Pilgrims

Pilgrims
Family, Old & New



“Sebelas menit tiga puluh lima detik. Kau berhasil, ” kata Rio berseri-seri.


Akhirnya, aku bisa memecahkan rekor dunia itu setelah hampir tiga bulan. Awalnya saat Rio bilang aku harus melewati rekor dunia, kupikir ia gila. Tapi lalu ia memberitahuku rekor Fox yang ternyata sangat cepat. Entah kenapa, dengan berpikir orang lain bisa melakukannya dalam sembilan menit, membuat waktu dua belas menit tidak terasa mustahil untuk dicapai. Ternyata semua berakhir pada cara berpikir kita.


Tapi tentu saja aku tak mungkin melampaui rekor dunia secepat itu tanpa bantuan Rio. Rio punya andil besar dalam pencapaianku. Ia berbakat menjadi pelatih.


“Jadi kalian akan mengajariku capoeira sekarang?” tanyaku bersemangat.


“Ya, tapi bukan berarti kau berhenti lari dan latihan fisik yang lainnya. Mulai besok jarak larimu ditambah. Tujuannya tetap pantai ini. Tapi kau akan mengambil jalan memutar dengan jarak tempuh sekitar sepuluh kilometer.”


“Apa aku harus memecahkan rekor dunia lagi?”


“Tentu saja,” jawab Rio dengan santainya.


“Terserahlah. Sekarang kita akan berlatih capoeira kan? Cepat mulai!” desakku.


“Kamu masih sesemangat itu?” tanyanya takjub.


“Apa maksudmu?”


“Kamu masih ingin berlatih capoeira?” Rio bertanya seakan meragukan tekadku.


“Bukankah tujuanku berlatih fisik selama ini adalah untuk itu?” aku balik bertanya tak mengerti.


“Ya, memang. Diantara enam orang yang kami latih, ada dua orang yang berhasil melampui rekor lari 5000 meter dunia. Salah satunya terus menetapkan hati untuk belajar capoeira sampai tak ada lagi yang bisa kami ajarkan,” Rio berhenti sebentar.


“Ya, kamu pernah cerita. Dia yang sekarang sedang mengembangkan diri di sekolah resmi itu, kan? Lalu yang seorang lagi dimana dia sekarang?” tanyaku penasaran.


“Dia berhenti berlatih dan berubah haluan menjadi atlet lari. Dan dia menciptakan rekor baru dunia untuk kategori lari 5000 meter baru-baru ini, yaitu dua belas menit tiga puluh tujuh detik,” paparnya.


“Kamu tentu sadar, angka itu telah kamu lampaui tapi kamu tidak merubah niatmu. Apalagi kau satu-satunya perempuan yang pernah kami latih, dan sebenarnya rekor lari 5000 meter untuk perempuan, sekarang hanya empat belas menit. Fox pasti akan merubah penilainnya terhadapmu.”


“Apa sih yang kamu ocehkan dari tadi? Kamu yang bilang sendiri padaku tak ingin membedakan jenis kelamin. Lagipula aku berlari bukan karena suka.”


***


Rio menetapkan jadwal pelajaranku. Selama dua jam dari pukul delapan pagi aku harus melakukan lari jarak jauh sepuluh kilometer ditambah menu latihan fisik pagi yang sangat melelahkan. Dari pukul sepuluh sampai jam makan siang tiba, kami berlatih capoeira.


Jadwal itu hanya bertahan seminggu. Karena aku berhasil melampui rekor setelah seminggu.


“Baiklah, mulai besok kita punya jadwal baru,” Rio memberitahuku siang itu sebelum aku pergi ke toko Souvenir Diego.


“Lho, kenapa?”


“Aku kan harus menaikan porsi latihan fisikmu. Mulai besok kamu melakukan marathon bersama kami,” ujar Rio santai.


Kupikir setelah itu ia akan menghentikan latihan lariku, ternyata tidak. “Yang kamu maksud dengan 'kami', maksudnya kamu dan Fox?”


“Jadi begitu ya, kamu berbagi tugas dengan Fox dan melatih kami di tempat terpisah. Baiklah. Aku siap untuk marathon besok,” aku menyanggupi sambil berlalu dari hadapannya.


“Tunggu. Ada yang harus kuberitahukan padamu terlebih dahulu,” Rio menarik lenganku, menyuruhku duduk.


“Oke, apa itu?”


“Begini. Sebenarnya tiap pagi dari pukul enam, Fox dan aku selalu melakukan marathon. Setelah itu kami baru melatih kalian. Kami selalu melakukannya tiap hari sejak enam tahun yang lalu, karena itulah stamina kami terus terjaga. Marathon itu bukan hanya melatih kecepatan, tapi juga daya tahan tubuh. Semakin jauh jarak yang ditempuh, tubuh akan terbebani dan akan terasa berat. Artinya lama kelamaan kecepatanmu akan menurun. Aku dan Fox sudah bisa melampui itu dan bisa mempertahankan kecepatan kami. Tinggal bagaimana caranya kamu bisa mengimbangi kami,” papar Rio.


“Baiklah. Aku tak yakin bisa mengimbangi kalian dalam marathon pertamaku. Tapi akan kucoba untuk tak jauh tertinggal,” aku menyanggupi.


“Semangat yang bagus. Kalau begitu sampai besok, jam enam pagi, di basecamp.”


***


“Rio menyuruhmu marathon tiap hari?” Gabriel bertanya kaget saat aku melaporkan peningkatan kemampuanku.


“Yep. Dan mulai besok aku akan berlatih dengan Fox. Aku sudah tak sabar menguji kemampuanku,” ujarku bersemangat.


“Kau tahu kan marathon itu lari jarak jauh empat puluh dua kilometer lebih. Jika kamu melakukannya tiap hari, tubuhmu akan kelelahan,” protes Gabriel.


“Justru jika melakukannya tiap hari, tubuhku akan terbiasa,” timpalku enteng.


“Kamu sekarang jadi sama gilanya seperti mereka. Buat apa sih melatih fisik sampai kelewat batas begitu, kalian kan bukan prajurit?” Gabriel masih bersungut-sungut.


"Manusia itu tak tahu apa yang akan terjadi, lho,” kataku santai.


“Terserahlah. Kau mau sekuat apa lagi sih nantinya?”


Aku juga tak pernah berpikir akan bertahan sejauh ini. Aku melewati hari per harinya tanpa berpikir negatif bahwa aku tak mungkin bisa. Tanpa kusadari sekarang aku punya keahlian.


Aku memang bukan prajurit, tapi berhubung situasi yang kualami ini tidak normal, aku harus selalu siap dengan segala kemungkinan. Dan rasanya melatih fisik dan teknik beladiri bukan lagi pemenuhan hasrat keingintahuanku yang tak terpuaskan terhadap film action, tapi sudah menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang memang selaras dengan kebutuhanku sebagai orang yang sedang tersesat di dalam ruang dan waktu yang tak kukenal.


***


Hari ini entah kenapa aku tiba-tiba sangat rindu keluarga dan teman-temanku. Apa khawatir ketika aku kembali, mereka tidak mengenaliku. Dan jujur saja, rasanya mereka seperti jauh sekali di galaksi lain.


Kalau kupikir-pikir lagi, aku beruntung mempunyai keluarga seperti keluargaku. Orangtuaku tak pernah bersikap posesif terhadapku. Mereka membebaskanku memilih segalanya; Sekolah, teman, jam belajar, jam bermain, pakaian, hobi, juga hal-hal lainnya.


Mungkin secara kasar orangtuaku seakan mengabaikanku. Mereka tak pernah bertanya 'Hari ini ada PR apa?', 'Bagaimana ujiannya?', 'Jangan pulang terlalu malam!' atau hal-hal seperti itu. Yang mereka katakan paling-paling 'Jangan mengotori lantai!', 'Kau terlihat kurus.', 'Hari ini giliranmu mencuci piring.' atau hal-hal remeh lainnya.


Yang, jika kuingat lagi, sangat keren. Jarang sekali orangtua yang memberikan kebebasan memilih pada anak-anaknya. Orangtuaku melakukannya bukan karena tidak peduli padaku, aku tahu itu. Mereka melakukannya karena menganggap aku sudah cukup dewasa untuk memilih, dan mereka percaya pada penilainku.


Well, karena itulah aku tak mau membuat keluargaku khawatir, karena aku tak terbiasa dikhawatirkan. Dan memang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja. Yah, sejauh ini maksudku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tapi untuk sekarang aku merasa baik-baik saja. Aku sehat walafiat dan bertemu orang-orang baik. Bukankah itu patut disyukuri?


***