
Fox melanjutkan membuat pembagian tugas. "Kita harus membuat beberapa alur cerita. Bagaimanapun ini pertunjukan. Jadi harus bisa diapresiasi."
"Kamu,” katanya pada Rio, “kutugaskan untuk mencari tempat tertutup untuk kita latihan. Tidak perlu terlalu besar, yang penting masih bisa bergerak leluasa. Selain itu, aku minta tolong kamu buatkan beberapa alur cerita yang sederhana tapi memiliki pesan didalamnya dan bisa dinikmati oleh penonton. Tidak perlu terlalu terburu-buru, aku masih harus melatih dua orang ini untuk berduel. Kalian,” kata Fox menunjuk aku dan Leon, “latihan duel
bersamaku."
Fox melanjutkan. "Kita akan menciptakan gerakan-gerakan duel yang menarik untuk dilihat. Sementara itu, kita juga masih harus mencari pemain musik. Tapi itu masih bisa menyusul.”
Kami pun berpencar untuk melakukan tugas masing-masing. Fox, Leon, dan aku duduk melingkar di atas pasir. Fox bicara pada kami berdua. “Duel satu lawan satu yang sesungguhnya jarang dilakukan dalam capoeira jalanan, tapi bukan berarti tidak bisa. Kita akan melakukan banyak improvisasi disana sini. Leon, kamu sudah menguasai semua teknik dasar dalam menyerang dan menghindar. Latihan ini tak akan terlalu sulit untukmu,” katanya pada Leon.
Lalu Fox berpaling padaku. “Sementara kamu belum seluwes kami. Jadi kamu harus berlatih paling keras agar bisa mengimbangi kami."
"Baiklah, Leon berdiri! Maya, perhatikan ini!”
Fox melakukan beberapa gerakan bersama Leon. Aku memperhatikan dengan sungguh sungguh. Lalu kami bertiga melakukan duel bergantian. Aku tak menyangka pukulan dan tendangan Fox bukan pura-pura meskipun aku tahu dia mengurangi kekuatan tendangannya agar aku tak terluka terlalu parah.
Totalitas Fox dalam setiap apapun yang dikerjakannya membuatku kagum dan sedikit ngeri. Aku maupun Leon bukan tandingannya. Tak sekalipun kami bisa mengalahkannya. Fox terus menjatuhkan kami dengan mudah. Hasilnya, saat pulang aku bukan hanya kelelahan tapi juga lebam disana-sini.
Setelah seminggu latihan, aku senang karena sudah bisa mengimbangi Leon, bahkan aku sempat mengalahkannya beberapa kali meskipun ia yang lebih sering mengalahkanku.
Alur cerita yang dibuat Rio pun sudah mulai kami praktekkan. Rio bergabung denganku, Fox, dan Leon sebagai pemeran cerita. Dia pun mulai berlatih duel dengan kami bertiga.
Dibanding aku dan Leon, Rio tentu saja lebih hebat. Hanya dia yang mampu bertanding dalam waktu lama melawan Fox, meskipun Fox masih sedikit lebih unggul.
Sepulang latihan, seperti biasa aku makan siang dengan Gabriel.
“Lebammu sudah sedikit berkurang. Apakah sekarang sudah bisa makan dengan nyaman lagi? ” katanya meledek. Ia selalu terlihat senang jika aku memar atau lecet karana latihan duel dengan Fox. Aku jadi curiga ia punya kelainan.
“Mau coba tendanganku?” tanyaku balas meledeknya.
“Tidak. Terima kasih.” jawabnya singkat. “Ngomong-ngomong, apakah latihan untuk pertunjukan itu berjalan lancar?”
“Latihannnya lancar sih. Kami juga sudah manemukan tempat baru untuk berlatih. Tinggal mencari pemain alat musik,” kataku menjelaskan.
“Wah, kamu bicara dengan orang yang tepat,” ujar Gabriel berseri-seri.
“Jangan bilang, kalau kamu kenal orang yang bisa melakukannya,” timpalku.
Jangan-jangan dia benar-benar biro jasa.
“Tak perlu jauh-jauh mencari. Orang di depanmu ini jelas-jelas seniman,” kata Gabriel lagi.
“Maksudmu, kamu bersedia untuk menjadi pemain musik kami? Memangnya kamu bisa?” tanyaku tak percaya, sekaligus senang.
“Wah, kupikir kau hanya berbakat menjadi biro jasa. Ternyata punya keahlian lain yang bagus juga. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu disini kalau kamu ikut berlatih denganbkami?” tanyaku. Ia tidak berniat berhenti bekerja kan?
“Tenang saja, aku libur dua kali seminggu. Itu saja sudah cukup untuk latihan. Aku juga akan mengajak beberapa orang lagi. Untuk segala hal yang berkaitan dengan musik, serahkan saja padaku. Kau tinggal bilang saja pada Fox dan yang lain besok kalau aku bersedia bergabung,” katanya lagi.
Aku sudah tak sanggup berkata-kata lagi. Ia biro jasa terbaik yang kukenal.
***
Dengan bergabungnya Gabriel dan pemain alat musik tradisional lainnya, yang aku tak tahu ia temukan dimana, kami sudah siap melakukan pertunjukkan. Hanya tinggal menyempurnakan gerakan-gerakan yang sudah kami latih, agar lebih manarik lagi. Kami sedang melatih blocking, saat kami ternyata kedatangan tamu.
“Hai,” tamu itu menyapa kami. Dia masih anak-anak. Tak kusangka ternyata aku mengenal tamu itu. Dia anak yang dulu melakukan aksi capoeira jalanan. Dialah yang secara langsung membuatku ingin mempelajari capoeira. Untuk apa dia datang kesini?
“Pedro? Sudah lama aku tak melihatmu. Kupikir kamu masih marah padaku,” ujar Fox. Jadi ternyata dia Pedro yang itu.
“Aku sudah memafkanmu, Fox. Kau memikirkan yang terbaik untukku. Aku kesini karena mendengar basecamp kalian pindah. Aku juga sudah mendengar apa yang menimpa kalian, dan apa masalah yang timbul kemudian. Mungkin aku bisa sedikit membantu,” Pedro menawarkan.
“Terima kasih atas tawaranmu, tapi secara tertulis kau terdaftar di akademi. Kami tak bisa mengikutsertakanmu di pertunjukan,” tolak Fox.
“Aku bisa membantu dalam hal lain. Dalam hal pertunjukan, aku lebih berpengalaman daripada kalian. Tolong izinkan aku membalas kebaikanmu!” pinta Pedro.
“Baiklah,” kata Fox. “Bagaimanapun, kau selalu jadi bagian dari kami.”
Dengan adanya Pedro, kami lebih terbantu. Ia tahu hal-hal apa yang harus diperbanyak dan hal-hal yang harus dihilangkan, agar pertunjukan lebih disukai penonton.
Hari latihan kami yang terakhir berjalan dengan lancar. Pesimistis yang kami rasakan sebulan lalu sudah menguap. Kami telah melakukan persiapan dengan baik. Hasilnya nanti akan seperti apa itu urusan belakangan.
Seusai latihan terakhir itu, aku menghampiri Fox. “Hei, Fox. Terima kasih karena sudah menerimaku disini waktu itu.”
Fox yang sedang duduk mendongak padaku. “Sebenarnya, dulu aku ragu kamu akan bertahan. Tapi setelah semua ini, bisa dibilang aku tak menyesal telah menerimamu. Kamu bekerja keras mengejar ketertinggalanmu.”
Aku duduk di sebelah Fox. “ Aku sedikit penasaran. Kita kenal sudah berbulan-bulan, tapi kita tak pernah mengobrol dan aku merasa kamu sengaja menjauhiku. Boleh tahu kenapa?” tanyaku padanya.
Pertanyaanku memang sedikit bodoh. Tapi aku memang penasaran dengan hal itu.
Ia merubah posisi duduknya tapi masih tidak menghadapku saat bicara. “Kukira kamu tak memperhatikan itu. Maafkan aku jika kamu merasa tersinggung karena hal itu. Aku selalu berprasangka buruk padamu dan meragukan integritasmu hanya karena sikapmu kadang-kadang seenaknya. Aku tahu bahwa aku picik. Setelah apa yang kamu lakukan sejauh ini, aku sudah bisa melihat bahwa kamu memiliki integritas. Mulai sekarang aku akan bersikap sedikit lebih lunak padamu.”
“Well, aku senang akhirnya kamu bisa mengerti—meskipun sedikit. Awalnya, aku juga sebal padamu karena sepertinya tak pernah menghargai usahaku. Tapi belakangan ini, aku mengerti bahwa kamu selalu berusaha memimpin dengan baik,” kataku.
Fox mendengus dan benar-benar menatapku sekarang. “Jangan terlalu tinggi menilaiku. Rio pasti sudah menceritakan macam-macam tentang masa laluku padamu ya? Aku tidak setegar itu.”
***