Pilgrims

Pilgrims
Suspicion



Percakapanku dengan Cain sebelum berangkat.


Aku: Cain, kenapa kamu jarang muncul sekarang?


Cain: Kamu sudah tahu sendiri jawabannya.


Aku: Seriusan, aku gak paham maksudmu apa.


Cain: Kamu sadar kan "kenapa" aku ada disini?


Aku: Sebagai temanku untuk memecahkan masalah.


Cain: Ya, bagian itu benar. Tapi sebetulnya aku ada disini karena kamu kesepian. Kamu menganggap dirimu sangat tegar sehingga meminta tolong teman atau keluarga rasanya memalukan.


Cain berhenti sebentar.


Cain: Jadi secara tidak sadar kamu menciptakan aku. Aku adalah alam bawah sadarmu sendiri. Ketika aku menegurmu, menasihatimu, membantumu memecahkan masalah, sebetulnya kamu sendiri yang melakukan semua itu.


Aku: Ya aku sadar akan hal itu.


Cain: Dan sekarang kamu sudah tidak sendirian.


***


Kami mengambil arah selatan sebagai rute awal. Kami berangkat dengan bus umum sampai kota Itabuna, tapi setelah itu lebih sering berjalan kaki menyusuri pesisir pantai samudera Atlantik, dan berkemah dimanapun kami berada saat malam tiba.


Suatu malam, saat berkemah di pantai sekitar Canaveiras, salah satu kota kecil di pesisir timur Brasil, Rio mengajakku bicara.


Aku dan Rio memang ditugaskan Fox berjaga sampai pukul dua dini hari. Tak seperti biasanya, kali ini ekspresi Rio agak muram dan kelihatan khawatir.


“Kenapa wajahmu muram begitu?” tanyaku.


Ekspresi wajahnya menjadi semakin serius. Lalu ia menengok ke kiri dan kanan kemudian bergumam pelan padaku. “Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari kami.”


“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanyaku santai. Aku tak kaget dia berkata seperti itu. Aku sadar pasti ada yang memperhatikan bahwa aku agak sering mengalihkan pembicaraan.


"Kamu tahu tidak, bahwa aku yang mengurus pembagian uang waktu itu?” tanya Rio.


Kok arah pembicaraannya jadi ke uang?


“Ya, aku tahu. Lalu?” tanyaku heran.


“Aku menemukan ini,” kata Rio sambil menyerahkan selembar uang seratus dollar.


“Ini terselip di tengah-tengah segepok uang yang diberikan orang kaya raya penonton pertunjukkan kita itu. Tolong jelaskan ini!”


Kuambil uang itu dari tangan Rio. Kali ini aku benar-benar kaget. Pada uang itu terdapat tulisan tangan yang tidak asing. Ini adalah tulisan tangan Sin.


Dear Maya,


Johannesburg. 12.15


Sin


Aku kehabisan kata-kata. Tak kusangka orang kaya itu adalah Sin, atau mungkin dia hanya orang suruhan.


Tapi apa maksud tulisan ini? Apa mungkin maksud tulisan ini, dia ingin memberitahukanbtujuanku berikutnya? Aku sering menghindar dari pemikiran bahwa aku akan dipindahkan lagi.


Aku terlalu betah di negara ini. Mungkin karena banyak hal yang kutemukan disini. Keahlian, teman, pemandangan indah, rutinitas baru, juga ada Diego dan Maria yang sudah menganggapku keluarga. Semua itu membuatku merasa tinggal di kampung halamanku sendiri.


“Kamu bisa menjelaskan itu kan?” tanya Rio menyadarkan lamunan kagetku.


Aku tak tahu harus berkata apa pada Rio. Aku seharusnya memberitahukan yang sebenarnya padanya juga pada yang lain. Lagipula aku juga tak mempunyai penjelasan lain yang masuk akal untuk kujadikan alasan.


Dari sudut pandangku, pertanyaan itu sangat konyol dan mengada-ada. Aku ingin sekali tertawa tapi aku tak melakukannya. Karena dari sudut pandang Rio, mungkin itulah hal yang paling masuk akal untuk disimpulkan.


Beberapa bukti pun memang mengarah ke sana. Aku orang asing di negeri ini dan aku tidak pernah menjelaskan identitasku yang jelas dan malah selalu mengalihkan pembicaraan saat berbicara tentang itu. Lalu tulisan di uang itu. Rio pasti sudah sangat ingin menanyaiku sejak ia menemukan uang itu, tapi mungkin ia takut mendengar jawabanku sehingga baru mengatakannya sekarang.


Akupun balik bertanya padanya. “Menurutmu, apa yang dilakukan seorang agen rahasia atau anggota mafia bersama sekelompok orang biasa yang sedang backpacking di Brasil?”


Rio tampak berpikir sebentar lalu menjawab. “Mungkin kau sedang libur dari tugas,” katanya lambat-lambat. “Lalu nanti kau akan pergi meninggalkan kami dengan tiba-tiba. Tulisan itu mungkin pesan berantai dari rekanmu kan?” tanyanya mantap.


Aku lupa kalau Rio mempunya pemikiran yang tajam. Dia hampir benar. Aku memang tak sehebat agen rahasia dan anggota geng mafia. Aku hanya orang biasa yang mengalami kenyataan yang tidak biasa. Tapi, di luar itu ia benar.


Aku tak tahu harus berbuat apa untuk menyangkal pertanyaannya, jadi aku hanya berkata, “Kalau kau memang berpikir seperti itu, aku bisa apa?” Dengan nada mengakhiri.


Tapi Rio benar-benar gigih dan bertanya lagi. “Jadi, kau memang agen rahasia?”


“Aku tidak bilang begitu,” kataku lagi.


“Tapi tadi kau tidak menyangkal perkataanku,” Rio mendesakku. “Atau jangan jangan kau anggota mafia atau buronan,” katanya ngeri.


Aku menatapnya tajam. "Kamu temanku kan. Kamu kenal aku sudah berbulan-bulan. Kamu bisa menilai sendiri apakah aku seperti itu atau tidak."


Lalu aku berdiri dan berkata pada Rio, "Hampir jam dua pagi. Aku mengantuk, akan kubangunkan Fox. Kamu juga bangunkan Gabriel, dan tidurlah! Sebelum kepalamu meledak karena memikirkan semua ini."


"Selamat malam!” aku menambahkan saat melihat dia ingin bicara lagi.


Aku masuk ke tendaku. Kubaringkan badanku disamping Fox. Aku masih memikirkan pesan itu. Jika pesan itu benar, aku akan berpindah ke Afrika Selatan. 12.15. Itu mungkin menunjukkan jam aku berpindah. Tapi tidak ada tanggal, itu aneh.


“Kau harusnya menyadari bahwa Rio juga menyembunyikan sesuatu darimu,” kata Fox tiba-tiba membuatku kaget setengah mati.


“Kamu dengar pembicaraan kami?” tanyaku gugup.


“Aku tak bermaksud begitu. Hanya saja kalian berisik sekali,” kata Fox jengkel dan mengantuk, seakan menegaskan bahwa kami—aku dan Rio--mengganggu waktu tidurnya yang berharga.


“ Ups, sorry! Um, kenapa kau pikir Rio juga menyembunyikan sesuatu?” tanyaku tak mengerti.


“Aku tak yakin. Tapi kupikir pesan itu mungkin ada lebih dari satu, dan Rio menyembunyikannya karena suatu alasan,” jawab Fox. Ia bangun dan bergerak keluar dari tenda untuk meggantikanku berjaga.


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku pada Fox sebelum ia benar-benar keluar.


“Aku sudah lama mengenal Rio. Dari kata-katanya tadi, aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. Kau tidurlah! Jangan khawatir, dia tak pernah tahan menyembunyikan sesuatu terlalu lama!”


Kalau Fox juga sudah tahu ada yang tidak beres denganku, artinya tak lama lagi aku benar-benar harus bercerita pada mereka. Aku lelah memikirkan itu dan jatuh tertidur.


***


Fox benar. Pagi-pagi sekali, Rio mendatangiku lagi. Dia mengajakku menjauh dari yang lain.


“Aku ingin menyerahkan ini,” katanya sambil menyerahkan selembar uang. “Tadinya kupikir jika tak kuberikan, maka kau tak perlu pergi.”


Kuambil uang itu tanpa melihatnya. Nanti ada waktunya untuk itu. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Rio terlebih dahulu. Aku sudah mengantisipasi hal ini dan langsung menguasai keadaan. “Trims,” kataku pada Rio.


“Kau tidak marah?” tanyanya heran.


“Marah?” kataku sambil tersenyum. “Kenapa aku harus marah?”


“Aku sungguh minta maaf. Harusnya sejak dulu kuberikan padamu. Well, aku janji akan merahasiakan hal ini dari yang lain agar kau merasa nyaman,” kata Rio bersungguh-sungguh.


Setidaknya untuk sementara ini kubiarkan saja dia berspekulasi. Pasti ada saatnya nanti untuk bercerita. Aku tersenyum dan mengangguk padanya. “Ayo, kita bantu yang lain membereskan tenda!”


***