
Sepertinya aku masih hidup dimanapun aku berada sekarang tapi belum sepenuhnya bisa membuka mataku, apalagi bergerak. Yang kutahu kepalaku pusing sekali dan aku tak ingat kenapa aku begitu susah membuka mata. Kucoba menarik simpul-simpul ingatan yang terasa jauh sekali. Kilasan memori kembali padaku sedikit-demi sedikit.
Aku mencoba mengurutkannya berdasarkan waktu. Yang terakhir kali kuingat kulakukan adalah aku menjerit kencang untuk menarik perhatian. Aku ingat orang itu langsung berlari menuju tempatku. Sembari berlari, kudengar ia melapor pada si pria pendek melalu handy talky nya.
Aku bisa mengingat sepenuhnya sekarang. Sesuai dugaan, si pendek dan orang yang satunya lagi datang dan meramaikan pengejaran Aku sengaja tidak memperlebar jarak dengan mereka agar mereka bisa terus melihatku. Dengan begitu, mereka semua bisa terus kutuntun kedalam hutan, menjauh dari jalur lari Fox dan yang lain.
Setelah sekitar satu jam bermain-main, kupikir Fox dan yang lain sudah jauh sekarang, dan aku bisa mulai benar-benar kabur dari para pengejarku. Aku percaya diri dengan kemampuan lari dan staminaku. Mereka akan kehilangan jejakku saat aku mempercepat lariku.
Namun sayangnya sebelum aku bisa benar-benar menjauh dari mereka, terjadi hal yang diluar rencana. Saking senangnya berlari, aku tak melihat ada jurang. Tidak terlalu dalam hanya sekitar sepuluh meter. Aku terlanjur melompat. Hasilnya akan lain jika permukaan di bawah jurang itu rata. Aku bisa meredam tolakannya seperti yang pernah diajarkan Leon.
Tapi inijurang di tengah hutan. Dibawahnya banyak sekali batu dari mulai yang kecil sampai yang besar. Permukaan batu-batu itu sangat kasar, dan aku kurang tepat memilih posisi pendaratan.
Cukup membuat kakiku terkilir dan kepalaku terbentur keras ke salah satu batu yang paling kasar, membuat darah menetes-netes dari dahiku.
Kesialanku belum berakhir saat itu. Ketiga orang itu berhasil mengejarku tepat saat aku mulai akan pergi dari tempat itu. Mereka lebih mengenal tempat itu sehingga bisa memperkirakan aku akan jatuh di jurang, sehingga mengambil jalan memutar dan menutup jalur lariku dari tiga arah.
Tiga pasang mata menatapku kesal. Mereka berjalan ke arahku perlahan lahan dengan waspada. Stamina mereka pasti sudah terkuras saat mengejarku, terdengar dari nafas mereka yang sangat tidak teratur. Tenagaku masih tersisa banyak, namun dengan kaki terkilirku aku tak akan bisa lari secepat biasanya. Mereka pasti bisa menyudutkanku lagi.
Belum lagi mereka semua membawa senapan berburu di punggung mereka. Sudah dipastikan aku tak akan selamat jika bertindak gegabah.
Kuseka darah di wajahku yang mulai menghalangi pandanganku. Kulirik arlojiku lagi. Masih ada dua puluh lima menit sebelum aku berpindah.
Dua puluh lima menit adalah waktu yang lebih dari cukup untuk para pria bersenjata itu menghabisiku.
Aku tak bergerak dari tempatku berdiri dan terus mencari celah untuk melarikan diri. Sementara mereka sudah begitu dekat denganku, jarak mereka masing+masing hanya empat meter dariku. Dua orang bawahan si pendek mulai membidikku.
Aku menunggu datangnya tembakan itu. Bukan karena pasrah tapi karena sudah bosan menunggu. Tak kusangka si pria pendek meletakkan senapannya dan berjalan ke arahku.
“Tahan tembakan kalian. Aku ingin bermain-main dulu dengannya. Tembak ia jika mencoba kabur,” perintahnya.
Dua orang itu menurut untuk tidak menembak, tapi masih membidikku dengan tatapan kesal.
Tatapan pria pendek itu bertemu dengan mataku. Lalu ia bicara padaku. “Waktu itu aku lengah, karena kukira kau lemah. Ternyata kau punya keahlian yang merepotkan. Mana temanmu, gadis kecil? Kenapa kau berkeliaran sendirian?” tanyanya menanyakan Leon.
“Memangnya kau pikir aku akan memberitahumu,” timpalku.
“Dasar perempuan sial,” umpatnya sambil mencoba meninju kepalaku.
Aku mengelak dengan mudah. Rupanya egonya membuatnya ingin mengalahkanku dalam pertarungan. Beruntung bagiku. Asalkan aku bisa bertahan selama dua puluh menit, aku bisa selamat.
Tapi rupanya aku tak seberuntung itu. Tanganku sudah mulai mati rasa karena terlalu banyak kehilangan darah. Aku masih cukup kuat untuk menangkis serangan pria pendek itu, tapi tidak leluasa untuk melakukan serangan balik.
Jika aku mengalahkan pria ini sebelum waktunya berpindah, anak buahnya pasti menembakku. Aku mencoba bertahan sebisaku.
Untunglah ia sudah kehabisan banyak tenaga saat mengejarku. Serangan-serangannya lemah. Tapi aku juga melemah. Tiba-tiba rasa pening menyerangku. Pria pendek itu menyadarinya dan memanfaatkan kelemahanku. Ia menghantam kepalaku yang terluka dengan tinjunya, dan kali ini aku tak sempat menghindar. Saat itulah semuanya tiba-tiba gelap.
***
Aku membuka mataku perlahan, masih tak mengerti mengapa aku masih hidup. Tapi, masa bodohlah. Tuhan masih membiarkanku hidup. Jangan sia-siakan kesempatan ini.
Mataku menunggu sebentar untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang terang, lalu mengerjap-ngerjap. Aku melihat selang infus dan kantong darah menggantung di atasku.
Ternyata ini di rumah sakit. Siapa yang membawaku ke rumah sakit?
“Kau sudah sadar? Cepat juga,” kata seseorang yang duduk disampingku.
Aku menoleh padanya dan mengernyitkan keningku heran. “Siapa kamu?”
“Kanu tak mengenalku, Maya?” ia balik bertanya. Aku mengangkat tubuhku untuk duduk. “Kenapa aku harus mengenalmu? Dan dimana ini?” tanyaku padanya. Kenapa dia menganggapku mengenalnya?
“Kupikir kau mengenalku, karena ada tulisan-tulisan tanganku di ranselmu,” jawabnya sambil menunjukkan surat dan dua lembar uang itu.
“Jadi, kamu Sin?” aku terbata-bata tak mengerti situasi ini sama sekali. Wajahnya berbeda dari Sin yang bertemu denganku di planet Magnet.
Berpikir keras membuat kepalaku sedikit pusing, tapi kuabaikan itu dan meminta penjelasan padanya. “Kamu mengerti keadaanku kan? Aku bukan orang yang..arrgh. Sulit untuk bicara denganmu, karena aku tak mengenalmu sama sekali. Tapi apa aku sudah berada di Afrika Selatan?”
“Ya, tepatnya di Johannesburg. Aku cukup mengerti situasimu tapi bukan berarti aku senang membantumu. Kau tiba-tiba berada di kamarku, muncul dari udara kosong dalam keadaan pingsan dan berdarah-darah. Tak ada tanda pengenal apapun, tapi kutemukan tulisan-tulisan ini dan mengenalinya sebagai tulisanku. Kupikir kau mengenalku, tapi sepertinya ini pertemuan pertama kita. Aku sedikit kecewa,” katanya lagi dengan logat British yang kental.
Ini bukan pertemuan pertama kita, batinku. Kuputuskan untuk melihat keadaan sebelum membocorkan rahasia ini.
“Aku tak memintamu membantuku,” timpalku kesal. Laki-laki ini gaya bicaranya sangat menyebalkan. “Namamu Sin, kan?” tanyaku.
“John,” katanya hilang selera untuk bicara.
“Kau tinggal di Johannesburg ini?” tanyaku merasa aneh dengan caranya memperkenalkan diri. Aku belum sepenuhnya mempercayainya. Apalagi ia bicara dengan nada ketus begitu. Bagaimana jika ia melaporkanku pada pihak yang berwenang atau menjualku untuk dijadikan penelitian?
“Tidak tepat seperti itu. Aku seorang warga negara Inggris, karena suatu urusan aku menetap disini untuk beberapa tahun,” jawabnya.
Aku mengamatinya sesaat. Ia terlihat masih sangat muda. Umurnya mungkin denganku. Kalau dia bersikap tidak menyebalkan mungkin aku bisa berteman dengannya.
Percakapan kami disela oleh dokter yang memeriksa keadaanku. Setelah mengatakan bahwa aku akan segera sembuh, dokter itu pergi. Perawat pun datang membawakan sarapanku atau yang kukira sarapan karena John bilang ini masih pagi.
Setelah menunggukuiku memakan sarapanku yang tak terlalu enak itu, John berbicara padaku lagi. “Aku sebenarnya terganggu dengan kedatanganmu yang tiba-tiba. Kau mengacaukan jadwalku,” katanya kesal.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku? Ganti rugi?” tanyaku sembarang.
“Tentu saja,” jawabnya datar.
***