
Setelah yakin semua orang itu sudah pergi, kami bergegas kembali ke tempat Rio, Gabriel dan Leon menunggu.
Aku sedikit gelisah. Salah satu anak buah pria pendek itu--yang tadi melewati kami—berjalan persis ke tempat Rio dan yang lain.
“Guys, kami mempunyai berita buruk,” Fox memberitahu mereka saat kami tiba di tempat tadi. Untunglah, mereka tidak ditemukan.
Tak seperti biasanya, ucapan Fox tidak diperhatikan oleh yang lain. Mereka terus membelakangi kami. Aku sadar ada hal yang telah terjadi yang tidak kumengerti. Fox yang juga sama bingungnya denganku menghampiri mereka. Aku berjalan di belakangnya, menyiapkan hati untuk mendengar berita buruk.
“Ada yang salah?” tanya Fox.
Leon menoleh dan menggeser posisinya yang setengah jongkok menyangga tubuh Rio yang bersandar padanya. Wajah Rio yang pucat pasi, mengernyit menahan sakit.
“Dia kenapa?” tanyaku pada Leon.
“Beberapa saat setelah kalian pergi, ada pria mencurigakan yang membawa alat komunikasi radio handy talky melewati tempat kami menunggu. Kami menyembunyikan diri supaya tak terlihat olehnya. Saat kupikir ia sudah pergi, kami keluar dari persembunyian. Tiba-tiba Rio meringis kesakitan, lalu jatuh begitu saja,” Leon menjelaskan.
Fox membungkuk memeriksa keadaan Rio. “Bagian mana yang sakit?” tanyanya khawatir.
Rio mengerang, “Kakiku.”
Kami semua memandang kaki Rio. Tepat di atas tumit kirinya, terdapat bekas gigitan yang kecil dan halus. Aku tak begitu mengerti tapi pasti sesuatu yang berbahaya telah menggigitnya.
“Apa kau tahu apa yang menggigitmu?” tanya Fox khawatir.
“Laba-laba,” jawab Rio tersenggal seperti kehabisan nafas.
“Brazilian Wandering,” bisik Leon tiba-tiba. “Dilihat dari gejalanya mungkin yang menggigitnya Brazilian Wandering Spider.”
“Ini buruk, kita harus bergegas,” ujar Fox.
“Tolong jelaskan apa yang terjadi,” tanyaku tak mengerti.
Gabriel menarik nafas berat lalu menjelaskan. “Brazilian Wandering Spider mengeluarkan semacam racun saraf yang sangat kuat yang menyebabkannya rasa sakit yang amat sangat, kelumpuhan, dan sesak nafas yang bila dibiarkan akan menyebabkan kematian.”
“Kita harus segera keluar dari hutan ini dan memberinya antivenom sebelum terlambat,” ujar Fox. Lalu dengan singkat ia menjelaskan percakapan yang kami dengar tadi.
“Singkatnya dalam perjalanan kita keluar hutan ini, kita mungkin akan berhadapan dengan orang-orang jahat itu. Leon, kau akan menggendong Rio. Usahakan agar kakinya yang tergigit tidak terlalu banyak bergerak agar racunnya tidak cepat menyebar. Gabriel bawa barang-barang Leon dan Rio. Untuk mengalihkan perhatian agar tak ada yang menghalangi jalur lari kalian, aku dan Maya akan menahan mereka. Mengerti?” Fox memberikan instruksi.
Aku menginterupsi. “Fox, menurutku itu terlalu beresiko. Mereka bersenjata, jika salah satu dari mereka menemukan Rio, Leon, dan Gabriel. Habislah sudah.”
“Hanya itu pilihan yang kita punya, atau kau punya ide yang lebih baik?” tanya Fox.
“Menurutku, mereka tidak tahu kalau kita berlima,” aku memulai. “Mereka hanya mengincarku dan Leon. Salah satu dari kami bisa memancing mereka masuk kembali ke dalam hutan. Mereka membawa alat komunikasi, jadi ini membuat segalanya lebih mudah. Mereka semua pasti akan mengejar ke dalam hutan. Dan jalur keluar hutan terbuka lebar.”
“Biar aku yang melakukannya,” ujar Leon. “Aku akan memancing mereka masuk ke dalam hutan. Aku bisa menghindari mereka dengan cepat. Pohon-pohon disini akan sangat membantu.”
“Kupikir lebih baik aku saja yang melakukannya. Aku juga bisa menghindar sebaik Leon. Lagipula si pendek itu sangat menginginkanku, pasti ia mati-matian mengejarku,” timpalku. "Dan jika ada yang menghalangi kalian, Fox bisa membereskannya.”
“Aku menolak, ” kata Fox tegas. “Aku tak akan membiarkan salah satu dari kalian mengumpankan diri.”
“Tidak,” ujar Fox.
Mungkin inilah saatnya untuk memberitahu mereka.
Aku menarik nafas lalu berkata dramatis. “Bagaimana jika kukatakan bahwa aku bisa melakukan teleportasi?”
Sebenarnya teleportasi bukan kata yang tepat. Tapi untuk sementara hanya kata itu yang terpikir.
Efek kata-kata itu bagi mereka berempat berbeda-beda; Leon menatapku tajam, Gabriel menganga tak percaya, Rio yang sepertinya merasa teka-teki ini terpecahkan mencoba tersenyum diantara kernyitan sakitnya, tapi Fox sepertinya tidak percaya. Ia mengerutkan kening, ragu.
“Apa ini hanya akal-akalanmu agar aku mengijinkanmu mengumpankan diri?” tanya Fox.
“Kau pernah dengar percakapanku dengan Rio kan? Aku berada disini secara tidak wajar. Aku berpindah tempat dan mengarungi waktu tanpa bisa kurencanakan. Tapi, berkat seseorang yang tidak kukenal, aku tahu bahwa aku akan berpindah lagi. Hari ini. Tepatnya pukul 12.15. Dua jam dari sekarang aku akan menghilang. Aku akan aman dari kejaran orang-orang itu. Jadi, aku juga ingin memastikan kalian semua keluar dari hutan ini dengan selamat. Kumohon Fox, izinkan aku melakukannya!” aku memohon pada Fox.
Pagi ini aku telah membuka lembaran uang kedua yang disembunyikan Rio dariku tempo hari. Dan isinya adalah tanggal hari ini. Setidaknya itu yang kuartikan dari tulisan itu. Tempat dan mungkin waktu yang baru lagi. Sebenarnya tidak ada jaminan bahwa aku benar-benar akan kesana, tapi entah kenapa aku mempercayai bahwa petunjuk dari Sin itu benar.
“Kau yakin bisa bertahan dari kejaran mereka selama dua jam?” tanya Fox mengkonfirmasi. Aku mengannguk.
“Baiklah, kita lakukan dengan caramu,” Fox akhirnya setuju.
Kami membicarakan beberapa strategi pengalihan perhatian ini. Setelah sepakat aku berpamitan pada mereka berempat.
“Jaga dirimu,” kata Leon.
“Jangan bertindak ceroboh,” seru Gabriel dengan mata berkaca-kaca.
“Kau lebih luar biasa daripada spekulasiku,” kata Rio mencoba bicara meskipun tersenggal.
“Kau akan selamat,” kataku padanya.
“Aku tahu itu,” jawabnya pelan.
“Baiklah, aku pergi Fox,” kataku mantap.
Fox mengangguk pelan. Dan aku berlari serta melompat masuk ke dalam hutan tanpa menoleh lagi ke belakang.
Diantara langkahku aku merasa sangat berat berpisah dengan mereka. Mataku berair karena sedih. Aku melalui perubahan ini ditemani mereka semua. Aku bukanlah lagi orang yang sama dengan orang yang sampai di Bahia berbulan-bulan lalu.
Dan sekarang aku punya keinginan untuk dilakukan, punya kemampuan untuk bertindak, dan punya teman untuk diselamatkan.
Rencananya aku akan mencari salah satu dari orang-orang itu, dan memancing mereka supaya melihatku sekilas. Lalu aku akan berlari masuk ke delam hutan sampai waktuku habis.
Aku menemukan salah satu dari mereka dua puluh menit kemudian. Kulihat jam tanganku. Sudah waktunya. Kuambil jarak agak jauh dari orang itu agar ia kesulitan membidikku dengan senapan. Kutarik nafas dalam-dalam. Lalu sesuai rencana, akupun menjerit sekencang-kencangnya.
***