sedikit tekejut sekaligus takjub. Leon memang tipe yang senang bepergian, tapi penguasaan bahasa sebanyak itu rasanya di luar dugaanku.
***