
Ia meringis kesakitan. Salah satu tangannya hendak mengambil senjata, tapi aku lebih cepat. Kuambil senjatanya lalu kutendang alat vitalnya.
Melihat temannya kesakitan, si tinggi besar dengan gugup mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya padaku. Tapi ia kalah cepat. Leon menendang tangan si tinggi itu hingga senjatanya terpelanting lumayan jauh. Dan mendaratkan tendangan susulan di perut pria besar itu.
Lalu seakan sudah direncanakan sebelumnya, kami melakukan gerakan-gerakan duel seperti yang pernah kami lakukan saat pertunjukan dulu. Aku tak menyangka si pendek itu bisa bela diri. Aku mendapatkan sedikit kesulitan melawannya. Leon pun sepertinya mendapat kesulitan yang sama. Pria besar itu juga tidak mudah ditaklukkan.
Kami beruntung, efek mariyuana yang mereka hisap sebelum bertemu kami masih sedikit membuat mereka teler.
Tak membutuhkan waktu terlalu lama, akhirnya kami berhasil membuat mereka pingsan. Kami berlari menuju tempat Fox dan yang lain, berharap dua pria itu tidak sadar terlalu cepat agar kami semua punya kesempatan lari jauh.
“Tadi itu hampir saja. Bagaimana kau bisa senekat itu mendekati pria bersenjata?” tanya Leon padaku sambil berlari.
“Aku tahu sudah tak ada kesempatan. Pria itu bisa menembak kapan saja. Syukurlah kamu dengan cepat menyimpulkan rencanaku,” jawabku.
“Saat kau menghantam hidung si pendek, aku mengerti rencanamu. Kau mencocokkannya dengan salah satu cerita yang dulu dibuat Rio untuk pertunjukkan kita sehingga aku tinggal menyamakan ritmenya denganmu. Kita berhutang budi padanya kali ini,” kata Leon.
“Ya, dia memang jenius,” kataku membenarkan.
Saat kami tiba di tempat kami berkemah, Fox sedang berdiri di depan tenda dengan wajah cemas ditemani Gabriel yang seperti biasa, terlihat ogah-ogahan jika disuruh berjaga.
“Darimana saja kalian?” tanya Fox marah saat melihatku dan Leon keluar dari pepohonan yang rimbun.
“Fox, kami akan menjelaskan,” kataku dengan nafas sedikit tersenggal sehabis berlari. Karena gelap kami tadi sempat berputar-putar di hutan itu sebelum akhirnya menemukan jalan yang benar untuk kembali.
“Wow, kalian berantakan sekali,” kata Gabriel. Aku baru memperhatikan kalau penampilanku dan Leon benar-benar berantakan. Rambut kami tak rapi, dan badan kami kotor oleh tanah. Banyak daun dan ranting menempel di pakaian kami.
“Cepat jelaskan!” kata Fox tak sabar.
“Sudahlah, Fox. Mungkin mereka hanya sedikit bersenang-senang,” kata Gabriel mencoba menenangkan Fox, lalu mengedip pada kami.
Aku tak percaya si Gabriel itu membayangkan yang tidak-tidak tentangku dan Leon pada saat seperti ini. Tapi aku tak boleh marah. Sifat Gabriel memang begitu.
Aku mencoba fokus dan bicara pada Fox. “Kami menemukan ladang mariyuana tak jauh dari sini.”
“Kalian menemukan apa?” tanya Gabriel setengah tak percaya.
Fox menyuruhnya diam dengan tangannya lalu bicara lagi padaku dengana mantap. “Teruskan!”
“Kita harus segera pergi dari sini. Mereka bisa mengejar kita kapan saja,” kataku lagi.
“Mereka siapa?” tanya Gabriel lagi.
“Biarkan aku yang menjelaskan,” kata Leon mengambil alih. “Seperti yang Maya bilang, kami menemukan ladang mariyuana tak jauh dari sini. Lalu kami dihadang oleh dua orang pria saat kami akan kembali untuk memberitahu kalian. Kami berkelahi dan berhasil membuat mereka pingsan. Tapi mereka bisa sadar kapan saja. Kita harus pergi secepatnya, sebelum mereka bangun dan mengerahkan banyak orang untuk memburu dan membungkam kita. Mereka pasti rugi besar jika ladang itu ketahuan kan.”
Rio yang terbangun karena keributan kami tampak masih setengah mengantuk dan tak percaya mendengar cerita itu. Sementara Fox sepertinya juga lumayan terkejut mendengar ini.
Tapi ia dapat langsung menguasai diri, lalu bertanya pada kami. “Apa mereka bersenjata?”
“Ya, military grade,” jawab Leon.
“Kalau begitu kita tidak bisa melawan mereka dengan berkelahi. Kita memang harus lari,” kata Fox memutuskan. “Sekarang, semuanya bereskan tenda. Kemasi barang-barang yang paling diperlukan, sisanya kita tinggalkan. Hati-hati jangan sampai meninggalkan identitas dalam bentuk apapun.”
Kami langsung mengepak dan memulai pelarian. Fox mengambil rute yang pernah kami lewati sebelumnya. Terlalu beresiko jika harus menempuh rute baru. Kemungkinan kami bertemu dengan komplotan pria-pria itu lebih besar. Bila sebelumnya kami memerlukan waktu tujuh hari dari pemukiman terakhir untuk mengarungi hutan luas nan hijau ini, dengan kecepatan dan beban kami sekarang, kami mungkin dapat mencapainya kurang dari empat hari.
“Kalian yakin melihat ladang berhektar-hektar?” tanya Gabriel yang paling kepayahan, masih tidak percaya.
“Kan aku sudah bilang, ladangnya sangat luas,” jawabku ogah-ogahan.
“Padahal ada negara yang melegalkan ganja. Mereka mengejar karena takut ketahuan kan? Kalau saja di negara ini dilegalkan juga, orang-orang bersenjata yang kalian katakan itu pasti tidak perlu repot-repot mengejar kita,” gerutu Gabriel lalu ia pun memunggungi kami dan tidur.
“Aku jadi penasaran kenapa ladang seluas itu tidak ketahuan,” gumamku.
Rio menanggapi perkataanku. “Aku juga heran dengan hal itu. Aku jadi berpikir kalau yang menanamnya sangat nekat dan terlalu mengambil banyak resiko.”
“Atau ia punya kekuasaan dan kemampuan yang besar untuk meminimalisir resiko tersebut,” sambung Leon.
“Itu mungkin saja,” Rio mengangguk mengerti. “Ladang tersebut bukan dalam trek para hiker pada umumnya, dan mungkin juga bukan di rute pesawat terbang, jadi tak tampak dari udara.”
“Jadi menurut kalian, mereka terorganisir?” tanyaku.
“Sepertinya begitu,” jawab Rio.
“Yang artinya, bahaya yang kita hadapi semakin besar,” sambung Fox. “Jadi lebih baik kalian semua tidur sebentar. Aku akan berjaga. Dua jam lagi kubangunkan.”
***
“Ssstt. Sepertinya aku mendengar suara manusia di kejauhan,” ujarku menghentikan langkah teman-temanku.
“Benarkah? Aku tak mendengar apapun,” sanggah Fox.
“Mungkin kita sudah sampai di dekat pemukiman penduduk,” ujar Rio optimis.
“Sepertinya bukan. Pemukiman penduduk masih berjarak sekitar setengah hari perjalanan lagi dari sini,” timpal Leon.
“Aku akan mengecek keadaan. Kalian tunggu disini,” ujar Fox.
“Aku ikut denganmu,” kataku dan Rio hampir bersamaan.
Fox menimbang-nimbang sebentar. “Kau tunggu saja disini, Rio. Maya yang ikut.”
Aku mengikutinya.
Aku dan Fox berjalan perlahan agar tak menimbulkan suara. Tak lama kemudian kami menemukan asal suara itu. Aku terkesiap lalu menarik Fox untuk mundur dan menyembunyikan diri di semak-semak.
Aku mengenal suara itu. Itu suara pria pendek yang berkelahi denganku beberapa hari yang lalu. Aku menempelkan telunjuk pada bibirku saat Fox hendak bertanya.
Kupasang telingaku untuk mendengar apa yang sedang pria itu bicarakan.
“Aku sudah bilang mereka berdua pasti ada di sekitar sini. Sisir semua jalan keluar hutan ini. Kalian boleh habisi yang laki-laki, tapi berikan si perempuan itu padaku. Akan kuhabisi dia dengan tanganku sendiri,” kata pria pendek itu geram.
Ia memberikan beberapa instruksi lagi pada dua orang lainnya kemudian mereka berpencar.
Aku menahan nafas saat salah satu dari mereka melewati tempat kami bersembunyi.
***