
“Apa maksudmu, kamu tidak setegar itu?” tanyaku tak mengerti.
Fox menarik nafas panjang sebelum kemudian bercerita dengan wajah serius. “Saat aku meninggalkan rumah Luis dan tak berlatih lagi di akademi waktu itu, aku sempat merasa sangat sendirian dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku punya keinginan untuk membentuk komunitas baru yang benar-benar kubentuk sendiri dari awal, tapi tak tahu harus memulai dari mana. Waktu itu aku hampir menyerah dan berpikir untuk berhenti memikirkan capoeira. Tapi Rio menemuiku. Dia satu-satunya temanku waktu masih belajar di akademi. Dia bilang dia juga sudah berhenti dari akademi, karena iurannya naik semenjak kematian Luis dan ia sudah tak mampu membayar lagi. Aku bercerita padanya apa yang terjadi padaku dan keinginanku untuk membentuk komunitas sendiri. Dialah yang menyemangatiku dan membantuku membentuk komunitas ini. Jadi begitulah, aku dibantu olehnya, aku tak bisa apa-apa saat aku sendirian.”
“Jadi Rio juga dulunya belajar di akademi Luis?” tanyaku keheranan.
“Dia tak menceritakan bagian itu padamu, ya? Kami dulu sama-sama dilatih langsung oleh Luis. Saat kami membentuk komunitas ini, kami berusaha untuk melatih fisik kami agar lebih kuat. Kami menyebutnya komunitas, padahal sebenarnya kami hanya berdua. Tapi waktu itu dia bilang bahwa suatu saat nanti akan ada orang yang mempunyai perasaan dan tekad yang sama dengan kami. Jadi kami selalu menunggu. Kau, Leon, Pedro, bahkan Gabriel sudah kuanggap bagian dari kami sekarang. Sebenarnya aku sangat bersemangat akhir-akhir ini dan selalu berusaha jadi pemimpin dengan baik, meskipun aku tak yakin apa aku sudah melakukannya dengan benar. Kadang kupikir, Rio lebih tepat untuk posisi ini. Tapi aku selalu berhasil mengalahkan Rio dalam segi kekuatan maupun teknik, karena itulah ia bersikeras bahwa akulah pemimpinnya. Dia bilang aku punya kekuatan dan kharisma sebagai pemimpin. Padahal aku merasa dialah yang paling berjasa untuk semua ini. Kau tahu sendiri bagaimana dia. Dia selalu bisa menjadi penyemangat bagi orang lain,” jelas Fox panjang lebar. Baru kali ini aku mendengarnya bicara sangat lama.
"Aku setuju satu hal dengan Rio," celetukku.
“Tentang apa?” tanya Fox.
“Tentang kau berbakat jadi pemimpin. Kau kuat secara fisik, jelas. Tapi bukan hanya itu, kan? Kau mampu melepaskan apa yang kau punya demi keyakinanmu. Kau juga punya kekuatan untuk membuat orang lain mendengarkan ucapanmu. Kalau bukan karena kritikan dan aturan-aturanmu yang keras itu, aku tak akan bisa menguasai semuanya sebaik ini. Kau benar-benar berbakat, kau tahu? Seorang pemimpin selalu butuh bantuan dan dukungan dari yang lain. Itulah yang Rio lakukan, mendukung dan membantumu. Pemimpinnya tetap kau,” kataku meyakinkannya. Aku ingin dia mengerti bahwa dirinya istimewa.
Ia hanya mendengus lagi. “Kau benar-benar berpikir aku sehebat itu ya?”
“Kau memang sehebat itu,” timpalku. “Setidaknya aku mengakuimu sebagai satu-satunya perempuan yang lebih hebat dariku, bagaimana?”
Akhirnya ia sedikit tertawa. “Well, aku tersanjung. Tapi aku heran, dari mana datangnya rasa percaya dirimu itu?”
“Entahlah, semenjak datang ke kota ini suasana hatiku selalu terasa lebih baik.”
***
Saat aku terbangun pagi ini, aku merasa sangat gugup. Aku orang yang dilematis. Aku sering membuat masalah, juga tak pernah takut dikonfrontasi. Tapi aku menderita demam panggung tingkat akut. Hari ini adalah hari pertamaku melakukan pertunjukan di hadapan orang banyak.
Diego dan Maria menyemangatiku, dan memberitahu bahwa mereka akan menyempatkan diri untuk menonton. Aku senang karena setidaknya akan ada dua orang yang akan menonton. Tapi aku juga malah semakin gugup.
Kegugupanku sedikit menguap saat bertemu teman-temanku. Leon menepuk pundakku, Rio menyemangatiku, Gabriel sedikit meledekku dan Fox tersenyum padaku meskipun sangat singkat.
Selama seminggu ini kami mengambil cuti dari pekerjaan kami masing-masing, karena pertunjukannya akan berlangsung seharian selama seminggu.
Saat kami sedang bersiap-siap di tempat kami akan melakukan pertunjukan, kami melihat serombongan orang berjalan melewati kami. Tapi tidak seperti kami, mereka sepertinya agak kelewat heboh dalam segi penampilan. Peralatan dan kostum yang mereka pakai megah sekali.
Aku menyikut rusuk Rio lalu bertanya padanya. “Siapa mereka?”
“Salah satu grup pengiring,” jawab Rio.
“Salah satu?” tanyaku lagi.
“Apakah tak masalah tempat kita terlalu dekat dengan mereka? Kita hanya berjarak sekitar seratus meter dari mereka, bukankah itu terlalu dekat?” kataku pada Rio.
“Pengaturannya memang seperti itu, agar penilaiannya lebih gampang,” jawab Rio.
“Memangnya peraturan penilaiannya seperti apa?” tanyaku bingung. Hanya Fox dan Rio yang ikut rapat penentuan peraturan pertandingan ini. Jadi aku tak tahu bagaimana persisnya cara jurinya menilainya.
“Nanti akan ada orang dari pemerintah daerah yang bertugas menghitung dan mencatat jumlah penonton tiap pertunjukannya,” jelas Rio.
“Kamu tak khawatir kita dicurangi?” kataku khawatir.
“Jangan menilai buruk mereka semua. Tidak semua orang-orang di akademi itu seperti para pengecut yang beberapa kali mengganggu kita itu. Setidaknya Mestre Jose yang mengkoordinir langsung pertandingan ini adalah orang terhormat. Ia akan bertindak dengan adil, ” ujar Rio.
“Tapi persiapan mereka meriah sekali, ” kataku lagi.
“Kamu khawatir tak ada yang menonton kita?” kali ini Fox yang menanggapiku.
Karena aku tak menjawab dia bicara lagi. “Kita juga telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Pertandingan ini agak merugikan kita, tapi membuat kita jadi tidak takut kalah. Mungkin mereka akan kecewa jika penonton mereka sedikit, karena mereka lebih berpengalaman dalam melakukan pertunjukan. Tetapkan tujuanmu sekarang agar kerja kerasmu kali ini tak akan siasia apapun hasil pertandingnnya nanti. Karena yang kita inginkan adalah apresiasi walaupun itu hanya dari seorang penonton. Kau mengerti maksudku kan? Kami percaya pada idemu ini. Jadi, jangan biarkan rasa takut kalah menguasaimu.”
“Aku jadi sedikit paranoid karena gugup. Kau benar, cukup lakukan yang terbaik. Jangan takut kalah,” kataku pada diri sendiri.
“Ayo kita mulai!” aku mengajak mereka dengan mantap.
Dalam sehari, rencananya kami akan melakukan enam kali pertunjukan dengan masing-masing performa dilakukan dalam empat puluh menit. Personel kami yang sedikit, membuat kami melakukan keenam pertunjukan tanpa mengganti satu pemain pun di setiap performa.
Untungnya, stamina kami memang bisa dibilang sebanding dengan stamina kuda. Latihan fisik yang rutin kami lakukan itu memang berguna di saat-saat seperti ini.
Pertunjukan kami sebenarnya sangat sederhana bila dibandingkan dengan pertunjukan yang dilakukan para capoeirista dari akademi itu. Tapi perkataan Fox tadi benar, aku merasakan kepuasan tersendiri saat ada yang menonton kami meskipun itu hanya sedikit bila dibandingkan banyaknya orang yang menonton di pihak lawan.
Ada sekitar 15-20 orang yang menonton pertunjukan pertama kami. Aku melihat Maria melambai padaku di dalam kerumunan. Rasanya benar-benar menyenangkan saat kita melakukan sesuatu yang kita sukai dan diapresiasi dengan baik oleh orang lain.
Pertunjukan selanjutnya kami lakukan dengan lebih lepas, tidak setegang yang pertama. Turis yang menonton juga lebih ramai dibandingkan yang sebelumnya. Tapi, intinya bukan itu. Intinya adalah kami senang melakukannya.
Selepas tengah hari, Maria datang membawakan makan siang untuk kami semua. Ia dan Diego benar-benar menyempatkan diri untuk menonton kami di hari pertama ini. Aku terharu dengan perhatian mereka.
Secara keseluruhan, hari pertama ini tidak terlalu buruk. Memang dari segi jumlah penonton kami kalah jauh dari pihak lawan. Tapi aku tidak peduli. Melihat penonton yang terhibur dengan pertunjukan kami, meskipun jumlahnya tidak banyak, membuatku senang sekali.
***