
Common sense No. 3: Karena semua orang melakukannya, bukan berarti hal tersebut menjadi benar.
Perbudakan, penjajahan, rasisme, bullying, fitnah, kecurangan, korupsi adalah contoh dari hasil pembenaran atas dasar "orang lain juga melakukannya, ini sudah lumrah". Namun, itu semua tidak menjadikan hal-hal itu menjadi benar.
***
Tanpa terasa pagi berikutnya di kota Salvador da Bahia ini kembali datang. Kemarin saat pulang dari toko, aku bertingkah kekanak-kanakan. Untung saja Diego itu kebal emosi sehingga ia tidak pernah mengeluh, meskipun aku sering berhenti di tengah jalan karena belum puas melihat-lihat. Jiwaku belum benar-benar dewasa ternyata. Tapi mau bagaimana lagi? Aku belum puas menikmati kota ini. Jadi hari ini aku memutuskan untuk berangkat ke toko Souvenir sendirian, agar tidak menghambat Diego di perjalanan.
Hari ini tanpa merasakan firasat apa-apa, aku berangkat setelah sarapan. Baru saja berjalan beberapa puluh meter, aku menemukan sesuatu yang menarik. Aku melihat aksi capoeira jalanan. Beladiri yang mirip tarian ini memang unik. Di Indonesia sudah banyak komunitas capoeira yang dibentuk. Jadi, seni beladiri ini tak begitu asing bagiku. Hanya saja aku tak menyangka bisa melihat seni capoeira jalanan secara langsung tepat di kota tempat seni beladiri ini berasal.
Orang-orang yang memakai seragam putih-putih berdiri mengelilingi satu temannya yang sedang melakukan atraksi sambil bertepuk tangan sesuai irama. Tiga orang diantara mereka memainkan sejenis alat musik tradisional sebagai pengiring.
Laki-laki yang sedang melakukan atraksi capoeira dengan menakjubkan itu masih sangat muda, umurnya pasti tak lebih dari lima belas tahun. Ia melakukan atraksi yang luar biasa. Setelah melakukan salto belakang beberapa kali ia pun digantikan oleh kedua temannya yang sepertinya hendak melakukan sparing meskipun dalam kasus capoeira sepertinya lebih terlihat seperti battle dance.
Pemuda yang sebelumnya masuk ke barisan. Entah hanya perasaanku tapi pemuda itu rasanya lebih luwes daripada teman-temannya yang kulihat melakukan battle dance bergantian.
Setelah pertunjukannya berhenti, aku dan juga turis yang menonton lainnya bubar. Aku terkesan. Rasanya aku jadi ingin sekali memanfaatkan waktuku yang senggang ini untuk mempelajari seni beladiri yang lebih banyak memfokuskan serangan pada tendangan itu.
Sayangnya, aku sama sekali tidak atletis. Aku kembali berjalan menuju toko souvenir Diego dengan pikiran masih menerawang.
Gabriel tertawa keras sekali saat aku bertanya padanya mengenai tempat untuk belajar capoeira. Aku tersinggung dan menginjak kakinya agar ia berhenti tertawa. Kami sedang break makan siang dan makan di kedai dekat toko souvenir Diego.
“Maaf,” kata Gabriel setelah akhirnya berhenti tertawa. “Aku susah membayangkan kamu belajar capoeira di kota ini.”
“Memangnya kenapa? Bukankah tadi juga aku melihat ada wanita bepostur tak jauh berbeda dariku yang bisa melakukannya dengan cukup baik?” tanyaku heran.
“Ya, kamu benar. Yang membuatku geli tadi itu karena Capoeira sudah sangat mendarah daging di kota ini. Hampir semua anak muda kota ini tergabung dalam klub tidak resmi ataupun sekolah capoeira dan dapat melakukan gerakan dasar capoeira. Masalahnya, aku tak yakin dengan badanmu yang kaku itu, kamu bisa tahan latihannya. Apalagi beberapa akademi mengadakan latihan fisik yang berat. Memang ada beberapa akademi yang terbuka bagi turis pemula yang mau belajar. Tapi biaya iurannya selangit. Lebih baik tidak usah saja deh. Bukannya apa-apa, bagiku kelihatannya fisikmu itu sangat tidak terlatih. Maaf, bukannya aku menanggap rendah bangsamu, tapi fisik orang Asia memang lebih lemah daripada orang keturunan Afrika yang menjadi ras paling mayoritas di kota ini. Kau bisa terinjak-injak jika memaksa ikut, ” Gabriel menguliahiku dengan berapi-api.
Yang ia katakan ada benarnya. Aku bahkan tidak pernah menguasai satu jenis olahraga. Fisikku sangat tidak terlatih.
Cain sering menceramahiku untuk berolahraga. Sin menyarankan aku untuk melatih badanku. Bukan kata-kata mereka yang membuatku tergerak, tapi penampilan Capoera jalanan yang kulihat tadi. Dan aku tidak akan menyerah. Baru kali ini aku menginginkan mempelajari sesuatu.
“Aku akan tetap mencobanya. Terinjak-injak atau tidak itu kita lihat nanti. Kamu tahu tempat yang bagus dan murah?”
Gabriel diam saja sambil menggelengkan kepalanya, sepertinya tidak terkejut melihat kengototanku yang memang dari sononya sudah keras kepala.
“Oh, atau jangan-jangan kamu pernah terinjak-injak oleh mereka, jadi karena itu kamu melarangku? ” aku memanas-manasi.
Ia masih diam memakan makanannya dan pura-pura tak mendengarku. Aku jadi tak sabar. “Ya sudah. Kalau kamu gak mau bantu, akan kucari sendiri nanti. Pasti di tempat asalnya ini, sekolah capoeira itu jumlahnya banyak, ” kataku kukuh.
Aku melirik Gabriel untuk melihat bagaimana reaksinya. Awalnya ia diam saja, tapi akhirnya ia menyerah. “Baiklah, baiklah, akan kuberitahu tempatnya. Tapi lebih baik kamu tidak mendaftar di akademi capoeira yang resmi karena aturannya terlalu formal. Begini, jika kau memang sudah siap terinjak-injak, aku mengetahui tempat yang bagus. Ada seseorang bernama Fox. Ia jarang menerima murid. Latihannya lumayan keras sih. Tapi kujamin berlatih padanya takkan membuatmu menyesal. Kau tertarik?”
“Apa dia kuat?” tanyaku bersemangat.
“Kuat sekali. Paling kuat diantara capoerista yang kukenal,” jawab Gabriel sangat mantap.
“Jika ia sekuat itu kenapa tidak mendirikan sekolah resmi saja, atau paling tidak mengajar di sekolah resmi?”
“Dia tidak ingin terikat sistem ya? Aku suka itu. Beri tahu aku dimana tempatnya! ”
Gabriel memberitahukan dimana tepatnya aku bisa menemukan orang itu. Ia bilang aku harus menunggu sampai besok untuk bisa menemuinya. Katanya ia bekerja di sore hari. Jadi lebih baik aku menemuinya besok pagi.
Gabriel juga bilang bahwa aku mungkin harus sedikit melakukan persuasi. Aku tak begitu mengerti.
Setidaknya Gabriel bilang bahwa orang itu sangat kuat dan terlatih. Aku akan mencari tahu besok.
***
Sore ini aku pulang dengan Diego. Aku bertanya padanya apa kesibukan Maria pada siang hari. Diego bilang Maria mengelola toko bunga di sebelah rumah mereka. Awalnya kupikir itu toko orang lain, ternyata itu milik Diego dan Maria.
Sisa perjalanan yang masih panjang kami lalui tanpa mengobrol. Diego seperti biasa lebih suka berjalan dalam diam dan saking diamnya aku tidak merasakan aura kehadirannya padahal ia berjalan bersebelahan denganku.
Saat hendak melewati gang yang agak sempit, kami betubrukan dengan seorang pria lokal berbadan besar. Kami tak punya prasangka apaapa pada pria itu dan terus berjalan. Kami mulai mencurigai ada yang aneh saat seorang pria kaukasia, sepertinya turis, karena ia menggendong backpack, menjatuhkan backpacknya di depan kami, dan berbicara dalam bahasa inggris dengan cepat padaku.
“Dia mencuri dompet kakek ini, tapi tenang saja, aku akan mengejarnya.”
Kejadiannya cepat sekali. Aku dan Diego tak sempat bicara apa-apa untuk menyahuti perkataan pria turis itu karena ia langsung melompati kami. Benar. Ia melompat bukannya berlari. Itulah yang membuatku makin terkejut, entahlah dengan Diego.
Apa orang yang kebal emosi seperti Diego akan terkejut juga? Ternyata ia masih tanpa emosi seperti biasanya. Apa Diego tidak sadar bahwa ada orang yang sedang melakukan atraksi luar biasa di depan matanya? Apalagi orang itu berbuat begitu untuk mengejar pencuri yang mencopet dompet Diego sendiri. Harusnya ia merasakan sedikit emosi. Tapi tidak. Diego hanya berekspresi datar.
Si Pencuri yang menyadari bahwa dirinya sudah ketahuan, berlari kabur. Tapi si turis terus melompati bangunan demi bangunan dengan kecepatan yang luar biasa. Aku seperti sedang melihat adegan film action.
Hari ini sekali lagi aku melihat teknik tingkat tinggi dipraktekan di depan mataku. Itu jelas-jelas parkour. Dan yang dia lakukan bukan gerakan dasar yang dulu sempat kutonton di saluran televisi nasional yang dilakukan oleh komunitas parkour Indonesia, melainkan teknik dengan kesulitan yang tinggi.
Aku iri sekali pada turis itu. Sejak dulu aku sering berkhayal bisa melakukan gerakan-gerakan parkour yang hanya bisa kulihat di film. Hari ini aku jadi banyak maunya. Kebalikan dari biasanya.
Turis itu berhasil mengambil kembali dompet Diego tanpa perlu berkelahi. Ia seperti mencopet dari si pencopet, lalu melompati gedung dan kembali ke tempatku dan Diego yang hanya bisa berdiri terpaku melihat aksinya sementara si pencuri asli berlari kabur entah kemana.
“This is yours, Sir. Be careful, ” katanya sambil menyerahkan dompet Diego.
“Thank you, Son. God bless you,” Diego berterima kasih pada si pria parkour. Bisa juga Diego berterima kasih.
Ada yang aneh dari pria itu. Saat ia berjalan melewatiku, tanpa sengaja akau mencium aroma tubuhnya. Ia sangat wangi, padahal keringatnya banyak sekali. Rambut hitamnya sampai menempel di dahinya. Kausnya juga basah oleh keringat. Tapi ia sama sekali tidak bau. Harusnya kan keringat laki-laki itu baunya lebih menyengat daripada perempuan.
Sudahlah, bukankah ada yang lebih penting dari itu? Kemampuannya melompat-lompat yang tidak manusiawi yang dimilikinya adalah hal yang paling membuatku terkesan.
“Tadi itu hebat sekali. Apa kau anggota komunitas parkour atau semacamnya?” tanyaku saat ia memungut kembali tas backpack yang tadi dijatuhkannya yang langsung ia pakai.
Ia menatapku ramah dengan mata hijaunya. “Well, sebenarnya tidak. Aku belajar sendiri secara otodidak. Kau juga turis ya? Semoga liburanmu menyenangkan.”
Lalu ia berjalan pergi.
***