
Beberapa orang di hidupku menganggap hidupku menyedihkan: lama menjomblo, belum menikah, tak punya pencapaian. Anehnya, aku menjalani hidupku dengan nyaman.
Aku bersyukur dilahirkan disaat yang tepat. Jika kita menoleh ke belakang, ada jaman dimana wanita tidak diijinkan untuk sekolah. Ada jaman dimana malam hari gelap gulita, tanpa penerangan. Sekarang kita bisa belajar, membaca, bermain dengan lebih leluasa. Dunia saat ini tidak sempurna, namun aku bersyukur karena banyak hal yang sudah menjadi jauh lebih baik.
***
Dentuman itu mengagetkan kami berdua. Jack dan aku menoleh ke arah ledakan dan melihat asap hitam mengepul dari sana.
"Hmm. Kita kesana gak?" tanyaku.
Dia berfikir sejenak lalu membetulkan kacamatanya dan berkata, "Apa kita punya pilihan lain?"
"Aku sih lebih pilih kesana dari pada disini dan penasaran," jawabku mantap.
Jack mengangguk lalu kami berjalan ke arah tersebut.
Segala pertanyaan membaur di pikiranku. Seperti benang kusut, bahkan satupun tidak mampu kuambil apalagi kujawab. Entah karena adrenalin atau aku kurang peka, rasa panik dan takut tidak kunjung datang.
Karena jaraknya cukup jauh, dan mulai terasa canggung jika terus diam, akhirnya aku bertanya, "Kamu guru kan, ya? Ngajar apa kalo boleh tau?"
"Sejarah. Materi yang membosankan bagi anak-anak sekolah, tapi aku suka sekali," jawabnya.
"Wah, aku suka sekali pelajaran sejarah. Tapi, kebanyakan kalo di sekolah banyak penjelasan yang bias. Yah, memang sih sejarah tuh tergantung siapa yang bercerita. Beda sudut pandang bisa jadi beda banget," ujarku bersemangat.
"Wah, gak nyangka dapat respon seperti itu sih," Jack terkekeh. "Sejarah apa yang paling berkesan buatmu?" tanyanya bersemangat.
"Hmm. Susah kalo pilih satu. Semuanya menarik soalnya. Tapi poin yang cukup menarik menurutku adalah, apapun konflik yang terjadi dalam sejarah, apapun alasannya, sebetulnya semuanya didasari 2 hal saja: family or economy, or both," jawabku berapi-api. "Meskipun secara terang-terangan mengatasanamakan nasionalisme, agama, atau sengketa lahan, akhirnya kembali ke 2 hal tadi."
"Iya, aku setuju. Kita ambil contoh misalnya perang kemerdekaan Amerika. Amerika ingin berpisah dan berdiri sendiri sebagai negara dan lepas dari kerajaan Inggris salah satu alasan utamanya adalah karena sudah lelah dengan sistem pajak yang memberatkan mereka dan sistem monopoli penjualan barang oleh pemerintahan Inggris."
"Palestina dan Israel sama-sama memperebutkan hak tinggal di daerah tersebut agar bisa memberikan tempat tinggal yang layak bagi keluarga mereka masing-masing."
"Bangsa Arab menentang Muhammad karena takut salah satu pemasukan ekonomi masyarakat mereka berkurang jika patung-patung dewa sembahan bangsa Arab dan sekitarnya dikeluarkan dari Ka'bah."
"Perang dunia 1 dan 2 terjadi karena banyak negara memihak dan membantu negara yang memiliki kerjasama ekonomi dan militer dengan mereka, sehingga konflik nasional menjadi perang internasional."
Aku menyimak dan menambahkan, "Ya, dan jangan lupa bahwa alasan peperangan kadang berbeda antara penguasa negara yang menyatakan perang dan prajurit yang menjalani perang itu sendiri."
"Ya, banyak sekali yang kita bisa pelajari dari sejarah," Jack mengangguk-angguk setuju.
Jarak kami dengan tempat dentuman besar tadi berasal makin dekat. Asap mulai tercium. Aku semakin waspada. Melihat ke semua arah untuk mencari tempat kabur atau sembunyi jika bertemu ancaman.
"Hey, Jack. Seberapa besar kamu ingin pulang?" tanyaku personal.
Dia berpikir sejenak lalu balik bertanya, "Kamu punya anak?"
Aku menggeleng.
"Yah, berarti aku berani bilang, aku lebih ingin pulang dari kamu," katanya sedikit sedih.
Wow, aku tidak berani bilang padanya langsung kalau kemungkinan besar untuk pulang sangat kecil.
Dilihat dari manapun, aku dan Jack bukan orang yang istimewa. Sehingga untuk bisa sampai di tempat ini aku yakin tidak direncanakan oleh siapapun. Dan jika itu benar, maka yang membawa kami ke sini adalah ketidaksengajaan, yang artinya tidak ada yang tahu mengapa kami ada disini, apalagi bagaimana caranya untuk pulang.
***
Area sekitar ledakan terlihat seperti bekas meteor jatuh, dengan serpihan-serpihan berwarna keabuan bertebaran di sekelilingnya.
Berharap tidak melihat mayat, aku memeriksa sekeliling. Kulihat sepasang jejak kaki memperlihatkan bekas seseorang berjalan menuju bebatuan tak jauh dari situ.
Aku langsung berjongkok menghampirinya.
"Are you alright?" tanyaku.
"Not really," jawabnya pelan. Ia terlihat masih sangat muda dan memakai setelan baju selam. Wajahnya oriental.
Jack bergerak ke sebelah kanan perempuan itu, lalu berjongkok dan bertanya, "May I see it?"
Perempuan itu menjawab dengan anggukan lemah.
Jack memeriksa lukanya. Sambil membersihkan serpihan di lukanya dengan sapu tangan miliknya, Jack bertanya, "Aku Jack. Siapa namamu?"
"Anna," jawabnya sambil meringis menahan sakit.
Setelah membersihkan luka Anna, Jack membalutnya dengan sapu tangan dan diikat sengan dasi.
"Semoga tidak infeksi," kata Jack.
"Can you tell me what happened?" tanya Jack lagi.
Anna menarik nafas besar, lalu menjawab, "Aku sedang menyelam. Tiba-tiba air laut seperti berusaha menyedotku, dan saat aku membuka mata aku berada disini. Aku sadar kemungkinan tangki oksigenku bisa meledak jadi kulepas lalu lari," ia berhenti sebentar dan meringis, lalu melanjutkan, "Sayangnya aku belum terlalu jauh ketika tangkinya meledak.
"Well, artinya tak ada satupun dari kita yang tahu apa yang terjadi. Mungkin lebih baik kita cari tempat berlindung dan makanan," saran Jack.
"Oh iya, aku baru ingat, sebelum tiba disini aku lapar sekali, tapi belum lapar lagi sejak tiba disini. Kalian gimana?" celetukku.
"Ya, aku juga. Aneh. Padahal kita seharusnya sudah berjam-jam disini," Jack mengkonfirmasi ucapanku. "Kamu, Anna?"
"Sama," angguk Anna lemah.
Sebelum sempat menganalisa informasi ini, seketika ada orang-orang bertopeng muncul entah darimana. Aku mencium aroma wangi lalu kesadaranku hilang.
***
Sayup-sayup kudengar suara obrolan dari kejauhan. Saat aku benar-benar terjaga, mereka sudah berhenti.
Aku berada di sebuah ruangan tertutup. Asing. Fancy. Modern. Ahh. Aku jadi ingat kata-kata Cain tentang diserang alien. Kenapa dia selalu benar?
Tidak kulihat tanda-tanda Jack dan Anna. Melihat aku masih hidup dan tidak diikat, mereka mungkin juga selamat dan tidak dilukai.
Kudengar suara langkah kaki. Lalu kudengar suara dari belakang.
"Hey, Maya. Long time no see."
Seorang laki-laki dengan pakaian seperti Aladdin menyapaku seolah kami adalah teman lama. Kupicingkan lagi mataku. Penerangan yang remang-remang membuatku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Sekarang ia berada tepat di depanku. Asing.
Ia melihat kebingunganku dan lalu berkata, "Maaf, kamu pasti bingung. Aku akan jawab pertanyaan-pertanyaanmu. Fire away."
Wow, sekarang dia bilang begiu, aku tak tahu harus mulai dari mana. Jadi kumulai dengan, "Aku tak mengenalmu, kenapa kamu bicara seolah-olah mengenalku?"
"Ceritanya panjang," jawabnya enteng.
***