
Percakapanku dengan Cain malam sebelumnya.
Aku: Jadi, begitulah ceritanya. Aku gak ngerti deh Cain. Kita kan orang yang sama, kenapa bisa kamu kayak gak ingat sama sekali kejadian di planet Magnet.
Cain: Yah, ini pertama kalinya. Gimana rasanya tanpa aku di kepalamu?
Aku: Hmm. Delightful. Tapi kalo mau jujur, rasanya kayak ada yang kosong dan aku merasa benar-benar sendirian. Aneh sekali.
Cain: Kamu baik-baik saja dengan semua ini?
Aku: Aku sih tak ada masalah.
Cain: Dan, orang yang mengaku bernama Sin ini kamu harus tetap waspada terhadapnya.
Aku: Ya tapi aku punya firasat dia bukan orang jahat, tapi bukan berarti dia tidak punya agenda yang tidak menguntungkan kita sih Cain.
Cain: Setidaknya dia menyuruhmu berlatih. Omelanku selama ini akhirnya kamu turuti.
Aku: Yap mari kita gerakkan tubuh lembek ini!
***
“Sendi-sendimu kaku sekali,” Rio berkomentar pada sesi latihan kami yang pertama. “Kamu benar-benar jarang berolahraga ya?”
“Begitulah,” jawabku agak malu.
“Oke, tak masalah. Sekarang lakukan gerakan pemanasan yang kau tahu untuk melenturkan sedikit sendi-sendimu! ” Rio memberiku instruksi.
Aku melakukan apa yang Rio perintahkan.
“Nah, sekarang kita akan lari dari sini sampai pantai. Jaraknya sekitar lima kilometer. Aku akan menghitung waktu yang kau butuhkan untuk sampai kesana. Ayo, Mulai! ” Rio menekan stopwatchnya. Dan kami mulai berlari.
Rio berlari mendahuluiku dan sudah lama menunggu di bawah pohon kelapa di pinggir pantai saat aku sampai. “Dua puluh empat menit tiga puluh lima detik. Waktu yang buruk,” kata Rio dengan ringan.
“Maaf, hanya segitu yang kubisa,” kataku sambil menarik nafas pendek-pendek karena kelelahan.
“Sebenarnya tidak seburuk itu. Rata-ratanya, dalam lari 5000 meter, perempuan biasanya bisa menempuhnya dalam waktu setengah jam. Tapi karena kita latihan bukan berdasarkan rata-rata orang biasa dan kita tidak akan membedakan pria dan wanita dalam hal ini maka yang kita gunakan sebagai acuan adalah rekor dunia lari 5000 meter, yaitu dua belas menit tiga puluh tujuh detik,” Rio menjelaskan. “Jadi sampai kamu bisa mencapai waktu itu, aku belum bisa mengajarimu capoeira.”
“Jadi, maksudmu aku harus memecahkan rekor lari dunia dulu sebelum bisa belajar capoeira?” tanyaku agak bingung.
“Ya, begitulah.”
“Boleh aku tahu, berapa rekormu?” tanyaku.
“Sembilan menit lima belas detik.”
“Bagaimana dengan Fox?”
“Sembilan menit.”
Setelah melihat cara berlari Rio tadi, aku yakin dia tidak sedang bercanda. Saat ini satu hal yang kupikirkan. Mereka berdua gila, tapi aku tahu mereka hebat. Keputusan yang tepat belajar pada mereka.
Kami hanya berlatih sampai jam makan siang. Setelah lari 5000 meter itu, Rio mengajariku gerakan-gerakan semacam senam lantai untuk melenturkan tubuhku. Ia bilang sendi dan ototku sangat kaku.
Setelah latihan, tubuhku jadi terasa lebih mudah digerakkan, tapi karena ini untuk pertama kalinya tubuhku berolahraga setelah sekian lama, badanku pegal-pegal. Aku menemui Gabriel di tempat kemarin kami makan siang. Ia sedikit tekejut melihatku.
“Hai, apa kamu sudah bertemu Fox?” tanya Gabriel penasaran.
“Ya,” jawabku singkat.
“Tapi kau sepertinya baik-baik saja,” Gabriel terlihat kecewa.
“Memangnya apa yang kau harapkan?”
“Hei, aku tidak memar. Tapi badanku pegal-pegal semua nih,” aku menimpali.
Wajah Gabriel terlihat sedikit cerah.
“Bagus,” gumamnya.
“Apanya?” tanyaku.
“Kamu memang harus diajarkan dengan rasa sakit. Bagaimana kesanmu terhadap mereka?” tanya Gabriel.
“Mereka tidak normal. Masa mereka bisa melampui rekor dunia. Seharusnya mereka menjadi atlet lari saja. Dan mereka menyuruhku untuk bisa melampui rekor dunia juga. Apa hubungannya itu dengan capoeira coba?” aku menjelaskan.
“Dulu aku juga dilatih seperti itu, tapi aku berhenti karena tidak kuat. Sudah sebulan dan aku masih belum bisa melampui rekor empat belas menit untuk lari 5000 meter,” kenangnya.
“Ya. Rio bilang asmamu sering kambuh. Jadi terpaksa kau berhenti. Tapi empat belas menit masih lumayan. Rekor ternyata cepat berubah ya. Aku harus melampui dua belas menit sekian detik. Entah berapa bulan sampai aku bisa melampui itu,” aku bergumam pada diri sendiri.
Gabriel terkejut. “Apa? Dua belas menit? Itu gila, May. Jadi kamu akan berhenti?”
“Berhenti? Aku baru saja mulai. Kenapa harus berhenti?” timpalku.
“Karena dua belas menit bagimu itu mustahil kan, Maya.”
Aku menghembuskan nafas. “Awalnya kupikir juga begitu. Tapi aku tak ingin menyerah secepat itu. Rasanya aku memang bisa melampuinya, kalau aku mau.”
“Tapi kamu kan perempuan,” kata Gabriel pelan.
“Lalu kenapa? Fox juga perempuan kan?” aku tersinggung.
“Dia berbeda. Dia itu monster. Dan tubuhnya terlatih sejak kecil,” ia tidak menyerah.
“Jadi aku juga tinggal berlatih saja, kan?”
“Kau benar-benar keras kepala. Kupikir kau akan menyerah jika mendapatkan guru yang menerapkan standar gila seperti Fox dan Rio,” katanya kesal.
Aku tertawa geli. “Aku justru berterima kasih padamu. Orang-orang yang berani menembus batas normal seperti merekalah yang kubutuhkan. Seperti yang kau bilang sebelumnya.”
“Memangnya berapa lama kau akan berada di sini? Kau disini hanya untuk liburan, kan?”
Deg. Ia menyinggung topik yang tak ingin kudiskusikan. “Masa liburanku lumayan panjang,” kataku dengan nada menutup pembicaraan.
***
Fox tidak main-main waktu ia mengatakan latihan mereka keras. Di samping lari, Rio juga menerapkan latihan fisik yang luar biasa melelahkan, apalagi dulu aku tak pernah mengikuti kegiatan olahraga di luar kelas.
Meski begitu, latihan yang diterapkan Rio sangat efektif dan peduli lingkungan.
Setelah lari, ia menyuruhku untuk memunguti sampah di sepanjang pantai atau jika sampah di pantai tidak terlalu banyak setelahnya ia menyuruhku mencabuti rumput liar. Ia bilang itu bagus untuk melatih kekuatan pinggang.
Belum lagi setelah itu aku masih harus push-up, sit-up, dan angkat beban yang porsinya terus bertambah tiap hari. Alhasil aku selalu pulang dalam keadaan pegal-pegal dan kelelahan. Tapi hal ini tak akan mengurungkan niatku. Karena meskipun apa yang Rio suruh kulakukan kadang-kadang tidak rasional, tapi sejauh ini aku bisa melaluinya.
“Enam belas menit dua belas detik. Tidak buruk. Kecepatanmu meningkat lagi,” kata Rio di minggu ketiga latihanku.
“Ya, tapi rasanya aku lelah setengah mati,” aku menimpali.
“Hey, masih ada menu 'pungut sampah', push-up, sit-up dan angkat beban setelah ini. Ayo seka keringatmu, dan bersiap," Rio menyemangati.
Aku masih saja bersyukur, Rio yang membimbingku dalam latihan fisik bukannya Fox. Bisa kubayangkan apa yang akan dikatakannya dalam situasi seperti ini. Tapi, omong omong kok aku jarang sekali melihatnya, ya?
***