
John berkata, “Bahasa yang kalian kuasai lumayan beragam, kuharap itu cukup. Untuk daerah dan era tertentu, bahasa Inggris saja sudah cukup, dan meskipun misalnya kalian terdampar di tempat yang bahasanya benar-benar asing, setidaknya salah satu dari kalian sepertinya mudah untuk mempelajari bahasa.
Tapi untuk tahun-tahun sebelum bahasa-bahasa yang kalian kuasai itu ada, ada satu bahasa yang merupakan bahasa internasional di Eropa, yang sekarang sudah tidak digunakan lagi tapi masih banyak dipelajari, yaitu asal muasal dari hampir semua bahasa di Eropa, bahasa Latin. Agak sedikit mirip bahasa Italia, tapi tidak persis sama.
Aku ingin kalian semua mempelajari Bahasa itu. Aku akan mencarikan guru untuk kalian,” ujar John mengakhiri.
“Lalu bagaimana denganku? Kita harus mencari tahu cara kerja hal ini kan,” ujarku.
“Kita akan membahasnya sambil jalan. Sementara ini ikuti dulu apa yang kuminta,” tegasnya. “Sebelum aku melanjutkan, jika ada yang ingin kalian tanyakan, tanyakanlah!”
“Aku ingin meminta waktu tiap pagi dari jam enam sampai jam sepuluh untuk kami latihan. Selain waktu itu, kau bebas menjadwalkan hal lain,” ujar Fox yang meskipun ia bilang meminta, bagiku lebih terdengar seperti memaksa.
“Baiklah, aku setuju. Sekarang, berdirilah. Aku akan menunjukan tempat yang akan paling sering kalian kunjungi selama disini.” John berdiri dan berjalan naik tangga dan berhenti di lantai tiga. Kami mengikutinya dalam diam.
Lantai ini seluruhnya berisi rak-rak buku yang berjejer rapi. Baru kali ini aku melihat perpustakaan pribadi yang memiliki buku sebanyak ini. Di tengah kumpulan rak buku itu ada beberapa tempat duduk dan meja.
“Selama waktu yang tidak kalian lakukan untuk berlatih dan belajar bahasa, kalian akan menghabiskan waktu di tempat ini. Buku-buku yang kalian perlukan ada di disini. Rak-rak sebelah kiri berisi tentang sejarah dan kebudayaan dunia. Banyak yang kalian bisa pelajari dari situ. Kusarankan kalian tidak membaca buku yang sama, agar lebih efektif.”
“Buku-buku yang di sebelah kanan ini apa kami boleh membacanya juga?” tanya Leon.
“Tentu. Isinya sebagian besar tentang ilmu alam dan perkembangan teknologi,” jawab John.
Aku berjalan dan melihat deretan buku-buku yang berada di sebelah kanan kami. Kutarik salah satu buku dan melihat judul yang tertera di sampul depannya. 'Fungsi Kerja Alat Ukur Mekanik'. Aku mendengus. Pantas saja. Buku-buku sebelah kanan ini berisi tentang perkembangan teknologi. Aku menyimpannya kembali, tidak tertarik.
Aku meluncur ke deretan buku-buku di sebelah kiri, yang kelihatannya lebih menarik.
Aku punya pekerjaan yang harus dikerjakan. Kalian boleh mulai membaca dari sekarang, turunlah saat jam makan malam!” ujar John kemudian turun sementara kami mulai mencari-cari buku mana yang kan pertama kali kami baca.
Sebagaimana semua orang yang menyukai buku, aku merasa agak bersemangat jika dihadapkan dengan buku sebanyak ini.
Di sampingku Gabriel sudah menentukan buku yang dibacanya, judulnya 'Upacara Pemanggilan Roh suku-suku Indian'.
Rio dan Fox juga sepertinya sudah berhenti memilih dan mulai membaca di sudut yang sama. Buku yang dibaca Fox sepertinya tentang sesuatu yang berhubungan dengan Nazi kalau dilihat dari gambarnya, sedangkan yang dibaca Rio sepertinya tentang obat-obatan herbal.
Akhirnya aku menemukan buku yang membuatku tertarik. Judulnya 'Persembahan Seorang Pengamat Tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yang Mengagumkan'.
Akupun duduk di pojok yang sama dengan Gabriel. Kulihat Leon masih berkutat di deretan buku di sebelah kanan.
Aku mulai membaca dan tak memperhatikan sekelilingku. Aku seolah-olah dibawa berkelana ke tempat-tempat yang dituturkan sang penulis dan mulai kehilangan orientasi waktu. Hingga Gabriel mengingatkanku bahwa sudah waktunya makan malam, dan kami semua turun bersamanya.
Tapi apa yang kubaca tadi masih melekat di otakku. Sebagai seorang yang juga akan menjelajahi waktu dan tempat asing, aku harus berguru pada orang-orang yang berpengalaman. Salah satu caranya adalah dengan membaca buku yang baru saja kubaca itu.
Meskipun belum kubaca seluruhnya, secara garis besar buku itu menceritakan tentang perjalanan Ibnu Battuta, seorang pengembara muslim asal Tangier, Maroko yang terkenal hingga kini berkat penjelajahnya ke 44 negara pada abad ppertengahan silam.
Perjalanannya dimulai sejak keinginannya untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekkah pada tahun 1325 M saat ia berumur 21 tahun. Setelahnya selama hampir 30 tahun ia mengembara sejauh 73 ribu mil ke negara-negara di Eropa, Afrika dan Asia.
Pembawaannya yang ramah dan terbuka, membuatnya dihormati kemanapun ia pergi. Terbukti dari ada tujuh raja yang ia temui dan dikaguminya. Ketujuh raja itu adalah Raja Iraq, Raja Turki, Raja Hindustani, Raja Romawi, Raja Melayu, Raja Yaman dan Raja Turkistan.
Meski begitu, banyak juga pengalaman buruk yang dialaminya selama di perjalanan. Pada saat itu alat transportasi masih sangat kuno, sehingga aku yakin perjalanan itu pasti berat. Belum lagi bertemu orang-orang dengan budaya berbeda-beda dan konflik-konflik wilayah yang sering terjadi saat itu.
Sehabis makan malam aku menghampiri Leon. “Kulihat tadi kamu mencari-cari di rak buku sebelah kanan. Kau menemukan buku yang menarik?”
“Aneh juga pilihanmu. Disaat kami mempelajari kebudayaan dan sejarah di masa lalu, kau mempelajari tentang bagaimana kita semua ini ada. Tapi, itu bagus juga. Mungkin akan berguna suatu hari nanti,” ujarku. Leon selalu saja memiliki penilaian yang unik dibandingkan dengan kami yang lain.
Sementara Leon naik ke perpustakaan di lantai tiga, aku menuju kamarku. Aku tertidur tak lama kemudian, dan bangun pagi-pagi sekali.
***
Aku turun setelah berpakaian, menghampiri yang lain yang sudah menunggu untuk mulai marathon. Gabriel, yang dipaksa Fox untuk ikut latihan, menyapaku dengan tidak semangat.
“Kenapa aku harus ikut lari juga? Mana bisa aku mengikuti kecepatan lari kalian,” gerutunya.
“Jangan mengeluh, deh. Kan kamu sendiri yang tak mau ditinggal. Kalau kamu akan ikut bersamaku nanti, kamu harus mulai melatih fisikmu dari sekarang. Tenang saja, Fox juga akan memberikan keringanan padamu,” timpalku.
Dipandu Fox, kami mengambil jalur memutar melewati daerah-daerah sub-urban.
Untuk memberikan toleransi pada Gabriel yang lelet dan Rio yang baru keluar dari rumah sakit kemarin, kami berlari dengan kecepatan standar.
John sudah menunggu di ruang tengah saat kami pulang. Ia ditemani oleh seorang pria tua yang awalnya kukira ayahnya.
Ia memberi kami berlima waktu untuk membersihkan diri dan sarapan sebelum akhirnya mengenalkan kami pada pria itu yang ternyata adalah orang yang akan mengajarkan kami bahasa Latin. John jauh-jauh mendatangkan orang itu dari Italia.
Kupanggil dia Mr. Andrea. Ia seorang Guru Besar di salah satu universitas terkemuka di Milan, namun sudah pensiun mengajar di universitasnya.
Ia bersedia mengajar kami karena John berjanji padanya akan memberinya barang bersejarah koleksinya. Sebagai seorang kolektor barang antik, penawaran ini sangat menggiurkan bagi Mr. Andrea.
Aku tak menyangka John membantu kami seserius ini.
Sejak itu tiap hari setelah latihan kami belajar Bahasa Latin, dan waktu waktu kosong setelahnya kami habiskan di perpustakaan.
Lama kelamaan aku merasa seperti seorang mahasiswa. Mr. Andrea pun tak lupa memberikan tugas-tugas yang sulit pada kami juga beberapa tes di setiap akhir minggu. Hasil-hasil tes pun dibagikan keesokan harinya dan langsung di evaluasi.
Yang mengherankanku adalah bagaimana bisa yang menjadi bintang kelas di kelas bahasa dadakan ini adalah Gabriel. Kukira Leonlah yang akan paling menonjol di kelas ini.
Anehnya, meskipun kami tinggal di rumah yang sama, aku jarang sekali melihat John. Saat kutanyakan pada salah satu pelayannya, ia bilang dari dulu John memang suka mengurung diri di kamarnya berkutat dengan komputernya. Kami hanya bertemu dengannya saat makan siang dan makan malam dan tak pernah mengobrol sesudahnya.
Rutinitas yang kulalui setiap hari lama kelamaan membutku sedikit bosan. Kami berlima bahkan jarang bicara satu sama lain.
Kadang-kadang karena bosan, saat yang lain membaca di perpustakaan aku memperhatikan pilihan buku keempat temanku itu, yang ternyata temanya tidak jauh berbeda dengan tema buku yang pertama kali mereka baca.
Gabriel memilih judul-judul yang berhubungan dengan ritual-ritual aneh yang dilakukan orang-orang di jaman dulu, seperti buku-buku yang isinya tentang persembahan pada dewa hujan, upacara kedewasaan, tradisi suku Hun, sampai pada perkembangan seni dari masa ke masa.
Fox kulihat membatasi diri pada buku yang memuat biografi pemimpin-pemimpin di masa lalu baik secara langsung maupun tak langsung, seperti buku-buku yang memuat Hitler, Abraham Lincoln, Elizabeth I, Napoleon, Julius Ceasar, Alexander The Great, sampai Jengis Kahn.
Pilihan buku Rio agak sedikit beragam namun tak terlepas dari tema-tema lingkungan.
Sedangkan Leon memilih buku-buku yang isinya kupikir makin lama makin tidak relevan dengan tujuan kami. Ia membaca buku-buku astronomi yang memuat penjelasan tentang tata surya dan galaksi. Ia juga masih saja membaca buku mengenai Teori Evolusi dan hal-hal seperti itu. Aku semakin tak mengerti dia.
***