Pilgrims

Pilgrims
Earth & Magnet



Sanity. Kewarasan. Ketika semua yang kita ketahui sebelumnya menjadi tidak relevan, 28 tahun kehidupan tidak diperhitungkan, apa yang bisa dijadikan pegangan?


Cain pernah bilang, "Pikiran kita adalah senjata sekaligus tameng. Filter semua informasi menggunakan common sense dan nalar."


***


Laki-laki dihadapanku ini mengaku mengenalku.


"Sekarang kita memang belum berteman, nanti pada suatu saat di masa depan kamu akan paham apa maksudku. Untuk sekarang, kamu bisa memanggilku Sin. Next question," katanya.


WHAT?? Itu sih tidak menjawab apa-apa. Oke, tak akan kudesak dia lebih jauh untuk pertanyaan ini.


"Ini dimana? Kenapa aku bisa ada disini? Apa disini ada alien?" tanyaku tak sabar.


Di terlihat geli, lalu berkata "Kamu sedikit berbeda dari yang kukenal. Oke, aku coba jawab dulu. Kami menyebut planet ini Magnet. Planet ini berjarak sekitar 150.000 tahun cahaya dari bumi. Karena perjalanan intergalaktik yang jauh, manusia pertama yang membentuk koloni disini tidak ingat tahun berapa, dalam kurun waktu bumi, mereka sampai di planet ini. Sekarang populasi disini mencapai hampir 1 milyar orang."


Aku harus menginterupsi dia disini, "Tunggu. That's a fascinating story. Kalau apa yang kamu katakan bisa dipercaya, artinya ini ribuan tahun yang akan datang dari perspektifku?"


"Well, waktu menjadi relatif jika kita membicarakan dua objek ruang angkasa yang berjauhan. Karena diantaranya bisa jadi terdapat beberapa black hole yang membuat waktu 1 jam di suatu planet serasa 1 dekade di planet lain. Aku tak bisa memastikan berapa perbedaan waktu antara kepergianmu dari bumi dan ketibaanmu disini. Kami juga belum tahu bagaimana kau bisa sampai disini."


"Jack, Anna, dan aku hanya tidak sengaja bisa sampai disini, artinya kalian tidak ada yang tahu cara memulangkan kami?" tanyaku tajam.


"Hmm. Sebenarnya, aku bisa memastikan kamu akan kembali ke bumi," katanya misterius. Ia melanjutkan lagi, "Karena kita bertemu disana setelah ini."


"Aku tak paham apa maksudnya itu. Tapi bagaimana bisa orang berpindah tempat antar planet?" tanyaku tak puas.


Aku tahu orang ini punya agenda terselubung. Common sense No. 1 yang diajarkan Cain adalah : Bohong, membelokkan kenyataan, atau mengatakan kebenaran tak utuh akan dilakukan baik secara sengaja atau tidak oleh manusia ketika bicara dengan manusia lain untuk mencapai agenda tertentu seperti ingin disukai, ingin terlihat pintar, ingin terlihat keren, takut ketahuan melakukan sesuatu, dan lain sebagainya.


Sin terlihat terlalu berhati-hati memilih informasi apa saja yang ia bagikan padaku. Aku tak bisa menebak apa agendanya, tapi kata-kata yang diucapkannya susah untuk dikonfirmasi kebenerannya sekarang.


"Oh iya, kenapa aku tidak merasa lapar?" tanyaku penasaran.


"Disini kita tak perlu makan, karena udara yang kita hirup sudah cukup nemenuhi kebutuhan gizi dan metabolisme. Dan karena gravitasi dan tekanan udara yang berbeda dengan di Bumi, lambung dan usus kita bergerak lebih lambat dan metabolisme juga sistem ekskresi seperti buang air jadi lebih jarang."


Aku tak begitu mengerti sih. Tapi ya sudahlah.


"Ada satu hal penting yang harus kuberitahukan padamu. Ketika kamu kembali ke bumi, latihlah badanmu. Itu akan memudahkan jalanmu kedepannya. Aku ikut prihatin semua ini terjadi padamu dan yang lain. Kami tak bisa mencegahnya, tapi kami bisa mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan." Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan sambil berdiri hendak berjalan keluar ruangan, "Oh, dan tentang pertanyaan tentang alien tadi, kami belum pernah bertemu alien di planet ini. Sampai jumpa."


Sin pun keluar. Aku sedang mencoba mencerna dan menganalisa kata-katanya ketika tiba-tiba ruangannya bergetar kencang.


***


Dengan pikiran masih penuh dengan benang kusut, sekarang aku entah berada dimana. Tanpa berlamalama, aku langsung membuka mataku.


Disini malam hari. Kutatap langit. Tidak ada bulan besar. Susunan bintang-bintang ini familiar.


"Bumi," batinku lega.


Aku berjalan ke tempat yang lebih ramai. Biar kuberi tahu apa yang kulihat. Aku berada di sebuah tempat yang sangat bergaya kolonial. Jika melihat tulisan-tulisan yang tertera di poster atau iklan yang ada di sepanjang jalan yang kulalui, sepertinya aku berada di negara yang menggunakan bahasa Spanyol.


Saat ini sepertinya sudah larut malam. Tak banyak orang yang kulihat, dan udaranya juga lumayan dingin. Untung aku memakai pakaian cukup tebal. Dan yang lebih beruntung lagi, aku menyimpan dompet di saku dalam jas kerjaku. Mungkin untuk sementara, aku bisa bertahan disini dengan uang itu.


Kuperiksa saku jasku. Ada surat. Dan segepok uang!!!


Kubaca suratnya dengan jantung berdegup kencang.


Bahia, 10 Maret 2005


Maya,


Apa yang kuberikan memang tak seberapa, tapi semoga berguna. Tolong jangan terlalu berprasangka. Semoga kau senang di Brasil.


Your friend,


Sin


Oke, berarti ini di Brasil yang artinya bahasa yang dipakai disini adalah bahasa Portugis.


Uang yang Sin siapkan sebagian dalam dollar Amerika Serikat sebagian dalam real Brasil.


Kubaca surat ini berulang-ulang, berharap ada informasi lebih yang bisa kudapatkan dari tulisan singkat itu.


Mereka tahu tentang keanehan yang terjadi padaku, lebih tahu daripada aku. Mereka bahkan menyiapkan hal-hal yang mungkin berguna untukku. Yang bisa kusimpulkan adalah betapa mereka memikirkan ini dengan sangat rapi. Tapi aku merasa sedikit kesal. Kesal karena mereka mengenalku, tapi aku tak mengenal mereka.


"Hmm. Sin? Siapa itu?" terdengar suara yang sangat familiar di belakang kepalaku.


"Ohh, Cain. Kemana saja kamu???" tanyaku hampir histeris.


"Aku gak kemana-kemana, sih. Tapi kok kita ada disini?" tanyanya heran.


"Kau ketinggalan banyak, Cain. Oh iya, kamu salah loh tentang alien. Aku gak ketemu alien."


***


Masalah terbarunya adalah sedikit sekali yang kutahu tentang Brasil. Aku juga tak pernah mempelajari Bahasa Portugis. Yang kutahu tentang Brasil hanyalah sungai Amazon dan Anaconda. Aku pernah melihat Film-nya. Mengingat itu membuatku bersyukur dipindahkan ke tengah kota seperti ini, bukannya ke hadapan ular besar yang mengerikan itu.


Masalah lainnya adalah dari surat yang kubaca tadi mengindikasikan sekarang aku ada di tahun 2005. Aku mundur 15 tahun ke masa internet, media sosial, dan smartphone belum menjadi keseharian manusia.


Aku kembali berjalan sambil melihat-lihat kota ini. Tadinya aku berniat mencari motel untuk menginap, tapi tak jadi kulakukan karena pasti aku harus memperlihatkan kartu identitas. Kartu identitas yang kupunyai hanyalah sebuah KTP yang tanggal pembuatannya tahun 2018.


Aku berjalan sebentar tanpa tujuan, sampai kemudian kutemukan kedai kopi kecil yang buka 24 jam. Aku masuk ke sana dan beruntung, pemilik kedai kecil ini bisa berbahasa Inggris.


Dari percakapan kami, aku mendapatkan banyak informasi. Bahwa kota yang bernama Salvador da Bahia ini (atau bisa diaingkat Bahia) adalah salah satu kota wisata yang sangat populer di Brazil. Kota ini menarik karena banyak bangunan bergaya eropa era kolonial yang masih dipertahankan.


Di kota ini banyak sekali orang Brasil keturunan Afrika. Hal ini terjadi karena dulunya orang Portugis banyak membawa budak-budak Afrika ke kota ini untuk dipekerjakan. Ugh. Perbudakan dan penjajahan. Pelanggaran Hak Asasi Manusia paling tinggi.


Aku juga mendapatkan informasi mengenai lokasi homestay yang biayanya murah darinya. Ia berteman dengan salah satu pemilik rumah yang menyewakan kamar dirumahnya. Orang itu bernama Diego. Ia memberiku alamatnya. Pemilik kedai itu bilang rumah Diego tak begitu jauh dari sana, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki.


***