
Melihat maraknya orang yang menggunakan obat terlarang, punya selingkuhan ataupun main game virtual seharian, aku hampir yakin kebanyakan orang mempunyai pelarian dari kehidupannya masing-masing yang mengerak dan pada akhirnya menjadi candu. Kubilang hampir yakin, karena aku tidak bisa sepenuhnya yakin akan apa yang dipikirkan orang lain, kan? Oh, tapi pasti ada penelitian di luar sana yang bisa mengkonfirmasi ini.
***
Hari ini berawal sendu. Hujan mengguyur kota Bandung. Tinggal di kota ini dengan gaji pas pasan rasanya sangat mahal. Untungnya kemewahan bagiku tidak perlu menghabiskan banyak uang. Membaca buku atau menonton film di kosan sepulang kerja sudah membuat hatiku bahagia.
Sambil bersiap berangkat kerja, aku memikirkan series apa yang keluar hari ini. Tiap malam dan bahkan lanjut sampai pagi aku menonton serial film luar negri, dan kamar kosku ini pun serasa seperti surga. Setiap waktunya keluar dari kamar ini seakan akan meninggalkan tempat petilasan yang sakral.
Itulah canduku. Canduku adalah menjadi penonton dan pemirsa pasif, menikmati hasil karya orang lain. Setiap hari. Setiap ada kesempatan.
Kulihat sekali lagi cermin di kamar, mengecek riasanku supaya tidak terlalu menor.
"Kamu perlu olahraga deh!" celetuk sebuah suara.
Hmm. Jangan kaget. Kamarku tidak berhantu. Yah, setidaknya sejauh yang kutau. Itu tadi adalah Cain, suara di kepalaku sendiri. Dia sudah jadi teman baikku sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika ia tiba-tiba bicara padaku di sebuah bus.
"Gak ada waktu, Cain. Mulai minggu depan lah siap," jawabku sambil mengambil tas lalu membuka pintu sambil jalan keluar.
"Halah, minggu lalu juga bilang gitu. Kamu tuh kurang gerak, kalo sekarang disuruh lari pasti ngos-ngosan," Cain mulai ceramah. Aku mendengarkan sambil lalu.
Ngomong-ngomong, kuberi ia nama Cain yang diambil dari Cain yang itu loh, Cain & Abel. Cain yang asli katanya membunuh saudaranya sendiri yaitu Abel, dan hal ini menjadikan dia pembunuh pertama dalam sejarah (atau legenda) manusia. Namanya bagus, jadi kuberi dia nama itu.
Selama ini dialah yang menjagaku tetap waras (atau justru sebaliknya). Ketika menghadapi pilihan sulit, atau ketika dihadapkan dengan keadaan tidak mengenakkan dengan orang lain, Cain seolah menjadi barometer apakah aku melakukan hal yang tepat. Ia membuatku tidak se-impulsif sebelumnya. Hobinya adalah mengkritik dan mengomeliku setiap ada kesempatan.
"Ampun Cain, aku tuh gak perlu jadi atletis. Orang kerjaan di kantor juga sambil duduk, terus di kosan juga rebahan," kujawab Cain tanpa bersuara karena sudah di luar.
Hujan sudah berubah jadi gerimis. Aku tidak perlu membuka payung. Jarak dari kosanku ke kantor sekitar 10 menit jalan kaki. Kantorku di sekitar daerah jalan Asia Afrika jadi cukup menyenangkan untuk berjalan kaki karena trotoarnya lebar dan tata kota di daerah ini cukup memanjakan mata.
"Kalo tiba-tiba gempa, atau kota ini diserang alien, terus kamu harus lari, ketinggalan pasti," Cain lanjut mengomeliku.
Aku hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli, karena kupikir itu konyol. Aku bukannya tidak ingin badanku sehat dan bugar, tapi malasnya itu loh, ditambah lagi pegal-pegal setelahnya.
Tak terasa sudah sampai ke belokan terakhir. Sebelum sampai ke kantor, aku biasanya mampir di warteg untuk beli gorengan. Sarapanku biasanya adalah 2 gehu pedas dan 1 lontong. Tapi hari ini aku sudah terlambat. Kulewati warteg tanpa berhenti.
Kepalaku agak pening karena kurang tidur. Ini satu lagi kebiasaan buruk yang belum berhasil kurubah meskipun kata di buku-buku motivasi menyebutkan tidur yang cukup dan bangun pagi adalah kunci hari yang produktif. Aku setuju dengan pernyataan itu tapi tetap saja, susah sekali diterapkan.
Tinggal beberapa langkah lagi sampai kantor, tiba-tiba kepalaku pening, yang wajar menurutku karena kurang tidur dan tidak sarapan. Saking peningnya, aku jongkok. Jalan aspal yang kuinjak seakan bergetar. Eh, atau memang bergetar betulan?
"Beneran gempa ini?" tanyaku retoris.
"Kubilang juga apa," Cain bergumam.
Kupejamkan mataku. Aku tak kuat lari karena kepalaku pening sepening-peningnya. Gempanya terasa jauh lebih lama dan lebih besar dari gempa biasa. Aku berjongkok dengan tangan memegang aspal basah bekas hujan, berharap jalanan tidak retak atau terbelah, dan juga semoga tidak ada pohon tumbang ke arahku.
Aku menyadari ada kejanggalan karena absennya suara orang panik dan tidak ada orang berhamburan keluar bangunan.
Tiba-tiba aku tersentak seperti ada tangan-tangan yang menarikku ke belakang. Leherku tercekik dan membuatku sesak. Seolah ada vacuum cleaner besar yang menyedotku dan tubuhku serasa diperas lalu dimampatkan.
Setelah semua itu berhenti, aku membuka mata. Nafasku masih tersenggal ketika aku melihat aku berada entah dimana.
"Cain, kamu lihat ini juga kan?" gumamku pelan.
"Cain?"
Sunyi.
Oke. Aku sendirian. Tarik nafas. Buang.
Semua yang kulihat tidak masuk akal. Aku berada seperti di tengah lapangan luas, atau lebih tepatnya padang yang luas yang dikelilingi perbukitan. Sejauh mata memandang tidak ada seorang pun selain aku di tempat ini. Ini siang hari, tapi di langit terlihat bulan. Bulannya terlihat besar dan seperti bisa diraih layaknya awan. Setelah kulihat lebih teliti lagi ada satu bulan lain yang lebih jauh dan nampak lebih kecil dibelakang bulan yang besar.
"Oh, aku pernah melihat tempat ini. Tapi dimana ya?" gumamku lagi.
Aku hampir yakin ini bukan mimpi, karena semua terasa sangat nyata. Namun, penjelasan apa yang bisa menjelaskan ini? Dan dimana Cain? Tidak biasanya ia menghilang di saat genting.
Dalam kebingungan, aku memeriksa sekitar. Apa yang bisa kulakukan disini? Jelas ini bukan di bumi. Mimpi atau bukan, melakukan sesuatu lebih baik daripada diam dan panik.
Aku berjalan ke arah perbukitan, yang terlihat jauh sekali. Jiwa rebahanku terkoyak. Kaki yang tak biasa berjalan jauh ini meronta. Tapi aku harus kesana. Demi canduku yang menunggu di rumah.
"Hello," seseorang menyapaku dari belakang, hampir membuat jantungku copot.
Aku menoleh dan mundur, menjaga jarak.
"Hi," jawabku. Padahal yang ingin kukatakan adalah : Siapa kamu? Ada apa ini? Dimana kita? Pulangkan aku!
"Do you speak English, or maybe Spanish?" ia bertanya lagi. Suaranya agak bergetar tapi ia berusaha untuk bicara seramah mungkin.
Bagaimana ya mendeskripsikannya? Hmm. Mungkin secara singkatnya, ia adalah seorang bapak-bapak bule. Ia memakai jas, berdasi dan berkacamata. Tipikal bapak-bapak bule kantoran yang biasa kita lihat di film.
Sambil masih menjaga jarak, karena, well, common sense. Tidak boleh langsung percaya orang asing.
"Yes. English. A little," jawabku. Ia merespon dengan menarik nafas lega.
"Syukurlah," ujarnya dalam bahasa Inggris. "Aku sedang mengajar di kelas, lalu tiba-tiba ada gempa, dan sekarang aku ada disini. Apa kamu tahu kenapa kita ada disini?"
Ia langsung tahu jawaban dari pertanyaan itu ketika melihat responku yang terlihat kecewa dan menghembuskan nafas.
"Nope. I was hoping YOU would tell me what happened," jawabku kecewa.
Aku menyimpulkan ia adalah seorang guru atau dosen. Seperti sedang menghadapi siswanya, ia menegarkan diri dan bilang, "Setidaknya kita tidak sendirian. Don't worry. We'll figure it out."
"I am Jack Brown. From the U.S. Negara bagian Indiana tepatnya," suaranya bergetar lagi.
Melihatnya mencoba menegarkan diri, aku jadi merasa lebih simpatik. Ia terlihat jauh lebih takut dan panik dariku.
"Aku Maya. Salam kenal."
Lalu dari kejauhan terdengar dentuman yang sangat keras.
***