Pilgrims

Pilgrims
Story Time



Mungkin bagi sebagian orang melakukan kegiatan yang sama selama seharian penuh bukanlah pilihan. Tapi bagiku, tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa syukurku atas kesempatan menghabiskan waktuku untuk bukan hanya melakukan kegiatan-kegiatan yang aku sukai namun juga berguna bagi orang lain.


Ternyata kejutannya tak berakhir disitu. Saat aku memberitahu Leon aku bekerja jadi pengantar pizza, ia secara tak terduga mengatakan kalau ia juga bekerja di tempat yang sama denganku. Bahia bukan tempat yang sesempit daun kelor, tapi kenapa aku selalu berurusan dengan orang ini secara tak sengaja ya? Tapi, baguslah. Ia bilang, ia akan membimbingku.


Karena sudah sekitar sebulan bekerja disana sebagai pengantar pizza, ia telah mengetahui seluk beluk kota ini dengan baik.


Latihan gerakan-garakan capoeira dari mulai yang mudah sampai yang sulit pun sudah kukuasai. Semakin lama aku semakin menyukai sensasi kebebasan yang kurasaakan saat berlatih capoeira. Aku tak pernah benar-benar menyukai melakukan sesuatu sebelumnya. Tapi di Bahia ini, aku menemukan banyak hal yang kusukai.


Sudah lebih dari dua bulan kami berempat berlatih bersama. Aku benar-benar sudah bisa sedikit mengimbangi Fox dari segi kecepatan dan stamina, tapi masih jauh dibawahnya dari segi teknik.


Pernah suatu malam, saat aku pulang bekerja, ada dua orang pria umur dua puluhan dengan pakaian bagus yang menyapaku. Mereka bicara dengan sopan dalam bahasa Inggris.


“Apa kamu yang tiap pagi latihan lari bersama Rio?” tanya salah satu dari mereka.


“Iya,” jawabku.


“Kau berlatih capoeira bersamanya kan? Sayang sekali. Bagaimana kalau kau mendaftar saja ke akademi yang sama dengan kami?” tanya yang seorang lagi masih dengan nada sopan.


“Maaf, aku tidak tertarik,” jawabku melengos pergi.


“Tunggu. Masa kau mau saja dilatih oleh orang-orang miskin dan buangan seperti mereka?” kata pria yang tadi pertama menyapaku. Akhirnya ia membuang topeng sopannyavdan bicara dengan nada yang sangat mengejek.


Aku tak terima kata-kata mereka. Mereka salah memilih orang untuk disapa. Jadi kurenggut saja kerah baju pria yang baru saja bicara itu dan berbicara tepat di telinga pria itu.


“Bagaimana jika orang-orang miskin dan buangan seperti mereka jauh lebih hebat daripada kalian?” kataku lalu mendorong pria itu, melepaskan genggamanku dan berjalan pergi.


Aku tahu aku tak seharusnya bersikap sekasar itu. Apalagi, biasanya aku tidak gampang diprovokasi.


Saat latihan hari ini berakhir, aku bertanya pada Rio. “Hey Rio, jika kau dan Fox punya teknik sehebat ini, mengapa kehebatan kalian tidak dikenal di kalangan capoeirista pada umumnya?”


Lalu Rio bercerita. “Di dekat sini ada satu akademi capoeira yang sangat terkenal. Pemimpinnya, seorang mestre bernama Luis, meninggal beberapa tahun lalu. Selama Luis memimpin, ia sudah beberapa kali diberi penghargaan oleh negara.


Sekarang, akademi itu dikelola oleh kedua anak laki-laki Luis. Hampir semua orang yang berminat mempelajari capoeira mendaftar menjadi anggota di akademinya, karena disana memang tersedia instruktur-instruktur yang kompeten dan bersertifikat. Jika ada organisasi raksasa seperti itu, komunitas kecil kita seberapapun hebatnya tidak akan dikenal.


Memang ada komunaitas-komunitas kecil lain selain kita yang mungkin didalamnya terdapat capoeirista yang berbakat, tapi selama ia masih di komunitas kecil, ia tak akan dikenal. Jika ia ingin berkembang dan mengikuti hirarki capoeira resmi, ia harus masuk sekolah atau akademi capoeira. Akhir-akhir ini banyak komunitas-komunitas yang membubarkan diri karena anggotanya banyak yang bergabung ke akademi.”


“Apa karena itu, Pedro yang kau ceritakan waktu itu tidak berlatih dengan kalian lagi? Karena ia ingin mengembangkan diri di akademi?”


“Ya, begitulah. Aku tahu ia berbakat dan punya mimpi untuk menjadi mestre yang dihormati suatu hari nanti. Karena itulah, aku dan Fox menyadari bahwa tugas kami mengajarkan dasar-dasar capoeira kepadanya sudah selesai. Fox sendiri yang mendaftarkannya ke akademi,” papar Rio.


“Apa maksudmu? Fox mendaftarkan Pedro ke akademi? Apa Pedro yang memintanya?” tanyaku tak mengerti.


“Itulah masalahnya. Pedro sama sekali tidak pernah meminta. Meskipun teman-teman sebayanya yang belajar capoeira di akademi sering mengejeknya, ia tetap datang dan latihan bersama kami. Fox dan aku tahu, anak itu sangat menghormati kami sehingga meskipun ingin ia tak akan mampu untuk meminta ijin berhenti berlatih dan belajar di akademi. Jadi, Fox menghubungi kakak-kakaknya, dan mendaftarkan Pedro disana,” papar Rio panjang lebar.


“Kenapa Fox melakukan itu? Pedro tidak meminta kan? Harusnya kalian bertanya dulu padanya. Kalau aku jadi Pedro aku akan merasa dibuang,” timpalku agak terbawa suasana.


“Ya, setelah dipikir lagi Pedro pasti sakit hati atas tindakan Fox yang tiba-tiba itu. Tapi ia orang pertama yang berhasil melalui tantangan kami, kami tak ingin bakatnya mentok dan tidak dihargai hanya karena ia belajar dari orang-orang buangan seperti kami,” jelas Rio.


“Tunggu, apa sih maksudnya 'orang buangan' itu? Aku tak mengerti. Bukankah tadi kau bilang Fox punya kakak-kakak yang punya kedudukan di akademi?”


Aku mengangguk. “Ya.”


“Bisa berjam-jam lho,” kata Rio lagi.


“Aku bisa kok mengorbankan jam makan siangku hari ini.”


“Baiklah,” Rio memulai. “Semua hal ini terjadi karena surat wasiat yang ditinggalkan Luis.”


Aku menyela. “Hei, apa hubungan semua ini dengan Luis?”


“Luis merupakan orang yang sangat penting bagi Fox,” Rio menjelaskan. “Jangan menyela lagi, dengarkan saja ceritanya dengan baik!”


“Oke,” aku melakukan gerakan menutup mulut dengan jempol dan telunjukku.


“Fox yang sudah tidak memiliki orang tua diangkat anak oleh Luis sejak ia berumur delapan tahun. Luis juga mempunyai dua anak laki-laki yang sudah remaja waktu itu. Semenjak istrinya meninggal, ia hanya tinggal bertiga dengan anak-anaknya. Sampai akhirnya Luis mengangkat Fox menjadi anaknya.


Namun sepertinya keputusannya itu tidak didiskusikan dulu dengan anak-anaknya. Anak-anak kandung Luis merasa tersisih dengan kehadiran Fox. Apalagi meskipun wanita dan masih anak-anak, Fox sangat berbakat. Alhasil, Fox dibenci oleh kakak-kakak angkatnya.


Tapi bukan berarti kakak-kakaknya itu bersikap kejam padanya seperti kakak tiri Cinderella. Mereka hanya tidak mau berurusan dengan Fox, dan sebisa mungkin lmenghindarinya. Selama Luis masih hidup, hal ini tidak menjadi masalah. Sampai akhirnya Luis meninggal 8 tahun lalu.


Mungkin kau sudah bisa menebak alur cerita ini akan mengarah kemana. Sesaat setelah Luis meninggal, surat wasiatnya memberitahukan bahwa Fox mewarisi akademi yang didirikan Luis itu jika umurnya sudah menginjak dewasa. Sementara tanah, rumah, dan segala properti yang dimiliki Luis selain akademi jatuh ke tangan dua anak laki-lakinya.


Sebelum Fox dewasa, akademi itu akan dikelola oleh kedua anak-anak Luis yang sudah dewasa. Saat itu Fox yang masih berumur tiga belas tahun sangat kaget mendengar ia mewarisi sebuah akademi. Ia pun menyerahkan pengelolaan akademi itu sepenuhnya pada kakak-kakaknya.


Pembagian warisan yang seperti itu mengharuskan kedua anak Luis yang biasanya menghindari Fox, mau tidak mau harus menghidupi Fox menggantikan ayah mereka. Ketegangan diantara mereka bertiga semakin memuncak, karena tidak ada lagi Luis yang menjembatani hubungan mereka. Apalagi akademi capoeira yang anak-anak kandung Luis kelola itu suatu saat harus mereka lepaskan untuk Fox.


Fox yang tidak ingin ketegangan itu terus terjadi memutuskan untuk meninggalkan rumah. Ia merasa selalu terasing jika hidup di rumah itu.


Fox yang tak punya uang hidup menggelandang. Sampai aku mengajaknya ke tempat penampungan anak-anak yatim piatu tempatku tinggal. Kami bekerja serabutan untuk hidup.


Awalnya Fox merasa asing, karena kami semua berkulit gelap. Tapi, lama kelamaan ia merasa betah dan sudah 8 tahun ini kami masih tinggal di penampungan itu. Itulah kenapa kami disebut 'orang buangan'.


Tak ada orang luar yang tahu selain aku dan kau bahwa Fox itu akan menjadi pemilik sebuah akademi jika ia berumur 21 nanti. Itu berarti hanya tinggal beberapa bulan lagi.”


“Jadi, beberapa bulan lagi ia diserahi tanggung jawab sebesar itu? Aku tak yakin ia menginginkannya,” aku berkomentar.


“Ia memang tidak menginginkannya. Jika ia harus memilih, ia lebih memilih tidak diwarisi apa-apa. Setelah delapan belas tahun nanti, ia bisa memutuskan sendiri, mau mengambil tanggung jawab yang besar itu, atau memberikan semua itu pada kakak-kakaknya.


Tapi ia menghormati Luis, mungkin ia akan mengambil tanggung jawab itu meskipun dengan resiko dimusuhi kakak-kakaknya seumur hidup,” Rio berandai-andai.


“Tapi menurutku lebih baik diberikan saja. Ia tidak cocok untuk urusan seperti itu,” aku berpendapat.


“Itu tergantung dirinya sendiri. Kita tak bisa apa-apa kan?”


Ya. Memang. Hal itu hanya bisa diputuskan oleh Fox sendiri agar tak ada penyesalan.


***