
Deg. Uangku hanya tersisa sekitar seratus dollar, ditambah dua ratus dollar yang ada tulisannya, totalnya tiga ratus dollar. Mana cukup untuk biaya rumah sakit.
John bicara lagi. “Tapi sepertinya uangmu hanya sedikit, tak akan cukup untuk ganti rugi,” katanya sambil mengobrak-abrik isi ranselku.
“Jadi apa maumu?” tanyaku kesal.
“Kau akan tahu sebentar lagi,” katanya.
“Kurasa aku sudah tidak perlu lagi tinggal di rumah sakit,” kataku padanya. Aku bergerak dan mencoba berdiri. “Aku merasa sudah sepenuhnya sehat sekarang. Ambil saja semua uang itu, sisanya nanti kuusahakan.”
Ia mendorong bahuku kasar, hingga aku duduk kembali. “Memangnya kau pikir bisa hidup di kota ini sendirian tanpa uang sepeserpun? Jangan bertindak yang aneh-aneh! Tunggu saja sebentar lagi! Kau akan mengerti,” perintahnya.
Aku kesal sekali. Entahlah dia itu siapa, tapi kenapa dia bossy sekali?
“Tidak. Aku akan pergi sekarang juga,” kataku marah. Aku bergerak untuk mencabut jarum infus dari tanganku.
“May, jangan lakukan itu!” seseorang berteriak menahanku membuatku menoleh.
Aku kaget setengah mati. Belum pernah aku sekaget ini, bahkan saat aku berpindah untuk pertama kalinyapun aku tak sekaget ini. Sosok familiar itu terlihat senang melihatku. Tapi pasti tidak sesenang aku melihatnya.
“Leon? Kenapa kamu bisa ada disini?” tanyaku pada Leon yang kini sedang berjalan ke arahku.
Leon tersenyum penuh misteri. “Kami ada di sini berkat kau.”
“Kami? Apa maksudnya semua ini? Jelaskan sekarang juga, please!” pintaku.
“Baiklah, baiklah. Kau santai-santai saja di situ, dan jangan berpikir untuk melepaskan jarum infus itu lagi!” katanya lunak.
Aku merasa sedikit rileks karena kehadirannya. Sambil tidak mengacuhkan John, aku menatap Leon. “Oke, ceritakan!”
“Begini, saat kau meninggalkan kami di hutan, kami semua khawatir akan keselamatanmu karena seperti yang kau pasti sudah tahu, kau itu tak pernah berpikir panjang.
Lalu Rio yang kugendong di punggungku membisikan sesuatu padaku. Ia menyebut ‘Johannesburg’ berulang-ulang. Kupikir awalnya ia mengigau atau apalah, hingga akhirnya aku mengerti bahwa ia sedang mengatakan kalau tujuanmu berikutnya adalah kota Johanesburg.
Kebetulan aku ingat bahwa di Johannesburg ada rumah sakit yang memiliki antivenom untuk gigitan Brazilian Wandering Spider. Jadi aku mengusulkan pada semuanya, agar bisamenolong Rio, cara yang paling cepat adalah ikut denganmu ke Johannesburg,” Leon menjelaskan.
Tapi aku belum mengerti sepenuhnya. “Jadi, kalian semua ada disini? Bagaimana caranya kalian bisa mengikutiku ke sini?”
“Kami memegang tanganmu saat tiba waktunya, penasaran apakah kami bisa benar benar mengikutimu. Untung-untungan sebenarnya, karena bisa saja kami tidak berpindah sama sekali, atau meskipun terbawa ada kemungkinan kami tersesat di dimensi yang berbeda. Tapi kami memantapkan hati. Dan tiba-tiba tiga orang pingsan di sekitar kita mengilang entah kemana.
Lalu yah kita semua seakan dijejalkan ke dalam botol sempit, berdesakkan tak karuan di dalamnya dan ditarik kebelakang. Jujur, sensasinya menekannya masih terasa sampai sekarang. Gabriel saja sampai muntah setelahnya. Membuat John marah sekali. Tapi berkat bantuannya, Rio bisa sampai di rumah sakit tepat waktu,” jawabnya menjelaskan.
“Kalian membuat orang-orang itu pingsan?” tanyaku lagi.
“Aku dan Fox yang melumpuhkan mereka, tepat saat kau pingsan. Tidak terlalu sulit. Mereka sedang fokus padamu, jadi kami hanya tinggal menyergap mereka dari belakang,” jawab Leon lagi.
“Lalu, dimana yang lain sekarang?” aku bertanya lagi.
“Kau tenang saja. Rio masih belum siuman sekarang, tapi dokter bilang tak akan ada kerusakan permanen. Fox dan Gabriel sedang beristirahat. Fox sudah lebih dari empat puluh jam tidak tidur.”
“Maaf mengganggu kesenangan kalian, tapi kau tidak melupakan kesepakatan kita kan? ” tanya John pada Leon.
“Sudah kubilang aku setuju-setuju saja dengan kesepakatan itu. Tapi sejujurnya, aku tak punya wewenang untuk menyetujuinya, minta saja pada orangnya langsung,” jawab Leon santai.
“Dia,” kata John menunjukku dengan gerakan kepalanya. “Sulit diajak kompromi,” ujar John pada Leon. “Kau saja yang menjelaskan,” pintanya.
“Leon, cepat beritahukan apa yang dia inginkan dari kita sebagai balas jasa, please!” kataku kesal pada John.
“Dia ingin selama kita di sini, kita tinggal bersamanya,” jelas Leon.
“Hanya itu?” tanyaku curiga. “Dan apa untungnya itu baginya?”
Leon melirik John sebentar, lalu menghembuskan nafas berat. Ia juga meminta kita semua menuruti segala perkataannya selama kita tinggal bersamanya. Sebagai gantinya ia akan merahasiakan apa yang kita alami dan akan menanggung biaya hidup kita semua, termasuk melunasi biaya rumah sakitmu dan Rio.”
Aku menatap John marah. “Kau orang paling menyebalkan yang pernah kukenal.”
John tersenyum sinis padaku. “So?”
Kesialan apa yang menimpa kami, dipertemukan dengan pemuda menyebalkan ini?
Tapi aku tak bisa memungkiri bahwa berkat bantuannya nyawa Rio bisa tertolong. Mau tidak mau aku harus menerima permintaannya.
Permintaannya sepertinya tidak terlalu sulit untuk dipenuhi, asalkan dia tidak memanfaatkan kami untuk tujuan yang salah. Lagipula aku tak ingin lama-lama punya hutang pada orang seperti John. Akan kubayar hutang ini, meskipun artinya harus menuruti semua perintah pria sombong itu.
Aku menatap Leon mencari persetujuan. Ia hanya mengangguk pelan.
“Okay. Sesukamulah,” kataku pada John.
***
Sore harinya, setelah membujuk Leon agar membantuku melepaskan status pasien ini secepatnya, akhirnya aku bisa menyingkirkan jeratan kabel infus itu dari hidupku dan menjenguk Rio yang ternyata sudah siuman.
Aku bersyukur ia selamat dan tak ada kerusakan permanen pada fungsi tubuhnya.
“Syukurlah kamu baik-baik saja,” ujar Rio saat melihatku.
“Aku hanya kekurangan darah karena luka di kepalaku. Selebihnya, aku sehat walafiat. Jangan mengkhawatirkanku. Kaulah pasiennya. Cepatlah sehat,” kataku padanya.
Satu hal yang membuatku sangat jengkel adalah baik itu Leon, Fox, Rio, maupun Gabriel tak ada yang memiliki perasaan sebal pada John seperti yang kurasakan. Mereka bertindak seolah-olah didikte oleh John itu bukan masalah besar.
Aku berjalan-jalan di area sekitar rumah sakit, mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang melihatku memakai pakaian yang yang banyak noda darahnya. Setelah berhenti menjadi pasien, aku melepaskan baju pasienku dan menggantinya dengan satu-satunya baju yang kupunya.
Aku mengambil nafas dalam. Tempat yang baru lagi, batinku.
Rumah sakit ini luas sekali. Namanya pun panjang. 'Chris Hani Baragwanath Hospital' namanya. Konon rumah sakit ini adalah rumah sakit terluas di dunia. Begitulah yang dikatakan seorang ibu-ibu yang sempat mengajakku mengobrol tadi.
Aku mencari-cari tempat untuk duduk agak jauh dari ruangan tempat Rio dirawat. Ingin menjauh sebentar dari mereka.
Aku tak tahu apakah ikutnya Fox dan yang lain dalam perjalanan tak tentu arah ini membuatku senang atau kesal. Senang karena aku tidak sendirian. Kesal pada diriku sendiri karena membawa orang lain pada suatu hal yang mungkin bisa mengubah hidup mereka selamanya. Kini semua waktu yang mereka miliki tergantung padaku. Keselamatan mereka adalah tanggung jawabku. Sungguh tanggung jawab yang sangat besar.
Dan.... Tahun berapa pula ini?
***