Pilgrims

Pilgrims
Problem Solving



Cerita Rio membuatku memikirkan banyak hal. Aku diam-diam mengagumi ketegaran Fox. Pilihan hidupnya sangat dilematis. Ia tidak menyukai hidup dalam kemapanan yang semu. Ia menginginkan kebebasan berekspresi. Ia lebih senang hidup dengan orang-orang yang samasama tidak terikat, seperti Rio dan anak-anak lainnya di tempat penampungan.


Tapi, ia juga pasti merasa tertekan. Ia harus menerima tanggung jawab yang tidak ia inginkan, hanya karena rasa hormat pada ayah angkatnya yang telah tiada. Pasti tak mudah untuk memutuskan. Berat juga beban yang ditanggungnya.


Keadaan tidak menjadi semakin baik keesokan harinya. Saat kami berempat melakukan marathon, kami dihadang. Ada sekitar delapan orang yang menghadang kami. Aku mengenali dua orang diantaranya. Orang-orang itu. Mereka ingin membuat perhitungan dengan kami.


“Hey, kalian. Ini daerah kami. Orang-orang buangan dilarang menginjakkan kaki disini meskipun hanya sekadar lewat,” kata orang yang paling sangar. Dua orang yang kukenal berdiri paling belakang. Aku menatap mereka tajam, dan mereka langsung menciut seperti pengecut.


“Ini jalan umum. Bebas dilewati siapa saja, kan?” Fox menimpali dengan tenang.


“Hey, perempuan geladangan! Berani-beraninya kau bicara dengan nada santai begitu. Kau pikir aku akan mengampunimu karena kau perempuan. Cuh, gelandangan sepertimu sok jadi pemimpin gerombolan orang buangan.”


Kata-kata pria sangar itu membuatku panas. Aku marah karena kata-kaanya sangat merendahkan Fox. Aku bergerak maju, tapi Rio menahan lenganku dan menggelengkan kepala. Raut muka Rio dan Fox, sama sekali tidak berubah. Leon juga. Kenapa hanya aku yang terpancing?


Aku ingin menendang si muka sangar itu, juga dua orang pengecut yang berdiri paling belakang itu.


“Menyingkirlah,” kata Fox dengan tenang. “Kami sedang latihan.”


“Apa kau bilang?” si sangar itu marah dan memulai serangan. Tendangannya dihindari dengan mudah oleh Fox. “Kau mau mengelak hah?” Ia semakin kalap dan menyerang Fox dengan tinjunya yang besar.


Fox menahan tinju si sangar dengan sebelah tangan kirinya. Si sangar meninju lagi dengan tangannya yang lain, dengan mudah Fox menahannya dengan tangan kanannya lalu memelintir kedua tangan si sangar hingga ia meringis kesakitan.


“Pergilah,” kata Fox tajam pada si Sangar itu. “Sebelum ada yang terluka.”


Tiga teman si sangar tidak terima ketua mereka diperlakukan seperti itu. Mereka hendak menyerang Fox bersamaan. Aku ingin bergerak, tapi Rio masih menahan lenganku dan bergumam pelan di telingaku. “Kamu menonton saja.”


Fox menghindari serangan mereka bertiga. Dan hanya dengan satu gerakan, ketiga orang itu dapat ditumbangkan. Mereka semua meringis kesakitan. Keempat orang lainnya, termasuk dua orang pengecut itu, tak mampu bergerak dan hanya berdiri gemetaran di tempat.


Fox dengan santainya mendekati salah satu diantara orang-orang pengecut itu, dan bicara dengan sopan pada mereka. “Apa sekarang kami boleh lewat?”


Orang itu hanya mengangguk takut-takut. Dan kami pun melanjutkan latihan kami seolah tak ada interupsi.


“Kamu kenal mereka?” tanyaku pada Rio.


“Ya. Mereka dari akademi yang ada di pusat kota. Dari dulu selalu mencari kesempatan untuk menggangguku dan Fox yang sering berlari melewati kawasan mereka. Tapi baru kali ini mereka benar-benar mengambil tindakan,” jawab Rio.


“Mungkin ini karena aku.” Aku menjelaskan dengan singkat pada Rio apa yang terjadi hari itu, saat dua orang pria itu menjelek-jelekan Rio dan Fox.


“Kamu benar-benar berdarah panas, ya?” komentar Rio.


“Ya. Seharusnya aku tidak terpancing waktu itu. Orang-orang sombong seperti mereka pasti tak akan tinggal diam diperlakukan seperti itu,” kataku merasa bersalah.


***


Tak kusangka, ucapanku terealisasi dengan cepat. Mereka benar-benar mengharapkan perang terbuka. Basecamp kami hangus dimakan api dalam semalam. Orang-orang itu lebih bebal daripada yang kami kira.


“Apa tindakan kita?” tanyaku pada Fox.


“Kita tidak akan melakukan apa-apa,” jawab Fox.


“Itu hanya akan menambah masalah, May, ” bantah Rio.


“Jadi menurutmu kita diam saja?” aku tak terima.


“Masalahnya tidak segampang itu. Pihak kepolisian sudah mengumumkan ini terjadi karena arus pendek listrik. Jika kita menyerang tiba-tiba, kitalah yang akan masuk penjara. Bukan hal yang sulit bagi mereka untuk mencari-cari kesalahan kita,” jelas Rio.


Disini Leon akhirnya angkat bicara. “Justru menurutku, karena itulah kita harus bertindak. Tapi kita bertindak dengan cara yang terhormat.”


“Apa maksudmu?” tanya Fox.


“Temui tetua di akademi mereka. Kita tantang mereka untuk duel terbuka atau apa saja, dan buat kesepakatan. Jika kita menang, mereka harus behenti mengganggu kita. Para mestre disitu pasti orang-orang yang terhormat kan? Mereka pasti akan mengadakan pertandingan secara adil. Dan kita bisa memberi pelajaran pada para pengecut yang membakar basecamp kita tanpa berurusan dengan polisi. Bagaimana?”


“Ide bagus,” Rio setuju.


“Ya, yang penting kita melakukan sesuatu,” timpalku.


“Baiklah,” kata Fox. “Kita berangkat kesana sekarang juga.”


***


Kami berempat duduk lesu di tepi pantai pagi ini. Mau bagaimana lagi? Kami tak punya tempat untuk berkumpul. Gedung olahraga tua tempat kami berlatih sudah menjadi puing-puing yang tak berbentuk karena hangus dilalap api kemarin malam. Tak ada satupun yang bicara. Aku pun tak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan. Hanya debur ombak yang kudengar memecah kesunyian yang sudah sekitar setengah jam berlangsung ini.


Keputusan kami untuk bertindak kemarin, membawa masalah baru yang sulit untuk diselesaikan. Para tetua itu menyetujui usulan kami untuk bertanding, hanya saja jenis pertandingan yang mereka usulkan ternyata punya kesulitan tersendiri bagi kami. Mereka tidak ingin melakukan duel terbuka, dengan alasan akan menimbulkan dendam baru bukannya menyelesaikan masalah.


Lalu mereka mengusulkan saat musim wisata tiba nanti, pihak mereka dan pihak kami sama-sama melakukan pertunjukan selama seminggu penuh.


Penilaiannya akan diserahkan pada para turis yang menonton. Pemenangnya adalah pihak yang mampu mengumpulkan penonton lebih banyak. Kami pun setuju karena alasan mereka bisa kami terima.


Kami yang hanya berempat tentu saja kesulitan untuk mengadakan pertunjukan besar. Apalagi sekarang kami bahkan tak punya basecamp.


"Kalian pasti sudah tau apa kesulitan kita,” kata Fox memulai. “Jumlah orang yang akan menampilkan pertunjukan hanya empat orang, jadi tak akan cukup bagus untuk melakukan jogo dalam roda. Disamping itu kita belum punya pemain musik. Sedangkan waktu yang dijanjikan tinggal sebulan lagi. Aku ingin minta pendapat kalian.”


Rio langsung menyatakan pendapatnya. “Kita bisa mengadakan perekrutan. Kalau perlu, kita bisa mengetuk pintu pintu rumah anak-anak muda di sekitar sini.”


Fox menolak tegas. “Kita tak punya waktu lagi untuk melatih mereka, lagipula mengetuk rumah mereka itu terlalu kasar dan sedikit terlihat memaksa. Kita tidak boleh memaksa siapapun untuk bergabung. Yang lain?”


Aku ikut menyuarakan pendapatku. “Aku tak tahu ini bagus atau buruk. Tapi apakah kalian tak pernah mencoba mempertontonkan duel yang ada ceritanya, semacam drama? Maksudku duelnya sungguhan, bukan berjogo dalam roda. Bukankah capoeira itu seni beladiri yang terus berkembang? Kita bisa memasukan beberapa gerakan akrobatik juga kalau mau.”


Aku melihat Fox memikirkan apa yang aku katakan.


Rio langsung mendukungku. “Hei, aku rasa itu ide bagus. Akhir-akhir ini capoeira jalanan selalu hanya melakukan jogo dan saling menghindar. Kita bisa melakukan sesuatu yang lebih realistis. Kita tunjukan bahwa capoeira juga bisa menjadi ilmu pertahanan diri yang efektif. Dan tak perlu banyak orang untuk melakukannya. Empat orang cukup untuk menampilkan pertunjukan ini. Bagaimana Fox?”


Rio menanyakan keputusan Fox.


Fox memikirkannya sebentar. Lalu, ia bicara. “Oke. Kita bisa mencobanya."


***