
Kami sama sekali tak menyangka akan mendapatkan dua kejutan menyenangkan.
Kejutan yang pertama adalah dari seorang turis yang menghargai pertunjukan kami secara berlebihan. Ia memberikan segepok uang yang jumlahnya sepuluh ribu dollar Amerika Serikat pada Rio saat kami break antar pertunjukan.
Kami bertanya-tanya turis kaya darimana yang memberikan uang setara dengan jumlah seratus lima puluh juta rupiah hanya untuk satu pertunjukan seni jalanan.
Kejutan kedua adalah kemenangan kami.
Setelah di hari pertama tertinggal sangat jauh dari pihak lawan, secara tak terduga setelah seminggu kami menang meskipun tipis. Di hari-hari terakhir penonton kami sangat banyak, karena pihak lawan hanya mempertontonkan hal yang sama di setiap pertunjukan sehingga penonton sepertinya bosan.
Kemenangan kami ini berkat jasa Rio dan Pedro yang secara kreatif membuat banyak sekali alur cerita, sehingga pertunjukan kami tidak membosankan.
Setelah pertandingan itu berakhir, mestre Jose dengan sangat ksatria mengakui keunggulan kami, dan meminta maaf kepada kami atas perbuatan anak-anak didiknya.
“Anda tidak perlu meminta maaf mestre,” ujar Fox. “Semoga kerendahan hati Anda dicontoh oleh anak-anak didik Anda.”
“Akan kupastikan mereka tidak akan bertindak memalukan lagi,” janji mestre Jose.
“Terima kasih,” ujar Fox sambil memohon diri.
***
Kami berkumpul di basecamp setelahnya. Fox, Rio, Gabriel, Leon dan aku, setidaknya. Pedro langsung pamit setelah menyelamati kami. Sementara rombongan pemusik yang dibawa Gabriel juga menghilang entah kemana.
Lelah tapi senang yang kami rasakan selepas pertunjukan ini adalah momen yang tak tergantikan.
“Akan kita apakan uang hasil pertunjukan ini?” tanya Rio bingung.
“Sumbangkan sebagian, sebagian lagi kita bagi rata saja,” usul Gabriel.
Sebelum ada yang sempat menanggapi usul Gabriel, Pedro datang bersama seorang pria tinggi yang kira-kira berumur pertengahan dua puluhan.
“Fox, bisa bicara berdua?” pinta pria itu.
“Disini saja, bisa?” jawab Fox.
“Tapi ini sedikit pribadi,” ujar pria itu lagi.
“Disini atau tidak sama sekali, Rafael,” tegas Fox.
“Baiklah, mereka teman-temanmu yang kau percaya,” kata pria itu pasrah.
“Pertunjukan kalian bagus sekali,” katanya pada kami semua.
Lalu ia beralih pada Fox lagi. “Begini, Fox. Seminggu lagi kau berumur dua puluh satu tahun. Apa kau sudah memutuskan?”
“Ya,” jawab Fox.
“Dan?” tanya Rafael.
“Dan aku akan melepas akademi itu,” kata Fox mantap.
“Meskipun itu artinya menolak keinginan ayah kita?” tanya Rafael lagi.
“Kupikir keinginan Luis yang sebenarnya adalah mendamaikan kita bertiga. Selama ini aku selalu menjaga jarak dari kalian. Begitu pula kau dan Ramon yang selalu menjaga jarak dariku. Kupikir Luis tidak akan keberatan siapapun yang menjalankan akademi itu, asal hubungan kita bertiga membaik,” jawab Fox.
“Well, sebenarnya untuk itulah aku kesini. Memang kami dulu agak iri karena ayah lebih perhatian padamu yang hanya anak angkat. Tapi sekarang, setelah ayah tiada dan kami tak punya keluarga lain, hanya kaulah kerabat kami yang tersisa. Kami sadar tak baik terus-terusan mengacuhkan anggota keluarga sendiri. Mulai sekarang, maukah kau benar-benar menganggap kami saudaramu?” pinta Rafael.
“Tentu. Maafkan aku jika selama ini aku bertindak seenaknya,” jawab Fox.
Rafael tersenyum lega. “Ramon menikah akhir minggu ini, dia ingin kau datang,” ujar Rafael. “Oh, ajak teman-tamanmu juga.”
Rafael pergi setelah berpamitan pada kami semua. Setelahnya, untuk sesaat tak ada yang bicara sampai Gabriel meneruskan percakapan tadi yang sempat terpotong.
“Disumbangkan lalu dibagi rata, setuju?” Gabriel tiba-tiba bersuara.
Jadilah keputusannya, uang hasil pertunjukkan itu disumbangkan sebagian pada Greenpeace. Sisanya dibagi rata diantara kami semua, termasuk Pedro dan para pemusik misterius itu.
***
Selepas menghadiri resepsi pernikahan kakak tertua Fox, kami semua pun kembali mengambil cuti, dan memutuskan untuk melakukan perjalanan. Semua ketegangan sebelum pertandingan, juga rutinutas latihan yang tiada henti ingin kami redakan dengan perjalanan ini.
Fox memimpin musyawarah, setelah kami (kecuali Gabriel) marathon, untuk menentukan tujuan perjalanan kami.
Rio langsung mengeluarkan pendapatnya. “Bagaimana kalau kita menjelalahi seluruh Amerika Tengah dan Amerika Selatan? Biayanya jauh lebih murah daripada keliling Eropa atau Amerika Utara. Kita pasti dapat banyak pengalaman.”
“Itu akan makan waktu terlalu lama dan biaya terlalu banyak karena treknya terlalu panjang. Kamu bahkan belum pernah keluar dari kota ini,” kata Fox pada Rio. “Mungkin ada pendapat lain?"
Gabriel mengeluarkan pendapat. “Ke reruntuhan suku maya, bagaimana? Banyak nilai sejarahnya kan di sana? Sudah lama aku ingin kesana.”
Fox menggerenyitkan dahi. “Yang lain bagaimana?"
Rio angkat bicara, "Menurutku perjalanan kita bukan untuk menjadi turis di negeri orang lain, tapi untuk semacam backpacking dan menghabiskan waktu bersama-sama. Sorry, Gabriel, aku kurang setuju. Tapi kalau yang lain setuju, aku sih ikut.”
Aku mengangkat tangan dan bicara pada Fox. “Fox sepertinya akan sulit bagiku untuk bepergian ke luar Brasil. Urusan birokrasinya akan lama.”
“Aku bisa membantu mengurusnya,” timpal Gabriel.
Ugh, dia mulai lagi.
“Kau dan Leon tak perlu khawatir. Berikan paspor kalian padaku! Biar aku yang mengurus visa untuk kalian,” lanjut Gabriel.
Mati aku. Aku mana punya paspor. Sebenarnya apa sih pekerjaan dia itu?
Aku tak bermaksud untuk menyembunyikan masalahku dari mereka. Aku bisa saja jujur dan menceritakannya sekarang juga bahwa yang membawaku kesini bukan pesawat tapi lubang cacing. Jadi aku tak perlu mempunyai paspor untuk bisa sampai kesini. Tapi, rasanya sulit sekali kukatakan. Aku tak tahu harus mulai darimana.
Ditengah kebingunganku, kata-kata Leon lah yang benar-benar menjadi penyelamat.
“Aku punya usul, bagaimana jika kita hanya keliling Brazil saja? Sebagian dari kita bahkan belum pernah keluar dari kota ini, kan? Kita bisa menjelajahi pedalaman hutan, mendaki gunung, diving, berkemah, dan menjelajahi sudut-sudut kota Brazil. Tak perlu keluar uang banyak, tak terlalu jauh, dan yang paling penting aku dan Maya tak perlu direpotkan urusan birokrasi.”
Gabriel masih bersikukuh. “Sudah kubilang tidak akan repot...”
Fox memotong perkataan Gabriel. “Ide bagus, Leon. Yang lain setuju?”
Semua kecuali Gabriel serempak mengangguk dan berkata setuju.
***
Aku berpamitan pada Diego dan Maria di hari keberangkatan kegiatan backpackingku dengan yang lain. Barang bawaanku yang sedikit kumasukan ke dalam ransel.
Diego dan Maria bergantian memelukku. Memeluk Diego serasa memeluk gumpalan daging tanpa emosi. Ya, sudahlah.
Aku dan yang lain berkumpul di basecamp. Kami hanya berlima. Pedro tidak jadi ikut, karena ada urusan. Kami telah menyiapkan segala yang kami butuhkan.
Selain barang-barang pribadi, kami membawa dua buah tenda, peralatan memasak sederhana, senter besar, kompas, dan peta.
Kami pun berangkat.
***